(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3141 times | Diposting pada

Gus Dur

/1./

Suatu hari di Oktober 1990. Mungkin tanggal 21 atau 22. Siang itu, panas membakar Bandung. Ribuan anak muda Muslim berhimpun di lapangan parkir Universitas Padjadjaran. Salawat Badar berkumandang. Saya hadir di sana tapi dengan bloon —maklum, belum dua bulan berstatus mahasiswa.


Tapi, saya tahu, salah satu sosok yang berbicara di depan mikrofon itu adalah Jalaluddin Rakhmat, intelektual muslim yang banyak dikagumi kaum muda.

Tentu, saya juga tahu: ini demonstrasi mengutuk Monitor. Tabloid itu dianggap menghina Nabi Muhammad. Aroma kemarahan tercium kuat saat itu. Saya, bahkan, melihat beberapa orang mencucurkan air mata saat salawat, puji-pujian untuk Rasulullah itu, dilantunkan.

Pekan sebelumnya, tabloid yang dikomandani Arswendo Atmowiloto itu mengumumkan jajak pendapat mengenai orang yang paling dikagumi para pembacanya. Muhammad bertengger di posisi ke-11, jauh di bawah Presiden Soeharto yang menempati peringkat pertama atau Iwan Fals yang menduduki posisi ke-4. Sementara, Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad.

Sebagian masyarakat muslim marah. Pada 22 Oktober 1990, kantor Monitor di Jakarta disatroni para demonstran dan dirusak. Arswendo harus tunggang-langgang menghindari amuk massa. Lalu, ia dihukum empat tahun penjara. Monitor dibredel.


/2./
Sangat sedikit tokoh yang membela Monitor dan Arswendo. Satu di antara yang sedikit itu adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Menurutnya, sikap emosional itu membuat Islam tak lagi menjadi rahmatan lil 'alamin. Pihak lain akan takut karena mendadak Islam berubah menjadi garang. Dan, ini semua disebabkan: “…rasa kurang percaya umat Islam sendiri. Kompleks rasa rendah diri (inferioritas) itu adalah hasil langsung dari rasa takut melihat proses modernisasi yang tengah berlangsung. Takut kalau-kalau Islam akan kehilangan peranan dalam kehidupan bangsa, karena erosi nilai-nilai yang dialaminya.” Itu ditulisnya di majalah Editor edisi 3 November 1990.

Ia nyaris sendiri. Bahkan, tokoh moderat semacam Nurcholish Madjid pun “hanyut” dalam arus utama. Bukan tanpa alasan rasional memang. Sebab, "You pull the carpet from under my table," kata Nurcholish kepada Jakob Oetama, pimpinan Grup Gramedia yang menaungi Monitor.

Kepada majalah Tempo, Cak Nur –panggilan akrab Nurcholish-- mengemukakan, selama ini ia merasa ikut bersusah-payah membangun toleransi antarumat beragama. Namun, "Tiba-tiba Arswendo mengganggu dengan guyon begitu saja. Saya merasa disepelekan betul. Sebab, teman-teman saya, yang selama ini tidak setuju dengan istilah toleransi dan sebagainya itu, akan dengan gampang mengatakan: 'Nah, betul kan, Cak Nur, bahwa mereka kayak gitu itu. Masa begitu kok ditolerir.' Jadi, itu namanya menarik karpet dari bawah meja," katanya.


/3./
Sehari setelah Gus Dur wafat, Arswendo menulis esai di Suara Pembaruan. Judulnya Gus Dur Sebenarnya Sedang Tidur. Novelis itu mengisahkan kejadian pada 1993 saat ia menghadiri sebuah diskusi teater dan Gus Dur menjadi salah seorang pembicara. “Saya ingat tahun itu, karena itu saat saya keluar dari penjara. Adalah Gus Dur sendirian yang membela "kasus Monitor", yang menghebohkan, yang membuatnya "diadili" kaum ulama, tiga tahun sebelumnya,” tulis Arswendo.

Menjelang acara dibuka, Arswendo mengaku secara khusus menemui dan mengucapkan terima kasih, mencium tangannya. Gus Dur menerima, seperti juga menerima salam dan ciuman tangan dari yang lain, sambil terus jalan. Arswendo mengaku agak kecewa dan bilang, "Yaaah, Gus Dur lupa sama saya...." Di tengah jalan menuju mimbar, Gus Dur berhenti dan berpaling, "Kalau baumu, saya masih ingat..."

“Selalu ada yang mencengangkan dari sikap yang biasa-biasa. Bagi saya, pembelaan Gus Dur sesuatu yang luar biasa, tapi bagi Gus Dur itu selalu yang biasa, yang dilakukannya. Juga bukan hal yang pribadi--karena yang dibela soal kebebasan berpendapat,” tulis pengarang Senopati Pamungkas itu.


/4./
Kini, Gus Dur benar-benar sendiri, di alam kubur. Ajal menjemputnya menjelang almanak 2009 dilempar ke keranjang sampah. Namun, warisan pikirannya akan abadi. Ini dugaan bercampur harapan. Sebab, betapa mengerikan jika Indonesia kembali dikangkangi mereka yang membungkam kebebasan, menonjok toleransi, menolak pluralisme.

Selamat jalan, Gus...

Last modified on: 22 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni