(0 votes)
(0 votes)
Read 2566 times | Diposting pada

Kelompok Lippo Main (di) Film

Tanpa terasa, tahun 2009 sudah memasuki bulan kedua. Hal ini ditandai pula dengan fenomena menarik yang muncul dari ranah film nasional. Perkara menarik ini mengemuka lantaran aroma yang muncul di sini cenderung berada di luar pernik-pernik sinematografi. Aduh, memangnya ada perkara apa sih?


Hadirnya film Sepuluh arahan Henry Riady jelas sebuah isu menarik. Rumah produksinya terhitung anyar, yakni First Media Productions. Nama ini awalnya bergerak di sektor televisi kabel berbayar. Institusi ini merupakan sebuah unit usaha di bawah naungan kelompok Lippo milik dinasti Riady. Tentu saja ini merupakan sebuah pertanda merapatnya dinasti konglomerat ini ke dalam industri perfilman nasional. Wow.

Awalnya, konglomerasi Lippo bergerak di bidang bisnis keuangan. Nama Bank Lippo sempat beken sebelum belakangan dimerger dengan Bank Niaga. Kemudian bisnis mereka merambah ke sektor retail dan juga properti yang cukup harum di sini, Beberapa kantong pemukiman elit macam Lippo Karawaci dan Lippo Sentul menandai kuatnya cengkeraman kuku kelompok ini.

Dekade belakangan, grup Lippo mulai mencoba merambah ke sektor media massa. Televisi kabel misalnya, Lippo muncul dengan bendera Kabelvision. Belakangan nama tersebut berganti menjadi First. Beberapa media cetak lain macam harian Investor Daily atau Jakarta Globe juga menjadi mainan mereka.

Nah, bagaimana dengan Henry Riady? Sutradara ini masih belia, yakni baru 19 tahun. ”Henry adalah sutradara film cerita komersial termuda di tanah air,” ucap seorang rekan wartawan senior. Dia anak keempat dari James Riady (Li Bai), cucu dari Mochtar Riady (Li Mo Tie atau Li Wenzheng) dan tercatat sebagai mahasiswa semester 4 jurusan sinematografi di Biola University, Los Angeles.

Yang menarik dari film besutannya bukan lantaran dia mampu mengajak sosok kru yang beken di sektor masing-masing. Sebut saja macam Didi Petet untuk pelatih akting, Ipang untuk pembuat lagu, German G Mintapradja (kamera), Iri Supit (tata artistik), Dewi Alibasah (penyuntingan), hingga Addie MS (tata musik). Sekali lagi, bukan nama-nama besar ini yang membuat kehadirannya menjadi menarik.

Dalam rilisnya disebutkan anggaran film ini awalnya 5 milyar rupiah, namun diselesaikan dengan total biaya 12,7 milyar rupiah. Sekadar perbandingan saja, rata-rata film Indonesia dibuat dengan total biaya 2,5 hingga 3 milyar rupiah. Rekor film nasional termahal selama ini masih dipegang oleh film Gie yang menelan biaya 7 milyar rupiah kemudian dipecahkan Ayat-ayat Cinta yang diklaim 10 milyar rupiah. Berkaca dari fakta ini, film buatan Henry kini memecahkan rekor baru dalam soal biaya produksi.

Pertanyaannya sekarang, ke mana saja biaya itu dihabiskan? Secara fisik tidak tampak tata artistik yang menelan biaya mahal, sebut saja macam lokasi set yang dihancurkan layaknya film perang. Film ini juga tidak mengambil lokasi syuting di luar negeri macam Ayat-ayat Cinta atau Chika misalnya. ”Memang the fund is big,” demikian pengakuan Henry kepada wartawan. “Kalau kita bayar mereka rendah, kapan mutu film Indonesia akan naik?” lagi-lagi ucapnya dengan nada retoris. Rupanya dia memberi isyarat bahwa salah satu penyebab biaya tinggi yang dikeluarkan untuk film ini adalah untuk honor pemain dan kru.

Bagi Henry, tidak soal berapa jumlah penonton yang akan menyaksikan filmnya kelak. “Pokoknya saya ingin bikin orang tersentuh,” selorohnya dengan diplomatis. Dan tentu saja dia tidak akan kapok jika kelak filmnya tidak kembali modal apalagi sampai menuai laba.


Last modified on: 3 Juni 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni