(0 votes)
(0 votes)
Read 5332 times | Diposting pada

Howard Zinn dan Sejarah Orang-Orang Kalah

Gde Dwitya
Oleh:
Gde Dwitya
 Kolom

Ada sebuah ujaran yang menyatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Saya percaya, ini adalah satu mitos yang hingga akhir hayatnya 20 Januari lalu, Howard Zinn coba untuk patahkan.


Zinn, sang sejarahwan radikal Amerika, mangkat karena serangan jantung yang menyerangnya selagi berenang. Ia meninggalkan seorang istri dan nama besar dari sebuah buku legendaris yang ia tulis; A People’s History of the United States.  Buku tersebut  yang ketika diterbitkan pertama kali di tahun 1980 hanya terjual empat ribu kopi, kini telah terjual habis hampir mencapai dua juta kopi dan dicetak ulang lima kali. Ia menempatkan sang penulis, saat itu seorang profesor sejarah di Boston University, di jajaran elit tradisi kritis kaum liberal-progresif Amerika.

Yang menarik dari buku Zinn tentu saja adalah keberaniannya untuk mengungkap sisi gelap sejarah benua baru dan komitmen pada kaum subaltern dalam definisi Spivak: mereka yang terpinggirkan dalam politik menarasikan sejarah. Sasaran tembaknya tak tanggung tanggung: Christoper Colombus dan para sejarahwan yang menulis versi lugu dari kedatangan para kolonis. Di dalamnya termasuk sejarahwan Harvard, Samuel Elliot Morison.

Bias Sejarahwan

Ada yang salah ketika para sejarahwan menganggap profesi mereka sama dengan para kartografer, ujar Zinn. Pembuat peta dengan sengaja menyederhanakan realitas, menunjukkan bagian yang perlu, dan membuang yang tak penting terlihat. Itu yang membuat di peta Indonesia, kepulauan kita jadi datar dan tak perlu ada gambar benua  Amerika di sana. Namun menulis sejarah adalah hal yang sungguh-sungguh berbeda.

Ketika distorsi atau bias para kartografer bersifat teknis, maka para sejarahwan biasnya tiada lain adalah bias ideologis. Dalam kata-kata Zinn, setiap penekanan tertentu dalam penulisan sejarah akan mendukung sebuah kepentingan. Bisa kepentingan politik, ekonomi, rasial ataupun nasional. Namun sayangnya dalam penuturan historis, bias ini tidak seterang sebagaimana dalam penulisan peta. Sejarahwan menulis seakan setiap pembaca punya sebuah kepentingan bersama yang tunggal. Para penulis tertentu seakan lupa bahwa produksi pengetahuan adalah alat tempur dalam antagonisme antar kelas sosial, ras, ataupun bangsa bangsa.

Inilah kritik pedas Zinn pada Samuel Elliot Morrison sang sejarahwan Harvard yang menulis buku seminal Christoper Columbus, Mariner. Benar, Morison tak sedikitpun berbohong soal kekejaman Columbus. Ia bahkan menyebut sang pelaut telah melakukan genosida pada Indian Arawaks. Namun, tulis Zinn, fakta yang tertera di satu halaman ini kemudian ia kubur dalam ratusan halaman lain yang mengagungkan kebesaran sang pelaut. Keputusan untuk lebih menceritakan sebuah heroisme dan abai pada penekanan fakta pembantaian masal yang terjadi pada suku Indian Arawaks bukanlah sebuah kebutuhan teknis ala pembuat peta, namun murni pilihan ideologis. Sebuah pilihan ideologis untuk menjustifikasi apa yang telah terjadi, pungkas Zinn.

Seandainya Morison adalah seorang politisi dan bukan sarjana, pilihan ideologis ini tak akan jadi begitu serius. Namun justru karena fakta ini diceritakan oleh seorang intelektual, maka implikasinya jadi begitu mematikan. Kita seakan diajarkan sebuah imperatif moral bahwa pengorbanan, meski begitu tak manusiawi, itu perlu untuk sebuah kemajuan. Morison seakan mengatakan dengan kalem bahwa benar telah terjadi pembantaian pada suku Arawaks, namun fakta kecil itu tak sebanding dengan jasa dan kepahlawanan Columbus bagi kita. Sense inilah yang kemudian direproduksi  di kelas pengajaran sejarah, dan buku pegangan para siswa.

Berangkat dari ketidaksetujuannya tersebut kemudian Zinn menulis versi sejarah yang berbeda; sejarah dari sudut pandang orang-orang kalah, alias sang pecundang. Jadilah ia bercerita tentang penemuan benua Amerika dari kacamata suku Indian Arawaks, tentang Civil War sebagaimana dialami oleh kaum Irlandia di New York, tentang perang Dunia pertama dilihat dari pihak kaum Sosialis, dan tentang penaklukan Filipina menurut tentara kulit hitam di Luzon.

Korban dan Eksekutor: Tanggung Jawab seorang Intelektual

Ada yang menarik ketika kita sebenarnya juga bisa melempar kritik yang serupa pada Zinn. Bahwa ia juga sedang mengambil sebuah pilihan ideologis dalam menulis sejarah, bahwa ia menekankan fakta fakta yang ia suka dan melewatkan yang lain. Lalu apa bedanya ia dengan Morison? Zinn sebenarnya tak lebih dari petinju dari sudut ring yang berbeda. Jika Morison menulis dari kacamata sang pemenang, Zinn lah corong sang pecundang.

Jawaban pada kritik inilah yang menunjukkan kebesaran seorang Howard Zinn.

Pertama, ia jujur dalam mengungkap keberpihakannya. Zinn jelas tidak senaif mereka yang berbicara soal objektifitas dalam narasi. Ia berpihak, dan sedari awal memperingatkan pembaca tentang posisinya. Bab pertama bukunya sangat confessional, dan di halaman 11 dari 729 halaman the People’s History ia menulis:

If history is to be creative, to anticipate a possible future without denying the past, it should, I believe, emphasize new possibilities by disclosing those hidden episodes of the past when, even if in brief flashes, people showed their ability to resist, to join together, occasionally to win. I am supposing, or perhaps only hoping, that our future may be found in the past’s fugitive moments of compassion rather than in its solid centuries of warfare.That, being as blunt as I can, is my approach to the history of the United States. The reader may as well know that before going on.

Ini membuat Zinn tidak berlagak pilon dalam bercerita, ia bias dan sadar bahwa pembaca butuh tahu. Lalu apa pembelaannya atas posisinya tersebut?

Ini hal kedua yang perlu dicatat dari seorang Howard Zinn: ia menolak konsekuensi empatik definisi nasion Andersonian! Bangsa bukan dan memang tak sekalipun pernah jadi sebuah komunitas, tungkasnya tajam.

“Sejarah setiap negeri yang selalu ditulis sebagai sebuah sejarah keluarga menyembunyikan konflik kepentingan yang kronis antara penakluk dan pecundang, tuan dan budak, kapitalis dan buruh, serta dominator dan yang terdominasi. Dan dalam dunia yang penuh konflik tersebut, dunia para korban dan eksekutor, adalah tugas mereka yang berpikir, sebagaimana Albert Camus sarankan, untuk tidak berpihak di sisi kaum eksekutor!” Ini kata kata Zinn yang saya terjemahkan dari  halaman 10 bukunya untuk menjelaskan sudut pandang penulisan sejarahnya yang berbeda. Kata-kata ini pula yang hampir mengalihagamakan saya menjadi seorang radikal kembali.

Henry Kissinger yang menulis bahwa sejarah adalah ‘memory of states’ dalam bukunya A World Restored boleh gigit jari. Sebab Zinn menolak sejarah versi negara yang cenderung menyapu cerita berdarah ke bawah lipatan karpet.

Sebuah Kritik untuk Sang Profesor

Saya membaca Howard Zinn sangat terlambat. Pertama kali mendengar namanya, saya sedang menonton film Good Will Hunting yang dibintangi Matt Damon. Matt Damon memerankan Will, seorang anak kelas pekerja yang berangasan sering keluar masuk penjara anak-anak nakal namun cerdas tak terkira. Ia mengais rejeki dengan berkerja sebagai tukang sapu di kampus MIT. Kadang-kadang, kalau lagi iseng, ia suka mengerjakan soal matematika rumit yang tertinggal di papan tulis. Sang profesor matematika heran, karena para mahasiswa PhDnya tak ada yang mengaku telah mengerjakan soal tersebut. Terang saja, tak ada yang mampu. Si profesor yang memenangkan Field Medal membutuhkan sekian tahun untuk menjawabnya. Siapa yang percaya kalau yang menyelesaikan soal tersebut adalah si janitor culun?

Will, si cerdas, punya kebiasaan membaca yang berlebihan. Dalam sebuah sesi terapi psikologi untuk memperbaiki kelakuan buruknya, sang psikolog, diperankan oleh Robin Williams, menanyakan pendapatnya tentang buku Howard Zinn, the People’s History.

Bukan kebetulan kalau Will, yang diperankan Matt Damon dan karakternya ia tulis bersama Ben Affleck, diceritakan sebagai anak yang selain cerdas juga kritis. Ia menolak bekerja sebagai analis CIA dengan alasan bahwa ia tahu bahwa hasil analisisnya akan menyengsarakan orang-orang di sebuah negeri dunia ketiga yang bahkan ia tidak kenal.

Matt Damon besar di Cambridge, Massachusetts, dan bertetangga dengan Howard Zinn. Saya curiga jika tokoh Will dalam naskah Good Will Hunting yang memenangkan Oscar itu dimaksudkan sebagai representasi generasi baru anak SMA dan college di Amerika yang membaca Zinn, cerdas dan melek sejarah. Mungkin saja.

Zinn memang seorang legenda bagi para radikal muda. Menyebut namanya, saya cenderung menyandingkannya dengan Noam Chomsky, Michael Moore, dan mungkin profesor saya, John Raines dari Temple University. Untuk menyebut barisan tukang kritik, sering tampak seperti tukang marah-marah, yang ironisnya justru dari global north.

Namun bukannya ia tanpa kekurangan. Saya punya satu hal yang saya kurang sukai dari gaya menulis Zinn: absennya beberapa referensi dan catatan kaki. Ada sekian fakta keras yang seharusnya ia beri catatan darimana ia mendapatkannya, namun info tersebut absen. Zinn cuma  mengatakan di bagian akhir bukunya bahwa semua yang ia ceritakan berdasar atas pengalaman mengajar dan dari buku-buku yang kemudian ia daftar di halaman akhir. Mungkin ini yang membuat ia pernah tidak dianggap serius di kalangan akademisi.

Namun, kalau kita melihat kembali tradisi penulisan referensi, sebenarnya ia adalah hal yang relatif baru. Saya kebetulan membaca sebuah buku tentang perang salib yang ditulis Henry Treece, dan ia juga tidak menggunakan referensi apapun. Buku itu bertanda tahun 1960an. Mungkin Zinn masuk ke golongan old school ini.

Apapun itu, Zinn tetaplah seorang Howard Zinn. Penulis inspiratif dan aktivis yang teguh menerabas the road less travelled by. Untuk itu, hormat saya dan topi yang diangkat sementara mata terpejam. Adieu, monsieur.

Last modified on: 22 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni