(1 Vote)
(1 Vote)
Read 5573 times | Diposting pada

Beban Berat Warkop DKI Reborn

Beban Berat Warkop DKI Reborn Repro: Instagram/ Ist.

 

Para penggemar grup lawak legendaris Warkop DKI, tentu punya kesan dan kenangan tersendiri dengan film-film mereka. Bukan sekadar meninggalkan memori penonton setianya pada perempuan-perempuan seksi bercelana gemes, rok mini, bahkan bikini, tapi tingkah polah tiga karakter legendaris yang membuat tawa.

Sudah beberapa bulan belakangan ini, tersiar kabar akan ada film Warkop DKI Reborn; Jangkrik, Bos! Secara harfiah, reborn artinya kelahiran kembali. Benarkah film itu kelahiran kembali Warkop DKI, yang dua personelnya —Dono dan Kasino— sudah wafat beberapa tahun silam?

Baiklah. Ada baiknya bila kita kembali memutar memori ihwal sejarah Warkop DKI sejenak.

Film Warkop DKI tayang kali pertama di biskop pada 1979. Jumlah film yang mereka mainkan hingga 1994 mencapai 34 film. Judul-judul filmnya simpel, kocak, dan mudah diingat. Misalnya, Mana Tahaaan… (1979), Gengsi Dong (1980), GeEr – Gede Rasa (1980), dan Pintar-Pintar Bodoh (1980).

Jualan cewek-cewek seksi bintang film panas pun menjadi bumbu film Warkop DKI. Di periode awal membuat film, mereka menggandeng Elvy Sukaesih dan Camelia Malik. Lalu, setelah itu mereka mengajak Eva Arnaz dan Debby Cynthia Dewi. Makin ke sini, bintang-bintangnya makin seksi dan nyesss. Di awal 1990-an, Warkop DKI mengajak Meriam Bellina, Selly Marcellina, Kiki Fatmala, Malvin Shaina, dan Sherly Malinton.

Biasanya, dahulu suka terlontar sebuah sindiran lucu jika menonton film Warkop DKI, “Anaknya nonton kelakuan lucu Dono, Kasino, dan Indro, sedangkan Bapaknya nonton cewek-cewek seksi.”

Sindiran kocak tadi sah-sah saja. Toh, tak bisa dipungkiri film-filmnya banyak mencatatkan sukses. Sejarah mencatat, penontonnya bisa mencapai lebih dari setengah juta. Misalnya saja, film Maju Kena Mundur Kena (1983) mencatat 699 ribu penonton,  Gantian Dong (1985) yang mencapai 552 ribu penonton, dan Tahu Diri Dong (1984) yang mencapai 548 ribu penonton.

Awalnya, saya mengira film Warkop DKI Reborn adalah bagian dari transformasi nama saja. Bayangan saya, di film nanti yang mewakili Warkop DKI tetap hanya satu, yakni Indro. Seperti pergantian nama Warkop DKI tempo dulu.

Oke, mari kembali ke masa lalu.

Dahulu, ketika personelnya masih lima orang, yakni Nanu Mulyono, Rudy Badil, Wahjoe Sardono (Dono), Kasino Hadiwibowo (Kasino), dan Indrodjojo Kusumonegoro (Indro), mereka kerap tampil di radio Prambors setiap Jumat malam dalam program “Obrolan Santai di Warung Kopi”. Nama mereka Warkop Prambors. Setelah itu, mereka melawak dari panggung ke panggung. Rudy Badil mengundurkan diri karena demam panggung.

Setelah Nanu mengundurkan diri —dan akhirnya meninggal dunia— nama mereka menjadi Warkop DKI, pelesetan dari Daerah Khusus Ibukota. DKI sendiri singkatan dari nama personel mereka: Dono, Kasino, Indro. Nama Prambors tak dipakai lagi. Alasannya, kalau mereka masih menggunakan nama itu, mereka harus membayar royalti ke perusahaan radio tersebut.

Lantas, nama Warkop DKI berubah lagi menjadi Warkop Milenium saat Kasino wafat pada 1997. Meski tinggal dua personel, mereka masih eksis beberapa tahun di layar kaca Indosiar. Indro merupakan personel terakhir yang tersisa, setelah Dono wafat pada 2001. Namun, meski beberapa kali mengubah nama, publik tetap menyematkan nama Warkop DKI hingga kini.

Kembali ke Warkop DKI Reborn.

Kini, film tersebut masih dalam proses penggarapan. Konon, salah satu lokasi pengambilan gambar ada di Pantai Cenang, Malaysia. Rencananya, film ini muncul di bioskop September 2016 nanti. Film ini, menurut rumor sana sini, merupakan remake yang ceritanya dirangkum dari film-film Warkop DKI dahulu.

Dari dunia maya, saya menemukan foto tiga orang berseragam polisi sedang naik motor yang membelakangi kamera. Di foto itu, ada Indro Warkop, dan beberapa stand up comedian.

Tiga orang yang diduga pengganti personel Warkop DKI tersebut adalah yang mengenakan seragam polisi sedang naik motor. Dilihat dari judul filmnya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos! Maka saya menduga salah satu film yang di-remake adalah film Chips (1982).

Lantas, siapa pemerannya? Pada Mei 2016, pembawa acara di stasiun televisi swasta, Alvin Adam, mengunggah sebuah foto yang menampilkan tiga tokoh yang diduga akan menjadi Dono, Kasino, dan Indro. Di foto itu ada Tora Sudiro, Vino G. Bastian, Abimana Aryastya, dan seorang perempuan berhijab merah muda —entah siapa— yang berdiri di tengah mereka.

Banyak netizen lalu menghubungkan mereka dengan tampilan permak Dono, Kasino, dan Indro. Dengan style-nya yang berkumis, Tora diinisiasikan menjadi Indro, Vino menjadi Kasino, dan Abimana menjadi Dono. Padahal, pemeran utamanya sebelumnya sangat dirahasiakan. Setiap muncul foto aktivitas penggarapan film ini di dunia maya, tiga orang yang akan menjadi pengganti Dono, Kasino, dan Indro wajahnya selalu ditutupi imoji smile.

Aneh? Iya memang. Personel Warkop DKI yang sejak penggemarnya kenal tampilan kocak menjadi lebih macho dan ganteng. Imajinasi jutaan penggemar Warkop DKI, termasuk saya, langsung runtuh melihat foto-foto Warkop DKI yang dipermak itu.

Saya lantas terseret pada film Gie. Sebelumnya, saya pikir sang sutradara akan membawa pemeran yang mirip-mirip Soe Hok Gie yang asli. Namun, jauh panggang dari api, tak tahunya Nicholas Saputra yang ganteng dan cool menjadi tokoh Gie.

Ini tak berbeda jauh dengan kita membaca sebuah novel, lantas novel itu diangkat ke layar lebar. Imajinasi kita pun akan rontok, ketika tokoh-tokohnya berbeda dengan imajinasi kita saat membaca novel.

Tapi tunggu dulu. Bisa jadi penyebaran foto itu adalah bagian dari strategi marketing untuk “jualan” film itu. Beberapa waktu lalu Indro, yang juga terlibat dalam film tersebut, membantah jika Tora, Vino, dan Abimana adalah reinkarnasi Dono, Kasino, dan Indro. Nah, di sini saya jadi berpikir. Bisa jadi pula Indro sedang ngeles, karena publik sudah mengetahui pemeran utama Warkop DKI, yang sebelumnya sangat dirahasiakan itu. Atau, bisa jadi juga Indro betul. Pemeran Warkop DKI bukan mereka.

Warkop DKI Reborn

Menyoal tokoh utama, sebenarnya, menurut saya sebagai kritikus film Indonesia yang amatiran ini, sayang juga jika diperankan oleh bintang-bintang yang bukan berasal dari dunia komedi. Setelah film itu habis dalam durasi sekitar 2 jam, apakah mereka lantas bubar?

Kembali ke film Warkop DKI Reborn. Film ini digarap sutradara Anggy Umbara. Sutradara yang sebelumnya menggarap Comic 8: Casino King dan Comic 8: Casino King Part 2.

Seorang jurnalis, Hans Davidian, dalam review film Comic 8 dalam blognya, menyebut film tersebut sebuah kegagalan paripurna. Nah, apakah film Warkop DKI Reborn itu nantinya akan mernasib sama? Apakah akan menimbulkan kekecewaan penonton yang sudah membayar dan membuang waktu ke bioskop? Tentu saja jawaban itu akan ditemukan usai menyaksikannya langsung.

Menyitir soal ide cerita. Menurut saya, akan lebih baik film ini digeser ke arah film biografi saja. Ya, biografi soal personel Warkop DKI, dalam keseharian mereka sebagai aktivis, mahasiswa, pelawak, hingga mencapai kesuksesan. Bukankah itu akan lebih menarik?

Akhir kata, membawa nama grup lawak beken dan legendaris menurut saya sangat berat. Kita dibebani sebuah tanggung jawab: kesuksesan film itu. Nahas saja jika film yang membawa nama grup lawak legendaris itu hanya sekadar numpang lewat di bioskop 21.

Gile lu, Ndro!

 

*) Pertama kali dipublikasikan di blog pribadi penulis, Fandyhutari.com. Dipublikasikan kembali atas seizin penulis. 

Last modified on: 25 Mei 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni