(2 votes)
(2 votes)
Read 1332 times | Diposting pada

Bars Of Death dan Rapalan ‘Radio Raheem’ Hingga Gramsci

 

Tahun baru masehi 2018 telah resmi datang. Hingar bingar kembang api, pesta dan seremonial duniawi pada malam pergantian tahun menjadi kenangan untuk beberapa orang. Kemudian situasi tersebut mungkin juga akan mendapatkan porsi yang sama saat perhelatan tahun-tahun berikutnya, lengkap dengan daftar resolusi, harapan dan rencan-rencana terbaik di masa depan. Begitu seterusnya.

Awal Desember 2017 sebuah CD kompilasi hip hop “Pretext for Bumrush”, Grimloc Records x Defbloc telah resmi dirilis. Laman Grimloc Records menulis bahwa album ini, “kompilasi Hip Hop lokal berisikan 29 lagu dari beatmaker dan MC yang selama ini sedemikian rupa berinteraksi dalam jejaring komunitas. Disertai dengan booklet 100 halaman berisi pengantar, kredit dan lembaran lirik”….

Sebagai pengagum barisan rima dalam lagu-lagu hip hop, saya menyadari bahwa kompilasi ini sangat patut dimiliki. Terlebih dengan banyaknya jumlah lagu yang masuk dalam daftar album ini dan Bars Of Death ada di dalamnya. Namun, karena jarak yang sangat terbentang jauh dari kota saya berdomisili saat ini—Istanbul, album ini rasanya hanya bisa saya rayakan dan nikmati dengan mendengarkan beberapa lagu saja yang telah diupload oleh beberapa orang di laman soundcloudnya. Itu pun hanya sedikit yang saya ketahui. Salah satu laman soundcloud yang rajin saya kunjungi adalah ini.

Libur musim panas tahun kemarin, seorang kawan akrab di Bekasi memberikan dengan cuma-cuma sebuah CD ‘Homicide-Complete Discography’ kepada saya. Rasanya, pemberian tersebut menjadi sangat berkesan karena sebagai pendengar dan penikmat karya Homicide, yang masuk dalam kategori (mungkin) telat—saya intensif mendegarkan lagu-lagunya di medio 2006. Setelah perjumpaan itu, saya membaca dengan intensif diskografi mereka. Dan bagian yang paling mendapatkan porsi utama adalah laman lirik.

Satu CD diskografi milik Homicide adalah satu-satunya yang saya miliki hingga hari ini. Sedangkan rilisan lainnya seperti album dalam bentuk kaset, CD ataupun vinyl, hanya bisa saya lihat gambarnya di internet.

Pasca bubarnya Homicide, tentu banyak pendengar yang merasa kecewa. Terlebih bagi mereka yang telah mengikuti rekam jejak unit hip hop asal kota Bandung ini, lengkap dengan gerakan kolektif dan penyadaran sosialnya. Namun, rasa kecewa itu terobati ketika Bars Of Death hadir sekitar tiga tahun yang lalu dengan melepas debut single yang berjudul All Cops Are Gods dalam kompilasi ‘Memobilisasi Kemuakan’. Setidaknya ini adalah kabar baik, bahwa MC MV dan Sarkasz kembali hadir lewat genggaman mikrofon dan pelafalan rima-rima berbisanya.

 

Rima yang Onerius

 

Homicide merupakan unit Hip Hop yang berdiri di Bandung dengan nama awal Verbal Homicide. Grup ini terdiri dari Morgue Vanguar (rapper, komposer), Sarkasz (rapper), DJ-E (deejay), dan Andre (gitar) pada 1994 dan bubar pada 2007.

 

Mengutip liner notes yang ditulis oleh Aminudin TH Siregar, ‘Homicide: Musik untuk Perubahan Sosial, ia menjelaskan, “Homicide dikenal dengan kelugasan liriknya (tapi saya ingin menyebutnya sebagai aforisma-aforisma padat) yang selalu berhasil terhindar dari hal remeh-temeh sekaligus prihatin atas problem keseharian manusia dan lingkungannya. Liriknya tidak saja mengingatkan bahwa kita punya masalah besar, tetapi juga terang-terangan membongkar kedok-kedok ideologis yang manipulatif, represif dan di sana-sini kental dengan nuansa apologetis (antitesis terhadap industrialisasi). Dalam beberapa hal mereka membangun sistem pengkodean yang rumit dan enigmatik” (Homicide-Complete Discography, hlm. 80).

Rentang waktu satu dekade sejak bubarnya Homicide telah menjadi babak baru. Sederet arsip peristiwa baik dari dalam maupun luar negeri merupakan referensi dan bahan bakar untuk mengeksekusinya dalam bentuk rima. Jika tiga tahun lalu Bars Of Death resmi melepas debut singlenya, maka Januari dua ribu delapan belas juga menjadi hari yang istimewa. Berkunjung ke pranala soundlcloud Morgue Vanguard dan laman personal blognya menjadi hal yang hampir secara rutin saya lakukan setiap bulan. Hanya sekedar memutar ulang beberapa tracks favorit di sana sembari membaca catatan-catatan lamannya. Dan tepat pada 4 Januari kemarin, pada baris paling atas terlihat gambar seorang pria berpostur cukup besar sedang menenteng kotak dengan latar beberapa warna dan tertulis ‘Bars Of Death’-Radio Raheem. Tanpa berpikir panjang, saya memasang headset dan berapatis dengan suasana musim dingin yang cerah tanpa salju di awal tahun ini.

Mungkin ada beberapa orang yang berusaha menebak seperti apa bebunyian ataupun dentuman yang akan hadir di lagu-lagu dalam album perdana Bars Of Death nanti. Dua single sebelum ‘Radio Raheem’ dilepas yaitu ‘All Cops Are Death’, dan ‘Tak Ada Garuda Di Dadaku’ pastinya bisa menjadi rujukan sementara para komentator dan pegiat musik Hip Hop. Sedangkan saya, hanya bisa tertegun sembari mengangguk secara repetitif dan mengenyutkan dahi ketika membaca lirik-liriknya, terutama dalam lagu ‘Radio Raheem’.

Morgue Vanguard pada 5 Januari kemarin menulis di akun twitternya tentang lagu tersebut. “Di awal 90an, [at]Iwa_Kusuma sering membawakan acara radio yang memutar lagu2 rap yg kasetnya tak beredar di lokal. Radio adalah salah satu cara anak muda kimsin spt saya mendapatkan info rekaman2 di era tanpa internet itu. Lagu ini saya dedikasikan buat beliau dan radio shownya”.

Sebuah apresiasi yang luar biasa dari  Bars Of Death kepada Iwa Kusuma!

Seringkas dengan hal tersebut, saya sepakat dengan yang disampaikan oleh Samack dalam pembukaan catatannya yang berjudul, ‘Menziarahi Barisan Nisan Pasca Satu Dekade Yang Agresif’, “sejatinya saya bukanlah penikmat hiphop, bahkan untuk level paruh waktu sekalipun. Saya hanya tahu Iwa K, itu pun karena dulu sering diputar di stasiun radion dan televisi”…(Homicide, Complete Discography, hlm. 61).

Jika mencermati barisan liriknya, di sana terdapat diksi dan nama-nama yang mungkin saja terasa sangat asing di telinga. Sarkasz dan Morgue Vanguad menulisnya dengan tumpukan referensi yang myriad dan onerous pada level untuk memahaminya. Perlu waktu khusus untuk menelusuri setiap bait-baitnya.

Bagi saya, single terbaru Bars Of Death ini adalah hadiah awal tahun yang sangat membahagiakan sekaligus menjaga waras tetap terjaga di tengah pekik dunia dan peristiwa sosial dan politik yang membutuhkan atensi lebih untuk mendefinisikannya.

Sarkasz dan Morgue Vanguard merapal dengan sangat keren dan dalam beberapa bagiannya bisa mengajak berdendang, sebut saja pada bagian chorus:

 

 

Its like that ya’ll, that ya’ll

Its like that ya’ll, that ya’ll

As matter of fact it’s like that yall

Ay yo DJ-E cmon spin that shit

MV Sarkasz on the ultimate

 

Its like that ya’ll, that ya’ll

Its like that ya’ll, that ya’ll

As matter of fact it’s like that yall

Evil Cuts on the deck is cold getting ill

We be cold getting dumb like just Ice thrill

 

Bait lirik di bawah ini adalah bagian favorit saya, lengkap dengan bebunyian yang asyik:

 

Menulis rima carok dengan golok pada tembolok

Dengan militansi yang berdansa di makam Moloch

Resureksi barok bentang bacot kontra despot

Di hadapan skena yang penuh MC serupa escort

Gramscian Ragnarok, Proudhonian Ken Arok

Montana yang mabok dari barang yang dia pasok

Sel Antifa dengan Ad-Rock sebagai Shamrock

Scott Heron Uprock dengan bandana Black Bloc

 

 

Gramscian Ragnarok, Proudhonian Ken Arok

 

Jika Gramsci memunculkan terma ‘Intelelktual Organik’, maka bagi saya hal tersebut patut disematkan kepada Morgue Vanguard dan Sarkasz. Saudara saya yang mengagumi dan mendalami kajian ekonomi politik internasional pernah mengulas tentang Gramsci dalam sebuah diskusi dan menuliskan sedikit catatan ringkasnya. Gramsci meyakini bahwa untuk meruntuhkan tatanan hegemonik kapitalisme salah satunya diperlukan sebuah wadah atau media perjuangan. Media ini berfungsi untuk mendorong kampanye radikal dan membangun counter-hegemoni sebagai antitesa dari doktrin-doktrin busuk kapitalisme. Selain itu ia menggagas lahirnya kelompok intelektual militant. Intelektual ini ia sebut dengan intelektual organik, yaitu intelektual yang muncul dan berkembang dari dinamika kelas pekerja yang kemudian memperjuangkan revolusi demi masa depan kelas pekerja. Pada konteks ini, kita bisa menafsirkan bahwa seorang intelektual tidak boleh hanya asyk-masygul dengan berbagai teori dan wacana namun tidak mampu memindahkannya ke realitas sosial. Tugas intelektual organik adalah menyebarluaskan pengetahuan lewat terbitan-terbitan dan pendidikan revolusioner berbasis massa rakyat. Dengan demikian filsafat dan para intelektual tidak lantas hanya menjadi menara gading ditengah taman ketidaktahuan. Konsep ilmu harus berwatak praksis dan emansipatoris. Menurut Gramsci, percuma saja mengakumulasi pengetahuan tanpa keberanian dan komitmen untuk ikut merubah realitas sosial yang semakin memisahkan manusia dari esensinya yaitu kemerdekaan dan kesetaraan sosial.

Saya selalu teringat dengan tulisan di poster Homicide, Illsurrekshun, yang pernah saya miliki, ‘Organize Your Community, Empower Your Surrounding’.  Dan Gramsci sang intelektual dari Sardinia berpose persis di samping Boombox bersama Marx dan Nietzsche yang berdiri di bawah langit hitam.

Mungkin saja potongan backsound lagu ‘Fight The Power’ milik Public Enemy di pengujung lagu ‘Radio Raheem’ adalah pesan yang ingin disampaikan.

Kabarkan!

 

 

Selamat datang tahun baru 2018.

 

 

Link: https://soundcloud.com/morguevanguard/bars-of-death-radio-raheem

 

 

Single kontribusi Bars of Death untuk CD kompilasi hip hop "Pretext for Bumrush". Grimloc Records x Defbloc, 2017.

 

Lyrics written by: Sarkasz and Morgue Vanguard

 

Music written by: Morgue Vanguard, engineered by: Jay Beatbustler

 

Scratchworks: DJ Evil Cutz

 

Recorded at: Cutz Chamber, Bandung, 2017.

 

=====================

 

Lirik:

 

RADIO RAHEEM

 

(Sarkasz)

 

Massa tak pernah siap serupa 2002 dan Godzkilla

 

Serupa regisida kolosal oleh Attilla

 

Ennio Moriccone-esqued J-Dilla

 

Kombinasi pada rahang Frazier di Thrilla in Manila

 

Post-Fila hiphop setara milisia misi IRA

 

Dengan visi memindahkan Sorbonne ke Sisilia

 

Crimethinc ke Syria dengan keberandalan Galia

 

Yang me-Mumia Abdul jagal babi kan dunia

 

Rima faksi rhythm kontra fasis sindrom

 

Mars di moshpit seperti Godless Symptoms

 

Menolak Saigon menjadi martir sistem

 

3 ronde bagi Reaganomics dan Sonny Liston

 

Ali Bomaye MC Norton dan Golota

 

Serupa karir Chanco era Pablo di Bogota

 

Serupa George Foreman pasca Kinsasha

 

BOD ekuivalen Four Horsemen di lini masa

 

Chorus:

 

Its like that ya’ll, that ya’ll

 

Its like that ya’ll, that ya’ll

 

As matter of fact it’s like that yall

 

Ay yo DJ-E cmon spin that shit

 

MV Sarkasz on the ultimate

 

Its like that ya’ll, that ya’ll

 

Its like that ya’ll, that ya’ll

 

As matter of fact it’s like that yall

 

Evil Cutz on the deck is cold getting ill

 

We be cold getting dumb like Just Ice thrill

 

(Morgue Vanguard)

 

Smith dan Carlos enam delapan di depan lagu kebangsaan

 

Pasifis Oaxaca dengan parang San Cristobalan

 

Biafra berkombo Rimbaud di tangsi limbo

 

Steve Ignorant di atas breaks Buckwild dan Preemo

 

Menulis rima carok dengan golok pada tembolok

 

Dengan militansi yang berdansa di makam Moloch

 

Resureksi barok bentang bacot kontra despot

 

Di hadapan skena yang penuh MC serupa escort

 

Gramscian Ragnarok, Proudhonian Ken Arok

 

Montana yang mabok dari barang yang dia pasok

 

Sel Antifa dengan Ad-Rock sebagai Shamrock

 

Scott Heron Uprock dengan bandana Black Bloc

 

Rima martil klandestin serupa Falintil

 

Surapati di Bangil dan di lapangan Koramil

 

serupa totalitas Ali menolak wamil

 

antitesa mega-kolosal kamonesan Ridwan Tampil

 

(Morgue Vanguard)

 

Filosofi cincin Raheem di sebotol Jose Cuervo

 

Bars of Muerto, baris Franco Nero

 

Yang memutar “Fight the Power” pada Super Jumbo

 

Karena pahlawan kami tak pernah hadir di perangko

 

Soul, Rock n Roll coming like a rhino

 

tayangan slo-mo para algojo menari pogo

 

sembari mengutip Cool J berulang dalam kredo

 

“I can’t live without my radio”

 

(Sarkasz)

 

Zaman beralih namun jangan berhenti menagih

 

Penangkal kebosanan dari ritme yang bertasbih

 

Pada getaran mendengar BDP di delapan tujuh

 

Yang kami coba gelar berkali di setiap subuh

 

Serupa membahas batasan begal dan jenderal

 

Dengan nyali Lakim Shabazz bermental South Central

 

Berpinak kintal, Uzi kami weighs a ton

 

Ini gaung Radio Raheem yang menggerakkan zaman

 

 

 

Released by: Grimloc Records

 

 

 

 

Last modified on: 18 Januari 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni