(8 votes)
(8 votes)
Read 3438 times | Diposting pada

Berhala (Baru) itu Bernama Wiji Thukul

 

“Kau benci Soeharto?!”

Tangan berbulu itu menempeleng kepala saya. Segalanya mendadak gelap. Ada ribuan kunang-kunang beterbangan. Sebelum mata sempat membuka, saya merasakan tangan itu menjambak rambut saya. Muka Sersan Kepala Suparno tiba-tiba ada di hadapan saya, sangat dekat. “Siapa yang mengajarimu?” mulutnya mendesis.

Saya hanya bisa menahan air mata sambil menggigil ketakutan. Bukan, saya bukan tak mau menjawab. Namun, saya tahu, seperti yang sudah-sudah, jawaban apa pun yang saya berikan hanya akan berbuah tamparan dan jambakan dan tempelengan.

Saya masih ingat benar, ketika itu sebuah Sabtu di pertengahan Januari 1998. Hari terakhir ujian Catur Wulan II. Saya masih duduk di kelas tiga SMP: kurus, dekil, dan berambut sedikit lebih panjang di antara kawan-kawan seumuran. Usai menyelesaikan soal, saya dan tiga orang kawan memutuskan untuk jalan-jalan ke Grojogan Sewu, sebuah objek wisata yang terletak di Tawangmangu, sekitar 13 kilometer dari sekolah saya di Karanganyar. Sesuatu yang awalnya kami rencanakan sebagai sebuah bentuk perayaan kecil-kecilan, tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk. Kami ditangkap petugas penjaga objek wisata karena menorehkan grafiti di sebuah kursi gazebo: sebuah kejahatan kecil khas berandalan amatir. Kami diseret ke pos jaga, untuk kemudian diinterogasi. Tas kami digeledah. Dan, kartu ujian milik saya menjadi awal petaka.

Kartu ujian itu berwarna biru muda, seukuran dengan kartu-kartu semacamnya. Di sana tertera kolom nama, kelas, nomor induk, dan sebuah kolom yang seharusnya ditempeli foto saya. Mungkin kartu itu tak akan menjadi masalah andai saja saya benar-benar memasang foto saya di situ dan tidak menempelinya dengan perangko kilat seharga Rp700 bergambar Presiden Soeharto yang sedang tersenyum manis dengan latar belakang warna putih. Seakan tindakan itu masih belum terlalu kurang ajar, saya menorehkan tinta warna merah di bibir Sang Presiden dan melapisi kartu itu dengan plastik laminating. Dan, inilah yang kemudian terjadi: kami berempat dibawa ke kantor Koramil setempat, kasus grafiti ditutup, kartu ujian milik saya diperiksa para serdadu, kemudian saya menjadi bulan-bulanan Sersan Kepala Suparno. Tuduhan yang ditempelkan ke jidat saya tak main-main: Menghina Kepala Negara.

Sementara kawan-kawan saya duduk ketakutan di sudut ruangan, saya diinterogasi dan dihajar habis-habisan. Saya nyaris digunduli ketika itu. Saya ditanya macam-macam, mulai dari latar belakang kehidupan, hingga siapa orang yang mengajari saya melakukan tindakan seperti itu. Berkali-kali kata subversif dilontarkan Sang Sersan. Tentu saja saya tak paham. Apa yang saya lakukan murni sebuah bentuk keisengan. Saya sudah mencoba menjelaskan sebaik yang saya bisa, tapi tentara-tentara itu tak percaya. Mereka menuduh saya terlibat dalam organisasi antipemerintah. Hingga akhirnya, di satu titik saya menyerah. Saya menyebut nama-nama fiktif. Saya mengatakan bahwa saya hanya ikut-ikutan seorang kawan. Saya katakan bahwa kami tidak satu sekolah. Saya bilang kalau dia kawan mengaji di rumah. Lalu saya ditanya siapa guru mengaji saya. Kemudian saya terpaksa menyebut satu lagi nama rekaan. Hingga ketika semua informasi dirasa lengkap, saya dipaksa menandatangani kertas bertuliskan Bukti Acara Pemeriksaan. Sore hari, kami dilepaskan. Saya dan kawan-kawan pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan takut yang mencekam. Kami merasa terancam.

Beruntung, keesokan harinya, seorang tetangga yang kebetulan adalah seorang tentara di Koramil Karangpandan berhasil mencabut berkas yang sudah saya tandatangani sebelum lembaran-lembaran itu dikirim ke Kodim Karanganyar. Jika tidak, mungkin saya sudah menjadi tahanan politik termuda (sekaligus terkonyol) di Indonesia. Kelak, di kemudian hari, ketika saya mengenal dan berbincang dengan beberapa aktivis 98, saya baru menyadari betapa dungunya tindakan saya ketika itu: bermain-main dengan foto Sang Presiden di saat gerakan rakyat dan mahasiswa sedang panas-panasnya untuk menurunkan pemerintahan.

Ingatan tentang insiden itu melintas di kepala ketika saya menonton adegan pembuka di film Istirahatlah Kata-Kata karya sutradara Yosep Anggi Noen. "Bapak kapan mulih?" seorang intel berjaket kulit bertanya ke tokoh Fitri Nganthi Wani. Gadis kecil itu hanya berdiri diam di sebelah Sipon, sang ibu.

Film ini mengisahkan tentang pelarian tokoh penyair cum aktivis Wiji Thukul di Pontianak. Thukul diburu tentara Orde Baru karena puisi-puisinya yang galak dan keterlibatannya di Partai Rakyat Demokratik (PRD). Tokoh Thukul diperankan dengan cukup apik oleh Gunawan Maryanto: ekspresi, mimik muka, suara cadel. Sepanjang film, penonton disuguhi gambar-gambar yang sarat metafora. Suasana sunyi yang ditampilkan membuat saya terkadang bergidik. Entah kenapa, saya seperti turut larut dalam ketakutan dan kecemasan yang dialami Thukul (bagaimanapun, saya pernah dihajar tentara!). Namun, apakah film ini bisa dibilang sebagai film yang luar biasa? Sayang sekali, sepertinya tidak.

“Kok Thukul di film ini malah kaya Bang Toyib, ya? Rindu rumah karena ga pulang-pulang?” komentar seorang kawan usai menonton film itu. Saya hanya bisa tertawa (sambil diam-diam mengiyakan). Memang seperti itulah yang saya rasakan. Di film ini, kita tak akan menemukan sosok Thukul yang meledak-ledak. Kita sama sekali tak akan menemukan sisa kegarangan Thukul saat memimpin aksi demonstrasi sekitar 14 ribu buruh PT Sritex. Thukul di film ini tampak sebagai seorang lelaki biasa, seorang suami sekaligus ayah yang tampak lemah dan lelah. Thukul di sini adalah Thukul yang rindu anak istri, yang ketakutan dikejar-kejar tentara. Lalu, apakah itu sesuatu yang salah? Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga, Thukul adalah seorang manusia biasa: punya cinta, punya rindu, punya rasa takut. Namun, masalahnya, apa pentingnya mengangkat itu semua ke dalam sebuah karya film (sementara sampai sekarang Wiji Thukul yang asli masih hilang tak tentu rimbanya)? Pemerintah yang berkuasa saat ini hanya bisa berjanji untuk menemukan Wiji Thukul, entah dalam keadaan hidup atau mati. Aktor-aktor kunci yang berada di belakang aksi penculikan itu juga tak pernah tersentuh oleh tangan hukum.

Melawan lupa, demikian sang sutradara menjelaskan spirit dari film ini di sebuah media. Film ini dibuat untuk mengenalkan sosok Wiji Thukul yang dihilangkan oleh negara ke generasi yang lebih muda. Baiklah, jika memang semangat yang dikobarkan memang (sekadar) itu. Tak mengherankan, judul yang dipilih adalah Istirahatlah Kata-Kata, dan bukan idiom yang lebih lekat dari sosok Thukul: Lawan! Puisi Istirahatlah Kata-Kata ditulis oleh Thukul pada 12 Agustus 1988. Bunyi lengkap puisi itu seperti ini:

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

 

 

istirahatlah kata-kata

jangan menyembur-nyembur

orang-orang bisu

 

kembalilah ke dalam rahim

segala tangis dan kebusukan

dalam sunyi yang mengiris

tempat orang-orang mengingkari

menahan ucapannya sendiri

 

tidurlah kata-kata

kita bangkit nanti

menghimpun tuntutan-tuntutan

yang miskin papa dan dihancurkan

 

nanti kita akan mengucapkan

bersama tindakan

bikin perhitungan

 

tak bisa lagi ditahan-tahan

 

Thukul menulis puisi untuk melawan. Bagi Thukul, kata-kata di puisinya adalah bahasa perlawanan. Dalam salah satu bait di sajaknya yang berjudul Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa, Thukul menjelaskan tentang puisi-puisinya:

Puisiku bukan puisi

Tapi kata-kata gelap

Yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan

Ia tak mati-mati, meski bola mataku diganti

Ia tak mati-mati, meski bercerai dengan rumah

Ditusuk-tusuk sepi,

ia tak mati-mati

telah kubayar yang dia minta

umur-tenaga-luka

 

Dari dua puisi di atas, bisa disimpulkan bahwa bagi Thukul, kata-kata adalah senjata untuk melawan penindasan. Puisi Istirahatlah Kata-Kata menjelaskan sebuah kondisi di mana kata-kata (baca: perlawanan) sebaiknya tidur sejenak, untuk kemudian kita bangkit nanti. Lalu, pertanyaannya, apakah sang kreator tak paham arti puisi ini? Atau, memang pesan yang ingin ditampilkan seperti itu: Istirahatlah, perlawanan. Kita bangkit lagi nanti ketika Presidennya bukan lagi Jokowi?

“Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong”, begitu tulis Pramoedya Ananta Toer di Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Begitulah. Pada hakikatnya, (kebanyakan) manusia memang hanya bisa bertahan karena harapan. Tak terkecuali, kita yang hidup di tengah kondisi sosial politik yang acakadut seperti di Indonesia ini. Untuk itulah, kita yang sama-sama lelah dan tak yakin akan keberhasilan sebuah perjuangan membutuhkan harapan. Kira beramai-ramai menciptakan pahlawan, melahirkan berhala-berhala yang kemudian kita letakkan di altar sesembahan. Kita butuh sebuah alasan, bahwa perjuangan masih tetap layak untuk dilanjutkan (sekecil apapun kemungkinan perjuangan itu bisa berhasil). Maka dari itu, budaya populer kita dipenuhi sosok-sosok yang menghabiskan hidupnya dalam usaha perlawanan: Che Guevara, Subcomandante Marcos, Munir, Mahatma Gandhi, dan tentu saja, Wiji Thukul. Mereka adalah berhala-berhala yang kita puja-puji di tengah keruwetan hidup. Merekalah berhala yang membuat kita terus sama-sama kuat dan percaya: bahwa perjuangan dan perlawanan harus tetap dilakukan. Seperti yang diucapkan Sipon di akhir film, "Aku tak ingin kau pergi. Aku juga tak ingin kau pulang. Aku hanya ingin kau ada." Dan, kini, Wiji Thukul telah menjelma berhala itu. Kini kita bisa dengan mudah menemuinya di kaos-kaos, di buku-buku, di sudut-sudut tembok kota, dan (juga) di bioskop-bioskop.

“Aku awalnya ga tahu Wiji Thukul, lho. Tapi setelah film ini ramai di bioskop, aku jadi penasaran,” seorang kawan yang lain berkata kepada saya. Komentar ini membuktikan bahwa, bagaimanapun juga, keberadaan film semacam ini memang penting. Masih banyak generasi muda kita yang abai dan tak tahu menahu dengan sejarah bangsanya sendiri. Banyak di antara mereka yang lebih tertarik untuk melihat video klip terbaru Young Lex ketimbang membaca buku sejarah. Paling tidak, usaha untuk melawan lupa yang disuarakan sang kreator memang tercapai. namun, apakah itu sudah cukup? Tentu saja tidak. Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa, begitu kata Chairil Anwar di sajak Karawang Bekasi. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh negara ini: salah satunya adalah menyingkap tabir gelap tentang beragam aksi pelanggaran HAM di masa lalu. Film ini hanyalah langkah awal, tapak kecil yang menjadi pembuka untuk tindakan-tindakan yang lebih konkret di masa depan. Bagaimanapun, film ini memang berhasil membuat Wiji Thukul menjadi peluru, meski hanya peluru hampa: nyaring suaranya, tapi tak pernah melukai siapa-siapa.

Last modified on: 27 Januari 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni