(18 votes)
(18 votes)
Read 13039 times | Diposting pada

Kita Bukan Charlie, Kita Melawan Charlie

Fail Banksy Fail Banksy Repro: Jakartabeat

 

Tak ada niat berbuat satir melalui judul artikel yang saya angkat ini. Bagaimanapun, pembantaian terhadap 10 jurnalis dan 2 aparat kepolisian di Paris, 7 Januari lalu, tak bisa direduksi hanya sebagai kritik belaka.

Pembantaian itu tetap menjadi tragedi memilukan yang menodai dan melukai kemanusiaan dan demokrasi. Namun ada dimensi lain dari pembantaian di ruang redaksi Charlie Hebdo, yakni dimensi kritik yang gagal atau sengaja diabaikan Prancis dan peradaban Barat. Itu adalah kritik terhadap cara Barat dalam memperlakukan dan memandang Islam.

Charlie Hebdo sengaja saya pilih sebagai wakil dari peradaban Barat berdasarkan beberapa pertimbangan. Pertama, karena Charlie Hebdo menjadi anak kesayangan peradaban Barat pada hari-hari ini. Anak kesayangan yang mampu membujuk Benyamin Netanyahu, yang pernah membunuh 7 jurnalis di Jalur Gaza, untuk bersandiwara dalam solidaritas terhadap tragedi Charlie Hebdo 12 Januari lalu

Pertimbangan kedua dipicu oleh kebijakan awak redaksi mereka, yang melalui karikaturnya, kerap melecehkan Islam.1 Terakhir dan lebih penting, saya memilihnya karena Charlie Hebdo merupakan anak kandung peradaban Barat, dalam hal ini Prancis, yang memiliki sejarah panjang dalam kaitannya dengan prinsip demokrasi dan kebebasan. Melalui itu Prancis memberi kontribusi penting terhadap peradaban Barat dan dunia, sampai hari ini. 2

Tentu saja Charlie Hebdo berhak mengklaim karikatur murahan mereka sebagai karya seni, sebuah kritik, atau satir belaka. Apalagi, mereka dilindungi oleh konstitusi Prancis yang menjamin penuh kebebasan berekspresi setiap warga negaranya.Tapi itu tak membuat mereka dan peradaban Barat, lepas dari kritik.

Charlie Hebdo wajib dikritik karena telah mengolok-olok Nabi Muhammad dan simbol-simbol Islam, tanpa mengindahkan perasaan umat muslim dunia ketika melihat atau membaca berita tentang pelecehan terhadap kitab suci atau nabi yang mereka muliakan. Seperti pada 2013, ketika Charlie Hebdo memuat cover bergambar kartun seorang lelaki yang menjadikan Al Quran sebagai tameng untuk menghadang serangan peluru. Caption dalam cover itu adalah: “Qur’an itu Sampah, Tidak Bisa Menyetop Peluru.”3

Di Balik Charlie Hebdo

Kecaman dan kritik kepada mereka sebenarnya sudah sejak lama mengalir deras. Majalah mingguan itu bahkan pernah digugat ke meja hijau pada 2007 silam atas kasus berbau SARA. Tapi itu tidak menyurutkan awak redaksi dalam memuat karikatur-karikatur kontroversial yang melecehkan umat muslim.

Sikap itu jelas menunjukkan arogansi Charlie Hebdo. Lebih jauh, apa yang dilakukan Charlie Hebdo juga bisa dilihat sebagai upaya mendesakkan standar mengenai apa yang sakral dan tidak sakral menurut versi mereka, juga mendesakkan standar kebebasan kepada masyarakat muslim. Pertanyaannya, apakah cara-cara yang dilakukan Charlie Hebdo sungguh murni mewakili prinsip kebebasan dalam masyarakat demokratis?

Artikel ini jelas menolaknya. Alih-alih, cara yang dilakukan Charlie Hebdo justru menyibak tirai lebih besar, berupa kepentingan Barat dalam upaya melanggengkan dominasi mereka terhadap Timur (Islam). Itu adalah cara yang menyejarah dalam masyarakat Barat, sebuah warisan dari cara pandang orientalisme yang berkembang di Barat pada Abad 18.

Salah satu pelopor kajian terhadap orientalisme, Edward Said mendefinisikan orientalisme sebagai suatu gaya berpikir yang didasarkan pada pembedaan ontologis dan epistemologis antara Timur dan (hampir selalu) Barat.4 Proses pembedaan ini tercipta lewat peristiwa dan hubungan politik-kekuasaan yang kompleks.

Karenanya, Said menegaskan, meyakini Timur adalah ciptaan dan meyakini hal itu terjadi semata-mata karena tuntutan imajinasi, merupakan sikap yang tidak jujur. Maka orientalisme, yang berkembang pada Abad 18, sebuah fase ketika Barat mulai menancapkan kepentingannya di dunia belahan Timur, bisa disebut sebagai upaya Barat untuk menaklukkan Timur.

Said memberikan definisi lebih sistematis mengenai orientalisme, yakni sebagai kajian yang berusaha menyebarkan kesadaran-kesadaran geo-politis ke dalam teks-teks estetika, keilmuan, ekonomi, sosiologi, sejarah dan filologi.5 Dalam operasinya, orientalisme bekerja tidak melalui kekuatan-kekuatan politis tradisional. Juga bukan wacana satu arah yang melulu negatif. Said menulis:

“Orientalisme bukan hanya menungkapkan niat atau maksud tertentu, dan dalam beberapa kasus menguasai, memanipulasi, bahkan merenggut, sebuah dunia yang benar-benar berbeda dan baru.Dan, yang paling penting, orientalisme merupakan suatu wacana yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan kekuatan-kekuatan politis secara konkret, namun lebih berhubungan dengan suatu pertukaran timbal-balik yang tidak seimbang antar-berbagai jenis kekuatan yang, hingga kadar tertentu dibentuk oleh politik kekuasaan (seperti pemerintahan imperial dan kolonial), intelektual kekuasaan (seperti sains-sains dominan, semisal ilmu linguistik atau anatomi komparatif atau setiap bentuk sains kebijakan), kultur kekuasaan (seperti ortodoksi-ortodoksi atau undang-undang ras, bahasa dan nilai-nilai),  atau moral kekuasaan (seperti gagasan-gagasan tentang apa yang “kita” lakukan dan apa yang tidak dapat “mereka” lakukan atau pahami seperti yang “kita” lakukan atau “kita” pahami).6

Priya Chacko melihat eurosentrisme sebagai elemen penting yang membangunkonsepsi “Barat” dalam diskursus modern. Itu menempatkan Barat sebagai pihak rasional, beradab dan progresif, berhadapan dengan dengan Timur (Rest) yang stagnan, barbar dan (percaya) takhayul. Barat juga membangun wacana tentang (jalan) Eropa sebagai satu-satunya jalan menuju peradaban dan perkembangan sosial.7

Anak Kandung Rasionalisme

Era modern menjadi saksi sekaligus tempat berseminya wacana tentang superioritas Barat terhadap Timur. Tak ada kesepakatan perihal kapan dimulainya era modern Eropa. Para sarjana memiliki pendapat berbeda tentang hal ini.Beberapa menetapkan Abad 15 sebagai awal dimulainya era modern yang ditandai oleh Revolusi Guttenburg.

Sarjana lain menetapkan Abad 16, era ketika Martin Luther memelopori gerakan reformasi terhadap otoritas dan doktrin Gereja Katolik. Ada juga yang menilai era modern Eropa dimulai tepat setelah penandatangan Perjanjian Westphalia tahun 1648 yang menjadi cikal bakal kelahiran negara-bangsa berdaulat dan sekuler.8

Betapapun beragamnya pembabakan itu, semua disatukan oleh obsesi masyarakat Barat terhadap rasionalisme yang akarnya dapat dilacak hingga ke masa Yunani Kuno. Madan Sarup memaknai modernitas –konsekuensi era modern dan modernisme– sebagai rasionalisasi ekonomi dan administrasi progresif serta diferensiasi dunia sosial (seperti fakta dari nilai, yang etis dari yang teoritis).

Proses rasionalisasi ini, menurut sejumlah sosiolog Jerman seperti Weber, Ferdinand Tonnies dan Simmel, menjadi kekuatan yang melahirkan negara industri kapitalis modern.9 Rasionalisme dan modernisme sendiri bukan tanpa kritik.Dalam perjalanannya modernisme mendapat serangan keras dari tradisi pemikiran kritis seperti Marxisme, Posmodernisme hingga Poskolonialisme.

Namun tidak mudah untuk meruntuhkan atau memperbaiki proyek modernisme. Kesulitan itu –meminjam telaah Said atas orientalisme– terjadi karena wacana-wacana yang menegaskan superioritas Barat terhadap Timur, telah memberikan investasi material yang besar bagi dunia Barat. Sehingga menjadi sistem pengetahuan terhadap dunia Timur yang berfungsi sebagai kerangka konseptual dan diakui sebagai alat untuk menyaring dunia Timur ke dalam kesadaran Barat.10

Orientalisme atau superioritas Barat ini dimapankan oleh institusi pendidikan dan kebudayaan Barat, diajarkan di universitas-universitas sebagai sistem gagasan atau “kearifan.” Pengaruhnya begitu luas dalam ranah keilmuan dan praktik kebudayaan. Di ranah keilmuan, pengaruh orientalisme bisa ditemukan dalam gagasan teori-teori modernisasi ketika menganalisis fenomena fundamentalisme.

Teori-teori modernisasi melihat fundamentalisme hanya sebagai reaksi terhadap modernitas. Sehingga, yang dibutuhkan untuk memahami fundamentalisme adalah kajian ilmiah mengenai korelasi antara urbanisasi, meluasnya pendidikan, komersialisasi, industrialisasi dan alienasi yang memproduksi kebangkitan Islam.11

Kelemahan-kelemahan teoritis dari orientalisme ini disebabkan, salah satunya, karena menggunakan praduga-praduga rasial. Di masa lalu, praduga rasial itu diantaranya bisa dilihat dari karya sarjana orientalis Austria, Gustav Edmund von Grunebaum dalam karyanya yang terbit tahun 1964, Modern Islam: The Search of Cultural Identity.

Di buku itu Grunebaum menyatakan bahwa Islam sebagai agama anti-kemanusiaan, tak mampu berkembang dab bersikap objektif, tidak kreatif, tidak ilmiah dan otoriter.12 Oleh Barat, prasangka-prasangka tersebut tetap dipelihara dan dimapankan, yang di masa kini, menemukan perwakilan terbaiknya pada sikap dan cara Charlie Hebdo.

Covering Islam

Dalam Covering Islam,13 Said lebih gamblang menggambarkan bagaimana Barat mencoba membingkai Islam melalui media, buku, dan jurnal-jurnal akademis. Satu dari sedikit penilaian kritis terbaru tentang kerugian yang ditimbulkan oleh pemberitaan klise tentang Islam, menurut Said, sangat bagus dipaparkan oleh Zachary Karabell dalam karyanya di World Policy Journal, edisi musim panas 1995. 

Karabell memulai premisnya bahwa terdapat perhatian yang berlebih diberikan kepada fundamentalisme Islam semenjak berakhirnya Perang Dingin.14 Kajiannya terutama tertuju pada media umum. Media ini, kata Karabell, telah dipenuhi dengan cita-cita negatif tentang Islam. Dalam 20/20, sebuah program berita prestisius dan terkenal dari stasiun BBC, Karabell mencatat beberapa segmen yang mengupas Islam sebagai suatu agama pembasmi yang menamai dirinya sebagai serdadu-serdadu Tuhan.

Karabell juga menganalisis film BPS garapan Emerson, Jihad in America, yang secara sinis dinilainya dirancang dan dipromosikan untuk mengeksploitasi ketakutan semacam itu, atau bahkan buku-buku terkenal dengan judul-judul yang provokatif seperti Sacred Race dan in The Name of God, yang membuat asosiasi antara Islam dengan irasionalisme menjadi semakin kuat, tak terelakkan.

Melawan Charlie Hebdo

Jelas, Charlie Hebdo bukan satu-satunya cermin orientalisme. Hal itu juga tercermin pada karya-karya ilmiah, produk populer dan sikap negara-negara Barat, terutama Amerika dan sekutu Eropa-nya dalam memandang Islam. Seperti dijelaskan di awal tulisan, saya memilih Charlie Hebdo karena hari-hari belakangan, mereka menjadi anak kesayangan peradaban Barat.

Sekali lagi, tragedi Charlie Hebdo adalah tragedi kemanusiaan  yang harus dikecam. Tetapi melawan kebijakan redaksi dan arogansi mereka, termasuk mayoritas masyarakat Barat, juga sebuah perjuangan untuk menciptakan kondisi yang lebih manusiawi. Disadari atau tidak, apa yang mereka lakukan adalah bagian dari  proyek orientalisme Barat yang berjalinkelindan dengan proyek imperialisme dan kolonialisme yang masih berlangsung hingga hari ini.

Karikatur Charlie Hebdo tentang Islam dan sikap  Barat dalam menanggapi tragedi Paris itu adalah contoh terbaik bekerjanya wacana orientalisme.15 Charlie Hebdo berupaya memaksakan standar (Barat) kepada umat muslim. Mereka melakukannya dengan berlindung pada prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan yang merupakan anak kandung dari rasionalisme Barat.

Dengan demikian, maka akan sangat naif jika kritik hanya berhenti pada seonggok media bernama Charlie Hebdo. Kritik juga harus dialamatkan kepada gagasan universal tentang demokrasi, kebebasan, HAM yang diproduksi dan dikampanyekan oleh Barat.Ada yang membusuk dan harus direvitalisasi dalam gagasan-gagasan tersebut.

Tragedi Charlie Hebdo, sedikit banyak mengungkap elemen-elemen yang membusuk dalam wacana tentang kebebasan dan demokrasi yang dikampanyekan Barat. Wacana itu ternyata gagap, abai, atau sengaja menutup diri terhadap keberagaman keyakinan, nilai dan praktik keagamaan dari masyarakat dunia yang hari ini semakin terhubung.

Dalam masyarakat yang semakin terkoneksi itu, setiap tindakan atau pernyataan bisa dilihat, dibaca dan direspon oleh setiap orang, sehingga semakin rentan terhadap benturan politik, kebudayaan dan keagamaan. Barat mengabaikan itu. Mereka masih dengan angkuhnya mengklaim kebebasan dan demokrasi versi mereka sebagai satu-satunya jalan menuju masyarakat yang lebih baik.

Setiap klaim, tindakan, atau pernyataan Barat tentang wacana tersebut akhirnya menjadi sabda baru menggantikan wahyu-wahyu keagamaan yang mereka singkirkan di masa lalu. Di sisi lain, lewat klaim-klaim itu Barat menerapkan kebijakan-kebijakan agresif seperti invasi Amerika Serikat dan sekutu ke Afghanistan dan Irak, atau “mendesakkan” aturan perdagangan bebas kepada negara-negara Dunia Ketiga.

Inilah wajah Charlie Hebdo yang sebenarnya, yang disokong oleh klaim-klaim usang Barat atas kebebasan dan demokrasi. Barat tidak akan mengakui semua hipokrisi ini karena orientalisme telah memberikan investasi material yang sangat besar kepada mereka. Tugas kitalah untuk terus membelejeti elemen-elemen yang membusuk dalam gagasan tersebut, agar diakui oleh Barat.

Tentu saja, ini akan menjadi tugas berat dan panjang, yang hanya bisa dilakukan lewat kerja-kerja kritis di ranah keilmuan, kebudayaan dan kerja-kerja politik nyata. Sebab hanya lewat kerja-kerja inilah kita bisa memperjuangkan sebuah hubungan dan dialog yang dilandasi prinsip kesetaraan, keterbukaan dan saling menghormati antara Barat dan Timur.

***

BACA JUGA TANGGAPAN RUDOLF DETHU UNTUK NASKAH INI
Vive Le Banksy, Je Suis Charlie

***

Catatan Belakang:

1. Patut diingat, Islam bukan satu-satunya pihak yang dilecehkan atau diolok-olok oleh Charlie Hebdo. Majalah mingguan itu juga kerap melecehkan simbol-simbol agama selain Islam dan tokoh-tokoh politik dunia. Untuk  beberapa karikatur Charlie Hebdo tentang Islam, lihat Huffington Post, “These Are The Charlie Hebdo Cartoons That Terrorists Thought Were Worth Killing Over,” diakses 11 Januari 2014.
2. Ini tidak mengasumsikan adanya keseragaman wajah dan pelaksanaan demokrasi di Barat. Bagaimanapun, demokrasi dan liberalisme memiliki banyak percabangan pemikiran yang pada pada praktiknya di negara-negara Barat memiliki sejumlah perbedaan atau keunikan tersendiri. Meski demikian, perbedaan dan keunikan itu tetap disatukan oleh beberapa prinsip seperti kebebasan individu, separasi agama dan negara dan penghargaan terhadap HAM. Untuk kajian menarik mengenai ini, terutama perbandingan di Eropa Barat,  baca Emil J Kirchner, Liberal Parties in Western Europe, Cambridge University Press, New York, 1988.
3. Tempo.co, “10 Kartun Charlie Hebdo yang Kontroversial,” diakses 11 Januari 2014.
4. Sebagai akibatnya, menurut Said, maka sejumlah penulis yang terdiri dari penyair, novelis, filsuf, pakar politik, ekonom dan pejabat negara harus menerima dan tak jarang juga menerima pembedaan antara Timur dan Barat ini sebagai titik pijak mereka untuk merumuskan beragam teori, cerita, novel, potret sosial dan kajian politik mereka mengenai dunia Timur, rakyat Timur, adat kebiasaan Timur, “pikiran” Timur, takdir Timur dan sebagainya. Lihat Edward Said, Orientalisme, terjemahan oleh Achmad Fawaid, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hlm. 3.
5. Ibid., hlm. 17.
6. Ibid., hlm. 18.
7. Diskurus itu melahirkan hierarki masyarakat, menempatkan Barat di puncak perkembangan sosial. Lihat Priya Chacko, “Modernity, Orientalism And The Construction Of International Relations,” Lihat juga Mirza Jaka Suryana, “Studi Poskolonial untuk Pengembangan Literatur Ilmu Hubungan Internasional,” dalam Asrudin & Mirza Jaka Suryana (penyunting), Refleksi Teori Hubungan Internasional: Dari Tradisional ke Kontemporer, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009, hlm. 363-381.
8. Stephen Toulmin, COSMOPOLIS: The Hidden Agenda of Modernity, University of Chicago Press, Chicago, 1990, hlm. 5.
9. Madan Sarup, Posstrukturalisme dan Posmodernisme: Sebuah Pengantar Kritis, terjemahan oleh Medhy Aginta Hidayat, Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2003, hlm. 228. Lihat juga I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2006.
10. Edward Said, Op.Cit, hlm. 9.
11. Analisis Kelas Marxis dalam memahami fundamentalisme Islam juga tak luput dari pengaruh orientalis. Pendekatan-pendekatan itu memang memberi kontribusi dalam membantu memahami fundamentalisme Islam. Namun gagal menangkap hakikatnya karena enggan teori-teori modernisasi enggan menceburkan diri dalam asumsi bahwa tindakan merupakan ungkapan dari sistem makna. Untuk ulasan lebih jauh, baca Roxanne L. Euben, Musuh Dalam Cermin: Fundamentalisme Islam dan Batas Rasionalisme Modern, terjemahan oleh Satrio Wahono, PT SERAMBI ILMU SEMESTA, Jakarta, 2002, hlm. 46-98.
12. Grunebaum bahkan menyatakan bahwa satu-satunya cara yang bisa dilakukan Islam untuk menjadi modern hanyalah dengan menafsirkan kembali dirinya dari sudut pandang Barat. Namun, hal ini pun, kata dia, merupakan hal yang mustahil dilakukan Islam. Lihat Said, Op.cit., hlm. 464.
13. Baca Edward Said, Covering islam, Vintage Books, New York, 1987.
14. Kita tahu bahwa selama Perang Dingin, perhatian AS tersita untuk membendung laju komunisme di dunia.
15. Barat memang terbelah dalam menyikapi isu ini. Namun hanya sedikit masyarakat Barat yang mencoba mengkritik Charlie Hebdo dan kemunafikan para pemimpin mereka. Setelah tragedi itu, pemerintah Prancis bahkan menyumbang 1.2 juta dolar Amerika kepada Charlie Hebdo untuk membantu publikasi yang belakangan oplahnya terus merosot. Sumbangan juga datang dari Google.Inc, The Guardian dan pihak lainnya. Lihat Bloomberg, “Charlie Hebdo To Print 3 Million Copies With Muhammad Cover,” diakses 13 Januari 2013.

 

***

Telusuri #CharlieHebdo

 

Last modified on: 25 Januari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni