(1 Vote)
(1 Vote)
Read 4024 times | Diposting pada

Dari Mana Lahirnya Jakarta

Dari Mana Lahirnya Jakarta Credit: Google Maps

 

Secara resmi, Jakarta berulang tahun pada 22 Juni. Namun, tidak banyak warga ibukota sadar sejarah megapolitan ini. Bahkan, tanggal lahir yang dirayakan setiap tahunnya pun tak ramai diketahui, kenapa 22 Juni dan tidak banyak yang sekedar bertanya, benarkah 22 Juni? Apakah kota yang menurut sejarawan Australia, Lance Castle ibarat “panci pelebur” ini, lahir tanpa sebab? Apakah tak ada peristiwa penyerta yang mendahului penentuan hari ulang tahun Jakarta? Tentu saja tidak demikian, sejarah telah mengukir kisah. Mari disimak. Sila dipahami.

Adu Kekuatan

Pada mula abad ke 16, di pedalaman Tanah Sunda bertahta kerajaan Hindu Pajajaran yang telah berdiri sejak abad ke 14, dengan ibukota di Pakuan, Bogor. Menurut berita Tome Pires, Pajajaran memiliki sejumlah kota pelabuhan, yakni Bantam (Banten Girang), Tangaram (Tanggerang), Chemano (Cimanuk), Pondam (Pontang), Cheguide (Cigede), dan Calapa (Sunda Kalapa). Pelabuhan yang tersebut terakhir adalah cikal-bakal pemukiman Jakarta dan pelabuhan niaga penting bagi Pajajaran.

Kegiatan niaga Sunda Kalapa kian bertambah ramai tatkala Malaka dikuasai oleh Portugis pada tahun 1512. Kenapa demikian? Sebab banyak pedagang muslim dari Timur Tengah dan India lebih memilih jalur pesisir Barat Sumatera lalu menelusuri celah Selat Sunda sebelum kemudian singgah di Sunda Kalapa. Kenapa jalur tersebut dipilih? Jika mengarungi Selat Malaka maka pedagang akan ’berurusan’ dengan patroli armada niaga Portugis yang monopolistik dalam berdagang. Meningkatnya kegiatan niaga Sunda Kalapa tersebut berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh kerajaan Pajajaran yang berdagang merica (lada) di sana.

Menurut informasi dari Jan Huygen van Linschoten dalam karyanya Itinerario yang terbit di tahun 1556 (sempat menggemparkan Eropa karena mengungkap informasi penting tentang jalur perdagangan ke Nusantara, yang sebelumnya menjadi rahasia Portugis), Sunda Kalapa begitu ramai dikunjungi pedagang dari berbagai pelosok karena komoditi ladanya yang bermutu lebih tinggi dari lada India dan Malabar. Lada kualitas tinggi ini juga memikat orang Portugis di Malaka untuk turut merapatkan kapalnya di Sunda Kelapa pada tahun 1522.

Berdasarkan informasi dari Babad Banten yang diolah Hoesein Djajadiningrat dalam disertasinya tahun 1913 yakni “Critische beschouwing van de Sajarah Banten” (Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten), diuraikan bagaimana mula Portugis menjalin hubungan dagang dengan Pajajaran. Pada 21 Agustus 1522, penguasa Pajajaran kala itu, Raja Samiam, mengutus menteri dan para syahbandarnya untuk melakukan perjanjian dagang dengan Portugis yang diwakilkan Henrique Leme atas perintah Jorge d’Alboquerque sang Gubernur Malaka.

Dengan kesepakatan ini, pihak Pajajaran berjanji akan menghadiahkan setiap tahun 1.000 karung lada kepada raja Portugis. Portugis pun diberikan hak memakai lahan untuk membangun benteng dan tugu perjanjian mereka. Nampaknya kemurahan hati Raja Pajajaran adalah politik persahabatan agar Portugis menjadi kolega militer Pajajaran yang tengah sibuk dalam perseteruan dengan kekuatan militer dari orang-orang Islam dari kerajaan Banten yang disokong induknya, Demak.

Jalinan niaga Portugis-Pajajaran ternyata mendapat sorotan khusus dari kerajaan Islam Banten. Kerajaan ini memiliki landasan Islam kuat serta semangat tinggi dalam perlawanan terhadap penganut Hindu Pajajaran yang dianggap kafir. Ditambah lagi Pajajaran bersekutu dengan Portugis yang juga sangat dibenci umat muslim di Banten. Bagi Banten, keduanya merupakan rival dagang dan musuh syariat dari Islam Banten.

Perjuangan merebut pelabuhan Kalapa dengan semangat ’jihad’ pun bergelora. Dengan didukung persenjataan kuat dan kemahiran militer dari prajurit Banten yang dibantu Demak, Sunda Kalapa pun berhasil direbut dibawah komando Falatehan. Falatehan adalah seorang pemuka agama dari Pasai dan juga suami dari adik perempuan Sultan Trenggana, raja Demak ke tiga.

Ternyata ’sambil menyelam minum air’, kala beberapa hari setelah merebut Sunda Kalapa dari Pajajaran, sekumpulan kapal Portugis datang. Pasukan Portugis tersebut di bawah pimpinan Fransisco de Sa yang hendak datang ke Sunda Kelapa setelah usai menggempur Bintan di Kepulauan Riau pada sekitar bulan-bulan terakhir 1526 (tidak ada tanggal pasti). Pasukan Portugis tersebut memiliki misi mendirikan benteng perjanjian yang pernah dijanjikan raja Pajajaran. Namun ternyata mereka kemudian digempur dan dibantai pasukan Banten di pelabuhan Kalapa dengan mudah, disebabkan oleh topan badai yang membuat mereka lelah  dalam perjalanan menuju Sunda Kalapa. Maka habislah mereka yang menepi di Sunda Kalapa. Fransisco de Sa dan armada sisanya pun mundur, kembali ke Malaka.

Peristiwa perebutan pelabuhan Sunda Kalapa ini menjadi momen penting bagi muslim Banten. Bagi mereka peristiwa ini merupakan kemenangan besar, kemenangan sempurna, atau kemenangan penghabisan (Jaya Karta). Pada masa penuh syukur inilah Sunda Kalapa diganti namanya menjadi Jayakarta oleh Falatehan dan berada dibawah kontrol dan pengawasan kerajaan Banten.

Adu Argumentasi

Selingan sejarah di atas mengantarkan kita bertanya, kapankah hari pergantian nama itu ditetapkan Falatehan? Menjawab pertanyaan ini, tersaji dua versi. Versi pertama dilontarkan Soekanto, guru besar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Dalam buku Dari Djakarta ke Djajakarta (terbit pertengahan dekade 1950-an), peristiwa kemenangan sempurna Falatehan melawan Portugis terjadi pada 22 Juni 1527. Analisa Soekanto berdasarkan penanggalan “Pranata Mangsa” (dimana setahun ada 12 mangsa) yang juga merupakan penanggalan pertanian.

Soekanto dalam artikelnya memberi interpretasi sejarah bahwa pasukan Portugis menggempur Bintan pada akhir Desember 1526. Lalu mereka beristirahat, mempersiapkan armada dan berlayar kembali menuju Kalapa dengan bercuaca buruk musim hujan, sehingga memakan waktu dua bulan. Alhasil, pasukan Portugis terdampar dengan kelelahan dan dengan mudah ditumpas tentara Falatehan pada tengah Maret 1527. Beberapa hari sebelumnya, tentara Falatehan baru merebut Kalapa yakni sekitar akhir Februari atau awal Maret. Lalu, Falatehan pun menunggu serangan balik Portugis selama tiga bulan sambil menunggu waktu baik yakni panen rakyat sebagai puncak perayaan kemenangan mereka atas pelabuhan Kalapa. Setelah tiga bulan berlalu (Juni 1527, yang juga merupakan bulan panen rakyat), serangan balasan Portugis tak kunjung tiba. Pada bulan baik itulah Sunda Kalapa diubah namanya menjadi Jayakarta. Dan Soekanto menetapkan bahwa tanggal 22 Juni sebagai hari perayaan tersebut.

Kenapa Soekanto memilih sistem penanggalan panen dalam menentukan hari jadi kota Jakarta? Menurutnya, Falatehan yang cerdas, pastilah sadar akan situasi dan kondisi rakyat yang masih belum sepenuhnya menerima ajaran Islam dan masih sangat menghargai siklus panen pertanian tradisional. Maka ia beranggapan bukan penanggalan Islam yang menjadi rujukan dalam menentukan hari lahir nama Jayakarta, melainkan penanggalan petani, kalender agraris. Sejarawan tersebut berkesimpulan, bahwa tanggal satu mangsa kesatu (Kasa)—yang merupakan masa panen rakyat—itu jatuh pada 22 Juni 1527. Maka umur Jakarta pun, menurutnya mulai dihitung dari tanggal tersebut. Alhasil, pada 2012, Jakarta meniup lilin ulang tahunnya yang ke 485.

Versi lain dijabarkan P.A. Hoesein Djajadiningrat, seorang guru besar Ilmu Sejarah Islam Indonesia. Pendapat Soekanto dilawan oleh Hoesein. Dalam artikel di majalah Bahasa dan Budaya (tahun V, nomor 1, 1956) berjudul “Hari Lahirnja Djajakarta”, dia ragu akan analisis Soekanto tentang jatuhnya tanggal satu mangsa kesatu itu pada 22 Juni. Hoesein pun ragu dengan sikap Soekanto yang dengan pasti menyatakan bahwa pada 22 Juni 1527-lah Falatehan mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Hoesein menjelaskan bahwa untuk mendapatkan tanggal peristiwa pengubahan nama tersebut kita hanya dapat mewanti-wanti dengan dugaan yang mendekati kebenaran.

Dalam artikelnya, Hoesein menyuguhkan berbagai perkiraan dari para ahli mengenai penanggalan pertanian. Diantaranya pendapat J. Brandes (penyusun jadwal perbandingan penanggalan pranatamangsa dengan Masehi) yang menyatakan tanggal satu mangsa ke satu ternyata jatuh pada 12 Juli (bintang Weluku). Sedangkan menurut R.M.A.A. Tjondronegoro (Bupati Kudus 1880), tanggal satu mangsa ke satu jatuh pada 17 Juli (bintang Weluku) dan 9 Juli (bintang Wuluh). Maka perhitungan 22 Juni 1527 sebagai tanggal satu mangsa ke satu yang menjadi hari panen dan hari baik untuk mengubah nama Sunda Kalapa a la Soekanto, tidak tepat menurut Hoesein. Hoesein beranggapan bahwa Soekanto memaksakan tanggal 22 Juni sebagai hari jadi nama Jayakarta dikarenakan tanggal tersebut sama dengan hari dirumuskannya Pancasila.

Demi melengkapi kritiknya terhadap kesimpulan Soekanto mengenai hari ganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta, Hoesein pun memaparkan alasannya. Menurut para ahli yang dikutip Hoesein dalam artikel tersebut, perkiraan bulan Juni sebagai bulan panen (seperti yang diutarakan Soekanto) adalah keliru. Menurut J. Brandes, bulan panen jatuh pada mangsa ke sepuluh (12 April - 11 Mei). Perkiraan Tjondronegoro, bulan panen jatuh pada mangsa ke sepuluh pula, tapi berbeda tanggal Masehinya, yakni 25 Maret - 17 April. Begitu pula berbagai pendapat para ahli pranatamangsa lainnya tentang bulan panen (masih saling berdekatan periodenya), namun berbeda dengan perkiraan bulan panen a la Soekanto. Analisa atas kekeliruan argumentasi Soekanto ini, semakin menguatkan Hoesein bahwa pergantian nama ini lebih didasarkan pada penanggalan Islam. Sebab Falatehan sebagai pemimpin dan ulama dalam perenungannya mengenai kemenangan sempurna melawan ’orang kafir’ merebut Sunda Kalapa pada akhir tahun 1526, pastilah memilih hari baik dan tanggal baik untuk mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta berdasarkan penanggalan Islam.

Dalam menambah keteguhan versinya, Hoesein menjelaskan bahwa pelabuhan Kalapa direbut tentara Muslim pada sekitar tengah Desember 1526. Dan beberapa hari kemudian Falatehan menggempur mundur pasukan Fransisco de Sa yang datang ke Kalapa. Pasukan Portugis ini berlayar pada kurun—berdasarkan kabar dari Malaka—berangkat menggempur Bintan dan melanjutkan misi ke Kalapa pada 23 Oktober 1526. Dan pasukan itu kembali dari misi pada perayaan Natal 1526. Pemimpin pasukan Portugis yang digempur tentara Falatehan tersebut itu pun telah bertolak ke India pada penghabisan bulan Desember 1526. Maka Hoesein menduga pada sekitaran tengah dan akhir bulan Desember lah perayaan Jayakarta berlangsung

Hoesein pun menimbang, bahwa Falatehan menentukan perubahan nama pelabuhan Kalapa dan perubahan nama pribadinya terinspirasi dari kisah nabi Muhammad menaklukan kekuasaan Quraisy di Mekkah yang termuat di dalam Qur’an surat Fath ayat pertama: ”Inna fatahna laka fathan mubinan” (sesungguhnya Kami telah beri kepadamu kemenangan yang tegas). Berdasarkan refleksi spritual ini, Falatehan kemungkinan besar menjadikan hari raya Maulid, 12 Rabiulawal 933 H (Senin, 17 Desember 1526) sebagai hari jadi pengubahan nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta (kemenangan sempurna) dan mengubah juga nama pribadinya menjadi Fathan (yang mengalami salah dengar dan salah tulis menjadi Falatehan oleh orang Portugis). Ditambah lagi, perayaan Maulid kala itu bertepatan pada hari Senin yang merupakan hari lahir dan wafatnya Nabi Muhammad, sehingga hari dan tanggal tersebut menjadi bertambah sakral dalam pengamatan Falatehan.

Namun, Hoesein memberi peringatan bahwa tanggal 17 Desember 1526 tidaklah bisa dianggap sebagai kepastian tanggal pengubahan nama tersebut. Maka, Hoesein memberi batasan waktu yang lebih aman yakni kemungkinan pergantian nama Sunda Kalapa ke Jayakarta dilakukan Falatehan pada dan setelah Maulid tanggal 12 di bulan Rabiulawal. Tanggal-tanggal Hijriah tersebut bila dikonversi ke Masehi adalah antara 17 Desember 1526 hingga 5 Januari 1527. Pada kurun waktu itulah terjadi perubahan nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta oleh Falatehan.

Dan Akhirnya

Perbedaan versi ini pernah menjadi wacana hangat pada pertengahan dekade 1950-an. Dan versi sejarah tawaran Soekanto-lah yang ditetapkan menjadi hari lahir kota Jakarta hingga sekarang. Penetapan 22 Juni sebagai hari lahir Jakarta disahkan pada 23 Februari 1956 dengan SK. No. 6/D.K. Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja.

Apakah mungkin keputusan ini ditetapkan oleh karena versi Soekanto kebetulan bertepatan dengan hari di mana Pancasila diformulasikan dalam Piagam Jakarta, yakni 22 Juni 1945, agar terkesan sakral. Ditambah lagi, kondisi dalam negeri saat itu tengah mengalami kegoyahan stabilitas politik antara pusat dan daerah, sehingga versi Soekanto yang ”bernuansa” Pancasila, dinilai dapat mendinginkan suhu panas politik.

Namun, keputusan tersebut bukanlah kepastian sejarah, ini hanya ketetapan pemerintah pada masanya. Sebuah kompromi politis. Kita semua tahu, seringkali sejarah ditentukan penguasa. Pemahaman sejarah adalah kunci menaklukan ketidaksadaran sejarah yang merupakan dampak dari pemahaman sepihak atau pembakuan masa lalu oleh sang ’penguasa’ yang ’memonopoli’ sejarah. Maka dari itu, sangatlah penting penyadaran sejarah.

Kini, Kita perlu konsepsi baru yang jujur mengenai sejarah lahir kota ini. Setidaknya, sosialisasi penyadaran sejarah kepada warga kota di ruang-ruang publik. Sebab, dengan kejujuran historis, moga-moga sifat kejujuran itu tertular-menjalar pula ke dalam relung-relung benak Manusia Jakarta. Pun kejujuran tersebut dapat diinsyafi oleh para calon pembesar megapolitan ini yang akan dipilih nanti. Diharapkan, yang terpilih nanti siap dan benar-benar berlaku jujur dalam mengelola kota yang dibanjiri oleh seribu satu problema kehidupan. Kelak, kita bisa berharap tidak ada lagi yang bergumam; aduh, Jakarta!

Last modified on: 21 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni