(0 votes)
(0 votes)
Read 2251 times | Diposting pada

Bertemu (Dua Juta) Orang Amerika di Hari Pelantikan Obama

 

Apa yang bisa dibaca dari dua juta orang yang berkumpul di alun-alun, jam 12 siang, dalam suhu minus empat derajat celsius yang menggigit?


Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ribuan  orang yang sejak jam empat pagi, menumpang kereta pertama, bertemu di National Mall, pada musim dingin yang hampir membekukan?

Dari tulisan di ribuan spanduk, kaus sablon desain sendiri, dan berbagai pernak-pernik yang dijual di pasar kaget, kita tahu ini hari ini Barack Obama dilantik menjadi presiden Amerika ke 44. Tapi sejujurnya, saya tak yakin paham bagaimana mungkin di negara yang rakyatnya bisa memaki Presidennya tanpa masuk penjara atau digebuki polisi, yang katanya demokrasi telah menjadi rutin, orang bergelombang datang melawan dingin.

Tapi memang bagi si sinis terhadap Gedung Putih, Capitol, atau bahkan demokrasi, sekalipun, sulit untuk tidak merasa tergerak jika hari ini berada di The Mall di tengah dua juta kerumunan yang seketika bersorak histeris ketika salvo pertama ditembakkan, satu detik setelah sumpah presiden baru selesai diucapkan.

Apa sebenarnya yang terjadi di negara yang dijepit krisis ekonomi dan dua perang --yang dibuat sendiri-- ini? Saya rasa, sekalipun penting, orang datang tak hendak berharap hal-hal itu akan selesai keesokan hari setelah Obama duduk di Ruang Oval. Saya rasa ada soal lain yang lebih dalam yang hendak dinyatakan hari ini.

Dan saya rasa, dengan resiko sok tahu, tanpa perangkat riset dan akademis yang memadai, saya bisa menerka jawabnya sewaktu naik kereta bawah tanah, sehari sebelum inagurasi dan tadi pagi menuju stasiun Federal Centre, tak jauh dari Capitol.

Kereta yang saya tumpangi, terhitung padat untuk ukuran Washington DC, dipenuhi wajah-wajah yang bukan tipikal warga kota Washington yang biasa saya temui sehari-hari di kereta. Sore itu, kereta dipenuhi wajah para warga keturunan Afrika Amerika agak sepuh --berusia sekitar 50 sampai 60 tahun.

Mengamati dengan seksama wajah, dandanan mereka --jas lengkap dan topi borsalino bagi yang pria, mantel bulu-bulu bagi yang perempuan--, keramahan, dan cara tertawa mereka yang lepas, saya seperti disadarkan: Mereka adalah orang-orang Amerika yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai warga negara kelas dua, bergulat menghadapi prasangka, yang sampai sekarang pun masih terasa.

Mereka selama ini ada di pinggir dan seringkali sengaja dipinggirkan. Dan hari ini mereka berduyun-duyun ke tengah, tepat di jantung simbol kekuasaan Amerika antara Monument dan Capitol, seakan-akan, menguasai Washington, dan dengan demikian Amerika, dengan sukacita. Dengan riang gembira, tiga hari penuh, tak lagi dengan kemarahan seperti 46 tahun lalu, ketika mereka berbondong-bondong mendengarkan pidato "I Have a Dream" dari Martin Luther King yang menggetarkan.

Saya baru sadar terlalu menganggap remeh rasisme yang ternyata adalah soal teramat besar bagi bangsa ini. Ia hidup bersembunyi di belakang setiap pikiran, politik, dan hal ikhwal kehidupan di sini, dan menjalar dengan diam-diam, betapapun ingin bangsa ini di atas kertas ingin menghapusnya. Menjadi hitam adi tanah dunia baru ini dalah cerita kelam tentang bagaimana selalu dipinggirkan dan dicurigai sejak dalam pikiran.

Bagi mereka, saya rasa, hari ini tidak berawal dari kereta pagi yang berangkat jam empat dinihari tadi. Hari ini adalah titik penting (mungkin cahaya di ujung lorong) dari sejarah kelam ini. Maka tadi pagi saya juga melihat bus-bus dari Indiana, Philadelphia, New Jersey, dan seluruh penjuru tanah yang bebas dan tanah air para pemberani ini, membawa ribuan penumpangnya, termasuk dua perempuan dari Oklahoma yang duduk di depan saya pada waktu makan siang, yang dengan amat bangga mengenakan tanda pengenal: Presidential Inauguration, 2009, Very Important Person. (Walaupun ketika ditanya, seberapa dekat tempat duduknya dengan Obama, ia menjawab 500 yard, atau 450 meter)

Bersama kereta bawah tanah yang hari ini tak henti bekerja mengangkut 973 ribu penumpang, bus-bus itu juga membawa ke depan mata saya saya sesuatu yang selama berbulan-bulan saya cari-cari: The Americans, orang-orang Amerika. Tak tanggung-tanggung, dua juta jumlahnya.

Saya tak fasih, dan barangkali tidak akan bisa, mendefinisikan secara persis orang-orang Amerika. Lebih mudah bagi saya menemukan Pemerintah Amerika --dua hal yang amat berbeda, tetapi banyak orang menganggapnya sama. Pemerintah Amerika mengirim tentara ke Irak, banyak orang Amerika tidak. Pemerintah Amerika memusuhi Islam, banyak rakyat Amerika tidak (dan tidak peduli). Dan orang Amerika, tentu saja, bukan yang kita lihat film-film Hollywood yang ganteng dan cantik, tetapi, kata sebagian orang, moralnya bobrok dan dekaden atau sok jago.

Hari ini seperti menegaskan keyakinan saya sejak dulu bahwa orang Amerika itu sama saja dengan kita dan orang-orang di tempat lain di dunia: sekumpulan orang biasa yang pada dasarnya baik, a bunch of good people. Tidak kurang tidak lebih. Jika bukan orang-orang baik,, bagaimana mungkin saya merasa aman membawa stroller di tengah dua juta orang yang berjejal. Jika bukan orang baik, bagaimana mungkin mereka saling bercakap-cakap, bertegur sapa, dan melempar canda dengan sesama pengunjung inaugurasi yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Dan tak ada yang lebih menggembirakan selain melihat orang-orang baik bergembira seperti yang mereka alami hari ini. Saya sungguh larut dalam kegembiraan mereka.

Three cheers for Americans.

*catatan hari pelantikan Obama, 20 Januari 2009


Last modified on: 26 Mei 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni