(2 votes)
(2 votes)
Read 487 times | Diposting pada

Buffalo Boys, Marlina, dan Genre yang Hidup Kembali

Redaksi JB
Oleh:
Redaksi JB
 Kolom
Buffalo Boys, Marlina, dan Genre yang Hidup Kembali Buffalo Boys. Mike Wiluan, Screenplay Productions.

 

Sejarah seringkali berulang. L’histoire se repete. Bentuk, konteks, dan latar wajahnya mungkin berbeda, tetapi jiwa atau esensi yang melekat dengannya tidak pernah berubah. Kita dapat menemukan ini pada politik, perubahan sosial, kemanusiaan, dan bahkan film. Kurang lebih dua minggu yang lalu, pada 20 April 2018, pegiat dan penikmat film disuguhi trailer film Buffalo Boys karya Mike Wiluan. Berisikan jajaran pemain film bintang serta visual dan adegan aksi yang mumpuni, film ini lantas kemudian cepat menjadi bahan perbincangan publik dan viral. Selain itu, viralnya Buffalo Boys juga karena ia berbekal muatan cerita berlatar sejarah kolonialisasi Belanda di Indonesia yang dipadukan dengan atmosfir Western yang kental. Karenanya kemudian, bersama film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak yang rilis tahun lalu, Buffalo Boys disebut-sebut sebagai angin segar dalam perfilman Indonesia. Klaim yang prematur ini perlu untuk diwaspadai karena perkawinan unsur Indonesia dengan Barat dalam film, terlebih lagi subgenre Spaghetti Western (versi murah film koboi di Eropa), bukan hanya terjadi pada beberapa tahun belakangan di Indonesia, tetapi telah terlebih dahulu menyambang dan bahkan mendominasi perfilman negeri ini pada era 70-an.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak dan Buffalo Boys sendiri dikategorikan mempunyai corak genre yang disebut oleh majalah Variety sebagai Satay Western yang disamakan dengan (atau diparodikan dari) Spaghetti Western. Gurun, bukit-bukit gersang, tanah tandus, tempat terpencil, penunggang kuda, penegak hukum, pahlawan, musik yang khas, dan aksi tembak-menembak antar dua kubu biasanya adalah elemen yang mewarnai genre ini. Dalam trailer Buffalo Boys kita bisa melihat adanya suatu pemukiman tandus yang terpencil yang menjadi titik sentral terjadinya penindasan oleh penjajah dari Belanda. Beberapa sosok protagonis (salah satunya diperankan Ario Bayu) kemudian datang, tentu saja dengan berkuda, sebagai pahlawan untuk menyelamatkan pihak yang tertindas yang direpresentasikan oleh El Manik, Pevita Pearce dan Mikha Tambayong. Dalam Marlina (2017), pihak tertindas ialah Marlina itu sendiri, perempuan kuat yang berupaya untuk mencari kebenaran setelah dia hampir saja diperkosa di rumahnya sendiri. Marlina yang menunggangi kuda untuk melawan mengerikannya budaya partriarki di masyarakat dan bumi Sumba yang gersang, tandus, namun sangat indah adalah elemen Western yang paling menonjol di film tersebut.

Kedua film ini merupakan indikasi kembalinya genre yang serupa di perfilman Indonesia. Di era 70-an juga ada beberapa film koboi terkenal, dua diantaranya adalah Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) dan Tiga Janggo (1976). Bing Slamet Koboi Cengeng bercerita mengenai upaya pembebasan anak Bing Slamet yang diculik. Adapun Tiga Janggo merupakan parodi Janggo. Benyamin sendiri menjadi salah satu dari tiga janggo yang datang ke Beno City, untuk menumpas gerombolan Don Lego (Muni Cader). Kedua film ini memang memiliki inti genre yang sama seperti kedua film sebelumnya di atas, namun lebih mengeksplorasi sisi komedi. Ini tidak lepas dari kedua aktor utama, Bing Slamet dan Benyamin S., yang kerap bermain dan lebih dikenal dalam film-film bergenre komedi. Unsur Western, khususnya Spaghetti Western, di dua film hanya menjadi semacam pendukung latar.

Selain subgenre Spaghetti Western, unsur pengaruh Barat juga ada pada film-film 70-an lainnya seperti Pulau Cinta (1978) dan Nafsu Gila (1973) yang dibintangi Suzanna. Genre yang sama ini kemudian terulang kembali sekarang namun dengan konten yang berbeda, dengan pengemasan dan teknik yang lebih apik. Genre superhero seperti Gundala Putra Petir yang sedang digarap Joko Anwar juga penanda kembalinya era film cult Indonesia. Namun, yang harus diwaspadai adalah sebuah ingatan tentang bagaimana film-film ini hancur bersamaan dengan perfilman Indonesia melalui maraknya produksi film-film horror seks, intervensi negara, dan monopoli film Hollywood. Tantangan lain yang terbesar sekarang adalah gerakan ormas konservatif anti-liberal yang bermaksud menjaga moral sambil pelan-pelan membunuh industri yang baru mulai tumbuh ini. Dijegalnya film Naura dan Genk Juara (2017) arahan Eugene Panji oleh ormas dan simpatisannya adalah salah satu contoh yang perlu diwaspadai. Hashtag boikot film ini menjadi viral bulan November lalu setelah seorang ibu memprotes penggambaran antagonis yang berjenggot dan mengucapkan istighfar. Siapa sangka, setelah 20 tahun reformasi, industri film masih harus tunduk dengan cekalan akibat detil kecil macam penjahat yang kebetulan beragama Islam di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, yang kebanyakan isi penjaranya adalah orang Muslim? Jika film-film Satay Western sampai terjegal, mungkin tahun depan akan ada film "Koboi Tobat" untuk menyambangi pasar semacam ini. Lalu, sejarah akan terulang lagi: kalau dulu film cult mati dibunuh pasar yang mendambakan seks, sekarang pasar menuntut pendiktean moral dan iman di bioskop. (ABM/NN)

 

 

3 Janggo, Benyamin S.
Last modified on: 15 Mei 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni