(0 votes)
(0 votes)
Read 1073 times | Diposting pada

Kita Adalah “Ndeso” yang Lain

 

Di Jawa orang mengenalnya sebagai Ndeso dan “Wong Ndeso”. Di Jakarta ada istilah “udik” dan “orang udik”. Di Sumatera mungkin akan ada yang memakimu “kampungan kali kau!”. Dan di sini, dalam bahasa Sunda di tempat saya (Serang – Banten), memiliki kata “dusun” untuk menghardik orang yang tidak memiliki sopan santun.

Meskipun banyak dari kita yang protes karena menganggap ungkapan itu tidak adil dan menyudutkan sekelompok orang yang tinggal di wilayah tertentu, namun pada kenyataannya kita dipaksa menelan fakta bahwa desa memang selalu menjadi wilayah yang lebih tertinggal dalam pembangunan dan banyak hal lainnya. Apa lagi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, di mana pembangunan masih berpusat pada sejumlah kota-kota besar. Pada kenyataannya di desa-desa kita banyak menemukan orang yang hidup miskin, berpendidikan rendah, berwawasan sempit dan sangat fanatik.

Sementara kota dalam kebijakan pembangunan yang sentralistik sudah terlanjur menjadi simbol pembangunan, kemajuan, kemakmuran, dan segala hal yang lebih tinggi standarnya dibanding lingkungan sekitarnya (desa-desa). Walaupun pada kenyataannya masih banyak warga kota yang masih “ndeso”!

Apakah ada orang-orang desa yang kaya dan terpelajar? Tentu saja ada! Apakah ada orang-orang yang tidak tahu sopan santun dan norak tinggal di kota? Ya tentu saja ada! Dan kita pun menyebut mereka “Ndseo!”, “Udik!”, “Kampungan!”, karena orang-orang ini dianggap tidak siap menjadi warga kota.

Pada perkembangannya kata “ndeso” ini sudah memiliki artinya sendiri. “Ndeso” tidak sama lagi dengan definisi “desa” sebagai sebuah kesatuan wilayah yang terletak di luar kota. “Ndeso” memiliki artinya sendiri, yakni orang yang tidak tahu sopan santun, ketinggalan zaman dan norak! Ndeso tidak lagi merujuk pada sekelompok orang yang bermukim di luar kota. Species Homo Ndesoensis ini bisa kita temukan baik di desa dan di kota. Kelas menengah ngehek yang kita kenal sebagai OKB (Orang Kaya Baru) banyak dihuni oleh species Ndeso ini.

Kelen yang baca ini dan merasa sebagai kaum ngintelek kota juga jangan senang dulu. Mari kita periksa diri masing-masing, apakah kita masih menyisakan ke-ndeso-an dalam diri kita? Kita disebut “Ndeso” bukan hanya karena tempat tinggal kita yang di peloksok dan nama kita yang jadul. Kamu akan disebut “Ndeso” kalau hari gini masih buang sampah sembarangan! Kamu “Ndeso” kalau kamu masih gak ngerti betapa agungnya seorang Maria Ozawa dan Mia Khalifa! Kamu “Ndeso” kalau ngelamar kerja aja pakai nyuap sana-sini! Kamu “Ndeso” kalau masih gampang percaya pada berita hoax dan cocoklogi! Kamu “Ndeso” kalau masih rasis! Kamu “Ndeso” kalau berurusan dengan orang dikit-dikit nanya “agama kamu apa?”! Ndeso tenan!

Kamu “Ndeso” kalau masih percaya sama tuyul! Kamu “Ndeso’ kalau masih takut sama pocong, kuntilanak dan genderuwo! Kamu juga “Ndeso” kalau teriak-teriak boikot Starbucks karena support LGBT! Kamu “Ndeso” kalau masih nganggep manusia berjenis kelamin perempuan kayak permen, perhiasan atau seonggok daging! Kamu Ndeso, kalau selamanya hidupmu masih bergantung sama orang lain! Kamu “Ndeso” kalau masih suka bohong, korupsi dan malakin orang! Kamu Ndeso kalau kamu sudah nelen roti, bubur kacang ijo, telor rebus, lontong dan pisang, tapi masih merasa kamu belum makan! Kamu Ndeso kalau masih menganggap musik rock itu musik setan! Kamu Ndeso kalau menganggap segala hal dari luar negri itu lebih keren! Kamu "Ndeso" kalau menganggap segala yang tradisional itu ndeso! Kamu “Ndeso” karena gaya potongan jembutmu gak kekinian! Pokoknya kamu NDESOOO…!

Dan pada perkembangannya lagi, “Ndeso” tidak melulu berarti sebuah hinaan, kadang itu sebuah candaan dan umpatan akrab seperti “Jancuk”, kadang juga menjadi sebuah satir untuk mengingatkan kita semua bahwa setiap kita masih Ndeso dalam banyak hal lain. Kamu Ndeso! Saya Ndeso! Kelen Ndeso! Kita Ndeso! Indonesia ini juga masih NDESO, Cuuuk! (*)

Last modified on: 7 Juli 2017

    Baca Juga

  • Bahaya Laten Persekusi dan Teror oleh Negara


    Ada yang perlu digarisbawahi dari peristiwa persekusi yang sempat ramai belakangan, yaitu keberulangan. Indonesia memiliki catatan menarik pada kasus persekusi. Sebagai sebuah karakter dasar dari berbagai instrumen hak asasi manusia,…

     

  • Dalai Lama Terakhir (?)


    Last Week Tonight bersama John Oliver baru saja mengeluarkan sebuah video tentang pertemuan komedian Inggris itu dengan Dalai Lama. Menurut saya, ini adalah salah satu video terpenting tahun ini karena…

     

  • Puncak Abadi Para Dewa


    Sulit rasanya untuk menolak nama Dewa 19 masuk dalam jajaran hall of fame musik Indonesia, kalau ada. Pun meski kini nasibnya tidak jelas, setidakjelas lagu-lagu baru ciptaan Ahmad Dhani, Dewa…

     

  • Produksi Film Indie di Indonesia Terus Meningkat


    Produksi film independen berbudget rendah dan film pendek di Indonesia terus meningkat jumlahnya. Bila satu dekade lalu produksi film indie masih ratusan, kini mencapai angka 1.500 film dari berbagai genre.

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni