(1 Vote)
(1 Vote)
Read 5412 times | Diposting pada

Bebaskan Punk Aceh

 

Penangkapan terhadap anak-anak punk di Aceh merupakan peristiwa paling mutakhir sekaligus yang paling banyak diberitakan, dari sejarah yang panjang akan diskriminasi terhadap pemain dan fans musik punk di Indonesia. Anak-anak muda yang dihakimi sebagai penjahat dan kriminal hanya karena tatanan rambut, pakaian, serta pilihan musik mereka, dan bukan karena bukti-bukti yang sahih akan kejahatan yang telah mereka lakukan. Ini adalah sebuah bentuk ketidakadilan serta penghinaan terhadap prinsip dasar negara Indonesia yang hendak menghargai perbedaan budaya dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya.

Sebagai seorang etnomusikolog, saya memiliki tugas untuk mempelajari musik sebagai sebuah bentuk ekspresi dari kemanusiaan kita. Dan sebagai seorang pendukung Freemuse, sebuah organisasi internasional yang memperjuangkan kebebasan berekspresi bagi musisi dan pencipta lagu, saya percaya sepenuhnya kepada hak dari semua orang untuk memilih apa yang hendak mereka nyanyi, dengar dan ciptakan. Interpretasi Syariah di Aceh yang bisa kita lihat dari penangkapan para remaja punk mengharuskan adanya sensor terhadap musik. Lebih mengkhawatirkan lagi, interpretasi itu telah menghasilkan luka psikologis kepada anak-anak muda yang secara semena-mena telah ditahan dan dijauhkan dari sekolah, teman dan orang tua mereka.


Ini adalah himbauan saya kepada negara dan warga negara Indonesia: Berikanlah kepada anak-anak muda tersebut kebebasan akan tubuh mereka sendiri serta kebebasan berekspresi secara penuh. Jangan biarkan Indonesia mengikuti jalan yang sudah diambil oleh Sudan, China atau Afghanistan. Mari kita biarkan anak-anak muda Indonesia untuk menyanyikan lagu mereka sendiri. Hargai musik sebagai hak asasi manusia.

Last modified on: 30 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni