(3 votes)
(3 votes)
Read 8723 times | Diposting pada

Kenapa Lagu Protes Slank, Iwan Fals dan Rhoma Irama Berhasil

 

Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protes sosial atau protest song. Tentang protest song Bob Dylan, musisi yang bisa dikatakan sebagai begawan dalam urusan ini, mengatakan beberapa saat sebelum menyanyikan “Blowin’ in the Wind” untuk pertama kalinya; “This here ain’t a protest song.”.” Rekan seangkatan Dylan, Joan Baez yang paling kita kenal karena menyanyikan lagu-lagu tentang perjuangan persamaan hak-hak sipil serta anti Perang Vietnam mengatakan bahwa “I hate protest songs, but some songs do make themselves clear.”1

Bahkan banyak juga orang yang curiga dengan protest song. Tom Robinson, seorang penulis lagu-lagu politis yang juga terkenal di dekade 1970-an, mengemukakan kecurigaannya bahwa jangan-jangan orang menulis protest song untuk “peddle your second-rate pop music or peddling your second-rate political ideals on the back of your political career." Atau jangan-jangan musisi yang menulis lagu-lagu protes sosial hanya ingin dianggap pintar, dan mengutip istilah anak muda kita, hanya ingin eksis belaka.


Namun ada satu pernyataan yang mencurigai lagu-lagu protes sosial yang sangat saya setujui. Pernyataan ini datang dari Barry McGuire yang terkenal karena menyanyikan “Eve of Destruction” di tahun 1965. Secara tepat McGuire mengatakan bahwa protest song bukanlah istilah yang tepat. “It’s not exactly a protest song. It’s merely song about current events.” Saya sepenuhnya setuju dengan pernyataan yang terakhir, karena ini mencerminkan apa yang kami selama ini percayai dan perjuangkan di Jakartabeat, bahwa musik tidak hadir di ruang kosong, musik secara intrinsik tidak ada yang baik dan buruk, hanya subyek yang bisa memberi makna. Musik sebagaimana produk budaya yang lain menjadi cermin dari masyarakat yang melingkupinya. Dan musik bisa menjadi alat protes sosial atau agen perubahan hanya ketika subyek pendengar memberinya makna dan menginginkannya menjadi musik protes sosial. Jangankan teks dari lirik lagu, bagaimana kaset di susun di rak toko music saja bisa dibaca sebagai memiliki makna politis tentang penyakit rendah diri sebagai bangsa yang selama ini kita derita.2

Kembali ke persoalan protest song. Meskipun ada masalah dengan kategorisasi, de facto memang ada apa yang disebut sebagai protest song, semacam “American Idiot” oleh Green Day, “Of Walking Abortion,” dari Manic Street Preacher, Dead Flag Blues karya Godpseed! You Black Emperor atau “Killing in the Name” dan semua komposisi Rage Against the Machine. Dan untuk lagu dan komposisi tersebut anda harus setuju dengan saya bahwa tidak ada yang jelek dari musik protes sosial tersebut. Walaupun kemudian juga bisa diperdebatkan tentang definisi jelek dan bagus,3 namun satu hal yang pasti adalah bahwa relatif sebagian besar khalayak musik mainstream pop menyukai lagu tersebut. Album Rage Against the Machine Battles of Los Angeles misalnya sempat menjadi nomer satu di Billboard Chart di tahun 1999.

Hampir tidak ada musik protes sosial yang gagal, secara artistik. Jawabannya sebenarnya sederhana karena lagu protes sosial adalah musik pop yang bagus.

Komposisi-komposisi mutakhir pop yang berisi social commentary seperti Efek Rumah Kaca dengan “Di Udara”, “Belati Kalam Profan” atau “Rima Ababil” dari Ucok “Morgue Vanguard” Homicide, “Obituari” dan “Negeri Kutukan” dari Eyefeelsix, atau “Amerika” dari Armada Racun adalah musik-musik dengan komposisi nomer satu yang tidak akan pernah mati. Mereka adalah musisi-musisi nomer satu yang serius berkesenian dimana kegiatan berfikir berbanding lurus dengan kegiatan kreatif mencipta lagu dan beat-making (dalam kasus Homicide dan Eyefeelsix) mereka. Ini juga yang menjelaskan kenapa lagu protes sosial hanya bisa lahir dari musisi-musisi dan kolektif-kolektif bermutu semacama The Beatles, Sam Cooke, Nirvana atau Crosby, Stills, Nash and Young dan bukan band-band dan musisi kelas teri  yang mungkin jarang  membaca seperti Kahitna, Drive, Kotak atau Afgan). 

Proses yang sama terjadi juga dengan pahlawan-pahlawan musik Indonesia Rhoma Irama, Iwan Fals dan Slank. Ini membuat saya menjadi seperti formalis, namun bagi saya mereka semua adalah musisi jenius yang kebetulan sering menulis lagu-lagu protes sosial.

Terlepas dari apapun yang di katakan oleh Rhoma Irama tentang dangdut sebagai musik asli indigenous bangsa Indonesia—atau paling tidak bangsa Melayu—musik Bang Haji menjadi efektif dalam membawa pesan-pesan anti kerusakan moral, demokrasi dan hak asasi manusia atau social commentary yang lain, semata-mata disebabkan oleh kejeniusannya menciptakan sebuah genre (atau sub-genre?) baru yang belum pernah ada dan ini berhasil mencengangkan konsumen musik melayu yang kemudian berhasil dipesona dengan gabungan antara musik tradisional Melayu Deli5 (meminjam istilah yang digunakan oleh Rhoma sendiri), derivasi musik-musik film Hindi serta yang terakhir heavy metal dari Led Zeppelin dan Deep Purple. Saya ragu apakah Rhoma bisa menjadi sebesar sekarang, dan pesannya akan efektif, jika saja dia tidak berfikir untuk membawa segala macam riuh-rendah heavy metal ke dalam dangdut dan memperkenalkannya kepada khalayak ramai.

“Waktu itu musik kita sangat merdu dan mendayu-dayu. Hard rock pada waktu itu adalah sesuatu yang asing dan ribut, dan ini bisa membuat orang menjadi gila. Itu adalah musik yang gila. Pada saat itu musik Melayu adalah musik yang sopan dan saya takut musik Melayu akan kalah. Maka saya merubah segalanya. Sebelumnya alat musik yang kita mainkan adalah akustik, gitar, drum dan akordion. Namun saya harus bisa bersaing dengan rock,”6 demikian Rhoma Irama mengatakan waktu itu. Kemudian Rhoma datang dengan Soneta group dan menciptakan sesuatu yang baru, dua elektrik gitar, mandolin elektris, bass elektrik, saxophone, keyboard elektrik, timpani, perkusi, tamborin dan farfisa.

Rhoma kemudian membawa sound system yang sampai pada 6.000 watt, 2,000 watt lebih besar dari sound system yang dibawa oleh God Bless. Di banyak lagu Rhoma Irama ini kita bisa dengar jeritan gitar Richie Blackmore atau sayatan keyboard Rick Wakeman, yang bagi khalayak kelas pekerja yang menjadi basis massa Rhoma adalah sesuatu yang sangat baru, yang sebelumnya hanya bisa dinikmati oleh elit kelas menengah yang biasa di nina bobokkan oleh majalah Aktuil.7 Anda bisa bayangkan pengalaman “spiritual” semacam apa yang bisa dirasakan oleh fans kelas pekerja Bang Haji ketika menyaksikan pertunjukan tersebut. Dengan gempuran sound yang begitu agung dan megah, saya bayangkan bahwa seandainya saja Rhoma Irama membawa pesan sebaliknya dengan menyuruh pendengar untuk menenggak miras dan melakukan judi para fans akan dengan senang hati melakukannya. Sama seperti lagu ironis band The Brims yang menggalakkan pesan anti narkoba di lagu Anti Gandja, namun dengan komposisi yang sangat garage-y dan psikedelik yang justru membuat orang ingin “fly”.

Lantas bagaimana dengan Iwan Fals yang pertama kali datang dengan strategi yang sangat minimalis, yang seperti Dylan hanya datang dengan gitar akustik. Sama juga seperti Dylan, Iwan Fals menjadi elektrik hanya di pertengahan karir bermusik. Sama seperti Dylan, kekuatan Iwan Fals ada di puisi-puisi dengan kekuatan kata-kata yang sulit dicari tandingannya sampai pada akhir dekade 1990-an. Para formalis, berbeda dengan para kontekstualis, memandang kekuatan Dylan dari cara bernyanyi Dylan yang baru, yang setengah berdongeng, yang dipinjamnya dari  Woody Guthrie. Dylan juga meminjam cara bertutur yang intim dari tradisi folk, yang sempat meredup di akhir tahun 1960-an setelah Dylan dan muncul kembali di tahun 1980-an. Iwan Fals muncul di awal dekade 1980-an dengan cara bertutur intim—yang mungkin dia pelajari dari Dylan dan satu generasi folk sebelumnya—dan cara bertutur baru inilah yang kemudian berhasil mempesona jutaan pengikut yang kemudian mengikuti kemanapun Iwan pergi bahkan ketika dia sudah meninggalkan tradisi folk dan memainkan prog rock dan rock puisi bersama Setiawan Djodi dan Iwan Fals misalnya.

Tentang Slank, saya hanya bisa mencurigai bahwa ini adalah good ol’ band rock n’ roll yang bisa memperoleh begitu banyak pengikut lebih pada keberhasilaannya untuk menciptakan imaji tentang bagaimana rock ‘n roll lifestyle seharusnya di representasikan melalui media, mulai dari masalah narkoba, melawan label besar dan industri mainstream, pengalaman sex, sehingga sama seperti Jim Morrison dan The Doors (hanya masalah waktu saja sebelum Slank pada akhirnya benar-benar memasang Jesus Christ pose Jim Morrison di sampul kaset mereka yang legendaris Piss) menciptakan lagu kritik sosial hanya merupakan konsekuensi logis untuk semakin menguatkan imaji bad boy yang memang hendak di bagun. Dan di tengah represi Orde Baru yang mencekik, sebuah pengandaian akan sebuah pemberontakan yang dibayangkan dilakukan oleh Slank sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa pemberontakan itu sudah benar-benar terjadi.

 

Catatan Belakang:

1 Lynskey, Dorian, 33 Revolutions Per Minute: A History of Protest Songs, From Billie Holiday To Green Day, Ecco, 2011.
2 Wallach, Jeremy, Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music In Indonesia, 1997-2001, The University of Wisconsin Press, 2003.
3 Bourdieu, Pierre, 1984, Distinction. Taste is a practical mastery of distributions which makes it possible to sense or intuit what is likely (or unlikely) to befall — and therefore to befit — an individual occupying a given position in social space.
4 Meskipun Slank yang layak kita bahas adalah ketika mereka masih berada di periode—mengutip rekan provokator musik dari Bali—pra-Nexian, di mana Slank belum terlalu dibebani untuk menjadi band paling kaya di Indonesia dan diributkan dengan keinginan untuk “go international”.
5 Weintraub, Andrew N. Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music, Oxford University Press, 2010.
6 Weintraub, Ibid, p. 99.
7 Tidak heran jika praktisi progressive rock lokal semacam Benny Subardja dari band Giant Move dan Shark Move menjadi cemburu dan dengan marah mengatakan musik dangdut sebagai musik “T*@ Anjing.”

Last modified on: 20 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni