(0 votes)
(0 votes)
Read 4297 times | Diposting pada

Reuni The Stone Roses dan Bangkutaman Redux

 

Mungkin seperti ini yang dirasakan oleh Felix Dass ketika berusaha menggabungkan kembali Bangkutaman. Terus terang, sampai sekarang saya belum bisa percaya bahwa yang dilakukan oleh teman saya itu apakah benar dilandasi dengan maksud yang tulus. Seolah-olah, itu adalah manifestasi antara bersikap berlebihan dan menjadi teman (atau penggemar) yang baik. Tapi melihat kerja keras yang ia lakukan demi penampilan perdana reformasi Bangkutaman pada 2008, saya tahu itu ada sesuatu yang murni datang dari seorang Felix Dass, dan kerabatnya Satria Ramadhan.


Saya ingat, Felix memeluk saya ketika saya mendatangi dia di depan panggung, beberapa saat sebelum acara dimulai. Dia terlihat begitu senang. Saya tidak mengerti kenapa ia bisa sampai seeforia itu, mengingat saya hanya musisi biasa dan sekadar teman.

Tapi sekarang saya mengerti. Ada perasaan tertentu yang muncul ketika mengetahui band yang anda idolakan bersatu kembali. Dalam arti, band yang benar…benar diidolakan. Saya memang belum pernah menggilai band seperti The Stone Roses dalam hidup saya sejauh ini. Uniknya, saya bahkan sempat putus harapan dengan perihal bersatunya The Stone Roses. Istri saya bahkan sempat mempercayai jika saya sudah bukan penggemar setia The Stone Roses lagi karena saya sempat berhenti (atau sangat jarang) mendengarkan lagu-lagu mereka dalam setahun terakhir ini.

Begitu mengetahui kabar resmi tentang The Stone Roses yang akan berkumpul kembali di atas panggung tahun depan untuk reuni, ternyata saya masih merasakan eforia dan sensasi merinding itu. Tidak bisa dipungkiri, saya banyak tersenyum, bahkan kegirangan, melihat video konferensi pers mereka itu. Ya, saya membicarakan band yang mengubah hidup dan musikalitas saya, The Stone Roses. (Ian Brown bahkan sempat mengatakan bahwa desain kaus Bangkutaman IX buatan saya mirip dengan karya-karya John Squire.)

Bagi khalayak di Indonesia, The Stone Roses (mungkin) tergolong band yang biasa saja. Musik mereka bukan tipe sekali dengar. Dan mungkin setelah beberapa kali dengar, belum tentu suka juga. Dan di Indonesia, menurut saya, Rumahsakit dan Pestolaer punya pengaruh besar terhadap fenomena “demam Stone Roses” di era 90-an, yang mana juga menjangkiti saya dan kemudian saya teruskan dengan membentuk Bangkutaman.

Jujur, saya bahkan sempat berpikir bahwa, memang sebaiknya The Stone Roses itu bubar. Karena jika mereka memaksakan untuk tetap ada setelah album Second Coming, mungkin saya sudah tidak terlalu menikmati karya-karya mereka (meskipun akan tetap terus saya beli album-albumnya).

Jika ingin tahu tentang sejarah The Stone Roses, mungkin sebaiknya membaca dari laman Wikipedia. Saya tidak akan membahas sejarah dalam tulisan ini. Saya tertarik untuk membahas mereka berdasarkan konferensi pers mereka yang diadakan di London, Selasa, 18 Oktober 2011.

Saya sempat ternganga melihat mereka dapat duduk bersama dalam satu meja, dalam atmosfer yang positif dan penuh humor. John Squire tentunya selalu senang menjadi pendiam dengan sesekali tersenyum mendengar celotehan teman-temannya. Karisma Ian Brown pun seperti tidak lekang oleh waktu. Mani, senang melucu dan berbicara cepat tapi tidak jelas. Reni yang paling menarik perhatian saya. Rambutnya memutih, gaya bicaranya senang berdiplomasi dan (harus saya akui) paling jelas dibandingkan ketiga temannya.

Mereka berempat memang sudah jauh lebih tua, tapi atmosfir yang mereka berikan tetap legendaris.

Jujur, saya mengidolakan John Squire. Bahkan saya sempat bersikap keterlaluan dengan benar-benar mencoba menjadi dia. Alhasil saya justru “merusak” diri saya sendiri. John bukan gitaris terbaik di dunia memang, tapi ia gitaris terbaik dalam Brit Pop/Indie Pop. Meskipun Johnny Marr lebih fenomenal dengan jangly style-nya dan menciptakan standar pola permainan gitar baru, John Squire seperti membawa musik “Pop Inggris” menuju tingkatan baru dengan bermain menggunakan skill. Sebelum John Squire, permainan gitar dengan tangga nada pentatonik yang cenderung bluesly itu tidak ada dalam Brit Pop. Semua berdasar pada arpeggio (baca: petikan) dan raungan distorsi campur delay yang berisik.

Setelah John Squire, baru terdengar gitaris sejenis seperti Paul Banks, Steve Cradock, Mark Collins, Adam Devlin, Crispian Mills, dan Noel Gallagher. Sumber kehancuran The Stone Roses bermula dari memburuknya hubungan antara Squire dan Brown. Tentunya, ada faktor X lain yang memicu. Versi lain juga mengatakan bahwa sumber permasalahan ada pada John Squire, hingga membuat Reni hengkang dari The Stone Roses tepat setelah merilis album Second Coming.

Perselisihan yang dipendam cenderung menghasilkan output yang buruk, dan efeknya biasanya dahsyat. Namun seiring waktu berlalu, perselisihan itu meninggalkan dendam dan rasa benci tanpa alasan yang jelas. Perasaan itu kemudian terus berlanjut hingga akhirnya timbul pertanyaan, “Sebenarnya apa yang saya benci dari orang itu?” Hingga suatu saat, akhirnya timbul kerinduan tersendiri ketika melihat orang tersebut dengan tiba-tiba melupakan begitu saja semua kebencian dan dendam yang ada. Yang terjadi justru membicarakan masa lalu dan menyadari bahwa pertemanan itu sebenarnya bersifat abadi.

Hemat saya, itulah yang terjadi pada John dan Ian.

Bayangkan betapa panjang “perjalanan” mereka berdua untuk menuju reuni ini. Untuk Squire, cerita “buruk” dimulai dari The Seahorses, kemudian menjadi musisi solo dengan suara dipaksakan, dan akhirnya menjadi pelukis. Untuk Brown, semua dimulai dari suara yang memburuk akibat obat terlarang, dipenjara, kemudian membuat banyak album solo yang sering-seringnya tidak bisa saya ingat. Dan untuk mereka berdua, dimulai dari album Second Coming (album The Stone Roses yang terakhir sebelum mereka bubar, dirilis pada 1995), yang sebenarnya bukan album buruk, tapi itu bukan The Stone Roses.

Salah satu hal yang paling membuat penasaran para jurnalis, penggemar, dan pengamat musik dunia adalah mengetahui bagaimana kabar perseteruan antara John dan Ian. Saya ingat, ketika Wahyu “Acum” Nugroho berkesempatan untuk mewawancarai Ian Brown, yang sedang berkunjung ke Indonesia. Rekan saya itu bahkan mengungkapkan rasa gelisah dan canggung yang luar biasa untuk mewawancarai seorang Ian Brown. Ia sampai bingung harus menanyakan apa saja, dan alhasil saya membuatkan sebuah daftar pertanyaan singkat untuk bekal wawancaranya. Dan terus terang, saya juga sangat senang bisa membuat daftar pertanyaan itu. Kami berdua sepakat, untuk menanyakan tentang John Squire. Kami berdua percaya, banyak sekali orang ingin mendengar langsung dari mulut seorang Ian Brown tentang John Squire.

Jawaban Ian ketika ditanya soal John adalah sebagai berikut: “Saya sudah tidak berbicara dengan John selama bertahun-tahun. Rumah (orangtua) kami berdekatan, dan saya sering datang mengunjungi ibunya, lalu mengobrol dan minum teh. Namun kami berdua tidak pernah sekalipun menyinggung soal John,” jawabnya dengan tersenyum ramah.

Patut diketahui, Ian Brown tidak pernah menunjukkan wajah kesal atau jijik ketika ditanya tentang sahabatnya itu. Justru, menurut Acum, Ian tertawa kecil ketika Acum menanyakan hal itu. Seolah-olah, Ian sudah mengantisipasi pertanyaan Acum.

Sekarang bandingkan komentar John dalam konferensi pers tentang hubungannya dengan Ian Brown: "Everything changed when me and Ian started seeing each other again. It was surreal. We went from crying and laughing about the old days to writing songs in a heartbeat. In some ways it's a friendship that defines us both and it needed fixing and two phone calls later and the band was no longer dead."

Selain kisah John dan Ian, hal kedua yang senantiasa menggugah rasa penasaran adalah mengetahui bagaimana kabar tentang drummer mereka, Alan “Reni” Wren. Drummer yang dapat bermain drum layaknya Jimi Hendrix bermain gitar ini mungkin yang paling tidak terekspos di antara personil The Stone Roses. Ia sempat dalam sebuah band bernama The Rub, namun sepertinya band itu tidak beranjak ke mana-mana. (Saya belum pernah melihat orang bermain drum layaknya Reni, kecuali ada yang bisa membangkitkan Keith Moon dari tidur abadinya.)

“Saya berusaha menghindari kalian [baca: pers] semua. Mencoba keras untuk pensiun. Saya seorang ayah, dan saya memiliki waktu berkualitas untuk menjadi ayah.” kata Reni dengan bijak ketika ditanya tentang apa yang dilakukannya setelah The Rub. Reni juga mengatakan dalam konferensi pers itu, bahwa ia sebenarnya sudah selesai dengan bermain dram dan bahwa ia juga sebenarnya sudah terlalu tua untuk memainkannya, namun untuk reuni itu sendiri, ia memiliki waktu delapan bulan untuk berlatih. “Tapi teman-teman saya ini begitu bersemangat dan saya rasa [mempersiapkan reuni] ini akan menarik,” Reni menambahkan.

Reni adalah personil pertama yang hengkang dari The Stone Roses setelah dirilisnya album Second Coming. Banyak versi alasan juga mengapa Reni meninggalkan The Stone Roses, yang terlihat seperti tidak pikir panjang. Yang tampak jelas terlihat, dalam sebuah wawancara (mungkin yang terakhir) acara televisi, adalah begitu “telernya” Reni. Narkoba atau alkohol memang cenderung menghancurkan band. Saya juga tidak akan menikmati band yang berisi orang-orang teler. Parameter musisi ada pada karya, pencitraan, dan gaya hidupnya. Jika anda sudah tidak bisa lagi memberikan kontribusi positif dalam sebuah band, sebaiknya anda keluar, atau saya yang cabut.

Melihat video konferensi pers itu, saya kontan merasa terlibat dalam suasana emosional. Melihat mereka berempat duduk di depan wartawan itu terasa seperti saya, Acum, dan Dedyk untuk pertama kali berkumpul setelah kami berpisah selama lebih kurang dua tahun. Ketika kami memasuki studio untuk pertama kalinya setelah saya meninggalkan Bangkutaman, banyak senyum yang menghiasi wajah kami. Setiap lagu, punya cerita sendiri-sendiri. Itu sebabnya dalam latihan pertama itu, seringkali kami tidak sampai habis memainkan satu lagu. Karena di tengah lagu, salah satu dari kami tiba-tiba berhenti dan mengatakan hal-hal seperti, “Inget nggak bawain lagu ini di mana?” atau “Gila, dulu kok bisa bikin lagu kaya gini?” Itulah yang luar biasa dari sebuah persahabatan sejati dalam band.

Selayaknya Bangkutaman, bagi Ian, John, Mani, dan Reni, hanya dibutuhkan sebuah momentum yang cukup keras menampar untuk menyadarkan mereka. Momentum itu terjadi ketika ibunda Mani meninggal, dan teman-temannya datang untuk berkabung di pemakaman. Di situlah mereka kembali disadarkan, bahwa persahabatan itu tidak hilang sampai salah satu dari mereka meninggal dunia.

Harus diakui, The Stone Roses bukanlah tipe band ideal. Terutama mengetahui fakta bahwa Ian Brown memang tidak bernyanyi dengan sempurna, ditambah komunikasi panggung mereka yang buruk. Rilisan mereka pun tidak banyak. Tapi patut diakui juga, karya dan pesona The Stone Roses berhasil menciptakan sebuah konsep pergerakan yang mendunia. Musik mereka menjadi inspirasi banyak band besar kelas dunia. The Stone Roses memang dulu hadir di saat yang tepat untuk menjadi fenomenal.

John Squire pernah mengatakan, “Dalam sebuah band, anda tidak cukup hanya dengan bekerja keras. Anda membutuhkan keajaiban.” Pernyataan John benar. Menurut saya, terutama di Indonesia saat ini, sudah hampir semua band yang ada itu bekerja keras. Tapi di antara banyak band yang bekerja keras itu, hanya sedikit yang bisa sampai berhasil dan sukses. Ada fakta yang harus diterima dalam karier sebuah band, bahwa hanya band tertentu saja yang bisa berhasil dan melegenda. Lalu bagaimana supaya band anda bisa sukses dan melegenda? Anda membutuhkan keajaiban. Tapi saya tidak akan begitu pusing memikirkan hal ini jika saya adalah Anda.

The Stone Roses berhasil mendapatkan keajaiban itu. Bahkan ketika mereka sedang saling membenci dan tidak bermusik bersama. Mereka adalah legenda, panutan, dan pergerakan.

Tiga harapan besar saya untuk The Stone Roses adalah, yang terpenting, mereka mengeluarkan album baru, tidak peduli bagaimana pun materinya. Kedua, mereka membuat DVD konser untuk penampilan perdana reuni mereka di Heaton Park, Manchester pada 29 dan 30 Juni 2012 nanti. Dan ketiga, mereka melakukan tur dunia hingga ke Asia Tenggara, terutama Indonesia. Ian sempat mengatakan juga pada Acum, “Jika saya tahu ternyata banyak yang menyukai The Stone Roses di sini (Indonesia), saya sudah datang ke sini dari dulu.” Setidaknya, mulailah berharap. Long live The Stone Roses.

 

---------------------------

* oleh J. Irwin, gitaris Bangkutaman

Last modified on: 22 Januari 2015

    Baca Juga

  • Dicari: Pemilik Politik di Ruang Publik


    Batas nyata antara ruang publik dunia nyata dan dunia maya bisa dibilang semakin buram dari hari ke hari. Pada awalnya, media sosial tidak dianggap sebagai ruang publik karena penggunanya belum…

     

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Goodnight Electric dalam "The Electronic Renaissance"


    Semenjak terbentuknya Goodnight Electric tahun 2014, mereka sudah menghasilkan 2 album penuh, 7 album kompilasi dan beberapa single dalam rilisan digital serta piringan hitam. Sempat mengalami fase hibernasi di tahun…

     

  • FisikaMatematika Rilis Album Perdana "PROPERTIES DEMENTIA"


    Diprakarsai oleh duo elektron dari Jakarta, Indonesia, FISIKAMATEMATIKA menata tatanan nada dan urutan lagu menjadi album PROPERTIES DEMENTIA yang dapat didengar sebagai kombinasi dari sisi lain genre rock alternatif dan…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni