(0 votes)
(0 votes)
Read 3653 times | Diposting pada

Berbagi Kenangan Tentang Mei 1998

 

Amarah mengisi kepala-kepala muda. Mahasiswa meloncat ke jalan, berteriak agar Soeharto turun dari kursi kekuasaan. Lalu, empat mahasiswa di Grogol, Jakarta, ditembus timah panas dan mati. Aksi jalanan kemudian “dibajak” menjadi kerusuhan: penjarahan, pembakaran, juga perkosaan. Keterpurukan ekonomi sejak akhir 1997  ibarat rumput kering buat nyala api tragedi itu.

Pada 18 Mei 1998, mahasiswa mulai masuk Gedung DPR/MPR. Jumlah mereka ribuan. Para jurnalis, dari dalam dan luar negeri, menyebarluaskan kisruh politik ini. Soeharto akhirnya tak tahan. Tiga hari kemudian, ia mengundurkan diri. Tak pelak, mahasiswa disebut memiliki saham bagi mundurnya orang tua yang telah 32 tahun memerintah tersebut.

Mulai hari ini, Jakartabeat.net coba menampilkan rekonstruksi di hari-hari mendebarkan itu. Tulisan-tulisan tersebut memang memoar, kesaksian pelaku aktivisme mahasiswa. Dengan genre tersebut, tak bisa dihindari, menyeruak subyektifitas. Sedikit atau banyak. Cibiran yang kerap menonjok: memoar menggarisbawahi heroisme dan mengubur cacat sang tokoh.

Tapi, dalam memoar/otobiografi, menurut Etienne Naveau, kita tak usah mencari kebenaran atau ketepatan cerita tentang peristiwa sejarah. Hal pokok dari memoar/otobiografi,  kata Indonesianis yang banyak meneliti otobiografi tokoh-tokoh Indonesia itu,  adalah pandangan pribadi tokoh yang subyektif dan usahanya membangun monumen diri sendiri. Memoar bukan sejarah. Namun, penulisan sejarah mustahil menafikan memoar-memoar semacam itu sebagai bahan. Mungkin, salah satu bahan terpenting.

Jelas penting ketika kita dikonfirmasi bahwa para mahasiswa itu tak punya satu pemimpin sentral. Berbeda, misalnya, dengan Malari. Di sana, ada Hariman Siregar (Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia) sebagai aktor utama.  Bacalah pengalaman Adian Napitupulu dan aktivis Forum Kota (Forkot) lain dalam mengkampanyekan ide pendudukan Gedung DPR/MPR , Senayan, Jakarta.  Selama beberapa lama, ide itu macet.  Ternyata, ide itu membutuhkan martir. Insiden penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti memuluskan geraknya. Adian menulis, “Ops… ini baru seru! Sejarah bekerja dengan cara tidak terduga!”

Soal friksi,  Adian juga mendedahkan. Simak kisahnya tentang mahasiswa Atmajaya, ISTN, IKIP, IAIN, dan UKI yang gusar terhadap mahasiswa UI. Dalam kaitan itu, bahkan terjadi adegan kejar-kejaran dan lemparan botol air mineral di antara mereka.

Perihal heroisme, memoar Ari A. Perdana juga jauh dari kesan itu. Ia menceritakan rasa khawatirnya sebagai aktivis jalanan “amatiran” soal aparat yang represif.  Lebih mendasar, betapa mereka sesungguhnya tak siap dengan pertanyaan: apa setelah Soeharto jatuh? Ia menulis, “… ini juga bukan skenario yang saya bayangkan. Soeharto mundur, Habibie menggantikan. Tapi bukankah Habibie adalah bagian dari rezim Orde Baru?…Gerakan mahasiswa memang memaksa Soeharto mundur, tapi tidak berhasil menumbangkan rezim.”

Bukan hanya Adian dan Ari yang berkisah. Sejumlah aktivis lain juga berbagi ingatan dalam edisi khusus Mengenang Mei 1998 di Jakartabeat.net ini. Termasuk di antaranya wawancara dengan Rama Pratama, yang pernah terlibat sebagai aktivis mahasiswa UI. Juga ada Ridaya Ngkowe yang di tahun itu adalah ketua senat mahasiswa Universitas Gajah Mada. O, iya, dalam seri ini ada semacam bonus pula: tulisan Thanon Aria Dewangga. Ia bukan pelaku gerakan mahasiswa 1998, melainkan staf Sekretariat Negara saat Soeharto mundur. Dengan kisahnya, Thanon menyajikan perspektif berbeda, tentu saja.

Tak cuma itu, hadir pula puisi-puisi “perjuangan” karya Juandi Rewang, aktivis mahasiswa Universitas Padjadjaran.  Ia pernah ditahan tiga bulan di awal 1998 dengan tuduhan menghina Soeharto. Belakangan, pengadilan memutuskan tuduhan itu tak bisa dibuktikan.

Sejumlah kesaksian dan pandangan telah dituliskan. Maka, mari kita ingat lagi kata-kata Pramoedya Ananta Toer, ”Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

 

Yus Ariyanto, redaktur Liputan6.com dan kontributor Jakartabeat.net

 

Link ke tulisan Adian Napitupulu, "Mei 1998, Kisah Merebut Rumah Rakyat"

Link ke tulisan Adian Napitupulu Bagian 2

Link ke tulisan Ari Perdana, "Mei, Dua Belas Tahun Lalu"

Link ke tulisan Ari Perdana Bagian 2

Link ke Puisi-puisi Juandi Rewang dari Balik Penjara

Link ke Wawancara dengan Ridaya Ngkowe dan Rama Pratama

Link ke tulisan "Aktivis 98: Dimana Mereka Sekarang?"

Link ke tulisan "Sekelumit Cerita di Istana Orde Baru"


Last modified on: 12 Mei 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni