(4 votes)
(4 votes)
Read 3538 times | Diposting pada

Kuasa Aroma dan Seksualitas

Satya Adhi
Oleh:
Satya Adhi
 Kolom
Kuasa Aroma dan Seksualitas Salah satu adegan dalam film Perfume: The Story of a Murderer (2006)

 

HIDUNG tak bisa berpuasa. Indera pengecapan bisa berhenti makan dan minum. Indera penglihatan bisa berpuasa melihat hal-hal “kotor.” Pendengaran, dapat “dibersihkan” melalui puasa dari mendengarkan yang tak elok. Sementara rehat dari aktivitas seksual adalah salah satu puasa bagi indera perabaan. Tapi aroma akan selalu berterbaran di sekitar hidung manusia. Indera penciuman tak akan kuasa menolak aroma untuk masuk ke dalam paru-paru yang ringkih.


Apakah kerja hidung yang tanpa henti membuatnya menjadi indera papan atas? Kenyataannya tidak. Anthony Synnott dalam Tubuh Sosial: Simbolisme, Diri, dan Masyarakat (2007) pernah mengadakan survei kecil-kecilan. “Jika Anda kehilangan salah satu indera Anda,”… “indera mana yang Anda relakan hilang?” tanya Synnott kepada beberapa mahasiswanya. Hasilnya, sekitar 57 persen (dari total sampel 182), menjawab indera penciuman, diikuti oleh indera pengecap. Mereka memilih tak memiliki hidung dan lidah, daripada tidak memiliki mata dan telinga.

Dalam sejarah konstruksi pemikiran tentang indera pun, penciuman harus puas berada di papan tengah –bahkan bawah. Aristoteles misalnya, membagi hierarki indera secara tegas. Indera penglihatan menjadi indera utama. Diikuti pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Dua indera terakhir dianggap sebagai indera yang dekat dengan ke-binatang-an. Sementara penglihatan dan pendengaran adalah indera yang bisa membawa manusia kepada Tuhan. Di antara Ketuhanan dan ke-binatang-an inilah, indera penciuman berada.

Freud setali tiga uang dengan Aristoteles. Ia bahkan menganggap “bahwa penciuman merupakan indera binatang yang khas” (dalam Synnott, 2007: 294). Fase seksualitas dalam psikoanalisis pun tidak menempatkan penciuman sebagai salah satu fasenya. Freud hanya menyebut fase oral, fase anal, fase uretral, fase phalus, dan fase genitalia. Aristoteles memandang penciuman kurang berdimensi Ketuhanan. Sementara Freud memandang penciuman sebagai indera binatang. Seperti anjing yang mengendus. Ia juga tidak menyebutkan korelasi indera penciuman dengan fase seksualitas.

Hidung Grenouille

Tidak ada hidung yang lebih khusyuk dari hidung Jean-Baptiste Grenouille, karakter utama dalam novel Perfume: The Story of a Murderer (Suskind, 2010). Suskind –bisa dikatakan– menciptakan seorang tokoh untuk melawan hegemoni penglihatan ala Aristoteles dan Freud. 

Grenouille lahir pada abad 18 di Paris. Empat abad setelah gelombang Renaisans pertama kali muncul di Italia. Paris, kala itu menjadi tempat paling busuk di dunia. Lahir di tempat paling busuk di dunia, Grenouille justru memiliki indera penciuman yang luar biasa tajamnya. Ia bisa mencium aroma berbagai benda dan makhluk, lalu menghimpun mereka dalam perpustakaan aroma yang ada dipikirannya. 

Hidung Grenouille adalah hidung khas Renaisans. Hidung sekuler yang tak terlalu menggubris Tuhan. Apapun akan dilakukan asal Grenouille bisa memuaskan hasrat hidungnya akan aroma. Ketika bertapa di sebuah gua, Grenouille tidak melakukannya untuk penebusan dosa atau mencari wahyu. “Sama sekali tidak ada Tuhan dalam pikirannya…. Kesendirian ini dilakukan murni atas dasar kesenangan pribadi, untuk lebih dekat dengan diri sendiri” (ibid.: 161). Ironisnya, Grenouille yang bisa mencium aroma apapun, justru tidak bisa mencium aroma tubuhnya sendiri. 

Tubuhnya tidak memiliki aroma.

Mulailah ia membuat racikan parfum yang bisa membuat tubuhnya beraroma. Tumbalnya, aroma tubuh 25 perawan harus diekstrak menjadi sebotol parfum yang mujarab. Satu tetesnya membuat seisi kota bergairah dalam fantasi seks yang memabukkan. Tua-muda, lelaki-perempuan, hidungnya dimabukkan oleh aroma parfum Grenouille. Jadilah pesta seks terbesar kala itu.

Namun Grenouille yang malang tak bisa menikmatinya. Di tengah-tengah pesta, “Grenouille baru menyadari bahwa ia tak pernah dapat menemukan kegembiraan dalam cinta. Kegembiraan yang didapat selama ini selalu dari kebencian. Dalam kondisi membenci dan dibenci” (ibid.: 300). Grenouille akhirnya lenyap bersama dengan hasrat manusia yang tak berbatas. Usai menaburkan sebotol parfum buatannya ke seluruh tubuh, ia menjadi korban kanibalisme orang-orang yang mabuk dalam aroma parfum 25 perawan.

Aroma dan Kekerasan Seksual

Konstruksi gender atas aroma membuat lelaki sebagai makhluk yang beraroma tidak sedap. Alkohol, tembakau, keringat, menjadi aroma yang khas dalam tubuh lekaki. Sementara perempuan dikonstruksi secara sosial sebagai makhluk dengan aroma enak dan wangi. Konstruksi semacam ini membuat perempuan menjadi makhluk yang sudah selayaknya “dinikmati” oleh lelaki. 

“Tradisi di dalam sastra laki-laki ambivalen sifatnya. Laki-laki menikmati bau perempuan, seperti dikatakan oleh tradisi Prancis ‘bau lembut yang diembuskan perempuan lebih lembut, lebih memabukkan dari semua parfum Arabia” (Corbin, 1986, dalam Synnott, 2007: 315). Peryataan tadi ditulis oleh seorang seorang Prancis pada 1846. Satu abad setelah Grenouille hidup.

Suskind –melalui Grenouille– ingin menyadarkan pembaca untuk bisa mengoptimalkan sekaligus mengendalikan indera penciuman. Relasi antara aroma dan seksualitas, yang hadir dalam novel Suskind, bukan tidak mungkin hadir dalam konteks abad 21 di Indonesia.

Apa yang membuat misalnya, kekerasan seksual terhadap perempuan sangat sulit dihentikan. Negeri ini sudah dalam tingkat hyper-violence. “Meskipun semuanya tampaknya kini agak terlambat, oleh karena bangsa kita kini justru telah melampaui kondisi melampaui kekerasan itu, yang di dalamnya kekerasan menjadi sebuah kesenangan, hiburan, dan estetik.” (Piliang, 2006: 86). 

Sungguh laknat! Kekerasan justru menjadi kesenangan, hiburan, dan estetik. (sampai-sampai sebuah cangkul menjadi alat pemuas seksualitas!). Yasraf A. Piliang bahkan menuliskan, bahwa kekerasan adalah kreativitas yang bersifat dekstruktif. Bila tesis ini kita amini, akan terbuka mata kita bagaimana para pelaku kekerasan adalah orang-orang yang terampil, cerdas, dan kreatif. Atau bahkan amat jenius seperti Jean-Baptiste Grenouille.

Meski seorang jenius yang kejam, Grenouille bukan satu-satunya yang bisa disalahkan atas kekerasan yang terjadi. Ia hanya ingin kehadiran tubuhnya disadari oleh orang lain. Namun setelah meneteskan parfum, ia justru menjadi korban kebengisan manusia yang haus akan aroma. Apakah aroma menjadi alasan bagi gelombang kekerasan yang terjadi? Apakah aroma menjadi motif para lelaki memperkosa anak di bawah umur? Apakah aroma menjadi hal yang dicari ketika “menikmati” tubuh para gadis lalu membunuhnya dengan bengis?!

Ingat, hidung tak bisa berpuasa.

Last modified on: 24 Mei 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni