(0 votes)
(0 votes)
Read 4832 times | Diposting pada

Eksotisme Tari Seblang Di Ujung Timur Pulau Jawa

Banyuwangi, kota kecil yang menyimpan ribuan jejak sejarah. Banyak budaya eksotis yang tersimpan di sini, yang sekarang harus rela berkelindan dengan rok mini, celana pensil,  dan segala macam produk jaman modern lainnya.


Meskipun berhasil berbaur, tak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan tradisional itu makin lama makin tergerus ibarat aspal jalanan Anyer-Panarukan yang lambat laun makin tipis tergerinda oleh roda truk raksasa yang angkuh dan tak bersahabat.

Tari Seblang adalah satu trademark budaya khas Banyuwangi. Tari ini melambangkan kesakralan, ritual pertemuan dua dunia, sekaligus sebagai rasa syukur atas karunia yang diberikan oleh sang Pencipta dan juga menjadi permohonan untuk tolak bala. Hasnan Singodimayan, salah seorang budayawan Banyuwangi mengatakan bahwa Tari Seblang pada awalnya berfungsi sebagai tari tolak bala dan pernah tercatat di arsip Camat Glagah pada tahun 1930. Namun banyak budayawan lain beranggapan bahwa Tari Seblang sudah eksis sebelum tahun 1930.

Pada dasarnya, Tari ini bisa dibedakan menjadi dua, yakni dilihat dari penarinya. Kalau anda pergi ke Desa Umbulsari, anda akan menemukan penari yang masih gadis remaja. Di desa ini, ritual Tari Seblang biasanya diadakan setelah hari raya Idul Fitri. Lain lagi dengan Tari Seblang yang ada di Desa Bakungan. Meski sama-sama berada di Kecamatan Glagah, penari di Desa Bakungan adalah seorang yang sudah berusia lanjut. Waktu diadakannya pun setelah hari raya Idul Adha. Ke desa kedualah saya pergi dengan Miko, backpacker-mate saya kali ini, berharap bisa menyaksikan kesakralan dan keeksotisan Tari Seblang.

Berangkat dari Jember pada sore hari dengan motor, kami sampai di Banyuwangi sekitar 3 jam kemudian. Sempat singgah sejenak ke rumah Azhar Prasetyo, salah seorang budayawan Banyuwangi yang menulis buku tentang sejarah batik Banyuwangi. Ia lalu mengantar kami ke desa Bakungan. Kami berangkat setelah adzan maghrib berkumandang.

Setengah jam kemudian, kami sampai di desa Bakungan. Di kanan-kiri jalan desa yang sudah beraspal, tampak puluhan keluarga sudah membeber tikar dan karpet serta menyantap hidangan yang sudah disiapkan sejak dari rumah, seperti layaknya saat piknik. Di bangku VIP, tampak pula sang bupati Banyuwangi yang cantik, Ratna Ani Lestari beserta para stafnya. Acara masih belum mulai, mungkin beberapa menit lagi.

Di arena tempat diadakannya ritual Seblang ini, ada pula amben (semacam meja kecil tempat menaruh boneka nini towok, bunga-bunga yang nantinya akan dijual pada penonton, hiasan dari janur, tebu, padi hingga sesajen). Hiasan padi, tebu dan tanaman pangan lainnya ini adalah untuk melambangkan kesuburan yang patut disyukuri. Boneka nini towok, dalam beberapa kepercayaan di Jawa, adalah merupakan simbol padi dan kesuburan. Di kanan-kiri amben, tampak duduk berjejer para pemangku adat dan juga master of ceremony.

RITUAL, DEWI SRI, WANITA DAN KESUBURAN

Tari Seblang bukanlah satu-satunya tari tradisional Indonesia yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanaman yang mereka peroleh. Dalam budaya Jawa-Mataraman dikenal yang namanya upacara Bersih Desa. Pada budaya Jawa non-Mataraman, dikenal pula upacara Sedekah Bumi. Di Bugis-Makassar, ada upacara bernama Mappalili. Dalam budaya Suku Dayak Kenyah yang berada di Kalimantan Timur ada pula upacara kesuburan yang disebut Lepeq Majau. Di Bali ada upacara Mungkah, Mendak Sari atau Muat Emping Ngaturan Sari.

Simbol kesuburan dilambangkan dengan sesosok dewi cantik jelita bernama Dewi Sri. Lain daerah, lain pula nama simbol padi dan kesuburannya. Dalam budaya Jawa, ada simbol yang bernama Nini Thowok. Pada budaya Sunda, dikenal dewi bernama Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati. Pada budaya Dayak, simbol padi dan kesuburan dilambangkan dengan penokohan Bini Kabungsuan.

Tokoh Dewi Sri dalam budaya kesuburan adalah sakral. Folklore tiap daerah pun mempunyai versi yang berbeda tentang Dewi ini. Dalam folklore Sunda, Dewi Sri lahir dari sebutir telur dari air mata seorang Dewa cacat bernama Dewa Anta. Konon, saking cantiknya sang Dewi, raja para Dewa; Bathara Guru, jatuh cinta dan ingin mengawininya. Namun niat itu digagalkan oleh dewa lain dengan cara membunuh Dewi Sri dan menguburkannya di bumi. Beberapa hari kemudian, dari kuburannya muncul beberapa jenis tanaman pangan. Dari bagian kepala, munculah kelapa. Dari bagian mata, tumbuh padi biasa. Dari dadanya, muncullah padi ketan. Dari kemaluannya tumbuh pohon enau dan dari bagian lain muncullah rerumputan. Kejadian di daerah lain, hampir sama, yakni sosok sentral wanita meninggal. Lalu dari kuburannya muncul tanaman-tanaman pangan.

Bukan hanya di Indonesia, Curt Sarch sang penulis buku World History of the Dance mengungkapkan bahwa jauh sebelum Masehi, para Shaman telah menciptakan hujan dengan ritual tari gembira. Kalau anda penasaran seperti apa ghost dance atau rain dance ini, tengoklah sosok vokalis the Doors Jim Morrison saat sedang tampil di atas panggung dan dalam keadaan trance. Morrison yang terobsesi dengan budaya Indian akan menari-nari liar. Itulah ghost dance, kawan. Di tengah suku Amazon dikenal sebuah tari bernama Tari Itogapuk. Tari ini membentuk gerakan laki-laki dan perempuan yang saling bersatu, melingkari sebuah tanaman, saling menempelkan pinggul lalu sang penari perempuan digendong untuk kemudian dibawa pergi.

***

Selayaknya ritual lain, Tari Seblang pun memiliki beberapa tahapan sebelum mencapai ritual puncak. Inilah urutan ritual yang harus dijalankan:

1. Penari Seblang dirias dan mengenakan busana tarinya. Pada bagian tubuh dan wajahnya, dibaluri sejenis tepung batu halus berwarna kuning (biasa disebut atal ) yang dicampur dengan air. Lalu sang penari pergi berjalan menuju arena dengan beberapa penyanyi perempuan dan pemilik hajat.

2. Pada tahapan kedua ini, sang penari dikenakan mahkota yang dihias beraneka bunga dengan beragam warna. Tak lupa, sang penari memegang nyiru dengan tangannya. Lalu ada seorang perempuan tua yang menutup mata sang penari dengan tangannya. Setelah itu ada sang pawang yang membakar dupa serta merapal mantra untuk memanggil dhanyang (roh penjaga desa) yang dikenal dengan nama Buyut Kethut, Buyut Jalil, dan Buyut Rasio agar memberkahi pertunjukan Seblang ini. Saat nyiru yang dipegang penari Seblang itu jatuh, maka dia sudah mulai kejiman alias kesurupan.

3. Tahap ketiga, adalah tahap pemilihan lagu untuk mengiringi sang penari. Ada kalanya, lagu yang dimainkan tidak disetujui oleh sang penari yang sudah trance ini. Kalau sang penari setuju, maka ia akan berdiri dan menari dengan gemulai berlawanan dengan arah jarum jam. Kalau tidak setuju, dia tidak mau berdiri serta memberi isyarat agar sang pengiring memainkan lagu lain. Kadang kala, disaat jeda pemilihan lagu dan sang penari beristirahat, disisipkan pula ritual sabung ayam.

4. Setelah ritual tari berhenti sejenak, maka ada beberapa gadis cantik dengan kebaya memegang kembang dirma yakni bunga beraneka warna  yang dipercayai bisa mendatangkan berkah. Bunga ini diberikan pada penonton, lalu penonton memberikan derma uang ala kadarnya.

5. Tahapan ini disebut tundik dan beberapa menyebutnya Ngibing, yakni saat dimana sang penari mengajak penonton untuk ikut menari. Cara memilih penontonnya unik, yakni sang penari Seblang melemparkan sampur pada penonton. Siapa yang ketiban sampur itu harus menari bersama penari Seblang. Suasana menjadi ramai dan penuh tawa saat penonton lari berhamburan menghindari sampur yang dilempar itu. Saat ditanya kenapa lari, jawaban mereka hampir seragam, “takut”. Kawan, inilah hasil nyata dari pembodohan film horror Indonesia yang membuat orang beranggapan bahwa orang kesurupan bisa membunuh kita.

6. Inilah titik puncak dari upacara Seblang. Saat sang pengiring memainkan lagu Candradewi yang dimainkan dengan cepat, sang penari juga berputar dengan cepat. Lalu sang penari rebah dan tergeletak menelungkup. Saat ini petugas kembali meminta derma dari para penonton.

Selepas Isya, acara pun dimulai. Para kameramen dari beberapa media elektronik sudah siap dengan kamera dan tripod. Para fotografer sudah mendapat angle yang bagus. Dan para pamong praja bertingkah over acting menghalau penonton atas nama kenyamanan ibu Bupati yang terhormat serta jajarannya yang penjilat.

 

***

Seusai pertunjukkan, ada satu ritual lain yang tak afdol rasanya jika tak diikuti. Yakni acara berebutan sesajen hasil pertanian yang digantung di beberapa bagian kantor balai desa. Ada durian, padi, alpukat, sirsak, pisang hingga kelapa. Saya dan Miko yang terkena euforia, langsung saja ikut berebutan sesajen itu dengan puluhan ibu-ibu dan juga anak-anak yang lincah. Saya dan Miko yang berperut buncit karena jarang olahraga, kalah gesit dan akhirnya hanya mendapat dua buah pisang. Karena tahu bakalan tidak kebagian lagi, kami lebih memilih untuk memotret acara perebutan sesajen itu.

Setelah acara berebut itu selesai, kami berbincang dengan  Eko Wahyuni Rahayu, seorang dosen dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik). Rupanya selama beberapa tahun terakhir, ia rutin mengajak mahasiswanya untuk melihat upacara Seblang ini. Ia ingin mengajarkan dan menanamkan pada pikiran mahasiswanya bahwa masih ada tari tradisional yang bahkan jauh lebih eksotis daripada tari modern yang lebih didominasi unsur western.

Harapannya, ia menanamkan pikiran pada mahasiswanya bahwa masih ada tari tradisional yang bahkan jauh lebih eksotis daripada tari modern yang lebih didominasi unsur western. Dengan adanya pikiran seperti itu, tari Seblang tak akan pernah punah digilas jaman. Satu lagi yang bikin saya senyum-senyum senang adalah, gerombolan mahasiswi itu berparas manis ibarat Dewi Sri yang turun dari khayangan, halah! Sayang, saya dan Miko adalah orang-orang yang ditakdirkan untuk jadi pecundang saat harus berkenalan dengan wanita. Apalagi kalau dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka berupa manis, sedang kami bahkan belum mandi.

* foto-foto oleh Nuran Wibisono dan Andrey Gromico

Last modified on: 24 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni