(0 votes)
(0 votes)
Read 2937 times | Diposting pada

Terdampar di Xi'an

Hari Senin minggu lalu, pertama kali masuk kantor di awal tahun, seorang teman bertanya: “Udah bikin resolusi buat 2009?”


Dengan sigap saya bilang: “Jelas beluum!!”

Memang belum. Dan mungkin juga tidak akan. Resolusi tahunan terlampau ketat buat saya yang terbiasa hidup tanpa target, dan sejujurnya, tanpa arah juga. Tapi sejak sekitar 8 tahun yang lalu, saya juga mulai mengerti bahwa mengalir radikal tanpa arah, selain asik, itu beresiko juga. Banyak malah, bahayanya!

Untuk itu, agar tidak terlalu ‘kabur kanginan ora karuan’ saya membuat daftar iseng dibawah tajuk: “13 Hal yang Ingin Aku Lakukan Dalam Hidupku”. Kenapa 13? Pertama, karena saya selalu curiga sama tahyul! Yang kedua, karena saya mengimani bahwa semua angka yang diilhamkan Tuhan kepada manusia adalah baik, termasuk angka 13.

Nah, sampai hari ini, sesekali saya review tuh, daftar “The Iseng Thirteen”. Mencoret, mengubah, menertawakannya, menebalkan, menggarisbawahi, atau menghapus seandainya telah teraih. Satu contoh dari daftar iseng itu, kira-kira seperti ini bunyinya:

Aku Ingin: menjelajahi negeri-negeri Muslim,
dari Agra sampai Andalusia, dari Sarajevo sampai San’a..

Entri itu, saya tulis di sekitar akhir tahun 2005. Sampai sekarang masih saya biarkan terketik tebal di wishboard saya. Tiga tahun kemudian, tepatnya akhir 2008, apakah saya sudah memulai perjalanan ini? Belum juga. Tapi tak apa. Buat saya, entri ini seperti janji. Dan janji, sekonyol apa pun, adalah cahaya bintang di langit. Lagipula, hidup tanpa janji adalah malam jahanam yang gelap gulita.

-- Romantisme pada jejak-jejak kabur..

Jadi, kecuali ke Kairo dan Dubai setahun yang lalu, saya belum kemana-kemana. Keduanya pun perjalanan pendek, meski membekas, terutama karena kontradiksi kedua kota itu. Di satu sisi Dubai, kota tanpa masa lalu, Wall Street in The Dessert yang keranjingan pada arsitektur superspektakular. Dan di seberang lain, ada Kairo, kota kaya mozaik peradaban, yang seakan berhenti membangun sejak separuh abad terakhir. Suatu saat nanti saya akan menulis ingatan-ingatan saya tentang keduanya..

Sebenarnya, saya tidak pernah seorang Muslim yang taat.. Jadi entah kenapa juga, negeri-negeri Muslim adalah magnet penuh pesona yang tak kunjung melemah bagi syaraf-syaraf eksplorasi dan travel kecil-kecilan saya. Jauh melampaui keingintahuan saya tentang tempat-tempat megah seperti New York, Rio, dan Tokyo..

Somehow, Islam, terutama dalam wujud jejak-jejak peradabannya, memang begitu romantis untuk ditelusuri kembali.

Romantisme ini pulalah yang membawa saya terdampar di kota sarat sejarah bernama Xi’an, sekitar 3 bulan yang lalu. Kota ini berjarak 2 jam penerbangan dari Shanghai ke arah Barat. Tak sepenuhnya sebuah ‘negeri’ Muslim. Namun di pusat kota Xi’an, yang dibatasi oleh dinding benteng kota setinggi 12 meter, tinggal sekitar 100 ribu Muslim Hui, membentuk kantung budaya yang lentur tapi sarat dengan vitalitas, tepat di jantung kotanya!

Bei Yuan Men, nama distrik ini, dulunya merupakan pasar kuno. Sekarang, ia masih menyisakan hiruk pikuk dan suka cita aktivitas perdagangan. Mengunjunginya, teman-teman akan menemukan sejarah tertenun berdampingan dengan aktivitas sehari-hari. Juga aneka makanan bebas babi yang kaya cita rasa. Dijajakan dalam deretan resto yang meja-kursinya luber sampai ke jalan-jalan. Menciptakan suasana alfresco yang amat mengesankan. Btw, makanan orang Hui terkenal enak dan unik bahkan untuk ukuran orang Cina. Ini menjelaskan mengapa Bei Yuan Men tidak pernah sepi, dari pagi sampai menjelang dini hari.

-- Belasan Masjid Antik di Xi’an

Di dalam benteng kota Xi’an, teman-teman juga akan menemukan belasan masjid dan mushala antik dengan langgam arsitektur Cina yang hampir-hampir bersih dari pengaruh Arab. Saya sempat mengunjungi empat diantaranya, termasuk mengerjakan sholat Jumat, di Masjid Agung Xi’an yang didirikan pada tahun 742. Ini berarti masjid nan indah ini didirikan hanya 100 tahun setelah Nabi wafat (!) Dulu, membayangkan Xi’an yang berjarak amat jauh dari Madinah, lagi terpisah oleh bentangan alam yang keras, maka tergambarlah enersi dan kecepatan persebaran agama muda ini, 1,300 tahun yang lalu.

Salah satu sudut interior Masjid Agung Xi'an

Saya -- yang jemu dengan menjamurnya arsitektur masjid gaya Timur Tengah di Tanah Jawa -- merasa menemukan obat penawarnya di sini. Arsitektur lokal masjid-masjid Xi’an adalah gegar yang membebaskan. Pertemuan itu berhasil membongkar stereotip saya tentang ciri-ciri khas fisik sebuah masjid, seperti pintu-pintu beratap lancip, kubah, dan menara. Pengalaman ini memberi saya pengertian baru: bahwa pada intinya, se-aneh apapun wujud fisiknya, masjid adalah tempat untuk bersujud dan melembutkan hati.

Bayangkan sebuah kuil kayu dari Timur Jauh yang didominasi warna merah, terselimuti oleh ukir-ukiran warna-warni, sulur-sulur arabesk yang diadaptasi ulang dalam selera oriental, dan percikan kaligrafi disana-sini.

Keberanian dan keterbukaan masjid-masjid ini dalam mengabaikan gaya Arab dan mengadopsi ekspresi lokal yang colourful, mengingatkan saya bahwa Islam, dalam bentuknya yang paling mula, adalah percaya diri, open-minded, lentur, menghargai lokalitas, riang dan kaya warna!

Menara Zikr

Di semua masjid yang saya kunjungi di Xi’an, taman adalah bagian padu yang menciptakan atmosfer teduh. Muslim amat terinspirasi dengan kisah tentang taman-taman di surga, dan senantiasa tertantang untuk memindahkan taman-taman semacam ini ke muka bumi. Masjid Agung Xi’an bahkan memiliki tiga courtyard memanjang yang amat rimbun.

Tiap courtyard dipisahkan oleh gerbang-gerbang beratap yang pekat oleh detail ornamen Timur. Di dalam tiap courtyard terdapat pagoda cebol, berfungsi sebagai semacam gazebo, namun memiliki loteng yang bisa digunakan untuk menyendiri atau membuka sebuah majlis kecil yang intim. Tiap menara memiliki nama, salah satu diantaranya adalah menara zikr, atau remembrance..

Saya membayangkan, dulu satu atau beberapa santri mungkin menggunakan menara ini untuk berkhalwat, menyendiri, memecahkan pepatah-pepatah sufi yang penuh simbol. Atau sembunyi-sembunyi menulis surat cinta untuk kekasihnya, yang tinggal di seberang Masjid.

Sebuah Mushalla Imut ditengah-tengah distrik Bei Yuan Men

-- Surga Makanan di Jantung Kota

Di seberang masjid, kita akan menemukan pemukiman yang padat, namun bersih dan rapi. Ada lorong-lorong sempit di sana-sini, menghubungkan jalan-jalan utamanya, mengingatkan saya pada pasar kuno Khan El Khalili di Kairo. Di sini, pemandangan laki-laki tua dan muda dengan kopiah putih atau wanita paruh baya berjilbab adalah lumrah. (Bahkan di Shanghai yang urban sekalipun, banyak Muslim konsisten mengkomunikasikan identitasnya dengan tetap mengenakan kopiah putih).

Meskipun demikian, anak-anak mudanya, terutama yang perempuan, tetap saja berdandan sama chic dan sama ekspresif-nya dengan sebaya mereka di Shanghai atau bahkan Hongkong. Termasuk saat mereka membantu ayah bunda nya di ratusan resto atau toko yang berderet-deret di distrik ini. Saat itu, Xi’an memasuki musim dingin. Sekitar 17ºC di siang hari, dan menukik tajam pada 12ºC di malam hari.

Jadi sepatu boot – termasuk yang ber-hak tinggi, stocking, jaket warna-warni, syal, dan baju hangat modis lainnya sedang banyak dipakai. Kontras kostum antar generasi ini tambah membuat distrik ini terasa lebih warna-warni dan manusiawi.. Ingin sekali memotret mereka close up, tapi segera ingat bahwa orang bukan objek turisme..

Penjaja Snack di Bei Yuan Men

Tadi saya bilang deretan restoran. Berjalan-jalan di distrik Bei Yuan Men, yang terletak di jantung kota Xi’an, tak jarang mata akan pedih oleh asap tungku. Yang pasti, indra penciuman Anda akan disergap oleh bau-bauan masakan: bakar, godog, panggang, goreng, snack siap makan, juga yang siap masak di tempat. Sebagai tujuan plesir, Xi’an juga berarti surga kuliner. Dari sekitar 25 warisan utama kuliner Cina yang di daftar oleh departemen pariwisata dan diterbitkan menjadi sebuah ensiklopedia populer Things Chinese, tiga diantaranya adalah sumbangan komunitas Muslim ini.

Jadilah, saat meninggalkan Xi’an, terhitung 16 jenis makanan lokal telah saya lahap. Dari semua itu, ada dua buah snack yang terlalu aneh untuk syaraf-syaraf rasa saya. Namun sisanya adalah fiesta lidah dan perut saya membuncit.

-- Pulang..

Subuh tanggal 12 Oktober, hari minggu, saya meninggalkan Xi’an yang berselimut kabut tebal, untuk kembali ke Shanghai. Taksi berjalan dengan kecepatan 20km/ jam menuju bandara, takluk oleh jarak pandang yang nyaris nol. Tubuh saya menggigil kedinginan, sementara betis saya pegal-pegal didera belasan kilometer jalan kaki. Pertemuan hanya beberapa hari, jelas membuat syaraf travelling saya menolak pergi. Tapi saya juga ingat, bahwa rasa penasaran, dan kepuasan yang tertunda-lah yang membuat kita selalu ingin kembali.

Taksi tetap lambat saat suara George Harrison mengalir ringan melalui Ipod nano di genggaman saya. Mata saya terpejam penuh syukur atas keisengan yang luar biasa ini...

Oh Ive been travelling on a wing and a prayer,
By the skin of my teeth, by the breadth of a hair,
But oh Lord, we pay the price, with a spin of a wheel and the roll of a dice..
Ah yeah, you pay your fare,
If you don’t know where you going, any road will take you there..
(Any Road, dari Brainwashed, 2002)

Dalam hati saya bilang: “Saya akan kembali…”


Last modified on: 25 Mei 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni