(4 votes)
(4 votes)
Read 5517 times | Diposting pada

Tahun 2014: Geliat Dentum Dansa Bawah Tanah

Tahun 2014: Geliat Dentum Dansa Bawah Tanah Kredit Ilustrasi: Istimewa

 

“Waktu yang terus berjalan acap kali dirayakan pada pergantian tahun.
Waktu yang terus berjalan ditandai pula dengan geliat generasi baru”

 

Ini adalah cerita tentang tahun 2014. Tahun di mana Rupiah mencapai tingkatan paling rendah semenjak krisis ekonomi di penghujung dekade 90an. Ibukota negara-Jakarta-adalah kota adidaya dengan populasi penduduk ultra padat dan tingkat konsumsi luar biasa optimis yang bagaikan Sodom mengacuhkan prinsip hidup bersahaja. Ibukota enggan beradaptasi dengan konsep hidup susah, ia terus mencari hiburan sampai lelah. Dan hiburan paling hangat saat ini adalah pertunjukkan musik hidup.

Menyaksikan sekaligus terseret dalam pencarian hiburan tersebut sangat asik. Banyak batasan atau sekat konvensional yang telah lenyap. Geliat dekonstruksi yang hendak membalikkan atau merubah makna-makna yang sudah dikonvensionalkan terjadi tanpa benar-benar disengaja. Cemooh sebagai orang-orang tidak berprinsip bisa dianggap sebagai angin lalu, seperti yang diceritakan dalam kisah-kisah Jacques Derrida.

Ini adalah cerita tentang tahun 2014 dengan animo muda-mudi yang cenderung menurun terhadap apa yang disajikan pada gig musik indie. Kebanyakan merasa pertunjukkan musik semacam itu sudah stagnan dan membosankan. Lucunya, semangat mengadakan gelaran secara independen serta pencarian akan hiburan yang relevan tidak serta merta ditinggalkan. Namun kini menu yang digemari menjadi semakin variatif, salah satunya adalah menjamurnya acara ajojing yang dikelola secara independen.

Menindaklanjuti suatu konsep, acap didefinisikan sebagai “Electronic Dance Music” (EDM) yang tak bisa ditampik telah memberikan perubahan signifikan pada kancah musik dunia (termasuk Indonesia), pencarian-pencarian agung itu terus berlangsung. Selaras dengan kesuksesan EDM, kultur festival yang menampilkan jenis musik tersebut berkembang pesat menjadi sungguh besar (sejarah membuktikan festival musik telah berhasil membantu pembentukan dan pendefinisian musik, sebut saja Woodstock Festival). Dalam hal ini, kita bisa bayangkan Tomorrowland (Belgia) dalam tataran internasional dan/atau Djakarta Warehouse Project (Indonesia) dalam skala nasional. Ledakan kedua festival tersebut tak terbendung, pecah dan berfokus pada—mengutip Cordellia Kenney—menciptakan kenangan penuh arti dengan teler berjamaah bersama mereka yang ‘mampu’. Berbanding terbalik, kancah ajojing bawah tanah yang menurut banyak orang sebagai ‘habitat asli’ musik dansa tak mendapat sorotan sepadan. Namun demikian, kancah itulah yang menjadi jawaban dari pencarian tersebut, walaupun mungkin hanya sementara. Toh, kebenaran absolut itu adalah suatu yang fana.

Tentu saja ada yang sedang terjadi saat ini di Indonesia, suatu pencarian agung (a grand search). Adalah lazim bila menemukan kaos, celana jeans, celana pendek, dan segala macam atribut indie-rock sedang ikut bergoyang di atas lantai dansa. Dan mereka menari pada dentum yang lahir dari musik yang diputar bukan suara bass, drum dan gitar analog. Pada akhirnya, semuanya leleh dalam nama kultur pop yang selalu melahirkan trend, terkait hal ini, trend tersebut adalah trend pemandu cakram padat dan kolektor rekaman (vinyl). Luar biasa.

Tahun ini ada pula musisi berbasis dance-music yang akhirnya menelurkan rilisannya, sebut saja Reinhold Makatsuji dengan label rekamannya Goodnws Records yang melakukan debut dengan merilis album dari Roy Ananda serta ada pula Jonathan Kusuma (Ojon) –salah satu dukun elektronik unit musik Space System– dengan EP berjudul Gong 3000.

Keriaan Urban

Hilang sudah kesan fancy, melebur. Tidak ada tiket masuk, pengunjung bisa masuk gratis. Anggur merah cap orang tua ditenggak habis di sela-sela event sebelum kembali masuk dalam dimensi hedonisme termutakhir. Venue semacam Soupanova Ecosky, Safehouse, Goods Dinner, Tree House, Mondo, dan lainnya adalah saksi mati kejadian-kejadian semacam itu. Restoran dan/atau lounge tersebut disulap menjadi serupa kelab malam ketika keriaan disko bawah tanah sedang dilangsungkan.

Retrospektif 2014

Café Mondo

Bukan hanya Disco, Dub, Acid-House atau Ballearic. Banyak juga lagu kebaktian jemaat punk/pop/rock bawah tanah yang diputar di lantai dansa sebagaimana dimaksud. Kadang “Fool’s Gold”-nya The Stone Roses atau “Wake Up!”-nya Ian Dury and The Blockheads kadang pula “Guns In Brixton”-nya The Clash namun pernah juga “I Robot”-nya The Alan Parsons Project.

Beberapa yang berkesan untuk dicatat sebagai representasi adalah Laid Back Sessions, Vanishing Point, Domingo Acopio dan We BOP; keriaan ajojing dengan hawa bawah tanah super kental. Diadakan secara berkelanjutan dengan promo yang biasa saja. Muka-muka di sana banyak juga terdiri dari musisi independen, seniman visual, dan scenester yang lalu lalang menikmati habisnya malam.

Retrospektif 2014

Salah Satu Poster Gelaran Vanishing Point

Ini adalah cerita tentang tahun 2014. Pengumuman Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) tahun tersebut menyebutkan album bertajuk Terlahir & Terasingkan: Antologi Semak Belukar 2009-2013 yang berfondasi folk melayu sebagai album terbaik di antara album lain dari beragam genre (dari electronic hingga hardcore). Sungguh mengejutkan. Semak Belukar sendiri terakhir kali mereka tampil live (di Kineruku) mereka merusak sepenuhnya alat musik yang mereka miliki dan memutuskan untuk berhenti bermusik. Kontras dengan suara mainstream EDM yang menjadi semakin komersial dalam artian yang buruk. Musik itu diputar di ajang running megah yang sedang seru-serunya berlangsung di Indonesia sepanjang tahun sebagai gimmick untuk meningkatkan penjualan acara.

Entah ke mana angin akan membawa.

***

Telusuri #Retrospektif 2014
Last modified on: 31 Desember 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni