(3 votes)
(3 votes)
Read 3674 times | Diposting pada

Berlin, Gurun Pasir, dan Rio Johan di Tengah-tengahnya

Kedipan Maut Rio Johan Kedipan Maut Rio Johan

 

Berlin dan Gurun Pasir

Oktober, 2016. Rio Johan tiba di Berlin dengan kepala penuh berisi Mesir. Ia melangkah menyusuri jalan-jalan aspal yang keras dan licin tersaput angin musim dingin, namun di suatu sudut pikirannya ia sedang membayangkan hari panas berpasir yang terang-benderang seperti di film karya Alejandro Amenàbar, Agora, di mana Rachel Weisz berperan sebagai Hypatia. Rio Johan, seperti halnya kebanyakan penulis fiksi, memang sering kali berada di dua alam yang benar-benar berbeda. Satu adalah kenyataan (Berlin) dan satunya lagi adalah apa yang sedang disusun oleh benaknya (Mesir Kuno). Ia melanjutkan langkahnya. Setelah melalui perjalanan udara (plus transit dan sesi menunggu di bandara) selama kurang-lebih 24 jam, tak ada yang diinginkan Rio lebih dari rebahan di ranjang. Apartemen sewaannya terletak di Antonienstrasse di utara Berlin, sebuah kamar yang dimiliki oleh seorang janda imigran asal Kuba bernama Donatella Sanchez. Rio akan tinggal di tempat itu selama dua bulan penuh demi menulis novelnya yang terbaru, yang dibayangkannya mungkin akan berjudul Susu.

Ia pergi ke Jerman disponsori oleh Komite Buku Nasional serta Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan RI. Pada waktu Rio Johan terbang ke Berlin, delapan penulis lain juga sedang beterbangan ke seluruh dunia demi memenuhi tujuan masing-masing—Faisal Oddang (penulis novel Puya ke Puya), misalnya, pergi ke Belanda untuk memburu naskah asli I La Galigo yang tersimpan di Universitas Leiden, penulis komik Andik Prayogo mengunjungi kantor Digital Catapult Inc. di Tokyo, Agustinus Wibowo, Fadly Rahman, dan Martin Aleida juga ke Belanda; Ahda Imran ke Prancis, Cokorda Sawitri ke Amerika Serikat, sementara Djoko Lelono mengunjungi Filipina. Norman Erikson Pasaribu, yang seharusnya menjalani program ini di Amerika Serikat, pada akhirnya tidak berangkat karena kendala visa.

Selama di Berlin, Rio Johan senang bangun pagi. Tepatnya pukul empat pagi. Biasanya ia langsung menulis, setelah iseng mengintip keluar jendela dan hanya melihat jendela-jendela apartemen lainnya masih tertutup tirai dan kegelapan masih membayangi setiap sudut jalan. Sebelum menulis ia juga akan menyisihkan waktu menyambangi media sosial untuk mengecek situasi di rumah sekaligus membuat status yang dimaksudkan untuk menggoda Dewi Kharisma Michellia, sohibnya sesama penulis (buku kumpulan cerpen Dewi yang terbaru, Elegi, akan terbit awal tahun depan). Really thinking about getting butt implants! demikian bunyi status Rio subuh hari itu. Di Jakarta masih antara pukul sembilan dan sepuluh malam. Ia nyengir ketika Dewi membalas dengan komentar, Barengan yok!

Kemudian ia mulai menulis. Sedikitnya ia menulis selama empat sampai lima jam setiap hari, yang disela kegiatan menyiapkan sarapan buah-buahan pada pukul enam pagi, menciptakan kebisingan minimal di dapur yang tetap saja membangunkan sang induk semang, Donatella Sanchez, yang pemalas. Tapi toh tidak ada orang Jerman yang bangun subuh seperti orang Indonesia, dan Rio Johan berhasil menulis tanpa gangguan setiap harinya sampai matahari menyingsing, tirai-tirai tersingkap, dan orang-orang mulai nampak berlalu-lalang melalui jendela mereka. Pada akhirnya Rio akan menutup laptop tepat pada pukul delapan pagi untuk pergi mandi, bersemangat memulai hari yang sesungguhnya. Ia beranjak dari alam Mesir Kuno kembali ke jalan-jalan kelabu Berlin di dunia nyata.

Pada situs resmi Komite Buku Nasional, www.islandofimaginations.id, tertulis bahwa Program Residensi Penulis ini dimaksudkan untuk mendukung penulis dalam mengadakan penelitian untuk karya yang sedang digarap, plus menyediakan suasana yang kondusif. Tentu saja, sekaligus membantu mereka membangun jejaring di luar negeri sesama penulis, penerjemah, dan penerbit. Seperti delapan penulis lainnya, Rio Johan dibekali uang saku dengan jumlah yang lumayan untuk dua bulan tinggal di Jerman, juga untuk tiket pesawat PP, dan biaya pembuatan visa. Ada pula budget khusus untuk belanja buku.

Beruntung, Eropa merupakan surga toko buku. Rio mendapati bahwa Berlin dipenuhi toko-toko buku independen yang bisa ditemukan di mana-mana. Dengan girang, ia membeli The Cyberiad karya Stanislaw Lem dan Brief Interviews with Hideous Men karya David Foster Wallace di toko buku bernama Saint George's English Bookshop di Berlin. Ketika mengunjungi Paris, tentu saja ia melipir ke toko buku legendaris Shakespeare and Company, di mana arwah Hemingway, Fitzgerald, Pound, Eliot, Joyce, dan Stein mungkin masih bergentayangan dan saling berdebat mengenai sastra dunia dengan suara hantu mereka yang lirih. Kembali ke Berlin, Rio Johan menemukan buku-buku terjemahan Laksmi Pamuntjak dipajang di toko buku mainstream Dussmann das KulturKaufhaus dan buku-buku Leila Chudori di toko-toko buku independen.

Komite Buku Nasional membebaskan para penulis untuk menyusun jadwal sendiri serta mengumpulkan kontak-kontak sendiri di luar negeri. Rio Johan pun dengan merdeka mengatur sendiri kunjungannya ke museum-museum dan berbagai situs sejarah di Jerman dan Prancis. Berlin, khususnya, merupakan surga museum selain surga toko buku. Ia terutama rajin mengunjungi Neues Museum, museum khusus Mesir Kuno, di Bodestraat, Berlin, untuk meneliti periode Firaun Theb. Di sanalah ia jatuh hati kepada "perempuan tercantik di dunia", Ratu Nefertiti. Ia juga jatuh hati pada perempuan-perempuan batu lainnya yang kemudian dijelmakannya dalam wujud tulisan pada halaman-halaman novelnya.

Maka sekembalinya dari kunjungan ke museum, ketika terkadang masih ada sisa tenaga dan waktu, Rio Johan membuka laptop dan kembali ke Mesir Kuno di benaknya. Hari itu ia menuliskan secuplik adegan lain di novel barunya:

Pelan-pelan dan gemetaran sosok itu keluar, dan siluet bayang itu pun mewujud menjadi seorang perempuan ringkih dan menjijikkan.

Dari luar kamar, Rio bisa mendengar Donatella Sanchez menonton telenovela. Suara-suara berbahasa Spanyol menembus melalui partikel di dinding, tetapi sebagai penulis fiksi Rio telah terbiasa memblokir suara-suara yang tak sesuai dengan dunia yang sedang dibangunnya. Ia melanjutkan menulis satu paragraf bermuatan dua ratus kata, lalu menambahkan:

Terbata-bata perempuan itu berkata, "Saya, Iksa."

"Apa kamu ini ibu susu?" bibir Firaun Theb tiba-tiba bersuara, yang kemudian langsung disadarinya terdengar begitu kosong wibawa dan kuasa; ia betul-betul merasa seperti bocah dungu.

Mungkin cukup untuk hari ini, pikir Rio Johan seraya memandangi layar laptop-nya. Keesokan subuh ketika membaca ulang adegan tersebut, ia serta-merta mendecak tak puas, lalu menyelipkan satu paragraf penuh di antara baris-baris percakapan tersebut.

 

***

Program Residensi Penulis

Program residensi bagi penulis dan seniman merupakan sesuatu yang tak asing di luar negeri. Ada program-program seperti Art Aia dari Italia, Acre Residency dari Amerika Serikat, Colleen Lewis Lewis Open Archive Residency dari Barbados, dan ratusan program serupa lainnya di seluruh dunia yang menawarkan tempat, waktu, serta dana bagi para penulis dan seniman untuk menetaskan karya mereka. Sayangnya di Indonesia program seperti ini belum semarak di luar, terutama bagi para penulis sastra, meskipun Komite Buku Nasional perlahan-lahan mulai mengubahnya.

Sejak menggarap Frankfurt Bookfair di tahun 2015, Komite Buku Nasional bertekad tak ingin menelantarkan penulis-penulis berbakat Indonesia. Program residensi ini merupakan salah satu wujudnya. Dana yang digelontorkan juga tidak sedikit. Tentu saja ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus kita penuhi apabila ingin mendapatkan tempat dalam program residensi ini, misalnya sudah pernah memiliki buku yang diterbitkan, apalagi bila kita memiliki karya yang telah memenangkan penghargaan, seperti Rio Johan yang kumpulan cerpennya, Aksara Amananunna, pernah masuk 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa Pilihan Majalah Tempo tahun 2014. Namun di luar persyaratan-persyaratan semacam itu, program ini agaknya dapat dilihat sebagai komitmen Indonesia untuk (akhirnya) memelihara sastra milik sendiri demi berkompetisi di panggung internasional.

Pada pertengahan bulan Desember ini akhirnya Rio Johan tiba kembali di Indonesia. Ia tampak segar dan gemukan setelah melulu melahap bratwurst Jerman dan kue-kue manis Prancis selama dua bulan. Kami berjumpa Sabtu lalu, 17 Desember, di mall Grand Indonesia karena saya kepo ingin dengar oleh-oleh cerita yang dibawanya dari Program Residensi. Tentunya curhatan beberapa penulis penerima Program Residensi lainnya bisa dibaca di situs Komite Buku Nasional (jika kepingin kepo lebih lanjut), namun senang rasanya karena saya bisa berbagi cerita langsung dengan Rio dari sore sampai malam.

Pada akhirnya, mari kita tunggu saja novel terbaru Rio Johan juga karya delapan penulis terpilih yang mungkin akan segera terbit dalam waktu dekat ini!

Last modified on: 19 Desember 2016

    Baca Juga

  • Mereka yang Menempuh Seratus Kilometer


    Berjalan kaki lebih dari seratus kilometer untuk menjemput keadilan seharusnya cukup jadi ancaman jika telinga negara bisa mendengar. Penolakan petani di pegunungan Kendeng—terutama kegigihan kaum perempuannya—terhadap kehadiran pabrik semen di…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni