(4 votes)
(4 votes)
Read 3233 times | Diposting pada

Video Musik Terbaik 2015 versi Jakartabeat: The House – Stars and Rabbit

 

Dave Grohl pernah mengatakan, “Video klip itu cuma barang promosi, yang penting lagunya.” Dave kadang memang terlalu sombong, karena itu dia suka meremehkan orang, dari DJ, pop Idol, sampai pembuat film. Sebuah video klip tidak hanya membantu promosi, ia adalah cabang seni tersendiri yang bisa sama penting dengan musiknya.

Kami sudah berikan tujuh nomine yang kami anggap terbaik tahun ini. Cara memilihnya dengan akal dan rasa. Dengan akal, kami melihat sejauh mana kerja keras dan inovasi dalam memproduksi video klip tersebut. Dengan rasa kami melihat dan mendengar bagaimana video klip tersebut menyatu dengan musiknya.

Untuk itu, Video Musik Terbaik versi Jakartabeat tahun ini kami berikan kepada:

 

THE HOUSE oleh Stars and Rabbit

 

Sutradaranya bernama Bona Palma. Kami melakukan sedikit riset dan tercengang bahwa ia adalah sutradara iklan dengan portfolio yang mengagumkan. Ia dibantu oleh Director of Photography Arief Pribadi, yang menjadi cinematografer untuk film bioskop seperti Sanubari Jakarta (2012) dan Lima Elang (2011). Sutradara muda dan cinematographer berpengalaman adalah sebuah hal yang jarang sekali ditemukan dalam produksi video klip band indie Indonesia yang biasanya bergerilya. Ini saja sudah harus diperhitungkan.

Duo film maker ini menyatukan konsep yang terdapat dalam lagu dan liriknya. Dari video behind the scene, Bona bercerita tentang pendekatan Manichaeism yang ia lakukan dalam membuat video klip ini. Manichaeism adalah agama kuno dari Iran yang percaya bahwa manusia terdiri dari putih dan hitam, jahat dan baik, yang selalu berperang. Tuhan dan setan setara dalam perang tanpa akhir itu, dan Tuhan bukanlah yang maha kuat. Ini bukan premis sembarangan, karena tidak banyak yang tahu konsep ini. Konsep ini disimbolkan juga di awal dan akhir video klip: berawal dari kematian (kuburan) dan berakhir di kelahiran (air).

Bona mengawinkan konsep Manichaeism dengan lagu yang iramanya gelap dan liriknya berisi sebuah trauma atau penyesalan atas pengalaman yang traumatis hingga masa depan sudah pasti buruk. Judul The House mengikat makna pengalaman itu menjadi di dalam rumah, sebuah keluarga disfungsional  yang penuh pertengkaran dan ketidakpedulian, masalah khas generasi kota millenial. Mengawinkan konsep spiritualisme klasik dengan konflik modern bukan hal yang mudah, perlu treatment film yang mumpuni untuk mengombinasikan ide-ide itu.

Di sinilah Director of Photography, Arief Pribadi nampak berperan besar dalam mewujudkan gaya yang diinginkan sutradara ke dalam videonya. Kami merasakan gabungan gaya yang kaya dari film-film Tim Burton sampai David Lynch di video ini. Tim Burton terkenal dengan film-film gaya gothic-pop seperti Edward Scissorhands, Nightmare Before Christmas (penulis/produser), dan Corpse Bride. Sementara itu David Lynch telah bereksperimen dengan absurdisme dan spiritualitas hampir sejak awal karirnya—ia bahkan beberapa kali mengkritik para sineas yang suka mabuk demi inspirasi dengan mengumbar bahwa ia tidak perlu LSD untuk membuat film surreal, ia hanya perlu meditasi. Tema masalah urban seperti rumah disfungsional dan spiritualisme kuno bisa kita temukan di film-film Lynch, khususnya Eraserhead: hitam putih, surreal, dan penuh dengan eksperimen editing.

***

Honourable Mention:

1. Bahas Bahasa – Barasuara

Bahas Bahasa arahan Iga Massardi dan Puti Chiara ini jelas video klip yang terkonsep matang, dengan artwork yang sangat cantik, lagu yang menawan dan one take shot yang tak pernah kehilangan momen. Video yang begitu memukau dan romantik, dan kami percaya akan menjadi klasik.

2. Suara Bumi – Maladialum

Konsep hippie dan nudist yang digubah sutradara/vokalis Maladialum, Briegel Bagenda, dan seniman grafis kelahiran spanyol, Luis Velasco, ini bukan cuma berani tapi juga sebuah pencapaian untuk video klip Indonesia. Video klip erotic (bukan porno) adalah hal yang hampir mustahil untuk ada di Indonesia yang begitu akrab dalam mengeksploitasi tubuh perempuan di semua lini kehidupan, tapi mengutuk tubuh sebagai seni (atau tidak bisa membedakannya). Video Suara Bumi berusaha mengejawantahkan sebuah konsep bahwa manusia (diwakili perempuan telanjang) sama aktifnya dengan alam (diwakili lelaki bertopeng kayu) dan harus berkerja sama dengan harmonis untuk tidak saling menghancurkan. Ini sebuah dekonstruksi pandangan maskulin mainstream bahwa perempuan mewakili alam, dan lelaki mewakili manusia.

3. Kehilangan Data – Them On Yet

Video arahan Fluxcup ini kami rasa sangat fun, penuh penjiwaan dan kesakitan yang hanya bisa dibagi oleh generasi kita dengan editing yang sangat Tarantinoist!

***

Telusuri #Terbaikdi2015

 

Last modified on: 29 Desember 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni