(16 votes)
(16 votes)
Read 6933 times | Diposting pada

Daftar Cara Membunuh Skena dengan Ormas

Daftar Cara Membunuh Skena dengan Ormas Foto: Cinemapoetica

 

 

“We build the wall to keep us free.”

Why We Build The Wall, Anais Mitchell.

 

 

Kawan-kawan kita sedang sangat kreatif beberapa hari belakangan ini, karena  beberapa dari mereka berhasil memasukkan satu elemen baru di dalam skena yang mereka buat: pembubaran oleh Ormas. Dari acara belokkirifest, Pementasan Tan Malaka, Diskusi HMI di Pekanbaru sampai Lady Fast di Jogjakarta kemarin, kehadiran Ormas atau protes masyarakat setempat seperti melengkapi acara. Dalam beberapa tahun ke depan, jika pola produksi skena masih sama seperti ini, maka saya jamin “pembubaran oleh ormas” akan masuk dalam semua template jadwal acara skena: Pembukaan, Sambutan, Nonton film, Diskusi, Musik, Bazar DIY, dan acara ditutup oleh Sambutan Makian dari Ormas setempat.

Ormas yang menyambangi berbeda-beda tapi satu jua, rata-rata diawali dengan kata Front atau Forum, dan diakhiri dengan kata Islam. Mereka mungkin tak kenal satu sama lain, tapi media massa telah menjadi alat berbagi imajinasi baru tentang komunitas islam dan pola hubungannya dengan negara (dalam hal ini, Polisi). Kalau kita pakai pisau analisa Almarhum Ben Anderson, kita bisa melihatnya seperti ini: berita tentang dilarangnya sebuah aliran agama, orientasi seksual, sampai acara diskusi, di satu sisi meresahkan sebagian masyarakat, namun di sisi lain menjadi model yang bisa dengan mudah mengkonsolidasi komunitas-komunitas Islam di berbagai tempat. Konsolidasi ini adalah sebuah wujud ketakutan dan ketidakamanan menghadapi musuh yang tidak mereka mengerti. Mereka tidak bisa membedakan liberalisme, identitas gender, sekularisme, sosialisme, kiri, kanan, komunis, bahkan nasionalisme. Yang mereka tahu, isme-isme ini adalah hal yang mengancam keberadaan identitas mereka secara sosial-ekonomi-politis-geografis. Prinsipnya sangat sederhana dan stereotipikal: jika ada laki-perempuan berkumpul dan itu bukan acara ritual (contoh: pengajian, nikahan, sunatan), berarti ada yang tidak benar.

Bicara soal anonoh dan komunitas lokal, dangdut atau campur sari sering dipakai ketika kawinan--dan itu ritual. Yang bukan ritual akan ada di dalam perlindungan Preman atau Ormas karena hubungan sosial dan peran ekonomisnya. Anda tidak bisa memakai logika, "Itu aja boleh kenapa ini nggak boleh," dalam konteks ini. Karena ujung dari perdebatan ini bukanlah logis tak logis, tapi masalah kuasa. Kalau Anda bukan orang lokal yang punya kuasa atas bahasa dan sistem simbol masyarakatnya, jangankan argumen, sepatah kata pun mereka tidak akan dengarkan. Toh, mereka tidak bisa mengejawantahkan kenapa mereka takut dan merasa tidak aman dengan kehadiran Anda, selain dengan kata-kata sederhana seperti makian atau Allahuakbar.

Saya berharap pembaca sekalian bukanlah orang-orang yang ikut menggrebek sembarangan dan tidak takut untuk berpikir hal-hal baru yang awalnya terdengar asing. Jika sejauh membaca tulisan ini Anda langsung bingung, lebih baik Anda tutup website ini dan cari blog atau situs lain yang lebih berterima dengan kapasitas pikiran Anda. Situs yang di pojokan sana, sepertinya lebih asik untuk sedikit berpikir dan banyak bercanda, walau akhir-akhir ini sedikit jayus karena kebanyakan ngopi.

Anyway, saya hanya berharap tulisan ini bisa meringankan sedikit ketakutan dan kepanasan kita soal insiden-insiden penggrebekan yang menimpa kawan-kawan kita. Karena semakin kita 'play victim' dan merasa takut, semakin besar dan kuat opresi ini menekan kita. Yuk, berpikir jernih agar bisa terus berkarya sambil mengevaluasi diri.

Bismillahirahmanirahim.

*

 

Jadi mari kita bicara makna dulu, sebelum kita bicara soal subtansi tulisan ini. Salah satu arti skena (scene) dalam kamus Oxford adalah, “a specified area of activity and interest” (sebuah wilayah spesifik yang mengandung kegiatan dan kepentingan). Walau kata serapan ini belum ada di KBBI, ‘skena’ sudah biasa digunakan anak-anak muda kelas menengah kota untuk merujuk ke acara musik lokal, diskusi, pemutaran film, dan hal-hal bersifat ‘semi-intelektual.’ Dalam makna ini terkandung sebuah bias, yang hanya dimiliki oleh kelas menengah kota. Kita tidak bisa menggunakan kata skena untuk menggambarkan hal yang sama di kelas menengah bawah seperti konser dangdut lokal, atau konser marawis ibu-ibu pengajian. Anda belum akan mendengar Zaskia Gotik bilang, "Neng nggak bisa wawancara karena ada skena malam ini. Hidup Pancasila."

Bias kelas ini juga menunjukkan sebuah kesenjangan sosio-ekonomi, bahwasannya walaupun skena (bisa jadi) diadakan dengan bujet yang sama atau lebih kecil daripada dangdut atau marawis, dengan menggunakan modal sosial sumbangan kawan atau saudara, untuk bisa dimengerti ia membutuhkan perangkat investasi jangka panjang kelas menengah lain seperti pendidikan dan akses terhadap referensi ‘barat,’ dari buku-buku sampai musik dan film. Setiap kesenjangan sosial mengandung potensi konflik yang besar, apalagi kalau konteksnya sudah bercampur aduk, tanpa batas yang jelas.

Tulisan ini akan memberikan daftar tentang bagaimana cara mengundang Ormas untuk membubarkan skena kita. Ini penting, karena kata Umberto Eco, “Kita suka daftar karena kita tidak mau mati.” Kami tak ingin skena lokal mati. Maka berikut daftar cara membunuh skena dengan Ormas, agar kita bisa waspada. 

 

1. Carilah Venue Yang Tidak Biasa Dipakai Skena

Coba bikin skena di perumahan, yang banyak tetangganya. Cari rumah yang pemiliknya tidak kenal dekat dengan tetangga dan antar pemilik rumah hubungannya renggang. Jadi ketika ormas atau masyarakat luar area itu datang menggrebek, tidak ada yang akan membela komunitasmu. Pastikan juga musikmu dan keramaiannya bisa bergaung sampai rumah tetangga, dan biarkan tetangga melihat orang-orang asing berseliweran di daerah mereka. Buat mereka merasa tidak aman.

 

2. Cukup minta izin ke RT-RW saja dan Promosikan Kesenjangan Kelas di daerah yang rentan Kesenjangan

Acaramu kecil, di bawah 300 orang? Nekat saja adakan di daerah mayoritas konservatif dan agak terbelakang, yang kesenjangan sosialnya tinggi. Pastikan acaramu terliihat “WAH”, dengan karya-karya yang cantik-cantik dan penggalangan dana sosial. Band yang main juga harus punya referensi yang ‘lebih tinggi’ daripada dangdut koplo dan campur sari, promosikan kebebasan tubuh dan kebebasan berpikir, kalau bisa sekeras toa masjid. Pastikan orang-orang menengah bawah, dan ormas-ormas yang bahkan tidak bisa mengeja kata “Toleransi” itu tahu bahwa ada acaramu di situ. 

 

3. Pastikan Publikasimu Lebih Besar Dari Acaramu

Acaramu lokal dan padat karya? Publikasimu harus menunjukkan sebaliknya: besar-besaran di media sosial, dengan poster-poster yang sangat keren buat indie kelas menengah Amerika. Tunjukkan kalau kamu bebas bicara di Media Sosial, lupakan saja konteksnya. Lupakan juga bahwa publikasi itu bisa dilihat siapa saja dengan ideologi yang berbeda dengan kamu. Jangan takut! Jangan berpikir! Terbitkan!

Walaupun sasaranmu sebenarnya kelas menengah yang pikiran dan pendidikannya setara denganmu, kasih lihatlah ke semua orang yang follow kamu di sosmed. Pastikan dishare sebanyak-banyaknya. Tidak usah pedulikan bahwa ada pemakai internet yang pendidikan dan referensinya lebih rendah dari kamu, dan sering hunting buat cari jatah palakan ormasnya. Biarkan saja nanti mereka berkumpul untuk menggrebek acaramu yang dilakukan di tempat publik tanpa backingan komunitas lokal dan pejabat terkait tadi. Pastikan publikasi berbanding terbalik dengan keadaan lokalitasnya, maka acaramu hampir pasti dipermasalahkan.

 

4. Percayalah Pada Ilusi Bahwa Kita  Hidup Di Negara Bebas 

Mintalah pada negara untuk melindungimu, walau kamu tahu mereka takkan melindungimu. Ormas-ormas menguhubungi polisi untuk membubarkan dengan logika pengawasan: kalau polisi tak bisa membubarkan, mereka yang akan membubarkan. Kenapa polisi menurut? Karena Ormas adalah pelapornya. Dan di satu sisi itu menunjukkan kekuatan sipil Ormas yang bisa mengawasi polisi. Ormas sadar bahwa negara tidak bisa melindungi, maka mereka siap jadi vigilante, main hakim sendiri seperti Batman dengan gamis dan peci. Tapi Ormas tidak bodoh, mereka perlu legalitas agar tidak bisa dipermasalahkan belakangan, maka itu mereka mengundang polisi. Ormas ada di konteks yang sama dengan negara, maka pastikan skena kamu tidak.

 

5. Jangan Membuat Konsolidasi Organisasi

Pernah dengar Komunitas Lima Gunung? Itu komuntas seni tani terbesar di Indonesia. Orang-orang desa berkumpul dan menari, menarik ribuan turis lokal dan internsional. Sponsornya? Orang kampung semua dan beberapa donasi dari orang kaya kampung situ. Ada diskusinya, konferensi persnya, dan kadang ada pemutaran film. Acara selalu diadakan di desa dan orang desa patungan untuk memberi makan tamu, serta menyumbang acara. Mereka juga dapat sedikit untung dari tamu-tamu yang live in di rumahnya. Banyak juga bintang tamu dari daerah-daerah lain di Indonesia. Bahkan mereka pernah mengadakan kesenian dan diskusi Muntilan-London dengan live streaming. Petani-petani lho ini. Dan mereka memulai komunitas ini dengan suwun dan konsolidasi ke banyak komunitas lain untuk minta backingan dari kawan-kawan desa lain, salah satunya komunitas seni-tani tertua di Jawa, Tjipta Boedaja. Seandainya ada ormas yang mau grebek dengan otot, mereka yang terikat dengan tanah dan komunitasnya ini tentu tak akan tinggal diam. Sementara para pendukung mereka yang terdidik akan membantu melawan dengan otak (secara legal-formal). Tiap bikin acara, mereka selalu mengundang kadus, kades, lurah dan polres untuk meresmikan. Seremonial itu penting, apalagi kalau di luar Jakarta. Nah, jangan lakukan organisasi massa seperti ini kalau kamu maunya dibubarkan ormas. Tak perlu suwun ke komunitas-komuntas lain. Tak perlu konsolidasi.

**

 

Saya tidak ingin menyalahkan korban seperti polisi seksis yang bilang pada korban perkosaan,  “Salah kamu pakai baju itu.” Saya cuma ingin bilang bahwa gerakan skena kita akhir-akhir ini seperti tidak memperhitungkan infrastruktur fisik dan mental yang semestinya diperlukan sebuah gerakan. Infrastruktur fisik artinya tempat yang sesuai untuk membuat sebuah pertunjukan, dari gedung pertunjukan, kelas, kafe, hingga rumah tinggal. Tapi ini belum cukup, karena bahkan di gedung, kelas dan kafe pun, skena bisa digrebek secara semena-mena, apalagi di rumah.

Yang sama pentingnya adalah infrastruktur mental, dari penyelenggara acara, pemerintah, penonton, dan masyarakat sekitarnya (termasuk preman atau ormas). Rezim Soeharto telah membangun infrastruktur mental ini selama tiga dekade—bahkan sampai sekarang, penerusnya masih melanjutkan skema pembangunan ‘ketakutan pada gerakan’ ini. Pasca reformasi, Negara tidak pernah benar-benar peduli soal pembangunan mental. Revolusi Mental Jokowi cuma jargon kosong yang implementasinya malah cenderung fasis orde baru. Terbukti dari wacana Ospek sampai LGBT yang bergulir kemarin, yang dimulai dari kepandiran menteri-menterinya. Kondisi ini harus kita terima dan kita tanggapi dengan strategi-strategi baru, bukan sekedar seru-seruan membuat karya seenaknya tanpa berpikir aspek produksinya, konten dan konteksnya, serta aktualitasnya.

Tekanan-tekanan masyarakat bentukan Orde Baru dan pembiaran dari pemerintah, harusnya jadi batu asahan buat skena kita ke depannya, agar lebih tajam dan runcing melihat kondisi sosial masyarakat kita. Mungkin kita harus mengadopsi ide Donald Trump secara simbolik: kita harus membangun tembok-tembok pertahanan kultural agar bisa membangun infrastruktur mental masyarakat kita secara perlahan. Bukan tiba-tiba buat diskusi intelektual di wilayah yang menganggap makna gender hanya alat musik tradisional dari bilah logam berjumlah 14 buah. Ini bisa dimulai dengan memilih venue, menyiapkan birokrasi, konsolidasi komunitas dan mencari backing yang cukup kuat untuk membela kita secara sosial-politik. Acara kecil hendaknya dibuat lebih privat dan rahasia, acara besar hendaknya siap modal uang dan dukungan sosial-politik. Itu konteks saat ini yang harus kita terima, kalau kita masih memaksa artinya memang kita hendak membunuh skena. 

Jangan memberikan pertunjukkan cerdas untuk orang bodoh. Karena orang bodoh, butuh pertunjukan bodoh. Kalau kita cukup cerdas, harusnya kita bisa membuat pertunjukkan yang bungkusnya bodoh tapi isinya bergizi. 

Last modified on: 5 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni