(4 votes)
(4 votes)
Read 4722 times | Diposting pada

Gender, Media dan Identitas

Mumu Aloha
Oleh:
Mumu Aloha
 Kolom
Gender, Media dan Identitas Kredit Ilustrasi: Istimewa

 

Seorang aktivis LGBT geregetan dengan wawancara Aming di VOA menyusul hebohnya foto-foto Instagram yang memperlihatkan sang komedian di tengah-tengah parade di New York merayakan pelegalan pernikahan gay di Amerika Serikat.

Mengapa Aming “denial”? Menurut Hartoyo, sang aktivis yang antara lain aktif di Suara Kita, Aming bahkan sudah sampai pada taraf “oportunis”. Bagaimana sebenarnya memahami sosok-sosok seperti Aming tersebut dalam masyarakat Indonesia yang secara sarkastik kerap saya bilang sebagai masih ‘tradisional”? Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Outmagz dengan judul Tubuh-tubuh yang Tak Mau Patuh. Diunggah kembali di sini untuk memberi perspektif atas relasi yang senantiasa problematis antara tubuh, gender dan identitas, dan bagaimana media mereproduksinya.

Majalah a+ edisi April 2005 tampil dengan sampul yang mengejutkan, dan barangkali tak pernah terbayangkan oleh siapapun: Nicolas Saputra dalam dandanan perempuan. Dengan tata rias yang dikerjakan oleh Gusnaldi, hasil jepretan fotografer Pinky Mirror itu memperlihatkan close up wajah Nico yang manglingi. Ia menjadi cantik dengan bibir merah, alis mata nyaris segaris dan bulu mata palsu yang mencuat lentik.

Sebagai model yang kemudian mencuat lewat film Ada Apa dengan Cinta?, Nico terbilang aktor bercitra high profil. Ia tak main sinetron, selektif memilih tawaran peran main film dan tak dirundung gosip yang aneh-aneh. Pendek kata, citranya baik, lurus. Kabar tentang kehidupan percintaannya yang sesekali muncul di lembar tabloid maupun infotainment –misalnya tentang putusnya hubungan dia dengan model Indah Kalalo- menambah satu poin positif yang penting bagi pencitraan dirinya di hadapan publik: ia laki-laki straight. Penting, karena seksualitas merupakan satu lapis identitas yang paling misterius, dan oleh karenanya menjadi salah satu hal menarik yang selalu mengundang rasa penasaran publik sejauh menyangkut sosok seorang selebritas.

Disadari atau tidak oleh pihak-pihak yang bersangkutan, majalah lifestyle kelas satu terbitan Jakarta yang mengklaim dirinya sebagai “unisex, fashion, lifestyle” itu telah melahirkan Nicolas Saputra sebagai ikon yang mengaburkan hubungan-hubungan keramat antara tubuh, gender dan identitas. Media (massa), termasuk di dalamnya produk majalah, agaknya memang telah menjadi institusi sentral bagi produksi dan sirkulasi diskursif tentang gender dan identitas. Dalam bahasa Michel Foucault, media telah memobilisasi tubuh dalam suatu bentuk tontonan dialektikal berdasarkan dorongan ganda kesenangan dan kekuasaan.

Apa yang dilakukan Majalah a+ sebenarnya bukanlah hal baru dan pertama –dalam konteks bagaimana media menciptakan, melahirkan dan membesarkan sosok-sosok ikonik yang mendekonstruksi pemahaman kita atas identitas-identitas tubuh. Sejak agak lama, kita sudah mengenal desainer Oscar Lawalata yang menerobos batasan-batasan gender dalam berbusana. Hal yang sama kemudian juga kita lihat pada Ivan Gunawan, mantan model yang menekuni dunia rancang busana, tapi belakangan lebih dikenal sebagai presenter acara-acara televisi.

**

*

Sosok Ivan Gunawan selalu menyita perhatian publik lewat sensasi penampilannya. Selebritas berjenis kelamin laki-laki yang sebelumnya selalu tampil dalam gaya –dan tak jarang juga dalam dandanan dan tata rias- feminin ini tiba-tiba mengubah dirinya (kembali) dalam penampakan seorang laki-laki “sejati”. Sebagai sosok artis yang tergolong terkenal, sepak terjang Ivan tentu saja tak pernah luput dari perhatian media –dalam hal ini televisi dan terkhusus lagi tayangan-tayangan infotainment.

Perubahan drastis dan mencolok, serta tentu saja mengejutkan itu, sudah barang pasti memiliki nilai berita yang tinggi bagi berbagai jenis acara gosip artis di televisi. Tak heran bila SCTV, lewat tayangan Ada Gosip edisi Senin (19/6/2006) secara khusus menampilkan sisik-melik transformasi yang dilakukan oleh Ivan tersebut. Bagi dunia infotainment, fenomena Ivan jelas sangat penting untuk memenuhi hasrat veyorisme masyarakat kita yang cenderung ingin tahu kehidupan pribadi orang, terlebih kalangan selebriti.

Namun, di luar konteks komodifikasi industri hiburan televisi, fenomena Ivan Gunawan juga tak kalah penting karena ia telah mengkonkretkan salah satu manifesto terbesar abad ini, yakni bahwa indentitas merupakan sebuah konstruksi sosial. Salah satu pencetus manifesto kontroversial itu adalah Judith Butler yang mengajukan teori performativitas. Inti proposal Butler adalah tidak ada identitas gender di balik ekspresi gender. Melainkan, identitas itu dibentuk secara performatif, berulang-ulang hingga tercapai “identitas yang asli”.

Butler menyerang koherensi yang diharuskan antara identitas gender dan identitas seksual. Seperti telah menjadi wacana yang umum selama ini, setiap orang diharuskan memiliki satu identitas gender yang jelas, yang harus sesuai antara “dalam” (jenis kelamin) dan “luar” (gender: cara berbusana, peran, identitas). Koherensi yang diharuskan inilah yang selama ini digunakan untuk menentukan normal dan abnormalnya seseorang. Bahwa seseorang yang memiliki penis tak punya pilihan lain kecuali harus maskulin, dan orang yang bervagina otomatis harus feminin.

Keberatan semacam itu sebelumnya sudah diajukan oleh Foucault ketika mengangkat kasus tragis Herculine Barbin, seorang hermafrodit Prancis abad XIX. Ketika lahir, Barbin diidentifikasi sebagai perempuan. Namun, setelah serangkaian pengakuannya pada dokter dan pendeta, ia secara hukum diharuskan untuk mengubah seksnya menjadi laki-laki karena karakter maskulin yang dimilikinya. Tertekan oleh seksualitas dan jenis kelamin yang diharuskan itu, Barbin pun bunuh diri.

Menurut Foucault, gagasan tentang keharusan manusia untuk hanya punya satu identitas seks dan gender yang jelas –dan tidak boleh ada identitas in beetween- ini menjadi salah satu strategi yang selama ini digunakan untuk mereproduksi dan melipatgandakan wacana tentang seksualitas. Oleh karenanya, pembangkangan tubuh seperti dilakukan Ivan Gunawan menjadi penting sebagai upaya untuk menciptakan –apa yang disebut pemikir neo-Marxis Italia Antonio Gramsci- “keseimbangan kompromis”.

Memang, kalau kita merujuk Gramsci, maka akan terlihat betapa media merupakan medan pergulatan antara usaha perlawanan yang dilakukan oleh kelompok subordinat terhadap kelompok dominan dalam masyarakat. Di dalamnya akan terlihat percampuran –yang tak jarang kontrakdiktif- antara berbagai kepentingan dan nilai-nilai yang saling bersaing, yang bergerak di antara resistensi dan kompromi. Majalah a+ barangkali tidak menyangka, yang mereka lakukan dengan mendadani Nicolas Saputra sedemikian rupa itu bisa memberi makna simbolik resistensi bagi, misalnya, kaum homoseksual laki-laki terhadap hegemoni budaya heteroseksual dan moral-agama.

Dengan perspektif yang sama, maka kita bisa memaknai suksesnya kemunculan sosok seperti Aming, serta masih bertahannya popularitas Tessy, sebagai simbol keberhasilan budaya minoritas-subordinat merebut ruang di tengah budaya mayoritas-dominan. Televisi sebagai media yang relatif paling popular di masyarakat saat ini telah menjadi arena perebutan perhatian dari tubuh-tubuh yang tak mau patuh, membangkang dari definisi-definisi normatif gendernya dan merayakan pembongkaran identitas-identitasnya.

Last modified on: 20 Juli 2015

    Baca Juga

  • Lagu Baru Monkey to Millionaire Buat Orang-Orang Bebal


    Besok Pilkada DKI Jakarta dan beberapa minggu ini hampir semua orang baik di Jakarta dan di luar Jakarta tertular penyakit bernama BEBAL. Yang kelas menengah sekuler bebal bahwa pembangunan membawa…

     

  • Jalan Lain ke Yang-Liyan: Ruang Gelap dan Suara Kertak Gigi


    “Pulanglah. Toni jangan takut, nanti Mami temani ke Dokter Fani,”–seolah Aku hanya bisa menyukai laki-laki adalah gejala diare.(‘Aubade’) Dalam puisi orang bisa tak peduli, tapi sekaligus peduli. Tak peduli pada…

     

  • Kuasa Aroma dan Seksualitas


    HIDUNG tak bisa berpuasa. Indera pengecapan bisa berhenti makan dan minum. Indera penglihatan bisa berpuasa melihat hal-hal “kotor.” Pendengaran, dapat “dibersihkan” melalui puasa dari mendengarkan yang tak elok. Sementara rehat…

     

  • SITI: Menemui Tanpa Menghakimi


    Siti panjang umur. Setelah pertama kali tayang untuk khalayak Indonesia di JAFF 2014, napas Siti kian panjang berkat pemutaran ke pemutaran. Hingga bulan Maret 2016, masih ada ruang-ruang yang memutarkan…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni