(2 votes)
(2 votes)
Read 1282 times | Diposting pada

Intoleransi Yang Damai, Mungkinkah?

Redaksi JB
Oleh:
Redaksi JB
 Kolom
Intoleransi Yang Damai, Mungkinkah? credits: Abraham Arthemius (CC BY-NC-NA)

 

Ketika intoleransi jadi keseharian, semakin sulit memisahkan yang radikal dan yang moderat.

 

Ada sebuah kebiasaan yang terjadi setiap kali ada berita terorisme mencuat: banyak warganet Muslim ‘membela’ agamanya melalui pernyataan-pernyataan bahwa #TerorismeBukanIslam. Mudah dimengerti darimana asalnya reaksi ini—banyak Muslim merasa tidak terima akan diasosiasikannya agama mereka dengan tindakan terorisme. Sayangnya, tidak banyak dampak positif dari pembelaan ini. Malahan, pembelaan ini cenderung memperkeruh situasi karena seakan-akan keperluan yang paling mendesak pada saat itu adalah untuk menangkis tuduhan yang akan diarahkan terhadap mereka—tuduhan-tuduhan yang sesungguhnya juga tidak sulit untuk dimengerti dari mana datangnya.

Terlepas dari usaha membersihkan nama Islam dengan melawan klaim teroris pada Islam, pada kenyataannya para teroris mengaku beragama Islam, menjalankan rukun Islam dan iman mendasar yang diajarkan pada setiap Muslim. Terlebih lagi, beberapa tahun terakhir ini, penganut Islam radikal dan moderat lebih sulit lagi untuk dibedakan karena Islam menjadi agama yang penganutnya paling vokal di Indonesia dan cenderung galak: dari menghukum penista agama, mempersekusi bocah yang gagap sosial media, hingga mengancam pembuat film yang tokoh jahatnya beragama Islam--seakan-akan isi penjara di Indonesia didominasi oleh orang non-Muslim, sehingga tidak boleh ada penjahat fiktif yang beragama Islam. Padahal kita semua tahu, bahwa koruptor yang paling hedonistik pun akan mulai pakai peci dan hijab ketika hari sidang tiba kalau kebetulan agama Islam tertera di KTP mereka.

Skenario yang sering kali terjadi adalah intoleransi dinilai tidak berbahaya, atau bahkan didukung, saat ia muncul dalam skala yang ‘dianggap’ tidak membuat kerusuhan atau kekasaran secara fisik walau potensi membuat rusuhnya besar. Meski pengeboman secara umum dinilai tidak baik, kegiatan-kegiatan lain yang ditujukan untuk mengutamakan kaum Muslimin dan pada saat yang sama merugikan orang-orang beragama lain tidak pernah benar-benar dikecam dan ditolak-tolak keislamannya.

Beberapa tahun belakangan ini, razia sering dilakukan oleh ormas-ormas yang mengatasnamakan Islam sebelum dan saat berlangsungnya bulan Ramadhan. Razia-razia ini umumnya terjadi dalam bentuk penggrebekan warung-warung makanan yang tetap buka pada siang hari. Meski razia-razia ini telah diprotes, Ramadhan ini razia tersebut tetap muncul dalam bentuk-bentuk berbeda. Untuk mengambil satu contoh, di Kabupaten Tangerang, Banten, razia yang dilakukan oleh ormas dilarang. Sebagai gantinya, telah diambil langkah oleh pemerintah yang melarang rumah makan untuk membuka usaha di siang hari selama bulan Ramadhan. Dari sini, dapat dilihat bahwa permasalahan yang dinilai mengganggu adalah bahwa penggrebekan tidak dilakukan oleh badan yang berotoritas dan melukiskan ormas berlabel agama sebagai pahlawan yang melakukan kerja aparat. Sementara itu, orang-orang yang tidak melakukan ibadah puasa dan pemilik warung yang dihambat jalur penghidupannya adalah kaum yang tidak toleran terhadap orang yang berpuasa. Tidakkah para pedagang makanan itu sadar, bahwa orang yang puasa adalah orang yang menderita, menahan lapar dan haus? Tidakkah mereka sadar sulitnya menahan lapar dan haus, ketika masih punya uang untuk jajan, dan di kulkas masih ada minuman dingin? Seharusnya kulkas di rumah pun ikut dirazia, karena kulkas dengan air dingin sangat tidak toleran terhadap orang puasa.

Contoh-contoh lain dari berjalannya intoleransi ini dapat dilihat dari usaha-usaha penerapan hukum Islam di daerah yang tentunya tidak semua anggota komunitasnya menganut agama Islam. Ada juga larangan pembangunan rumah ibadah non-muslim di berbagai area yang didukung secara publik oleh banyak orang. Intoleransi tidak hanya muncul secara tiba-tiba dari komunitas-komunitas Islam radikal tertentu, melainkan tersebar dan diterima (atau didiamkan saja) oleh kebanyakan penganut Islam moderat. Hasil penelitian UIN Syarif Hidayatullah tahun 2017 lalu menyatakan 51,1 persen responden mahasiswa/siswa beragama Islam di Indonesia memiliki pandangan intoleran terhadap aliran Islam minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah, dan 34,3 persen responden yang sama tercatat memiliki sikap intoleran terhadap kelompok agama lain selain Islam.

Sikap ini mungkin adalah reaksi dari berbagai hal seperti rasa frustasi dari konflik-konflik di tempat lain yang komunitas Islamnya disakiti karena Islamofobia atau keserakahan Amerika, Israel, dan negara-negara sekutu mereka di Jazirah Arab. Akan tetapi, sulit rasanya untuk melihat jalan keluar ketika intoleransi belum dikenali sebagai masalah utama, dan pembenaran terhadap intoleransi seringkali berasal dari tempat yang jauh-jauh di Suriah, Palestina atau Myanmar.

Bukankah ini jadi standar ganda ketika umat Islam tidak mau disamakan dengan teroris tapi seringkali melihat bahwa kaum Kristen di Indonesia sama dengan beberapa kaum Kristen fanatik di Amerika yang anti-Islam? Atau pemimpin harus dilihat dulu agamanya, tapi teroris tidak boleh? Mungkin kita terlalu Amerika, yang melihat kalau muslim menembak sembarangan disebut teroris, kulit hitam menembak disebut penjahat, dan kalau orang kulit putih menembak anak-anak sekolah atau jemaat gereja dianggap orang sakit jiwa. Kita tahu rasisme dan chauvinism itu salah, dan sangking salahnya sampai kita ikuti. Epik!

Kecaman yang datang dari kaum Muslimin terhadap tindakan para teroris sebagai usaha membersihkan nama Islam dari asosiasi dengan teror akan tetap sulit untuk diterima apabila sikap-sikap intoleran lain yang menunjukkan kekuatan Islam sebagai mayoritas yang semena-mena tetap dimaklumi. Adalah sesat pikir ketika kita menjadi intoleran terhadap toleransi, atau berdemonstrasi anti demokrasi yang hanya dimungkinkan dalam sistem demokrasi.

Tapi bisa jadi kami salah. Bisa jadi ini adalah semangat jaman. Bahwa intoleran pada toleransi, demonstrasi anti demokrasi, atau puasa di tempat yang dijamin tidak ada godaan memang sedang jadi mainstream; semainstream anti-social social club. Sialnya kami hipster anti-mainstream mainstream club, jadi, kami senang berpuasa sambil nongkrong di kantin dan melihat kawan Muslim murtad kami minum es teh manis ketika Jakarta sedang terik-teriknya. Alhamdulillah, dosa dia adalah pahala kita. (KR/NN)

 

Last modified on: 25 Mei 2018

    Baca Juga

  • Rumah Produksi Terorisme


    Ketika aparatur edukasi dan keluarga dipersatukan, banyak hal luar biasa bisa terjadi; seperti anak jenius atau bom bunuh diri. Belakangan ini banyak kejadian yang terjadi terkait agama dan politik. Mulai…

     

  • Durkheim Tentang Avicii dan Bom Surabaya


    Sosiolog Emile Durkheim melihat bunuh diri bukan sebagai penyakit kejiwaan, tapi sebagai konsekuensi logis dari disequilibrium dalam masyarakat. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh dua keluarga ‘lulusan’ ISIS di Surabaya…

     

  • Terorisme dan Sikap Kritis Kita


    Terorisme dan segala bentuk lakunya memang patut dikutuk. Setiap kita yang berpikiran waras sudi tak tega melihat keserampangan aktus terorisme berkeliaran tak menentu. Ketika ada kekerasan, penembakan, atau pengeboman yang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni