(3 votes)
(3 votes)
Read 2074 times | Diposting pada

Derap-derap Kepentingan

Derap-derap Kepentingan Kredit ilustrasi: Anna Raff

 

Barangkali hal yang dipikirkan Laura Farina ketika mengetahui Onesimo Sanchez mati hanyalah menyisakan suatu misteri. Gadis itu anak lugu yang disuruh ayahnya Nelson Farina untuk bertemu senator wilayah Rossal del Virrey tersebut. Di sini, Laura sedang dipertaruhkan, mungkin juga dipertarungkan. Nelson tahu bahwa pengiriman itu bukan hanya sekadar bertemu. Sanchez, politikus busuk yang sedang getol-getolnya berkampanye, tentu menginginkan lebih. Bercinta. Namun, dia diperhadapkan dengan sebuah kendala di sini. Bahwasanya si gadis mengenakan celana dalam besi, sementara kunci untuk membukanya ada pada sang ayah. 

Sebenarnya, pemasangan celana dalam itu adalah trik Nelson Farina sendiri. Nelson memiliki kepentingan yang tidak dikabulkan Sanchez. Makanya, sejurus taktik dilakukannya. Termasuk “menjudikan” anak perempuannya yang paling cantik sedunia itu. Tak dapat dimungkiri, dalam hidup ini orang melakukan sesuatu pasti dengan tujuan tertentu. Ini sahih, harga mati. Tujuan itu bisa baik/positif, tapi bisa juga buruk/negatif. 

Dalam tajuk “celana dalam besi Farina” pada pengantar risalah ini, kita lihat bahwa suatu kepentingan berusaha diwujudkan dengan mengorbankan orang lain. Namun, jika membaca secara komprehensif “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” karangan Gabriel Garcia Marquez tersebut, perihal kepentingan itu tidak hanya pada diri Nelson saja. Kepentingan juga tergambar gamblang dalam diri senator Sanchez. Itu tampak dalam propaganda-propaganda politiknya. Mulut manisnya memang sering membual tak terkira. 

Dalam suatu kesempatan kampanye saja, Sanchez menunjukkan atraksi fiksi yang begitu konyol. Dia memerintahkan orang-orangnya memasang mobil-mobil, pohon-pohon, dan rumah-rumah yang terbuat dari bahan sintesis. Juga kapal-kapal pengarung samudra besar yang dibentuk dari kertas berwarna. Lalu dengan bangga dia menggumam bahwa mereka akan menjadi orang hebat dan berbahagia. 

Dia juga menelusuri satu gang ke gang lainnya dan berpura-pura mendengarkan keluh-kesah para warga dengan penuh ketulusan. Namun, di belakangnya, ada yang nyinyir, mencemooh, dan memaki perilaku blusukan itu. Tapi, Sanches tak peduli. Sebab, dia tahu bahwa ada kepentingan yang sedang digarap. Dan, itu harus diwujudkan entah dengan parade konyol sekalipun. 

Kepentingan-kepentingan yang saling silang sengkarut sungguh terlihat jelas dalam rekaan Gabo, julukan Gabriel Garcia Marquez, tersebut. Manusia ditempatkan sebagai sosok yang senantiasa berusaha memenuhi apa yang diinginkannya. Di dalamnya, pertentangan setiap kepentingan tak bisa terhindarkan. Orang bisa saling jegal dan jagal. Bahkan, dendam dan kepentingan sempit menjadi ikon klise lanjutan. 

Dewasa ini, kepentingan-kepentingan tak jarang banyak dijumpai dalam ranah politik. Harus diakui bahwa bidang kehidupan yang satu ini memang selalu tak luput dari pertarungan kepentingan tersebut.  Mungkin saja tesis ini sudah menjadi hal pakem dan berterima dalam ruang pemikiran manusia. Bahwasanya politik selalu tak luput dari kepentingan dan penuh intrik. 

Akan tetapi, barangkali perjumpaan Sanchez dengan Laura dalam kisah itu membalikkan semuanya. Politik jadi tidak penting. Ia tidak selamanya harus dikejar. Apalagi ketika seseorang menemukan kebahagiaan lain. Suatu kepuasan batin. Senator Sanchez tak terlalu memedulikan kunci celana dalam besi supaya bisa berhubungan intim. Baginya, kehadiran Laura saja sudah cukup memberikan kebahagiaan dan kenyamanan.

Harus diakui bahwa gadis itu adalah gadis pujaan, sosok idamannya. Dan, Sanchez sepintas kilas terlihat bahagia. Dia tak peduli lagi pada berbagai hal di sekitarnya. Dapat terbaca bahwa kebebasan dan kebahagiaan batin merupakan keutamaan. Orang hanya bisa bahagia apabila hatinya sejuk dan damai. 

Pada lanskap lain, manusia seringkali terkurung pada kebahagiaan yang semu. Manusia hidup ikut arus dalam garis tertentu tanpa tahu makna yang hendak digapai. Ketakutan juga menjelma jadi pembendung ihwal ideal hidup bahagia itu. Lantas yang tersisa adalah kesepian diri. Yang sungguh tajam terasa dalam hati yang cemas dan gelisah. Akhirnya, manusia tidak mengaktualisasikan dirinya secara utuh. Manusia menjadi mesin dirinya sendiri. Di dalamnya terlumurkan berbagai hal penuh banjar egoisme. 

Namun, hidup tetaplah hidup, dan manusia hanyalah titik kecil yang bergumul di dalamnya. Lalu, maut pun muncul sebagai hal yang tak bisa kita bantah. Sama seperti kehidupan, kematian juga merupakan suatu keterberian total manusia pada keberadaannya. Sebab, menurut Emanuel Levinas, bila manusia sudah mati, dia tidak bisa lagi merubah orientasi hidupnya. Oleh karena itu, kehidupan patut dirayakan setamsil merayakan kematian itu sendiri. Maksudnya, hidup harus diberi makna, dijalani secara sungguh tanpa tekanan. Hidup semestinya merupakan pengekspresian diri secara total. Ada aktualisasi diri yang nyata, bukan tampilan lakon konyol yang membuat manusia terasing dari dirinya sendiri. Di sini ujaran menjadi diri sendiri menemukan titik muncratnya.

Pada bagian akhir kisah “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” itu, Gabo bertutur bahwa Onesimo Sanchez meninggal dunia enam bulan sebelas hari setelah perjumpaan dengan Laura perempuan idamannya itu. Sebelumnya, pria itu memang sudah sakit-sakitan. Akan tetapi, dia mati tetap dalam disposisi yang sama. Ternista dan terbenci. Lantaran skandal dengan Farina tak bisa dibendung, dan amarah jadi bekal kala maut menjemputnya. Ini berarti dia pergi dengan tidak bahagia meskipun sempat merayakan kebebasan batin itu sendiri. 

Saya sangka mimpi, cita-cita, dan tujuan hidup manusia merupakan unsur penting untuk bertahan hidup. Namun, manusia semestinya sadar bahwa dalam setiap jejak langkah, ada dimensi kemanusiawian yang berjalan mengiringi. Oleh karena itu, ambisi tanpa sadar diri adalah skandal. Begitu pula sikap menerima diri tanpa berjuang lebih adalah banal. Maka yang dibutuhkan ialah kesadaran holistik akan kehidupan itu sendiri. Sebab, setiap kepentingan memang harus diperjuangkan. Namun, itu tidak boleh sampai menciderai diri sendiri juga sesama. Sebab, kita tidak pernah tahu kapan maut datang menjemput. Kita juga tidak pernah tahu bagaimana kehidupan yang siklis ini punya kejutan-kejutan kosmis yang tak terduga. 

Kisah kematian Sanchez memang ingin menunjukkan bahwa maut sungguh lebih kejam daripada cinta seperti sajian judulnya. Namun, pada lain sisi, kita tidak boleh lupa bahwa perbenturan kepentingan sedang terjadi. Terlebih yang dialami oleh Nelson Farina. Sebab, mana mungkin seorang ayah rela “menjual” anaknya sendiri hanya demi pembuatan KTP palsu supaya dia bisa lolos dari jeratan hukum pascapelariannya sebagai seorang tahanan. Laura memang tak diciderai atau dibikin mati. Tapi, pengutusannya di dalam dirinya sendiri sudah membawa bahaya. 

Kemudian, senator Sanchez boleh jadi merupakan tokoh utama dalam kisah ini. Namun, tilikan terhadap “perjudian” Laura adalah sisi lain yang mesti dielaborasi lanjut. Maut memang lebih kejam daripada cinta. Namun, cinta dan kepentingan yang salah kaprah kadang bisa lebih tragis daripada maut itu sendiri. Oleh karena itu, hati-hatilah mengatur strategi jitu untuk memuluskan kepentingan. Lebih khusyuknya, dalam politik segala sesuatu bisa saja terjadi. Dan, tak disangka-sangka. 

 

Catatan Belakang:

  1. Pertama kali diterbitkan di Harian Flores Pos Edisi 26 April 2016
  2. Cerpen “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” ditulis Gabriel García Márquez dan diterjemahkan Anton Kurnia dari "Death Constant Beyond Love” dalam kumpulan Innocent Erendira and Other Stories, Picador London, 1981, terjemahan Gregory Rabassa dari bahasa Spanyol. Cerpen itu pertama kali terbit pada Jawa Pos edisi 20 April 2014.

 

Baca Juga:

Lebih Kejam daripada Cinta, Anton Kurnia (Jakartabeat - 27 April 2014)

Last modified on: 30 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni