(6 votes)
(6 votes)
Read 4605 times | Diposting pada

Agama, Kita Ditelikung Media

 

Dulu saya pernah terpingkal tatkala menyaksikan salah satu episode The Simpsons di salah satu jaringan televisi berbayar yang isinya mengisahkan upaya menyelamatkan gereja di Springfield agar kembali dikunjungi jemaatnya. Tak hanya gereja itu sepi peminat, gedungnya pun mulai reyot butuh biaya renovasi. Dan orang yang kira-kira bisa dituju untuk membantu tak lain adalah konglomerat Mr. Burns. 

Mr. Burns pun turun tangan dengan segenap kekuatannya. Selain menggelontorkan dana pribadi, ia menayangkan semacam siaran langsung ibadat hari Minggu di televisi dengan maksud untuk menjangkau umat yang tak sempat atau sulit pergi ke gereja. Tapi ketika acara berlangsung dan tampak wajah pendeta berkhotbah di layar gelas, di bawahnya muncul running text gencar mempromosikan berbagai produk, mulai dari celana dalam sampai sabun. 

Suasana halaman gereja pun disulap bak pasar malam ramai dengan stand penjual aneka barang sampai acara hiburan lawak sampai sulap. Rupanya insting bisnis Mr. Burns yang juga pemilik reaktor nuklir di Springfield tetap berjalan dan dicoba disinergikan. Lucunya, hanya Lisa, adik Bart Simpson yang gelisah dan mencoba mengkritisi seperti ada sesuatu yang “salah” dengan cara-cara promosi berikut media televisi untuk “menyelamatkan” atau “membumikan” gereja Springfield agar kembali memikat publik, sedangkan yang lain larut dan terus terpesona…

***

Setelah menyaksikan pelbagai acara bernuansa Ramadhan yang marak belakangan, saya jadi tak tertawa lagi mengingat pesona “Kyai Selebriti”, walau jadi teringat cerita fiktif episode lawas The Simpsons tersebut yang agak mirip-mirip. Pihak televisi begitu ramai membuat program religi, baik sebelum “masa panen”nya yaitu bulan puasa. Salah satu yang membuat saya terpukau, adalah alasannya yang mirip dengan cara Mr. Burns, yaitu seperti mencoba “menerjemahkan” ajaran agama agar lebih membumi, bahkan kalau bisa trendy

Makanya selain “khatam” ajaran agama dan kitab suci plus keterampilan “public speaking” yang mumpuni, televisi memilih Ustadz yang “good looking” dan humoris bahkan bisa diikutkan pula di acara lawak. Meski tak sampai menggusur program religi lain yang mungkin sekarang terasa “berat” (kuno barangkali?) macam Kultum-nya Qurai Shihab, tentunya program-program religi yang dimaksud supaya “lebih membumi” itu terbukti lebih sukses mengejar rating.

Nampaknya pesona “Manajemen Qolbu” yang dulu dipelopori A.A. Gymnastiar sudah jauh berkembang pesat. Iklan helm, minuman penyegar, sirup, kartu perdana, dan lain-lain pun juga dirambah para ustadz. Wow, tali-temali media memang luar biasa ketika memang di bulan Ramadhan pola konsumerisme meningkat tinggi. Juga, jangan lupa fenomena betapa menariknya menggiring anak kecil yang masih dalam alam pikiran “meniru” juga digiring ikut-ikutan menjadi da’i. Buat saya ini hebat, lebih memukau daripada usaha tokoh fiktif Mr. Burns karya Matt Groening mempopulerkan ajaran agama di televisi!

Di negara lain bahkan yang sebenarnya bukan pemeluk agama Kristen saja misalnya seperti di Jepang dan Rusia, hari raya Natal juga dirayakan dengan gegap gempita lewat tali-temali pola konsumerisme yang menjadi santapan empuk kapitalisme. Ya, dimana-mana pun hampir mirip ketika wajah agama mayoritas begitu nikmat bahkan bisa dengan nikmat ditelikung media, baik televisi sampai jejaring sosial, hingga media begitu lihai mencipta jarak antara kita hingga persoalan-persoalan yang semula ditanggapi atau disikapi secara kontemplatif sepertinya sudah selayaknya “ditinggalkan”. 

Mari kita berpaling dengan yang lebih hype dan trendy supaya jangan ketinggalan, janganlah kau lebay, kira-kira begitulah “wajah” agama yang ingin disampaikan pengelola media berotak dangkal saat ini, baik di media baca-tulis (berita on-line, citizen journalism, penerbitan buku agama dengan bahasa populer). Memang di tengah dunia yang berisik ini masih ada suara-suara kritis yang mencoba menengarai atau mengingatkan kembali cara-cara mendalami ajaran agama secara kontemplatif walau di tengah kehidupan yang makin sumpek ini mungkin rasanya membuat kita sendiri jadi malas keluar dari ruang nyamannya sehingga kita sendiri seperti jadi melupakan “pengalaman” (baca: realitas). 

Simulasi realitas yang sebenarnya merupakan tindakan yang memiliki tujuan membentuk persepsi yang sebenarnya “palsu” dari media ini sebagai efek “hiperealitas” tampak begitu keruh ketika sebelumnya berbagai media masih nampak “payah” tatkala mengangkat isu-isu agama saja masih terdapat jurang lebar antara cita-cita agama dan realitas kehidupannya.    

Apalagi yang masih tak disadari sangat jarang media massa di sini memberitakan keharmonisan kehidupan beragama; sehingga motif bisnis menjadi pilar utama industri media berbekal konsep “bad news is a good news”: yang sensasional harus diberitakan, apapun hasilnya tanpa peduli etika. Mungkin bagi masyarakat Indonesia di tingkat elit bisa tak gampang percaya, namun dampaknya jelas terasa pada masyarakat kalangan bawah yang sudah terlebih dahulu lebih paham pada pendidikan agama yang kebanyakan mementingkan posisinya sebagai ilmu, bukan laku.

Kecepatan memberitakan peristiwa yang dilakukan media on-line, radio, dan televisi juga kadang melupakan fakta-fakta lain yang seharusnya menunjang kebenaran berita. Apalagi secara umum di media massa Indonesia berlaku jargon “tugas jurnalis sekedar melaporkan fakta”. Padahal sebenarnya yang berlaku seharusnya tidak sesederhana itu. Dr.Jalaludin Rakhmat atau akrab disapa Kang Jalal berpendapat, “yang penting dalam jurnalisme itu tak hanya fakta, lebih dari itu adalah bingkai atas fakta itu sendiri”.  

Baiklah, saya sendiri toh tak mau berpanjang lebar lagi mengangkat soal ini. Ketika cara memandang agama secara reflektif mungkin terasa sudah “kuno” sehingga setelah ditelikung media kita sepertinya sudah menyingkirkan yang namanya pengalaman yang membuatmu sendiri bisa jatuh cinta, berbicara, mencipta keadaaan, sampai patah hati, mungkin kita sendiri sekarang hanya perlu mawas diri dan pandai memilah-milah saja dalam “dunia yang berisik” setelah menikmati efek “daya pukau” yang dimaksud sebagai untuk lebih memoderenkan ajaran agama toh nyatanya tak berdampak apa-apa, kecuali kesemuan belaka sehingga muncul pertanyaan mendasar: apakah sudah dilupakan peran ulama sebagai “nabi sosial”?

Mengapa hasilnya sekarang lebih banyak terjadi konflik keagamaan seperti belum lama ini terjadi di Sampang, juga isu SARA dalam Pilkada DKI Jakarta? A ha, saya tak menyalahkan siapa-siapa, bukankah ini salah satu ekses perkembangan teknologi media yang tak bisa ditampik, Bung? 

Selamat berpikir, sobat.

Last modified on: 14 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni