(0 votes)
(0 votes)
Read 2414 times | Diposting pada
Resensi Film Freddie Mercury - The Great Pretender

Ketika Sang Raja Tak Bisa Pura-Pura

Anwar Holid
Oleh:
Anwar Holid
 Kolom

 

Freddie Mercury - The Great Pretender
Sutradara: Rhys Thomas | Produser: Rhys Thomas, Jim Beach | Editor: Christopher Bird | Rilis:16 Oktober 2012 | Genre: Dokumenter | Asal negara: Inggris | Bahasa: English | Durasi: 87 menit | Produksi: Eagle Rock; Mercury Songs Release


Aku mendengar kabar kematian Freddie Mercury dari TVRI. Waktu itu hampir tengah malam. Aku sedang sendirian menatap televisi hitam putih. Semua orang sudah tidur. Ketika penyiar memberitakan kematian Freddie, aku langsung terpana. Aku dengar baik-baik sampai selesai. Setelah itu aku terdiam beberapa saat. Rasanya ada yang menghilang dari dalam diriku. Seakan-akan ada yang kosong... tapi setelah itu pikiranku langsung membeberkan album dan lagu Queen favoritku.

Queen adalah band favorit nomor satuku. Aku tumbuh ketika lagu “I Want to Break Free” atau “Radio Ga Ga” sering diputar atau diminta agar disetel di radio. Sumber utama informasi Queen berasal dari majalah Hai. Tambahannya dari seperti Vista atau entah dari mana saja. Freddie meninggal setelah Queen merilis Innuendo. Namun spekulasi bahwa Freddie menderita HIV-AIDS sudah terdengar sejak Queen merilis The Miracle. Di beberapa video klip era itu, Freddie terlihat sudah sangat kurus, tulang pipi menonjol, dan matanya cekung. Dia mencukur kumis tebalnya, namun mengganti dengan membiarkan cambang dan kumis tumbuh tipis. Penampilan seperti itu menguatkan dugaan banyak fans, meski dia belum mengakui kepada umum.

Dokumenter Days of Our Lives bahkan mengungkapkan bahwa Freddie merahasiakan dirinya terjangkiti HIV-AIDS dari May, Roger, dan Deacon, dan malah mengutarakan pertama kali pada Jim Beach, manajer Queen. Bisa jadi pilihan tersebut membuktikan betapa dalam hal tertentu Freddie memang seorang tertutup dan pemilih. Tentu saja ini kontradiktif dengan image Freddie di panggung yang kharismatik, memikat, meledak-ledak, dan sangat komunikatif. Di sinilah dirinya sebagai seorang great pretender jadi kentara. Dia seperti bermain peran sesuai tuntutan personanya. Dia suka mengganti-ganti 'topeng' sesuai kebutuhan untuk diperlihatkan dan dilampiaskan semaksimal mungkin, entah sebagai seorang rock star (musisi), teman, makhluk sosial, dan pecinta. Bisa dibilang dia mengeksplorasi berbagai peran itu hingga ujung, berani mendobrak tabu, bahkan melampaui batas, misalnya dalam hal seks.

Apa yang kira-kira ingin dilampiaskan atau disembunyikan seorang rock star jika pada dasarnya dia berkeliaran dari satu puncak ke puncak lain? Apa dia sebenarnya kebingungan dan akhirnya terjebak dalam kepura-puraan akut? Freddie sangat ekspresif, terbuka, banyak ide dalam bermusik dan seni, juga mudah berempati atas nasib manusia. Tapi sebaliknya, dia tampak sengaja menutupi kehidupan pribadinya, yang hanya dibagi pada orang tertentu yang dianggapnya mengerti dan sudah benar-benar dianggap dekat.

Beberapa detil kebiasaan memperlihatkan bahwa secara bawah sadar Freddie tetap tidak bisa berpura-pura atau menyembunyikan diri. Ini terlihat misalnya dari kebiasaan mengusap bibir atas kumis, tidak percaya diri karena gigi tonggosnya, kuatir dengan kulit dan latar belakangnya yang cukup berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya, juga kesukaannya pada wanita tegap berpayudara besar. Soal kecenderungan biseksualnya, bisa jadi itu tidak terlepas dari pengaruh lingkaran gaya hidup sangat bebas. Manajer hebat di awal karir Queen ialah seorang gay, teman-teman dekat Freddie banyak yang homoseksual dan biseksual, asisten pribadinya pun gay, sementara kehidupan asmaranya sering berakhir buruk. Semua itu membuatnya lebih parah. Gaya hidup Freddie memang sangat berisiko, sementara saran ketiga temannya agar meninggalkan dan berhati-hati tak digubris.

Momen paling menyedihkan sekaligus menggugah dalam dokumenter Freddie Mercury: The Great Pretender ialah ketika menyadari dirinya bakal tak tertolong lagi. Kondisi itu mengubah jalan hidupnya sekaligus memaksa orang-orang di dekatnya harus sangat hati-hati berinteraksi dengan dia, dan membuatnya ringkih. Namun justru saat itulah dia berusaha terus berdiri dan total memaksimalkan bakat demi melampiaskan kemampuan terbaiknya. Dari sini lahirlah Barcelona bersama Monserrat Caballe yang ambisius, diteruskan dengan kerja terakhir bersama Queen untuk menghasilkan Innuendo yang pantas dikenang. Freddie seperti memberikan 'perlawanan' terakhir dengan penuh gaya. Dia berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebelum akhirnya kalah oleh HIV-AIDS dan meninggal secara tragis.

Magnet terkuat Queen memang Freddie Mercury. Di atas panggung, aksinya sungguh menawan. Dia membuat ribuan penonton terkesima, terperangah, sekaligus mampu menggerakkan orang agar kompak melakukan aba-abanya, entah berdendang dan menyanyi bersama, tepuk tangan, dan lainnya. Namun di balik panggung, ketika hingar-bingar pertunjukan sudah usai, ketika proses kreatif di studio berakhir, dia seperti sengaja memisahkan diri dari sebuah unit bernama Queen. Saat itulah dia sendiri, ada di lingkaran lain yang membuatnya mungkin nyaman atau malah bisa melampiaskan hasratnya yang paling liar. Dalam kondisi seperti itu tentu hanya sedikit orang tahu kepribadian Freddie Mercury sesungguhnya seperti apa. Dan kita sebagai fans Queen barangkali hanya bisa memandang dia dari bangku penonton. Pertama untuk mendengar dan menikmati karyanya; kedua penasaran siapa sesungguhnya Mr. Bad Guy ini. Apa dia memang seorang rock star atau raja berpura-pura?

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni