(0 votes)
(0 votes)
Read 2074 times | Diposting pada

Bob Dylan dan Nobel Sastra: Sebuah Gunjingan yang Sudah Sedikit Basi Beberapa Hari

Bob Dylan Bob Dylan

 

“Basement, medicine, pavement, government, trench coat, laid off, bad cough, paid off, kid, did, when, again, alley way”

Dalam sebuah video musik jadul hitam-putih, kita melihat pemuda cungkring bernama Bob Dylan berdiri seraya memamerkan setumpuk kertas bertuliskan kata-kata tersebut, yang kemudian dikelupasnya satu per satu dan dibiarkan terjun bebas ke tanah. Setelah puluhan tahun menyanyikan lirik-lirik bermuatan protes, hari Kamis lalu pada tanggal 13 Oktober 2016, Bob Dylan menjadi musisi pertama sepanjang masa yang memenangkan hadiah Nobel Sastra.

Sara Danius, Sekertaris Permanen Swedish Academy, mengumumkan nama Bob Dylan dengan muka kencang tanpa senyum, namun pengumuman itu segera disambut sorak-sorai membahana. Masih tanpa tersenyum, ia pun melanjutkan, “…Dylan, karena telah menciptakan ekspresi puitis yang baru dalam tradisi agung lagu-lagu Amerika.” Dalam sekejap kabar ini segera memunculkan berbagai reaksi di seluruh dunia. Ada yang girang, ada yang mengecam. Salman Rushdie mengutarakan kegembiraannya kepada The Guardian karena musik Bob Dylan telah memberinya inspirasi seumur hidupnya. “Saya bertekad melewati hari dengan memutar Mr Tambourine Man, Love Minus Zero/No Limit, Like a Rolling Stone, Idiot Wind, Jokerman, Tangled Up in Blue, dan It’s a Hard Rain’s Gonna Fall,” demikianlah The Guardian mengutip perkataannya. Rushdie juga menyebut bahwa batas-batas akan definisi apa itu sastra telah semakin meluas, dan menyenangkan betul Swedish Academy dapat menyadari hal itu.

Di sisi lain, Margaret Atwood mengutarakan dalam wawancaranya dengan BBC bahwa kemenangan Bob Dylan terasa sangat “strategis” dalam hebohnya kemelut pemilihan presiden di Amerika Serikat, mengingat bahwa Dylan adalah seorang tokoh kontra-kultural yang sangat populer di tahun enam puluhan. Kemenangan ini menjadi sebuah pesan. “Nobel Sastra sering kali politis,” kata Atwood, dan ketika ditanya apakah pesannya ditujukan untuk Trump yang dianggap sebagai perwujudan Nixon di tahun enam puluhan, Atwood berkata ringan, “Entah ya, karena saya kan nggak bisa baca pikiran orang.”

Satu hal yang jelas adalah Nobel Sastra tahun ini sukses besar dalam memicu gempa bumi. Siapa yang tak kenal Bob Dylan? Kini ia telah menjadi seorang kakek gaek berusia 75 tahun yang tidak se-cute pemuda cungkring berambut awut-awutan dalam video Mr Tambourine Man, namun tidak ada seorang pun yang tidak pernah mendengar namanya. Buku-buku ditulis mengenai dirinya, film-film dokumenter maupun feature dibuat untuk menceritakan kisahnya, termasuk yang paling diingat orang sejauh ini, I’m not There, di mana Cate Blanchett berhasil menghapus imejnya sebagai peri jelita di The Lord of the Rings dan bertransformasi sebagai seorang lelaki, yaitu Bob Dylan sendiri. Tidak pernah mendengar musik Bob Dylan? Setidaknya Anda pasti tahu lagu-lagu Iwan Fals, dan keduanya memang mirip sekali. Pokoknya Bob Dylan terkenal, titik.

Karena itu pengumuman Nobel Sastra tahun ini menjadi jauh berbeda dari dua tahun sebelumnya, ketika banyak orang garuk-garuk kepala, barangkali sambil berkata, “Siapa sih Svetlana Alexievich? Penari balet Rusia? Patrick Modiano itu koki masakan Itali?” Beberapa pihak dengan sinis berpendapat bahwa kini ternyata Swedish Academy tidak lagi membaca buku, dan bahwa Bob Dylan harusnya sudah cukup dihadiahi Grammy dan tidak mengganggu wilayah penulis sastra “serius” yang untuk bisa dikenal orang banyak saja sudah susah, apalagi untuk bisa “berpengaruh” dan bonusnya menjadi kaya raya, seperti Bob Dylan, yang kiranya tidak akan membutuhkan uang hadiah Nobel seperti halnya beberapa sastrawan hebat-tapi-melarat mungkin membutuhkannya. Tetapi jika kita kembali ke perkataan Salman Rushdie di awal, mungkin ada baiknya jika kita berdamai dengan diri sendiri mengenai bagaimana seharusnya kita mendefinisikan batas-batas pengertian sastra sekarang ini.

Bisa diakui bahwa sepanjang karirnya Bob Dylan telah menciptakan lirik-lirik yang selain puitis juga kritis dan bombastis. Kalau mau adil, lagu-lagunya bisa dibaca secara mandiri sebagai puisi dan pesan-pesan politis di dalamnya telah memberi pengaruh yang luas terhadap masyarakat Amerika Serikat. Alasan-alasan itulah yang kiranya membuat para juri Nobel menyimpulkan bahwa Dylan tidak semata bintang rock, namun juga seorang pujangga yang pantas memperoleh penghargaan tertinggi. 

Ketika ditanyai mengenai apakah Swedish Academy telah memperluas kategori untuk penghargaan sastra, Sara Danius menyangkalnya, dan alih-alih meminta kita untuk melihat ke belakang, tak tanggung-tanggung, selama dua ribu lima ratus tahun kembali ke masa Homer dan Sappho. “Mereka menulis teks-teks puitis yang dimaksudkan untuk didengar, juga ditampilkan, sering kali dibantu dengan instrumen-instrumen musik,” katanya. Ia menambahkan, karena Swedish Academy membaca dan menikmati karya-karya Homer dan Sappho, mengapa tidak Bob Dylan?

Tentunya ini berlawanan dengan pernyataan Sekertaris Permanen Swedish Academy sebelumnya, Peter Englund, dalam wawancara ekslusif yang dimuat di situs resmi Nobel Prize pada bulan September 2013. Ia ditanyai apakah para juri bisa memilih siapa saja untuk Hadiah Sastra, misalnya musisi, ilmuan, dan sebagainya, dan jawaban Englund adalah tidak, seseorang harus telah menciptakan karya sastra untuk dapat memperoleh Hadiah Sastra. Maka jika kita merujuk kepada wawancara tiga tahun silam tersebut, Bob Dylan seharusnya tidak bisa memenangkan Nobel Sastra.

Tetapi sekali lagi, sejauh mana definisi untuk “sastra”? Apakah para juri Nobel Sastra pantas menentukannya?



 

Last modified on: 17 Oktober 2016

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni