(0 votes)
(0 votes)
Read 3848 times | Diposting pada

Kesurupan di Jatinangor: Pesan Satir Dunia Pendidikan

Luthfi Adam
Oleh:
Luthfi Adam
 Kolom

 

Selepas acara Motekar Games, 30 Oktober 2011 lalu, saya dan pengurus Sanggar Motekar Jatinangor  duduk-duduk di Bale Jati, ruang tempat ngerumpi di sanggar kami. Sanggar Motekar merupakan  sanggar seni tradisi Sunda di Jatinangor yang didirikan keluarga Pak Supriatna. Sejak 30 tahun lalu keluarga ini membuka ruang bagi warga sekitar untuk berlatih karawitan, ragam-ragam tarian, silat, dan tidak lupa mengupayakan beberapa seni yang nyaris punah agar lebih lama bertahan – kadang kami menyadari suatu ironi, sanggar sekecil ini takkan mampu mempertahankan sendirian suatu kesenian yang meregang nyawa.


Siang itu, dari sekian banyak tema obrolan, ada satu tema yang paling panjang diobrolkan. Tema ini ‘nyelekit’, bikin kami memikirkan urusan pondasi sanggar. Temanya seperti remeh temeh: anak-anak di Jatinangor sedang doyan main Kuda Lumping.

Peserta rumpi kala itu ada pasangan pendiri Sanggar Motekar, Pak Suprianta dan Ibu Arum, juga ada Mang Arsya sang koordinator seksi seni rupa dan Mang Didi sang guru tari. Mang Arsya dan Mang Didi berkisah tentang anak-anak kampungnya suka main Kuda Lumping di kebun-kebun kampung. Ibu Arum menceritakan anak-anak di SD tempatnya mengajar main Kuda Lumping di kelas kosong atau ketika kelas sudah bubar. Pak Supriatna yang sehari-hari mengelola Sanggar Motekar mendengar desas-desus dari anggota sanggar mengenai aktivitas serupa. Lho kan aktivitas itu tidak ada salahnya, Kuda Lumping kan salah satu seni tradisional yang harus dilestarikan?

Ternyata, bukan seni Kuda Lumpingnya yang dilestarikan dan dikembangkan anak-anak Jatinangor, namun kesurupannya yang mewabah. Jadi cerita Pak Supriatna, Mang Arsya dan Ibu Arum itu tentang kesurupan yang anak-anak tiru dari pertunjukkan Kuda Lumping.

Kita tahu bahwa pertunjukan Kuda Lumping melibatkan tarian menunggangi kuda-kudaan dan diramaikan dengan adegan yang spektakuler seperti makan beling. Pertunjukkan ini melibatkan aksi trance alias kesurupan. Konon, yang merasuki tubuh pemain Kuda Lumping adalah siluman kuda. Orang-orang percaya bahwa memakan beling adalah keinginan makhluk gaib yang merasuki tubuh si pemain Kuda Lumping.

Sepengamatan saya, alih-alih menari dan makan beling, di wilayah Sumedang helaran Kuda Lumping lebih ramai oleh anak-anak dan remaja yang mendekap dan Kuda Lumping dengan amat erat bak seseorang memeluk kekasih yang lama tak dijumpainya. Mata si anak melotot dengan mulut menganga, kadang mereka melakukan aksi spontan seperti moshing atau berguling-guling di tanah. Pernah, ketika saya syuting film dokumenter Kuda Renggong tahun 2008 lalu, seorang pemain Kuda Lumping moshing ke sawah yang baru saja ditanami benih padi. Pemilik sawah mengomel tapi tak ada yang bisa menuntut seseorang yang kesurupan, kan?

Popularitas seni Kuda Lumping di kawasan Sumedang bisa dikatakan satu level di bawah Kuda Renggong. Kedua seni tradisional ini biasanya ditanggap sebagai pasangan iring-iringan pada pesta khitanan. Kuda Lumping biasanya berada di belakang Kuda Renggong pada formasi iring-iringan. Jika Kuda Renggong ditunggangi anak sunat, maka Kuda Lumping ditunggangi oleh grup mereka sendiri, dan pada perjalanan iring-iringan pemain Kuda Lumping menjadi siapa saja yang ikut kesurupan. Dalam urusan surup-surupan ini siapa saja memang bisa dirasuki. Dan akhir-akhir ini, peminatnya makin banyak. Bahkan di iring-iringan terlihat anak-anak yang masih amat belia ikut kesurupan. Di Sanggar Motekar sendiri tidak ada grup Kuda Lumping. Dan secara khusus kami melestarikan dan memiliki grup Kuda Renggong.

Di Sanggar Motekar, hampir semua pengurusnya adalah guru. Tren kesurupan Kuda Lumping ini awalnya tidak meresahkan komunitas sanggar, namun ketika kesurupan Kuda Lumping masuk sekolah, barulah timbul keresahan, Mereka mengkhawatirkan anak-anak didik mereka yang mengangkut minyak air mata duyung, kemenyan dan kuda-kudaan di tas mereka. Saat istirahat dan pulang sekolah anak-anak itu beraksi. Mereka bermain kesurupan dengan cara membakar kemenyan, mengoleskan minyak air mata duyung ke hidung mereka kemudian mereka menunggangi kuda-kudaan. Jika salah seorang dari mereka kesurupan penonton bersorak sorai. Seorang yang bisa kesurupan dipandang hebat oleh teman-temannya. Yang kesurupan kemudian bergerak-gerak spontan, mata melotot dan kadang membentur-benturkan diri ke lantai. Kata Ibu Arum, fenomena ini hampir ada di tiap sekolah dasar di Jatinangor. Saking resahnya Ibu Arum sampai menginterograsi anak-anak yang suka bermain Kuda Lumping itu.

“Apa yang dirasakan ketika kesurupan?” Tanya Ibu Arum.

“Tidak tahu bu, kan tidak ingat,” jawab salah seorang anak.

“Kalau kesurupan malamnya badan sakit-sakit?” Tanya Ibu Arum lagi.

“Iya, bu,” Jawab si Anak.

“Ya sudah, makanya jangan kesurupan!” tegas Ibu Arum.

Saya suka dengan cara Ibu Arum memberikan teguran bagi anak-anak, ia tidak mencoba menceramahi anak-anak dengan ceramah moral yang biasanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Satir

Saya ingat, ketika kecil saya suka main jelangkung, suka main sambat-sambatan (serupa dengan kesurupan), atau uji nyali ke tempat-tempat angker. Saya ingat waktu kecil ketika ikut latihan silat seringkali guru silat dan senior-senior di perguruan bermain sambat-sambatan. Mereka yang menyambat siluman monyet mempu memperagakan gerakan silat monyet, yang nyambat siluman harimau bersilat seperti harimau. Ada salah seorang yang menyambat namun tak mampu mengendalikan diri ia lalu berlari kencang sejauh mungkin sampai yang lain harus mengejar untuk menyadarkannya.

Jadi, rasanya pencarian pengalaman dengan dimensi supranatural bukanlah suatu hal yang aneh. Saya sendiri paham, memang terkesan berlebihan jika anak-anak SD membawa perlengkapan Kuda Lumping itu ke sekolah. Saya sendiri mencoba menerka-nerka, ada apakah gerangan? Saya tidak mau Seni Kuda Lumping itu sendiri yang dianggap biang keladi, karena suatu seni ketika berkembang bisa jadi adalah respon atas kondisi-kondisi yang ada.

Saya juga menerka-nerka, jangan-jangan yang membuat resah Ibu Arum dan orang-orang sanggar adalah bahwa aktivitas anak-anak saat ini di luar jangkauan “pendidikan”. Permainan ini memang cenderung berbahaya, bukan hanya karena dapat melukai fisik namun karena mereka bermain dengan dimensi supranatural yang tidak masuk dalam kerangka pendidikan. Sebagaimana pendidikan pada umumnya, pengawasan terhadap tubuh anak didik menjadi perhatian utama.

Saya kemudian mempertanyakan terkaan saya tersebut, mengapa anak-anak di Jatinangor saat ini mengikuti tren bermain dengan hal-hal supranatural? Apakah ini ada hubungannya dengan kejenuhan mereka pada hal-hal yang rasional dan natural?

Berhubung pagi tadi di Sanggar Motekar baru saja digelar lomba egrang dan kelom batok yang diikuti belasan anak-anak, saya menghubungkan tren Kuda Lumping ini dengan gejolak jiwa di masa kanak-kanak. Menurut saya, fenomena ini juga bukan semata-mata soal relasi manusia dengan hal-hal supranatural, namun juga dengan kondisi kultural. Saya curiga, jangan-jangan dalam kultur keseharian anak-anak saat ini tidak terdapat ruang penyaluran gejolak emosional? Jangan-jangan naturnya anak-anak didisiplinkan hanya untuk menjadi seorang yang rasional?

Diskusi di Bale Jati kemudian mengarah pada kritik dunia pendidikan itu sendiri. Kami percaya. pendidikan bukanlah semata-mata soal kemajuan kognisi: asal anak-anak pintar dan bisa lulus ujian sekolah. Namun juga perkembangan dimensi estetika dan pengolahan rasa. Dalam suatu komunitas seni pasti mengenal istilah yang menjadi ‘akidah’ dasar para penari maupu pesilat, yakni wiraga, wirahma, wirasa. Wiraga adalah gerak tubuh, wirahma adalah kesesuaian gerak tubuh dengan musik dan wirasa adalah penghayatan.

Dari ketiga hal tersebut, saya curiga ‘wirasa’ telah meluntur dalam pendidikan formal, atau bahkan dalam ruang bermain baik di dalam maupun di luar rumah. Dimensi penghayatan ini memang yang paling tidak rasional, namun dimensi ini saya rasa penting bagi manusia, baik anak-anak maupun dewasa. Dimensi ini memang irasional, tidak melibatkan sesuatu yang empirik melainkan soal emosional. Saya menganggap, ketertarikan anak-anak untuk bermain Kuda Lumping merupakan pelarian untuk meluapkan adrenalin emosional. Dan gejolak ini lumrah. Terlepas dari pilihan anak-anak pada Kuda Lumping yang dianggap berbahaya, menurut saya justru pilihan ini realistis karena Kuda Lumping tengah eksis sebagai tren kesenian yang mengakomodir ruang bagi pelepasan adrenalin mereka.

Lagipula, di banyak kebudayaan ekspresi seni berelasi dengan erat dengan keyakinan terhadap kekuatan supranatural. Seni dengan muatan supranatural memang memacu adrenalin, dan dengan demikian bersifat spektakuler, kata teman saya yang pebisnis perjalanan wisata:  bakal laku untuk dijual ke turis asing.

Pencarian terhadap pengalaman trance sendiri lumrah bagi tiap manusia. Berbagai cara akan dicari oleh tiap orang. Ada yang menggunakan supranatural, ada yang berdzikir, ada yang pakai narkoba sambil clubbing. Jadi, tidak ada yang aneh juga dengan pencarian pengalaman trance itu. Saya tanya ke orang-orang sanggar, apakah anak-anak ini sedang melakukan semacam pelarian dari dunianya yang tidak mengakomodir pengolahan rasa?

Semuanya menjawab ya! Pak Supriatna kemudian memberikan banyak contoh betapa para guru makin tidak peduli dengan kegiatan-kegiatan pengolahan rasa. Latihan-latihan seni makin jarang, pendidikan dijalankan dengan metode yang kering kreatifitas, belajar-mengajar hanya di kelas untuk menghapal dan menghitung. Padahal, menurut Pak Supriatna, matematika pun bisa diajarkan dengan melibatkan kreatifitas emosional. Semua memang bergantung pada kreatifitas gurunya. Pak Supriatna sendiri, yang juga seorang pengarang sastra Sunda, dulu pensiun dini dari jabatan kepala sekolah. Jenuh dengan sistem, katanya. Ia memilih mengisi hari tua dengan menulis sastra sambil menjalankan sanggar sebagai alternatif  kegiatan anak-anak di Jatinangor.

Kami sepakat, bahwa upaya kreatif pengolahan rasa inilah yang penting. Dan anak-anak memang membutuhkan hal tersebut. Apa yang terjadi di sanggar selama ini secara tidak langsung adalah upaya mengolah wiraga, wirahma, wirasa. Kini, satu lagi kegiatan bertambah yakni memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkompetisi dalam Motekar Games, karena salah satu sifat dasar anak-anak juga tingginya adrenalin untuk berkompetisi. Tren Kuda Lumping di sekolah-sekolah akhirnya hanya efek dari minimnya ruang berkompetisi dan peluapan dimensi emosional anak-anak, karena sekolah tidak mengakomodir hal selain berkompetisi untuk jadi juara kelas. Bagi saya, pemilihan anak-anak terhadap seni Kuda Lumping sendiri harus dilihat sebagai sebuah satir bagi budaya kita saat ini, terutama menyangkut keseharian anak-anak.

Di titik inilah saya menyadari, jangan-jangan Kuda Lumping lebih berhasil merayu anak-anak dalam konteks peluapan dimensi emosional ketimbang sekolah formal? Dan jangan-jangan Sanggar Motekar juga tidak bisa se-powerful Kuda Lumping dalam pemberian ruang ekspresi emosi bagi anak-anak?

Kami menyadari, sudah benar bahwa pondasi Sanggar Motekar memang harus “pengabdian kepada generasi anak-anak”. Bukan semata-mata pengabdian pada pelestarian seni tradisi. Relasi antara seni tradisi dan anak-anak ini salah satunya adalah soal pengolahan rasa atau emosi, karena seni tradisi mengajak kita mengolah itu, termasuk Kuda Lumping. Lahir sebuah otokritik: sudahkah kami benar-benar menempatkan sanggar kami sedemikian rupa?

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, sudahkan kita mengerti benar tentang dunia anak-anak? Seringkali setelah dewasa, kita bersikap otoriter terhadap anak-anak, lupa kalau kita pernah kanak-kanak.

Last modified on: 12 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni