(0 votes)
(0 votes)
Read 4136 times | Diposting pada

Kinoki, si Mata Kamera

Gde Dwitya
Oleh:
Gde Dwitya
 Kolom

Pertemuan saya dengan Elida Tamalagi dimulai dari sebuah sua impromptu di dunia maya. Sicut Dei, demikian nama penanya, berkunjung ke halaman blog seorang rekan, Windu Jusuf, dan menuliskan beberapa komentar selepas salam perkenalan. Saya dengan naluri seorang voyeur sempat mengintip dan berkunjung balik.


Saling mengunjungi di blog terus berlanjut sampai suatu hari ketika saya diajak singgah ke sebuah lokasi di Tirtodipuran oleh Windu, sang kamerad intelektual. “Kinoki, nama tempat itu, memutar film alternatif,” katanya membujuk.

Tempat yang kami kunjungi ternyata sungguh beraroma alternatif. Bioskop alternatif tepatnya. Ruang pemutarannya adalah sebuah garasi yang dialih fungsikan dengan paksa. Ada layar dari kain yang digantung melintang di dinding—belakangan saya tahu itu bekas spanduk, serta ada seperangkat sound system meringkuk di pojokan. Tempat duduknya dari tong bekas dan ban yang telah dipermak. Sebuah LCD projektor mengintip dari langit langit, sekilas memaksa saya mengingat lampu tower menara panopticon dari arsitektur penjara Benthamian.

Dari terang lamat lamat lampu projektor itulah diputar rangkaian film yang tak begitu akrab dengan seorang pengunjung 21; ada Ideoterne dari Lars von Trier, sutradara Denmark pencetus gerakan Dogme, ada Tamu Agung dari Usmar Ismail. Sempat pula diputar film pendek eksperimental Un Chien Andalou hasil kolaborasi Luis Bunuel dan Salvador Dali.

Besutan Lars von Trier menarik, ia menyutradari fiksi dengan konvensi penggunaan kamera ala dokumenter. Sebelumnya saya sudah pernah dibuat kagum oleh Dancer in the Dark, film yang ia buat dengan mendaulat Bjork jadi bintang utamanya.

Sehabis menonton, kami bersantai di bar kecil yang bersebelahan dengan garasi tempat memutar film. Saya melirik seorang pria disebelah kami yang sedang mendiskusikan sado-masochism sambil menenggak sebotol bir Bintang. Windu berdecak karena baru sadar bahwa kursi yang ia duduki ternyata terbuat dari wajan penggorengan yang diberi empat kaki. Seakan tak cukup nyentrik, masih ada sebuah knalpot bekas yang dilekatkan di kaki kursi itu.

Memang, sebagaimana ciri khas tempat nongkrong di daerah selatan Jogja, Kinoki juga punya interior yang unik—selain pengunjung yang unik seperti si pria tadi. Dinding ruangannya dibombardir karya grafis dan coretan ala mural dengan tema film. Seraut stensil kamera hasil olah pilox menempel manis di dinding. Tak ketinggalan ada siluet wajah artis dibingkai reel film, lagi lagi hasil kreativitas cat pilox. Mungkin Ingrid Bergman, khayal saya sok tahu. “Ini karya anak grafis Minggiran,” ujar si penanggung jawab bioskop yang menghampiri kami dan kemudian memperkenalkan diri dengan nama Elida.

Astaga. Siapa sangka, ternyata Elida si penanggung jawab bioskop adalah Sicut Dei yang selama ini kami kenal lewat blog.

Windu kemudian menyalakan sebatang Djarum 76. Kurang lebih artinya ia akan memaksa saya tinggal untuk semalam penuh diskusi.  

Romantisme Tirtodipuran

“Tempat ini dimulai dari idealisme yang romantik,” demikian kira kira Elida bertutur. Bermula dari niat sekelompok anak muda yang menginginkan ruang bersama untuk memutar film koleksi mereka, berakhir dengan aktivisme pemutaran bertema. Di luar, aktivisme pemutaran ini disebut repertoar cinema. Mereka memutar serangkaian film yang disatukan oleh benang merah tersendiri.   

Para anak muda yang menginginkan ruang bersama tersebut ada beberapa orang. Mereka punya latar belakang yang beragam; seorang aktivis anarko bawah tanah cum pekerja LSM, seorang mahasiswa ekonomi dan pencinta seni, ada beberapa bocah fakultas sastra, serta seorang calon peneliti Antropologi dari Jerman. Inilah embrio Kinoki.

Mereka kemudian mengumpulkan segala daya upaya dan kapital yang ada untuk menyewa sebuah rumah kecil di bilangan Tirtodipuran—wilayah yang ramai dengan turis dan kafe yang menarik di Jogja selatan. Kedai Kebun Forum dan Milas adalah dua tempat hang-out yang menjadi tetangga Kinoki dan telah eksis terlebih dulu.

"Ngomong ngomong, Kinoki artinya apa?" Windu mencoba menyelidik.

“Thomas Stodulka, si calon antropolog, yang mencetuskan ide nama Kinoki. Kata itu kurang lebih artinya mata kamera. Ya, kamu benar, ia terinspirasi Dziga Vertov dan Kino Pravdanya,” ujar Elida  

Dziga Vertov, kita tahu, adalah dedengkot dokumenter asal Rusia yang menginspirasi gerakan cinema verite di tahun 1960an.

Kinoki bisa jadi memberi warna baru di wilayah itu. Kini makin banyak mahasiswa, turis dan pekerja seni yang bisa menyalurkan hobi mereka untuk menonton film bersama. Komunitas dan ruang bergiat pun terbentuk.

Diskusi film kerap diadakan di tempat ini. Output-nya, Kinoki menerbitkan newsletter bulanan sebagai media komunikasi dengan publik. Isinya jadwal pemutaran dan sejumlah esai pendek pemantik wacana.Terbitan mereka mengingatkan saya pada pamflet kekiri-kirian yang banyak bertebaran di kamar kos mahasiswa. Romantik.

Jujur, kesan romantik tak bisa disembunyikan di Tirtodipuran. Tak cuma desain interior nyentrik seperti yang telah digambarkan diatas, namun asal usul properti tersebut juga penuh cerita.

Ada yang menyumbang karya kreatif seperti seniman grafis Minggiran yang rela meluangkan waktu untuk menghias dinding ruangan, ada juga yang langsung menyumbangkan koleksi film untuk diputar. Bahkan dengan proposal tema pemutaran yang sudah jadi. Film yang diputar kemudian berasal dari koleksi pribadi dan tempat persewaan yang mau bekerja sama dengan Kinoki.

Para penonton juga tak kalah heroik. Pernah ada seorang Oma uzur, turis dari Jerman, yang datang menonton pemutaran Dinner for One cuma karena film itu sudah jadi tradisi untuk ditonton tiap malam tahun baru di negaranya. Kebetulan, Kinoki merayakan pergantian tahun dengan memasukkan film itu dalam jadwal pemutaran.

“Oh ya, projektor dan sound system itu beli dari duit sendiri. Agak lucu juga mengingatnya. Waktu itu yang jual keheranan, karena kubilang buat nonton film di rumah,” terang Elida waktu saya tanya tentang peralatan milik Kinoki.

Mata Kamera

Kinoki hanya setahun bertahan di Tirtodipuran. Gempa yang melanda Jogja di bulan Mei 2006 memaksa setiap orang untuk memulai kembali lembaran baru. Kinoki tak terkecuali, mereka juga harus mencari tempat baru untuk beroperasi.

Sejak berpindah tempat itulah fase baru dimulai, ketika Kinoki mulai menasbihkan dirinya sebagai magnet wacana perfilman di Jogja. Seiring dengan ditemukannya tempat baru yang lebih representatif, di Suroto 20 yang bersebelahan dengan Bentara Budaya Yogyakarta, Kinoki mulai lebih dikenal sebagai sarangnya cinephilia antusias yang kritis. Mereka melakukan pemutaran film, dokumentasi, menjadi fasilitator diskusi dan rekanan bagi berbagai lembaga yang ingin memanfaatkan film sebagai media penyampai pesan, sembari tak lupa dengan cita cita untuk menggerakkan budaya menonton. Misi mereka juga jadi lebih jelas sebagai situs yang mempertemukan film maker dan penontonnya.

KUNCI cultural studies center dan Lembaga Indonesia Prancis adalah rekanan lokal yang loyal. Dan tak terhitung lagi jejaring dari luar semacam Konfiden yang aktif di pengembangan film independen Indonesia, Forum Film Dokumenter, Rumah Cinema, Kineruku, Arisan Film Forum, atau Cemeti Art House Yogyakarta.

Alusi tentang mata kamera mungkin ada benarnya: disaat Kinoki sedang aktif, ia memotret dan merekam rutinitas kawula film di Yogya. Disitu ia jadi begitu penting. Dan Elida bersama sindikatnya jadi makin sibuk.

Saya sempat mengundangnya untuk memberikan materi pemutaran dan diskusi bagi para mahasiswa baru calon penggiat pers kampus, Dian Budaya, kami. Hitung hitung, setelah saya selidiki belakangan, ia juga alumni fakultas ini. Sastra Perancis 99.

Dengan semangat yang jarang saya jumpai pada rekan sesama aktivis mahasiswa yang kian lembam, ia bersedia mencarikan sebuah film pendek berjudul Kara Anak Sebatang Pohon, karya Edwin sineas muda Indonesia yang sedang ramai dibicarakan.

Sebelum film dimulai, ia meminta sebuah lagu untuk diputar terlebih dahulu. Saya tersentak ketika mendengar Internationale dari Billy Bragg mengumandang mengundang sunyi yang takzim. Di auditorium fakultas Sastra itu, saya terlempar ke masa lalu yang serupa hantu. Sekelebat ingatan tentang para aktivis muda anggota PRD yang rapat di loker Dian Budaya di belakang kampus pun tak kuasa saya bendung.

Film diputar usai seremoni kecil tadi. Bertutur tentang seorang bocah tumbuh ditengah hutan belantara yang mengalami gegar budaya ketika kembali ke kota, kamera bergoyang rusuh ketika Kara memasuki sebuah gerai McDonald dimana Ronald menyeringai penuh dosa.

Diskusi usai menonton pun jadi riuh. Tak usah ditanya siapa yang memulai menyebut kapitalisme dan kuasa pasar. Saya tercenung sejenak. Selamat datang di dunia aktivisme mahasiswa, saya berucap dalam hati.

***

Usai acara pemutaran di kampus itu, cukup lama saya tidak bersua dengan Elida Tamalagi. Pertama tentu karena kesibukannya menggawangi Kinoki yang kian padat aktivitas. Kedua, mungkin karena saya yang makin tersesat dalam cita cita saya untuk belajar antropologi dan ilmu politik. Tumpukan novel dan buku puisi, serta beberapa film pemberiannya, sudah saya geser dari rak buku di kamar kos. Digantikan monograp kering dan lembaran jurnal.

Terkadang jika sempat, ia akan mengirim pesan pendek memberi tahu jika ada film yang harus saya tonton. Atau saya yang akan singgah ke bar Kinoki, menenggak sebotol bir tanpa kepastian bisa menemuinya. Ia mungkin sedang ke Jakarta atau mengurus program pemutaran.

Jarang sekali ada kesempatan seperti suatu siang di kantin fakultas Sastra ketika saya memaksa untuk menemuinya dengan rayuan sebotol bir. “Am wrking on an artcle abt Kinoki. Care for a drink tmorrow mrning?” singkat pesan pendek itu saya kirim. “It’ll do” balasnya tak kalah singkat.

Ia membawa berita baik keesokan harinya ketika kami membagi sebotol besar bir Bintang di tengah hari bolong, kantin sastra. “Kita sekarang putar film di TBY secara rutin, juga dapat kantor untuk ruang penyimpanan film dan buku” ucapnya antusias.

Saya coba bayangkan ruangan luas di bioskop societet Taman Budaya Yogyakarta itu. Jelas berkali lebih besar dari garasi Kinoki. Akhirnya pemerintah kota peduli juga pada gerakan anak muda, si mata kamera ini.

Bir kami mendadak terkecap lager terbaik di Eropa.

Last modified on: 23 Desember 2013

    Baca Juga

  • Gado-gado Rasa Banda


    Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. Termasuk tertidur di tengah-tengah film saat di dalam bioskop. Pengalaman itulah yang saya alami ketika menonton Banda The Dark Forgotten Trail karya sutradara…

     

  • Video: Stranger Things dalam 8-bit


    Amerika menjadi negara besar karena arsip yang tersimpan baik, dan setiap generasi dibuat peka terhadap referensi-referensi kesejarahan mereka dengan banyaknya buku-buku yang harus dilahap bahkan oleh anak SD. Hipsterdom di…

     

  • Berhala (Baru) itu Bernama Wiji Thukul


    “Kau benci Soeharto?!” Tangan berbulu itu menempeleng kepala saya. Segalanya mendadak gelap. Ada ribuan kunang-kunang beterbangan. Sebelum mata sempat membuka, saya merasakan tangan itu menjambak rambut saya. Muka Sersan Kepala…

     

  • The Lennon Report: Kisah di Balik Kelambu


    Sutradara/cerita/skenario : Jeremy Profe/Walter VincentProduser : Gabriel FransiscoDurasi : 87 menitProduksi: Fransisco Films, 2016

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni