(6 votes)
(6 votes)
Read 11145 times | Diposting pada

Hip Hop Dalam Tradisi Saling Menistakan Bernama Rap Beef/ Diss

Hip Hop Dalam Tradisi Saling Menistakan Bernama Rap Beef/ Diss Sumber Ilustrasi: Ist.

 

Tensi politik yang terbaca dalam sosial media di Indonesia terlihat meninggi. Publik sedang ramai dalam isu yang lagi-lagi sangat Jakarta minded. Hampir tidak terhitung puluhan opini, berita tapi minim kajian muncul dalam kanal-kanal berita dan akun personal. Semua berkisar tentang isu-isu penistaan yang kemudian diolah menjadi friksi horizontal kubu toleran dan intoleran. Semua dikemas secara apik dalam bingkai pilkada Gubenur Jakarta yang tinggal menghitung hari.


Isu-isu tersebut menutup banyak fakta mendasar yang terjadi dalam kondisi sosial dan ekonomi bangsa ini. Penistaan menjadi sebuah tema populer masa kini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penistaan diambil dari kata nista yang berarti nis·ta/a hina; rendah: perbuatan itu sangat --; tidak enak didengar: kata-kata --; cak aib; cela; noda: -- yang tidak terhapuskan lagi; menistakan berarti menghina, mencela, merendahkan.

Sepertinya, pihak yang saat ini sedang bersitegang perlu sedikit membuka referensi agar tidak terlalu sensitif menanggapi isu-isu tersebut. Silahkan kalian segera berkenalan dengan orang-orang yang bergulat pada skena hip hip untuk meminta referensi tentang lagu-lagu bertema penistaan dan saling mencela. Karena hip hop bisa menjadi sangat besar sebagai budaya yang hampir merambah ke seluruh penjuru dunia salah satunya karena tradisi saling mencela dan merendahkan. Kita akan mengenal yang dinamakan diss dalam wikipedia diartikan:

diss track or diss song is a song primarily intended to disrespect a person or group. While musical parodies and attacks have always existed, the trend became increasingly common in the hip hop genre fueled by the hip hop rivalry phenomenon.”

Sedang secara singkat urbandictionary mendefinisikan “Slang word that came from, and therefore shares the same definition as to disrepect”. Seperti merupakan sebuah pertanda, bahwa di tahun yang penuh penistaan ini. Skena hip hop Indonesia juga sedang mengalami tensi yang cukup tinggi. Mulai dari berjamurnya rapper-rapper baru, peningkatan jumlah produksi lagu, hingga pernyataan seorang rap star ternama yang dianggap menistakan salah satu founding father hip hop Indonesia. Uniknya, hal ini telah ramai di kalangan skena sebelum barisan toleran dan intoleran saling berseteru.

Seperti sebuah pertanda, setelah kejadian itu jagad media sosial ramai dengan tulisan, mime dan paket-paket isu tentang toleransi dan intolerasi. Dibarengi dengan bermunculannya diss track dan saling serang diantara mereka setelah pernyataan fenomenal itu. Beruntungnya, tidak terjadi saling lapor diantara rapper tersebut. Memunculkan sebuah wacana yang lebih kreatif dengan jargon balas dengan karya. Berbeda kondisi dengan jagad hiburan politik Indonesia yang justru semakin banal melalui drama saling lapor. Sampai pengerahan massa dengan tema penistaan hasil pasal karet perundang-undangan pabrik wakilnya sendiri. Sepertinya skena hip hop Indonesia sudah lebih mampu mengelola karena latar belakang tradisi diss dibanding skena politik yang sangat sensitif. Lebih lucu lagi, proses saling tunjuk dan kambing hitam melalui stigma kebangkitan PKI hingga pendirian khilafah.

Masih lekat dalam ingatkan kita, ketika seorang rap star Indonesia dianggap melakukan penistaan terhadap seorang pendahulu pendendang lagu Bebas. Berbagai pernyataan muncul hingga puluhan diss track yang menyasar dirinya. Meskipun jika ditinjau kembali, membandingkan Iwak K dengan NWA dan Public Enemy dalam terminologi legend memang sangat jauh.

Seharusnya pernyataan itu dipertegas dengan penjelasan bahwa kita harus lebih luas melihat. Di samping Iwa K masih terdapat banyak orang yang membantu prosesnya berkarya seperti nama Eric dan Doyz dari Blakumuh maupun nama-nama lainya. Lebih kuat lagi jika memunculkan pernyataan Iwa K berhenti telalu cepat sebelum dia mengeluarkan karya master piece seperti Nas dengan Illmatic atau It Takes a Nation Of Millions To Hold Us Back garapan Public Enemy.

Sayang, sang rap star yang selalu mencitrakan diri sebagai anti hero ini tidak cukup pandai mengeluarkan pernyataan. Terlebih ditambah dengan penilaian 20 terhadap skill rapper pendahulunya. Hanya dengan skill 20 Iwa K mampu menghasilkan setidaknya 5 album, hingga memunculkan sang rap star yang belum memiliki album mampu pundi-pundi rupiah yang mungkin tidak sebanyak saat Iwa K berkarir.

Penulis membayangkan rap star ini sebagai Muhammad Rizieq Sihab yang sedang menjajal eksistensinya dalam dunia hiburan tanah air. Wajar jika Iwa K tidak menganggap hal tersebut sebagai sebuah penistaan hingga membuat konferensi pers secara serius. Sebuah strategi yang tepat dimunculkan oleh Iwa K sebagai salah pendobrak hip hop masuk ke Indonesia.

Hal ini mengingatkan pada sebuah kejadian dimana seorang pekerja BUMN ternama dengan sengaja mengatakan “Ndasmu” seperti sebuah judul lagu dari unit rap Yogyakarta D.P.M.B yang dialamatkan ke Gus Mus. Hal itu langsung direspon cepat oleh pimpinan BUMN tersebut dengan surat dan teguran keras. Padahal dengan santai Gus Mus menanggapi dengan memberi maaf serta menganggap itu sebagai ekspresi wajar orang yang sedang dirundung kegelisahaan. Tanpa sadar, pimpinan sekaligus aktivis yang sangat aktif mendukung aksi kamisan justru tak mampu memberi dorongan kepada presiden untuk proses penyelesaian kasus tersebut.

Sama halnya dengan pernyataan Ahok dianggap melakukan penistaan terhadap agama karena mengutip sebuah ayat dalam forum yang tidak tepat. Ahok sepertinya perlu sedikit belajar tentang cara menyusun rima dan kata-kata agar tidak salah bicara. Karena salah satu seni dalam rap adalah cara menyusun kata dengan rangkaian diksi yang bisa dialamatkan untuk menyerang atau berkeluh kesah tanpa dianggap menistakan. Mungin sebaiknya Ahok membeli beat dari seorang produser untuk kemudian menulis lirik tentang klaim dirinya sebagai minoritas yang selalu direndahkan. Karena sebelum Ahok memulai itu, salah satu unit rap bernama Homicide justru lebih mampu mengolah bahasa dan rima tanpa membuat berkumpulnya sekitar dua juta orang dalam aksi demonstrasi yang diberitakan media. Kira-kira begini kutipan liriknya dalam lagu berjudul Puritan (Godblessed Facists) berikut:

Adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya/ tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya/ pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta/ supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma/ persetan dengan Surga sejak parameter pahala/ diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa/ kini leherku-lah yang membuat golokmu tertawa/ target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala/ karena aku adalah libido amarahmu yang terangsang dalam genangan darah/ selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian dari dakwah/ melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola/ penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera/ para manusia-unggul warisan Pekan Orientasi Mahasiswa paranoia statistika agama, wacana-phobia ala F.A.K/ B-A-K-I-N tak pernah bubar, mewujud dalam nafas kultural/ persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut bubar/ partai bisa ular, belukar liberal/ Gengis Khan mana yang coba definisikan moral/persetankan argumentasi membakar bara masalah/ dengan kunci pembuka monopoli anti-argumen komprehensi satu bahasa/ instruksi air raksa mereduksi puisi hingga level yang paling fatal/ kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi/ wadal modernisasi, program labelisasi Abu Jahal/ distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang kalian anggap layak bongkar/ dan setiap buku yang nampak lebih berguna jika terbakar/ jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral/ sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat dengan aspal.

Jelas lirik tersebut di masa sekarang merupakan sebuah penistaan yang tak dapat diampuni. Namun, karena dibalut dengan dentuman beat dan metafora. Sekelas FPI mungkin akan sulit mencerna maksudnya dari lirik Homicide. Sehingga tanpa pikir panjang mereka (baca: FPI) akan menafsirkan lagu tersebut sebagai bentuk protes anak muda alay untuk menghibur diri kala itu.

Meskipun lagu Puritan tidak bertujuan untuk meninstakan agama, tetapi lebih mengkritik sikap fundamentalisme agama yang cenderung bertali kelindan dengan praktik-praktik kekuasaan menindas. Bagi kalangan yang bergulat dalam skena hip hop saling menistakan adalah hal yang lumrah. Hal tersebut merupakan bentuk ungkapan ekspresi terhadap hal yang tidak disukai.

Belum lama ini, rapper bernama Joey Bada$$ melakukan sebuah diss yang ditujukan langsung kepada Presiden terpilih Donald Trump dengan lagu berjudul Land Of The Free. Lagu ini dianggap melecehkan oleh pada pendukung Trump sebagai Presiden. Tepat sebelum pelantikan Presiden Amerika terpilih tanggal 20 Januari 2016 melalui liriknya Joey berujar:

Sorry America I will not be your soldier/ Obama just wasn't enough, I need some more closure/ And Donald Trump is not equipped to take this country over/Let's face facts cause what's the real motives”

Di dalam barisan bridge liriknya dibuat lebih keras memberi pernyataan berikut:

In the land of the free, it's for the free loaders/Leave us dead in the street then be your organ donors/They disorganized my people, made us all loners/Still got the last names of our slave owners/In the land of the free, it's for the free loaders/Leave us dead in the street then be your organ donors/They disorganized my people, made us all loners/Still got the last name of our slave owners.”

Joey secara terang menyerang Trump dalam lagunya. Lagu ini menceritakan tentang praktik ketidakadilan yang masih dirasakan golongan minoritas kulit hitam di Amerika. Mungkin jika itu terjadi di Indonesia, Joey akan dilaporkan karena dianggap melecehkan Presiden dan dikenakan Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa yang sifatnya umum, mulai dari lurah sampai Presiden RI. Meskipun Joey sempat menyinggung tentang agama dalam liriknya berikut “The lord won't get you acquitted, but you still askin' for forgiveness/ Put opiates in syringes then inject his religion.” Bisa jadi oleh golongan yang tidak terima dan merasa melecehkan agama akan menjerat dengan Undang-undang No 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama dan pasal 156a dalam KUHP.

Penistaan, menghina, menjelekan dalam dalam hip hop sudah seumur dengan genre ini sendiri. Diss, rap beef, menghina hampir tidak pernah lepas dan berjalan beriringan dengan sejarah hip hop. Penghinaan (diss/rap beef) berakar dari tradisi Afro-American, dimana mereka saling menunjukan diri sebagai yang lebih baik melalui medium lirik sindiran, ejekan, merendahkan dalam sebuah lagu. Skena ini telah banyak belajar dari praktik-praktik menghina (diss/rap beef) hingga berhujung pada kematian. Ingatlah Tupac dan Biggie mati setelah perseteruan panjang dengan menghina (diss/rap beef). Meskipun tidak satupun fakta secara tegas menyebutkan kematian mereka hasil dari dampak kegiatan menghina lewat lagu. Namun jika melihat kondisi saat itu dapat memunculkan asumsi bahwa kematian mereka berawal dari ketegangan lagu Hit Em Up dan Who Shoot Ya.

Ketegangan yang kemudian memancing dan membawa perseteruan bisnis gang besar berbasis di Los Angeles bernama Blood dan Crips. Gang tersebut banyak melakukan kegiatan seperti perampasan, pembunuhan, dan praktik kekerasan lainnya. Bagi mereka yang tergabung dalam masing-masing gang mendapat garansi pelindungan dan pekerjaan. Anggota mereka kebanyakan adalah anak muda pengangguran yang membutuhkan pekerjaan. Mereka akan direkrut atau bergabung kemudian diberi pekerjaan sebagai pengedar narkoba, pembunuh, pemeras dan lainnya.

Mungkin saja, kejadian yang sedang terjadi di Indonesia memang merupakan pertarungan gang-gang besar dalam praktik perebutan kekuasaan, bisa jadi tidak. Serupa simbol Tupac dan Biggie yang sedang berseteru. Kemudian momen tersebut ditunggai oleh kepala gang seperti Bloods dan Crips untuk memunculkan sentimen yang kemudian memperbesar anggota mereka.

Ini seperti memiliki korelasi positif jika mengutip tulisan Faisal Basri tentang Mendeteksi Akar Ekonomi Dari Radikalisme dan Disharmoni Sosial. Melalui tulisannya, Faisal mengatakan tentang kegagalan pembangunan ekonomi yang dilakukan pemerintah. Sedikitnya terdapat beberapa faktor penentu menurut Faisal basri: Pertama, Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat ketimpangan tinggi menurut independent.co.uk melalui publikasinya. Menurut data kekayaan yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse. Hanya satu persen saja orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Konsentrasi kekayaan pada 1 persen terkaya di Indonesia terburuk keempat di dunia setelah Rusia, India, dan Thailand. Jika dinaikkan menjadi 10 persen terkaya, penguasaannya mencapai 75,7 persen; Kedua, Pembangunan tidak mampu mengangkat mayoritas rakyat miskin dan yang hidup pas-pasan. Petani yang merupakan porsi terbesar rakyat Indonesia justru mengalami penurunan kesejahteraan. Nasib buruh tani pun tidak membaik. Upah riil mereka justru turun dalam dua tahun terakhir. Mereka tergolong sebagai pekerja informal di pedesaan. Nasib pekerja informal di perkotaan juga serupa, walaupun penurunan upah riilnya lebih kecil. Sekitar 58 persen pekerja di Indonesia adalah pekerja informal dengan status pekerjaan utama meliputi berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas di pertanian, pekerja bebas di nonpertanian, dan pekerja keluarga/tak dibayar; Ketiga, secara umum adalah relatif tingginya penganggur di kalangan usia muda. Negara-negara di Timur Tengah yang mengalami gejolak politik pada umumnya ditandai oleh tingginya penganggur belia. Jika sebelum tahun 2010 mencari pekerjaan tidak sampai enam bulan, sejak tahun 2010 bertambah menjadi satu tahun atau lebih.

Melihat hal yang terjadi di Indonesia mengingatkan penulis kepada proses hip hop berkembang dengan segala gejolaknya. Diawali dengan anggapan saling menghina, dilanjut dengan perseteruan geng yang menyimpan fakta tentang kegagalan negara mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Kasus yang akhir ini terjadi sama sekali tidak meletakan perkara pada masalah yang substansi. Seakan masalah ini mengaburkan fakta bahwa isu-isu yang santer diberitakan diangkat bersamaan dengan momen politik 5 tahuan Jakarta. Sama halnya dengan kasus yang terjadi pada pemilihan Presiden RI di tahun 2014.

Para pembela aktor-aktor politik yang lebih militan dari pada pembela kemanusiaan. Saling serang yang sebenarnya sama-sama menebar kebencian. Menyisakan kemuakan dan kebencian pada golongan yang sengaja diam melihat polemik tersebut. Mungkin akan memancing reaksi kekerasan dengan mengulang fakta sejarah 1965, Tajung Priok, 1998, Munir hingga salim kancil. Mungkin hingga prediksi yang paling lebay. Turunnya pasukan bersenjata turun dengan alasan mengancam stabilitas nasional karena kasus ini. Perkara ini mengabaikan fakta tentang praktik-praktik kekuasaan yang menindas warga negaranya sendiri. Kemudian tiba-tiba kejadian ini memunculkan golongan dengan labeling pro-kebhinnekaan dan anti kebhinnekaan. Framing yang dibentuk untuk menimbulkan konflik horizontal secara massif.

Terakhir, tulisan ini mungkin sebuah cara berpikir deduksi seperti kebanyakan berita dan opini yang tersebar hari ini. Deduksi adalah cara berpikir yang ditangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme menghasilkan generalisasi terhadap sebuah proses berpikir hingga simplifikasi atau penyederhanaan dalam porsi yang paling parah. Francis Bacon mengkritik silogisme karena silogisme ini terdiri dari proposisi, proposisi terdiri dari kata-kata, kata-kata menjadi simbol pengertian. Karena itu, jika gagasan itu sendiri (yang merupakan akar dari masalah ini) membingungkan maka akan menimbulkan kesimpulan yang salah.

Bacon berpendapat bahwa orang Yunani terlalu terpesona dengan masalah etis, orang Romawi dengan soal hukum, dan orang pada abad pertengahan dengan teologi. Pemikiran Bacon dikenal dengan metode induktif untuk menemukan kebenaran, yang berdasarkan pada pengamatan empiris, analisis data yang diamati dengan panca indra langsung, penyimpulan yang terwujud dalam hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut.

Meskipun cara pikir induksi juga mendapat kritik salah satunya oleh Karl R. Popper. Beberapa kritik yang dikemukakan Popper terhadap prinsip verifikasi: Pertama, prinsip verifikasi tidak pernah mungkin untuk menyatakan kebenaran hukum-hukum umum. Menurut Popper, hukum-hukum umum dan ilmu pengetahuan tidak pernah dapat diverifikasi. Karena itu, seluruh ilmu pengetahuan alam (yang sebagian besar terdiri dari hukum-hukum umum tidak bermakna, sama seperti metafisika); kedua, sejarah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan juga lahir dari pandangan-pandangan metafisis. Popper menegaskan bahwa suatu ucapan metafisis bukan saja dapat bermakna tetapi dapat benar juga, walaupun baru menjadi ilmiah setelah diuji; ketiga, untuk menyelidiki bermakna atau tidaknya suatu ucapan atau teori, lebih dulu harus kita mengerti ucapan atau teori itu. Solusi yang diberikan oleh Popper terhadap problem induksi ternyata mengarahkan perhatiannya secara lebih serius kepada problem demarkasi, atau problem batas antara pengetahuan yang ilmiah dan pengetahuan yang bukan ilmiah.

Lebih dari perdebatan itu, tulisan ini tidak berusaha untuk menunjukan apapun. Sedang tulisan ini, bisa jadi merupakan cocoklogi, bisa jadi memuat kebenaran, namun semua tersajikan tetap berdasarkan data dan fakta. Seperti keyakinan Francis Bacon dengan ungkapan populernya “Knowledge Is Power”. Dimensi kehidupan selalu memiliki kaitan erat dengan pengetahuan.

Mengutip tulisan Nasihin Masha dalam kolom resonansi bahwa Indonesia sedang memasuki periode peradaban terendah dalam sejarah bangsa ini. Tak ada wacana, tak ada moral. Semua hanya soal kekuasaan dan uang. Semua fokus pada jangka pendek. Mengelola negeri seperti bermain catur: makan memakan, mati mematikan.

Mungkin kita perlu belajar dari hip hop bagaimana menanggapi tradisi saling menistakan (rap beef/diss) yang tidak se-alay fenomena hari ini.

***

Referensi

Hadiwijiono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius
Popper, Karl R. 1959. The Logic of Scientific Discovery. New York: Basic Books
Russel, Bertrand. 2007. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Dari Zaman Kuno Hingga Sekarang (terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sumber Lain:

https://faisalbasri.com/2017/01/09/mendeteksi-akar-ekonomi-dari-radikalisme-dan-disharmoni-sosial/
http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/01/20/ok156j319-mencipta-predator-untuk-fpi
https://www.theguardian.com/music/2015/oct/29/diss-means-war-drake-meek-mill-and-the-grand-tradition-of-hip-hop-beefs
https://en.wikipedia.org/wiki/Diss_track
http://www.urbandictionary.com/define.php?term=diss

Last modified on: 26 Januari 2017

    Baca Juga

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Hip Hok


    As a child growing up in Indonesia, a globally connected country, I was fascinated by hip-hop culture. I was introduced to rap music through a Christian rapper named William “Duce”…

     

  • Terapi Urine Pasca 'Kehiduvan yang twewew ini'


    Seakan tak mau lepas dari swag hegemoni, suburnya isu SARA dan anomali sosial lainnya, EP Om Telolet Om menawarkan kesemuanya tadi dalam rangkaian aroma thrash metal ditambah single Buju Buneng…

     

  • Dolly yang Menghantui Dalam Videoklip Sang Pelanggan Silampukau


    Kami menemukan video klip ini horor. Satu shot menunjukkan kamera bergerak dari satu angle, dengan lembut menyorot foto pengantin di tengah kamar yang agak berantakan dan kosong sedari malam. Lelaki…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni