(6 votes)
(6 votes)
Read 4434 times | Diposting pada

Benny Soebardja dan Kadal-kadal Orde Baru

 

Dalam banyak hal, keberhasilan rilis ulang musik Benny Soebardja dalam kompilasi The Lizard Years banyak berhubungan dengan faktor ketepatan waktu atau timing. Bandingkan perbedaan antara 450 kopi piringan hitam Shark Move Ghede Cokra versi Shadoks, yang dirilis tahun 2007, yang belum habis terjual sampai sekarang, dengan The Lizard Years yang dipegang hak jualnya oleh label Kanada Strawberry Rain sudah ludes tiga minggu sebelum tanggal rilis (dan anda mesti ingat bahwa label ini mencetak 500 kopi untuk Gimme A Piece of Gut Rock, 500 kopi untuk Night Train dan 250 kopi untuk Lizard).

Di tahun 2007, merilis sebuah album reissue bagi musik Indonesia yang telah lama hilang bisa dikatakan masih terlalu awal karena basis material dan basis massa bagi rilis tersebut masih belum terbentuk secara solid. Tahun itu apa yang dinamakan oleh Simon Reynolds dengan “Retromania” belumlah mencapai gegap gempita seperti yang kemudian pecah dua tahun kemudian. Masih meminjam istilah Reynolds, belum terbentuk juga apa yang dinamakan sebagai “Hipster Intenational,” orang-orang yang secara rakus mengkonsumsi musik non-arus utama dari beragam tempat yang secara sangat selektif dipilih untuk menunjukkan eksklusifitas sang appropriator. Di Indonesia, dan di Jakarta khususnya di tahun tahun 2007, mendengarkan musik Indonesia lama memang sudah hip dan menjadi kelangenan beberapa anak muda berfikiran maju, namun komunitas itu masih sangat terbatas di antara crème de la crème pecinta musik di Jakarta, pemain band musik retro, produser muda, pekerja seni dan beberapa anggota eksponen sebuah kelompok yang suka mengunjungi sebuah toko musik berpengaruh di Selatan Jakarta.

Mesin retro berputar sangat cepat mulai tahun 2009 ketika penjualan musik dalam bentuk piringan hitam mencapai angka paling tinggi semenjak format tersebut ditinggalkan di pertengahan dekade 1980-an. Hanya butuh waktu setahun sebelum mesin retro mencengkeram ranah musik Indonesia dengan dirilisnya kompilasi Those Shocking Shaking Days yang sangat laku keras itu. Banjir bandang tidak bisa terbendung lagi sejak saat itu, baik di Indonesia maupun di scene musik internasional.

***

Dalam buku Hipster Myth, Jake Kinzey menulis bahwa “hipsters tread that uneasy line between seeking to resist the logic of capital by recourse to some vague notion of ‘authenticity’ – a return to a genuine sense of subversion in the past, perhaps – and an ironic distance that mocks the very notion that resistance should ever have been desirable or possible.”

Pada kasus Those Shocking, Shaking Days, yang dikampanyekan sebagai musik anti-otoriterianisme (seorang pengulas di majalah Blurt menulis kompilasi ini dengan menggunakan kalimat berikut ini: “dictatorial-toppling shit, seriously!”), kita bisa merasakan semangat Egon dan kawan-kawan untuk kembali kepada sebuah sensasi asli dari subversi yang pernah terjadi di masa lalu, di sebuah negara dunia ketiga bahkan. Kita mungkin tidak segera tahu apakah label Now-Again berusaha melawan logika kapital dengan perannya sebagai sebuah label independen, hip dan non-arus utama ketika merilis Those Shocking, Shaking Days, namun satu hal yang pasti adalah semua orang mendengar album ini dari mulai Henry Rollins, Ellijah Woods dan juga anda, pasti sudah tidak percaya lagi bahwa perlawanan itu masih dimungkinkan. Kita kemudian mengambil jarak dengan perlawanan yang sesungguhnya, bukan?

Dengan penjelasan itu, pendek kata saya sedang ingin mengatakan bahwa pasar sudah diciptakan untuk menerima rilis Strawberry Rain kedua setelah kompilasi musik AKA, Hard Beat, Benny Soebardja: The Lizard Years, yang saya yakin hanya sedikit yang sampai ke tangan anda, mengingat betapa larisnya album ini di pasar internasional. Dan Those Shocking Shaking Days adalah peletak dasar yang kokoh bagi gerakan retromania terhadap musik Indonesia dari masa awal Orde Baru.

***

Masa awal Orde Baru juga adalah saat yang krusial untuk memahami musik Benny Soebardja yang kemudian termuat di The Lizard Years —serta musik radikal lain sejenis yang termuat di kompilasi Those Shocking Shaking Days. Mengapa di masa awal Orde Baru ini bisa muncul musik yang begitu kuat secara artistik maupun secara lirik, dan mengapa musik “dictatorial-toppling shit” ini tidak terlalu banyak lahir di dekade 1980-an misalnya.

Jawaban sementara mungkin bisa ditemukan bahwa di masa awal dekade 1970-an Orde Baru sedang melakukan konsolidasi rezim dan masih melakukan beberapa uji coba sarana represi dan ko-optasi yang kemudian akan menjadi makin sempurna di awal dekade 1980-an. Butuh waktu hampir satu dekade sebelum NKK/BKK berhasil diterapkan, Partai Persatuan Pembangunan masih diizinkan menjadi oposisi, partai politik masih berjumlah 10 sebelum menjalani proses fusi, Rhoma Irama masih bisa bernyanyi untuk PPP dan lain sebagainya. Dalam seni musik dan pertunjukan, aparat Orde Baru masih mencoba-coba metode antara ko-optasi dan represi dengan menciptakan kelompok-kelompok musik pesanan sponsor yang menyanyikan lagu cinta tanah air dan lagu “Anti Gandja” sambil kembali menginzinkan Koes Plus masuk ke tangga lagu nusantara.

Dan dalam suasana setengah keterbukaan inilah Benny Soebardja beroperasi secara independen dengan sedikit atau tanpa kompromi. Benny mencoba membuktikan bahwa jam malam dari rezim Soeharto masih bisa diakali dengan menulis lirik Bahasa Inggris yang sangat bagus—hasil kerjasama dengan Bob Dook—mulai dari “Evil War” dari Ghede Chokra sampai lagu “In 1965” yang berkisah tentang pembunuhan anti-komunis. Bagi kelompok yang sedikit konformis seperti The Rollies atau AKA, pilihannya adalah menulis lagu chauvinis seperti “Alam Tanah Air” atau “Pahlawan Revolusi” namun di sisi lain mereka bisa menulis lirik yang penuh double-entendre seperti “Bukan Mesiu” yang menyerukan kepada rezim untuk membiarkan seniman bebas berkreasi. Ini berbeda dengan dekade 1980-an ketika yang dipakai hanyalah represi dan penghukuman. Pelarangan terhadap lagu-lagu cengeng misalnya dijalankan bersamaan dengan penembakan misterius (petrus) terhadap gali dan penganggu stabilitas keamanan yang lain.

Benny Soebardja berhasil secara artistis bukan hanya karena dia berusaha tidak berkompromi terhadap rezim Orde Baru—yang membuatnya berani secara lirikal—namun dia juga menolak berkompromi dengan pasar dan label mainstream yang diwakili oleh Remaco, Musica serta Mesra dengan mendirikan label sendiri yang kemudian dikenal sebagai “private press”. Dan untuk perlawanan yang kedua tersebut, Benny bisa berhasil secara fantastis.

Musik dari tiga album Lizard, Night Train dan Gimme A Peace of Gut Rock, yang hanya dirilis dalam bentuk kaset (yang kini masih menjadi benda langka bahkan di Indonesia, bersaing dengan kaset Ariesta Bhirawa), bisa dikatakan musik yang paling asli dan inovatif di bandingkan dengan karya nama-nama besar yang berkuasa di scene musik 1970-an. Tanpa tekanan dari label besar, Benny misalnya bisa menulis komposisi menabrak batas “A Signal From Outer Space” yang menampilkan Benny seperti kesurupan Syd Barret dari era Piper At The Gates of Dawn. Hampir sepanjang sepuluh menit, Benny dengan dibantu Lizard menciptakan noise space rock yang mungkin hanya muncul kembali di era Discus tahun 2000-an.

Versi melodis Benny Soebardja dirangkum di LP ketiga “Night Train” yang penuh melodi-melodi abadi akustik folk yang berjalin kelindan dengan sound gitar Benny yang meraung tipis di semua komposisi. Track “Young Widow” yang sesungguhnya dengan lirik sederhana tentang janda muda yang tinggal di rumah tua sendiri ditemani anjing hitam sambil menunggu suaminya yang tidak kunjung datang—mungkin mati selama Gestapu PKI—merupakan komposisi yang gelap, dan murung, yang justru tidak akan memiliki efek berhantu jika ditulis dalam Bahasa Indonesia. Dan ada 28 komposisi lain semacam ini di kompilasi The Lizard Years. Truly dictatorial, and mainstream-toppling shit!

Last modified on: 30 Maret 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni