(9 votes)
(9 votes)
Read 16186 times | Diposting pada

Kisah Raffles dan History of Java

Redaksi JB
Oleh:
Redaksi JB
 Kolom
Kisah Raffles dan History of Java Credit Photo: http://mylearningpod.org

 

Oleh Sulaiman Harahap, pegiat sejarah di komunitas Akar & peneliti budaya di FIB UI

Jawa yang mempesona nan menggairahkan itu, bagi jiwa yang penuh warna dan semangat belajar yang tinggi, seperti Thomas Stamford Raffles, adalah ladang kehidupan dan ladang ilmu. Sungguh ia telah tertambat hatinya dengan apa yang tersaji di tanah yang kaya akan silang budaya itu. Pantaslah, ia bersedih tatkala masa baktinya sebagai Letnan Gubernur di Jawa berakhir dan mesti meninggalkan pulau penuh “kejutan” itu. Kala sendu itu terjadi pada Maret 1816—empat setengah tahun sejak kedatangannya pada September 1811.


Tak hanya soal sejarah, bahasa, sosial-politik, kesenian, dan religi yang ditelusurinya, aneka tetumbuhan (botani) dan hewani (zoologi) pun ia jejaki, bahkan koleksi. Demi memperlancar studi-studinya itu, Raffles sampai membentuk staf asisten penelitian yang ditugaskan melaporkan hasil survey dan apa-apa saja yang ditemukan selama meneliti Jawa.

Salah satu asisten andalannya adalah Dr. Horsfield, seorang naturalis, ahli benda kuno, dan seniman asal Amerika yang sudah 11 tahun lebih lama di Jawa dibanding Raffles. Bersamanyalah, ia menemukan candi Penataran pada 1815 di utara Blitar, Jawa Timur. Bahkan, Raffles mengarahkan agar para sultan-sultan Jawa untuk menuliskan sejarah negara mereka. Ia pun menyimpan segala jenis hewan dan aneka tumbuhan yang ditelitinya. Beberapa dari objek penelitiannya itu ia layangkan ke Museum Oriental milik Rumah Perusahaan India Timur di Inggris untuk disimpan.

Salah satu dedikasi besarnya terhadap budaya kebendaan Jawa adalah ditemukannya candi raksasa, Borobudur, yang dibangun Dinasti Syailendra, Raja Samaratungga, pada sekitar 824 M. Sejak merosotnya ajaran Buddha Mahayana di Jawa, eksistensi candi ini menyusut, tenggelam, hingga dirumputi, ditimbun pepohonan, ilalang, dan diselimuti bekas debu letusan Gunung Merapi.

Pada 1814 Raffles memerintahkan segera setelah ia mendapat perkabaran akan adanya candi raksasa yang terbenam tersebut untuk dibersihkan. Raffles pun memerintahkan H. C. Cornelius untuk menyelidiki dan membersihkan kawasan bersejarah tersebut. Alhasil, kembali bangkitlah Borobudur dari persemayaman panjangnya itu.

Dalam penelitiannya di pedalaman Jawa, Raffles bersama dua asistennya, James Crawfurd dan Colin Mackenzie, pun berhasil merekam apa yang mereka saksikan, seperti: keadaan geografi, kepadatan penduduk, sistem perdagangan, pertanian, sosial-budaya, dll. Segala penelitian tersebut ia jalankan dengan pendanaan pribadi. Semua itu, dilakukan demi keterpukauannya terhadap peradaban Jawa yang menambat hatinya. Salah satu bangunan peninggalan Raffles dan juga merupakan salah satu aplikasi dari kecintaanya terhadap budaya dan sastra Jawa adalah dibangunnya Museum Etnografi Batavia, yang hingga kini masih berdiri kokoh.

Tak banyak orang tahu sisi ilmuwan seorang Raffles. Orang banyak tahu Raffles adalah penakluk Jawa dari tangan kekuasaan Perancis dan juga penakluk keraton-keraton di Jawa (Banten, Cirebon, dan Yogyakarta). Serta orang banyak tahu bahwa ia adalah sosok pembaru dalam sistem pertanahan dan pembagian 16 distrik di Jawa. Mungkinkah ini adalah dampak dari karakternya yang tak suka pamer dan unjuk gigi? Hal ini sejalan dengan berita yang diutarakan seorang Melayu bernama Abdullah, juru tulis di kantor Raffles di Malaka, yang menulis dalam Memoirnya: “Jika pengalamanku ini tidak salah, tidak ada yang menyamai kemampuan dan kebesaran hati Raffles di dunia ini”.

Raffles, Sang Letnan Gubernur cum Orientalis.

Raffles bersedih, ketika awal jejaknya di Jawa ditandai dengan kematian Dr. John Leyden, seorang orientalis hebat, dokter handal, sahabat,

dan pembimbing studi Raffles di Timur

Petualangan orientalisme Raffles banyak diperoleh dari Dr. Leyden. Pasalnya, selama ekspedisi ke Timur menjadi seorang Asisten Sekretaris di Perusahaan India Timur—berawal di Penang, Malaysia—Raffles banyak berdiskusi dan akrab dengan Leyden. Ia adalah sosok hangat dan cerdas. Raffles menilai sosok Leyden adalah seorang yang fenomenal dengan memorinya yang luar biasa, serta alur bicaranya yang mengalir dan penuh wawasan. Lord Minto—Gubernur Jenderal perusahaan dagang India Timur—menilai kemempelaian intelektual Leyden-Raffles adalah serasi dan komplementer.

Di Penanglah, mereka berkenalan lalu akrab, hingga nanti pada hari pertama Raffles dan pasukan ekspedisi penaklukan Jawa sampai ke Batavia, maut memisahkan kolaborasi intelektual ini. Leyden wafat dalam pengembaraan ilmu pengetahuan. Walau malaria tengah mencekamnya, ia tetap hibuk membongkar arsip-arsip sekretariat Belanda di ruang bawah tanah di Batavia.

Ia tak lelah walau perjalanan selama enam minggu di atas kapal perang Modeste dari Malaka menuju Batavia baru saja dia tempuh. Panas tubuhnya pun memuncak pada kematian. Kematian Leyden sungguh membuat Raffles terpukul. Ia telah kehilangan pemandu studinya yang sangat ia andalkan. Raffles pun lalu menuliskan surat kepada William Marsden—ilmuwan orientalis Inggris, penulis buku History of Sumatra (terbit tujuh tahun lebih awal dari History of Java), dan lama tinggal di Bengkulu—dalam satu kalimat suratnya bertulis: “kita telah kehilangan seorang ahli di bidang literatur ketimuran”.

Kesedihan Raffles tidak lantas membuatnya berhenti bergairah terhadap ilmu pengetahuan, terutama soal sejarah, budaya, bahasa, zoologi, dan botani di Jawa dan Sumatra. Bahkan tatkala ia diangkat menjadi Letnan Gubernur di kawasan yang pada masa sebelumnya dikuasai Belanda, yakni Hindia Belanda, Raffles tetap bersuka cita menjalankan kecintaannya terhadap studi-studinya itu. Bahkan hingga kondisi fisiknya melemah karena penyakit, kesedihan, hingga kelelahan kerja, ia tetap memperlihatkan sosoknya yang optimis, gigih, dan penuh percaya diri menjalankan kerja intelektual. Tak dibiarkannya waktu luang untuk hal yang tak berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Sungguh pribadi yang enerjik dan berkualitas.

Maka tak heran, G. M. Trevelyan, dalam buku British History in Nineteenth Century (1922) menuliskan Raffles sebagai “Salah satu orang hebat dan pegawai terbaik Kerajaan Inggris yang pernah dimiliki. Mungkin dia adalah orang Eropa pertama yang membawa metode humanitarian dan ilmiah modern untuk mengembangkan begitu banyaknya ras-ras asli di Asia”.

Dalam banyak guratan sejarah, kala Raffles menjabat Letnan Gubernur di Jawa, ia dituliskan sebagai sosok pembaru bagi sistem kolonial konservatif yang ditanamkan pemerintah sebelumnya. Ia hadir dengan ide-ide liberal dan kebijakan-kebijakannya yang berpihak pada kemanusiaan.

Dari semua kebijakannya di Jawa, yang terpenting adalah soal pertanahan, karena berkaitan langsung dengan penghidupan rakyat Jawa. Pada masanya, Raffles melakukan reformasi peraturan pertanahan. Ia memberlakukan sistem pajak tanah (landrente). Dalam buku Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi karya bersama Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, gagasannya itu timbul dari upayanya untuk memperbaiki sistem paksa dari Kumpeni (VOC), yang dianggap memberatkan dan merugikan penduduk. Maka dari itu, Raffles menghendaki perubahan sistem penyerahan paksa dengan sistem penyerahan pajak tanah, yang dianggap akan menguntungkan kedua belah pihak baik negara maupun penduduk.

Di tengah hiruk-pikuk suasana perang Napoleon di Eropa, perseteruan dengan pihak Keraton Yogyakarta, dan setumpuk permasalahan administrasi dan birokrasi di Tanah Jawa, Raffles sungguh tepat memilih Buitenzorg (Bogor), tepatnya di Cisarua kira-kira berjarak 40 mil dari Batavia, sebagai tempat tinggal. Di sana ia tinggal bersama istrinya Olive Marianne Devenish, yang cerdas, hangat, dan sungguh dicintainya (makamnya dapat kita jumpai di Kebun Raya Bogor).

Ia memilih kawasan indah nan sejuk ini sebagai tempat kerjanya dan jua untuk menghindari bahaya yang disebar oleh nyamuk-nyamuk dari rawa-rawa di Batavia yang mengundang Malaria dan merenggut nyawa. Di sanalah History of Java mulai digurat penuh seksama berdasarkan bahan-bahan yang diperoleh dari para staf riset dan observasi pribadi Raffles di Tanah Jawa.

Namun, ketika masa jabatnya sebagai Letnan Gubernur di Jawa berakhir, otomatis proyek penelitian pun terhenti. Ia pun pulang ke London memboyong segala koleksi manuskrip, ukiran, tekstil, tanaman, substansi hewan, serangga, buah, dan seni kuno miliknya yang mencapai berat 30 ton dan dibungkus dalam 200 peti.

Segera sesampainya di London, ia melanjutkan proyek penulisan History of Java. Buku ini pun berhasil dirangkumkannya, lalu diterbitkan dalam dua jilid pada 1817. Berkat sumbangan informasi dan ilmu pengetahuan akan dunia Timur yang berharga, sebagimana termaktub dalam History of Java, gelar Sir pun disandangnya. Kebangsawanan yang baru diperoleh Raffles diceritakan dalam sebuah biografi yang dituliskan Thomas Jefferson, Hidup, Cinta, dan Tragedi. Raffles Sang Pejuang.

Dalam beberapa frase biografi tersebut, Travers, pencatat perjalanan dan teman baik Raffles, menuliskan:

”Tuan Raffles ditemani pergi ke pantai oleh semua penduduk Batavia yang menangisi kepergiannya. Kepala penduduk Cina dan penduduk asli tidak mau meninggalkannya hingga mereka melihatnya berlayar”.

Last modified on: 26 November 2013

    Baca Juga

  • Dalai Lama Terakhir (?)


    Last Week Tonight bersama John Oliver baru saja mengeluarkan sebuah video tentang pertemuan komedian Inggris itu dengan Dalai Lama. Menurut saya, ini adalah salah satu video terpenting tahun ini karena…

     

  • Video: Stranger Things dalam 8-bit


    Amerika menjadi negara besar karena arsip yang tersimpan baik, dan setiap generasi dibuat peka terhadap referensi-referensi kesejarahan mereka dengan banyaknya buku-buku yang harus dilahap bahkan oleh anak SD. Hipsterdom di…

     

  • Kuasa Aroma dan Seksualitas


    HIDUNG tak bisa berpuasa. Indera pengecapan bisa berhenti makan dan minum. Indera penglihatan bisa berpuasa melihat hal-hal “kotor.” Pendengaran, dapat “dibersihkan” melalui puasa dari mendengarkan yang tak elok. Sementara rehat…

     

  •  

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni