(4 votes)
(4 votes)
Read 6833 times | Diposting pada

Ada Apa Dengan (Stand Up) Komedi

 

Penampilan Russell Peters, Stand Up komedian dunia asal Kanada pada pertengahan tahun 2012 di Jakarta adalah salah satu highlight pribadi saya tahun ini. Kehadirannya telah menambah pilihan lawakan yang, seperti sebagian besar dari kita mungkin rasakan, cukup monoton. Canda yang kita saksikan selama ini jika bukan acara slapstick ala Opera Van Java (OVJ), paling banter bersumber dari reality show seperti Jakarta Lawyers Club. Singkat kata, senam rahang dan perut yang benar-benar menyehatkan tidak mudah ditemui di media elektronik. Namun begitu, belakangan ada perkembangan menarik yang patut kita perbincangkan; menanjaknya popularitas Stand Up Comedy .

Stand Up Comedy memang perkembangan yang segar dan membangkitkan geliat budaya pop tanah air. Keberanian para produser dan pekerja kreatif di baliknya perlu diapresiasi, mengingat publik Indonesia belum terbiasa dengan komedi jenis ini. Kebalikan dengan tradisi humor yang kita kenal, yakni Schadenfreude –tertawa di atas penderitaan pihak lain- Stand Up Comedy adalah ajakan untuk menertawakan diri sendiri, satu hal yang sangat sulit dilakukan manusia Indonesia.

Komedi juga sering dilihat sebagai bentuk kritik sosial. Kala berbagai saluran aspirasi tersumbat, komedi bisa menjadi penghantar yang berfungsi ganda, ke atas ia mengguncang kemapanan, ke bawah ia menjadi pelepas penat dan rasa frustrasi masyarakat. Indonesia sebenarnya cukup kaya akan berbagai jenis komedi, baik tradisional, dalam arti tumbuh di berbagai latar budaya dan sejarah, maupun yang terserap melalui terpaan media internasional. 

Namun, sayangnya, kita terbiasa dengan jenis canda yang hanya menggambarkan inferioritas kita sebagai manusia, tapi tak pernah menumbuhkan kebesaran hati. Contoh lain sempitnya pemahaman kita akan humor tergambar oleh ketiadaan padanan kata untuk Farce dalam bahasa Indonesia. Kata ‘lelucon’ tak cukup untuk menggambarkannya. Mungkin secara historis kita memang tidak pernah belajar untuk mengenal perasaan tersebut.

Contohnya Ketoprak, Srimulat yang dibiasakan mengumbar penderitaan. Sementara, komedi slapstick seperti OVJ, adalah ekspresi paling sederhana dari sebuah ketidakmampuan untuk berkata. Semuanya mengajak kita untuk melihat keluar dan melupakan; menertawakan yang lebih rendah. Sementara Stand Up Comedy, seharusnya, adalah kebalikannya.

Dalam sebuah Stand Up Comedy, yang diuji bukan hanya sang pelawak atau komik, melainkan audiens yang dituntut untuk turut bernalar sewaktu mengolah berbagai situasi atau ekspresi yang disampaikan. Ada satu hal yang lebih mendasar dalam aktifitas tertawa dan menertawakan dalam stand up comedy, yakni otokritik, di mana sebenarnya sang penampil menertawakan sang audiens dan mengajaknya untuk menertawakan diri sendiri.

Stand Up Comedy sering kali mengajak untuk melihat ke relung diri yang lebih dalam. Di Amerika Serikat, sebelum Dave Chapelle, ada Richard Pryor yang mengolah isu rasisme dan diskriminasi kelompok kulit hitam menjadi tertawaan sekaligus perenungan. Semua leluconnya di atas panggung pedas dan sarat dengan kritik terhadap tatanan sosial di sana. Dalam tingkatan tertinggi, komik yang benar-benar handal seperti Richard Pryor mampu menyulap situasi paling pahit menjadi tragi-comedy, dari lara menjadi tawa. 

Namun, setelah melihat beberapa penampilan yang dibawakan para lakon Stand Up Comedy versi lokal, sulit untuk tidak bertanya: Memangnya kita siap untuk komedi jenis ini?

Keraguan ini juga tercermin dari berbagai topik yang dilontarkan oleh stand up komik di Indonesia. Belum ada komik yang rela menjadi cermin untuk melihat buruknya rupa kita dan lantas tertawa. Sebagian besar lebih memilih untuk mengambil aman dan melontarkan apa yang menurut mereka dalam batas toleransi.

Stand Up Comedy sejatinya adalah tempat untuk memproyeksikan diri sendiri. Sebagaimana Russel Peters menertawakan orang India, saya belum bisa membayangkan, misalnya, orang Madura membuat lelucon tentang Madura. Ernest Prakasa mungkin sedang merintisnya untuk konteks komunitas Tionghoa, tetapi saya percaya sebagian besar dari kita menganggapnya lucu karena pengaruh latar belakangnya, bukan karena apa yang sebenarnya ia bicarakan. Stand up seharusnya melampaui kelucuan parodi atau komedi situasional. Jika memang benar sarkasme dan black comedy menggambarkan tingkatan kematangan seorang individu, dan masyarakat, dalam menanggapi kenyataan dirinya, maka bisa dibilang jika kita memang kerdil dalam banyak hal. Sementara stand up comedy adalah wujud mimikri kelas terdidiknya.

Dengan alasan tersebut, sampai detik ini, belum ada yang mampu mendekati kehandalan Warkop, yang hemat saya mendekati orisinalitas Monty Python dalam menyusun komedi dengan nalar yang jernih dan politis (walau kadang mengandalkan eksploitasi seksual di dalamnya). Sekarang, beberapa Stand Up komedian paling lucu yang saya ketahui ada di MC gigs skena lokal, yang untungnya tidak dikenal luas dan lantas tidak bisa dieksploitasi media utama. Di media arus utama, para maestro dengan nyali dan selera humor tinggi mungkin hanya Sudjiwo Tejo dan Butet Kertarajasa yang dengan segala sindiran, cibiran dan dagelannya selalu berani untuk bermain dengan api bernama ‘pencemaran nama baik’ dan ‘pembunuhan karakter’.

Syahdan, sulit untuk mengharapkan lahirnya Bill Hicks, Dave Chapelle atau Ricky Gervais di Indonesia. Jikapun ada, ruang publik kita tak akan memungkinkan mereka untuk lahir dan tumbuh. Maka, jangan pernah berharap Marzuki Alie bisa kita undang ke atas panggung untuk membuat lelucon atas pernyataan-pernyataannya.

Atas dasar itu, pertanyaannya adalah: mungkinkah Stand Up Comedy hanya menggambarkan sebuah cap yang lama disematkan kepada kita tetapi tak pernah diamini: masyarakat yang paling gemar mengkritik tapi tidak mampu dikritik.

Last modified on: 13 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni