(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2731 times | Diposting pada

Citra dan Represi Makna

Citra dan Represi Makna Kredit Ilustrasi: Pixabay.com

 

Hingga kini kata “pencitraan” dari kata dasar “citra” konotasinya hampir selalu buruk. Media massa gemar memakainya sebagai sebutan lain yang terdengar fantastis ketimbang “munafik” sebagai perbuatan untuk menutupi keburukan. Maknanya sudah bergeser walau di era Orde Baru awak media beserta seniman dan budayawan “pernah” meletakkannya sebagai sesuatu yang baik dengan salah satunya memberi nama untuk penghargaan tertinggi film Indonesia. 

Saya membayangkan, jangan-jangan nanti uraian tentang “citra” yang maknanya sudah bergeser ini akhirnya kelak ditambahkan di Kamus Thesaurus Indonesia versi ahli bahasa Eko Endarmoko kalau memang mau terbit lagi edisi barunya.

Mungkin ini sepele, tapi Joko Widodo ketika dulu baru menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pun terkena pula dampaknya. Sampai ketika ia ditanya salah satu media maksudnya blusukan dengan tegas ia menjawab, ”Saya sedang bekerja, bukan melakukan pencitraan!”

Kata “citra” mendadak konotasinya buruk, mirip dengan “wanita” di zaman Orde Baru untuk menamai pelacur dengan WTS (Wanita Tuna Susila) yang diganti menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial), ada juga TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau kini yang lebih populer “buruh migran” guna mengganti akronim TKW (Tenaga Kerja Wanita). 

Masih segar dalam ingatan ketika makin berkembang kegiatan kaum feminis yang berjuang atas kesetaraan gender sehingga lambat laun menjadi bagian dari konstruksi media massa pula, kata “wanita” mulai sering diganti menjadi “perempuan”. “Wanita” berkonotasi rendah, mirip dengan era Orba wanita yang (lagi-lagi) identik dengan WTS karena kerap diartikan menjadi ‘wani ditotok’ atau artinya dari bahasa Jawa ‘diapain aja mau’ sebagai sebuah kata lain untuk menyebut ‘pasrah’. Perempuan akhirnya lebih banyak dipilih redaktur media massa sebagai pengganti ‘wanita’ karena lebih menggambarkan ketegaran dan kemandirian. 

Sempat saya berprasangka buruk apakah karena tiap pemerintah dan zaman sering dan selalu melahirkan jargon popular dengan memiliki rupa-rupa istilah, kata, atau idiom sendiri yang kontekstual kata “wanita” cenderung diganti menjadi “perempuan” lantaran “wanita” identik pula dengan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) organisasi massa yang dibenci Orba bikinan PKI? Tidak juga. 

Era 1980-an hingga 2000-an masih cukup banyak yang masih menggunakan kata “wanita”, pun salah satunya organisasi Dharma Wanita, bentukan Orba pula. “Wanita” di sisi lain era Orba cenderung bermakna “ibu-ibu yang merawat,mengayomi” sehingga cenderung dikonotasikan sosok perempuan bersanggul dan kebaya yang harus selalu menjaga wibawanya dengan perilaku lembut nan santun.

Ingat, kursus kepribadian tenar John Robert Powers sangat kukuh mengajarkan tata krama, terutama untuk perempuan (bahkan sampai cara berdandan) itu tumbuh pesat di era Orba, sama dengan maraknya ahli-ahli motivator di zaman sekarang!

Perkembangan serbaneka bahasa Indonesia memang cukup menarik. Bahkan karena “seru”nya sampai rupa-rupa makna kata tertentu tiap zaman mengalami represi makna. Ya, saya cenderung menggunakan istilah “represi” ketimbang “dekonstruksi” lantaran sudah sejak lama perkembangan pers dan media kita cenderung menjatuhkan pelbagai makna dan lema yang tadinya baik menjadi buruk, apalagi jika berhubungan dengan kekuasaan dan politik. Beberapa makna kata lebih seperti tertindas makna aslinya.

Kenapa saya lebih suka menggunakan kata “represi makna”? tengoklah era 1970-an awal, ketika ramai-ramai  media massa membentuk opini publik bahwa lelaki rambut gondrong identik dengan kejahatan, pembangkangan, sampai terberat anarkis (“Dilarang Gondrong”, Aria Wiratma Yudhistira,Marjin Kiri,2010). Begitu juga rajah atau tato di era 1980-an selalu identik dengan kriminal sampai-sampai perlu dibikin penekanan untuk mendeskripsikan sosok penjahat di media massa kala itu  “pria gondrong dan bertato”. Apalagi era 1980-an marak berkembang pula istilah “Petrus” atawa “penembak misterius” yang gencar kala itu untuk melenyapkan penjahat yang dipublikasikan secara massif “gondrong dan bertato” yang kemudian juga mengilhami tema dan judul karya sastrawan Seno Gumira Ajidarma.

Kemudian era 1960 dan 1970-an media massa yang konon dengan agung kita menyebutnya sebagai ‘pilar demokrasi’ digiring membentuk opini publik “komunisme adalah setan” (“Kekerasan Budaya pasca 1965”,Wijaya Herlambang, Marjin Kiri,2013), yang tentunya masih membekas hingga kini sehingga saya lagi-lagi lebih suka menyebutnya “represi makna” ketimbang dekonstruksi.

Dalam ajaran Kristiani, adalah tertulis di Injil ‘manusia diciptakan sebagai citra Allah’ artinya menyerupai sifat Allah, sehingga maknanya tak jauh beda dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) terbitan Pusat Bahasa dan Balai Pustaka (yang sangat dipercaya banyak orang hampir 27 tahun lamanya sejak pertama kali terbit 1988, namun ketika terbit Kamus Thesaurus Indonesia pada 2008, baru kaum terpelajar terutama wartawan dan editor bahasa punya kitab referensi lain bahasa Indonesia) yaitu ‘menyerupai’ atau dengan kata lain berarti pula ‘kesan’.

Kembali pada kata “citra” dan “pencitraan” yang bermula dari gunjingan –lama-lama “naik kelas” jadi bahasa pemberitaan pada umumnya untuk menilai tingkah pejabat yang menjadi sumber pemberitaan. “Citra” mengalami dekonstruksi sedemikian rupa tapi sekali lagi saya menyebutnya “represi” atawa “penindasan makna”. 

Salah satunya berawal dari kinerja pemerintahan SBY dulu yang dinilai buruk lantaran dianggap tak sesuai dengan janji semasa kampanye. Apalagi pribadi SBY sendiri dinilai lebih mementingkan kesan sebagai pemimpin yang baik-cendekia daripada bekerja menyelesaikan urusan Negara yang makin tumpah ruah. Ingat, kita pernah punya Presiden yang juga membuat sederet album musik sampai buku puisi, fotografi, dan esei, lho.

“Citra” dan “pencitraan” terus menerus mengalami represi –sampai masuk pula dalam bahasa pergaulan kita sendiri juga tanpa kita sadari dengan cenderung menyebut orang yang sedang berusaha “menjadi baik” malah “dicurigai” melakukan “pencitraan”-apalagi di era social media saat ini dengan adanya Facebook,Twitter, Instagram, Path, dsb. Kita sendiri seolah lupa sampai sadar tak disadari toh sedang melakukan pencitraan. 

Pertanyaan mengusik, represi makna  apalagi yang nanti berkembang di 2016 setelah industri pers kita kalau mengacu pada sebutan wartawan senior Kompas Bre Redana tempo hari sedang mengalami senjakala? Kalau tidak salah soal lema “citra” tak seperti lema lain di era Orba yang mengalami represi. Lema ini tidak mengalami represi dengan sengaja hasil intervensi pengelola media massa dengan pemerintah, namun dikembangkan sendiri oleh para awak media. 

Dengan kata lain insan pers sendiri yang membuatnya seperti sedang mengalami represi yang ujung-ujungnya juga menghasilkan proses serupa dengan perilaku seringnya membuat berita sensasional ala infotemen, eh, infotainment.

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Reuni dengan Enam Aku


    Aku gabung di Chanel72 gara-gara adik perempuanku yang programer hiperaktif dan mudah stres dan hobi mancing dan doyan nenggak alkohol dan baik hati dan punya banyak duit. Katanya: Ini pengembangan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni