(0 votes)
(0 votes)
Read 623 times | Diposting pada

Durkheim Tentang Avicii dan Bom Surabaya

Redaksi JB
Oleh:
Redaksi JB
 Kolom

 

Sosiolog Emile Durkheim melihat bunuh diri bukan sebagai penyakit kejiwaan, tapi sebagai konsekuensi logis dari disequilibrium dalam masyarakat. 

 

Bom bunuh diri yang dilakukan oleh dua keluarga ‘lulusan’ ISIS di Surabaya minggu lalu, membuat kita terhenyak: bagaimana bisa orang tua membawa anak-anaknya yang masih kecil dalam tindakan semacam itu. Terlebih lagi, mereka keluarga kelas menengah yang menepis anggapan bahwa terrorisme cuma bisa dilakukan oleh orang miskin. Beberapa media mengutip kajian-kajian radikalisme dan berkesimpulan bahwa permasalahan ketidaksetaraan dan ideologi anti-negara lah yang menjadi sebab utama bom bunuh diri. Namun, bisakah kita turunkan sedikit ‘keagungan’ ideologis bom bunuh diri, menjadi sesuatu yang lebih sederhana, pop, dan banal seperti bunuh dirinya para artis?

Emile Durkheim, bapak sosiologi asal Perancis, menyebutkan bahwa bunuh diri ialah fakta sosial sehingga alasan dibalik bunuh diri sesungguhnya berasal dari faktor eksternal daripada internal seseorang. Dalam kajiannya, Durkheim mengategorikan bunuh diri ke dalam 4 bagian berdasarkan integrasi sosial serta regulasi yaitu: Egoistic Suicide, Altruistic Suicide, Anomic Suicide, dan Fatalistic Suicide.

Egoistic Suicide terjadi ketika seseorang tidak memiliki ikatan sosial yang kuat, yang mana hal ini umum terjadi di era modern sekarang ini. Biasanya kemungkinan bunuh diri juga akan semakin besar ketika orang yang kita sayangi meninggal, seperti kasus Chester Bennington, vokalis Linkin Park yang diduga bunuh diri karena kehilangan sahabatnya, Chris Cornell, yang juga meninggal karena bunuh diri. Sebaliknya, Altruistic Suicide terjadi bila ikatan sosial terlalu kuat, seperti kasus Sondang Hutagalung yang membakar diri sebagai aksi protes atas kinerja pemerintah di depan istana presiden. Anomic Suicide sama halnya dengan Egoistic Suicide, umumnya terjadi pada era modern, namun tipe Suicide ini terjadi ketika kondisi sosial, politik, ekonomi tidak stabil akibat dari kurangnya regulasi. Contohnya ialah bunuh diri karena bangkrut. Sedangkan Fatalistic Suicide terjadi ketika regulasi bekerja terlalu ketat dan menyebabkan opresi pada seseorang. Misal, kasus budak yang tidak tahan atas kondisi hidup dan ekonominya. 

*

Kematian Avicii, seorang DJ asal Swedia menambah deret panjang artis yang melakukan bunuh diri. Sebut saja Amy Winehouse, Chester Bennington, Kurt Cobain, Whitney Houston, Robin Williams, dan lainnya. Semuanya memiliki alasan personal untuk mengakhiri hidupnya. Tentu, kita sebagai orang luar tidak akan tahu persis problem eksistensial mereka karena hal itu adalah pengalaman yang subjektif. Maka, yang bisa kita lakukan ialah memakai upaya induktif untuk melihat beberapa kasus bunuh diri yang ada dengan menggunakan, salah satunya, pemikiran Durkheim.

Avicii meninggal pada tanggal 20 April 2018 di Oman, Muscat. Pada saat itu, umurnya belum genap 29 tahun. Spekulasi pun bermunculan berkaca dari hidup seorang Avicii. Mulai dari penyakit pankreatitis akut dari riwayat kesehatannya, krisis eksistensial dari pernyataan keluarganya, sampai yang terbaru yaitu kekecewaannya bahwa banyak orang menolak keputusannya untuk berhenti melakukan tur dikarenakan sakit yang ia alami. Semua ini dipaparkan di film dokumenter Avicii: True Stories. Dari segala spekulasi tersebut, mudah untuk menyimpulkan bahwa Avicii tidak tahan menerima segala penderitaan yang ia alami dan akhirnya menyerah.

Dari ke-4 kategori bunuh diri berdasarkan pemikiran Durkheim, kasus Avicii termasuk dalam Egoistic Suicide seperti umumnya kasus bunuh diri para artis lainnya. Dalam film dokumenternya, Avicii menyebutkan bahwa ia berekspektasi akan adanya dukungan terhadap keputusannya untuk berhenti melakukan tur. Namun, orang-orang banyak menolak keputusannya tersebut.

Avicii dengan kecewa menyatakan, “when I decided to stop, I was expecting a completely different (response), I was expecting support. Especially after what I’ve been through and I’ve been very open with everyone I work with, everyone who knows me. I’ve been very open of what I’ve been through, what I’ve felt, what I’ve done and you know everyone knows that I’ve been anxious (about), you know, everything. [….] so I didn’t expect people to try to push me to do more shows when they’d seen how shitty I felt. I did get a lot of resistance when I want to stop doing the show(s).

Pernyataan keras tersebut menunjukkan betapa buruknya kualitas hubungan Avicii dengan orang-orang di sekitarnya berdasarkan segala penolakan yang ia dapat dari mereka. 

*

Kembali ke bom bunuh diri, salah satu perbedaannya adalah pada level integrasi sosial. Bom bunuh diri dilakukan karena ikatan sosial yang terlalu kuat atas organisasi tertentu dengan ideologinya, dalam contoh ini: ISIS. Rasa yang terlalu kuat akan keyakinan yang dianut serta kepatuhan buta atas perintah dari organisasi, membuat tak hanya individu melainkan sekeluarga rela untuk melakukan bunuh diri secara bersama-sama. Sulit untuk dipercaya, tetapi dalam pemikiran Durkheim mengenai Altruistic Suicide, hal ini wajar adanya.

New York Times mencatat pada tahun 2011 bahwa negara-negara seperti Denmark dan Swedia mempunyai tingkat bunuh diri yang relatif tinggi walau tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup tetap tinggi secara konstan. Beberapa negara semacam Belgia, Belanda dan Australia juga menjadi penyumbang besar tenaga militan untuk ISIS: dengan janji-janji heroisme serta eksistensi, dan di dalam sebuah dunia tanpa makna dan penuh dengan opresi sekularisme dan konsumerisme, jalur-jalur bunuh diri terbuka.

Hal itu menunjukkan bahwa pemikiran Emile Durkheim masih berlaku sampai saat ini. Durkheim mencatat bahwa semakin tinggi tingkat modernitas suatu negara, maka tingkat bunuh diri juga semakin tinggi. Yang dibutuhkan sekarang ialah equilibrium atau tingkat optimum dalam ikatan sosial dan regulasi karena bila berlebih ataupun kurang akan membawa dampak yang sama, yaitu bunuh diri. Namun bisakah kita melakukan itu, ketika sistem pendidikan dan keluarga pasca reformasi menjadi begitu renggang untuk dimasuki berbagai macam ideologi asing dan radikal: dari hyper-consumerism, sampai ultra-Islamisme? (PM/NN/AS)

 

Last modified on: 20 Mei 2018

    Baca Juga

  • Rumah Produksi Terorisme


    Ketika aparatur edukasi dan keluarga dipersatukan, banyak hal luar biasa bisa terjadi; seperti anak jenius atau bom bunuh diri. Belakangan ini banyak kejadian yang terjadi terkait agama dan politik. Mulai…

     

  • Intoleransi Yang Damai, Mungkinkah?


    Ketika intoleransi jadi keseharian, semakin sulit memisahkan yang radikal dan yang moderat. Ada sebuah kebiasaan yang terjadi setiap kali ada berita terorisme mencuat: banyak warganet Muslim ‘membela’ agamanya melalui pernyataan-pernyataan…

     

  • Kita Adalah “Ndeso” yang Lain


    Di Jawa orang mengenalnya sebagai Ndeso dan “Wong Ndeso”. Di Jakarta ada istilah “udik” dan “orang udik”. Di Sumatera mungkin akan ada yang memakimu “kampungan kali kau!”. Dan di sini,…

     

  • Terorisme dan Sikap Kritis Kita


    Terorisme dan segala bentuk lakunya memang patut dikutuk. Setiap kita yang berpikiran waras sudi tak tega melihat keserampangan aktus terorisme berkeliaran tak menentu. Ketika ada kekerasan, penembakan, atau pengeboman yang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni