(4 votes)
(4 votes)
Read 3471 times | Diposting pada

Refleksi Visual Sang Metalhead

Personil Djiwo: Fancy Burn & Shiva Ratriarkha Personil Djiwo: Fancy Burn & Shiva Ratriarkha Kredit foto oleh I Gede Adhiputra

 

Kesan awal sebelum menonton film ini yang terbentuk seolah ingin menyuguhkan aksi panggung Djiwo, grup asal Solo yang konon disebut sebagai “The Javenese Black Metal”- atau ‘rockumentary’ (dokumenter tentang musik rock). Ternyata film yang semula dirancang sebagai proses kreatif dan panduan memahami makna lagu album Djiwo bertajuk “Cakra Bhirawa” ini (a guide to Djiwo’s) malah menghantar penonton ke pusparagam naratif visual sebagai latar pesan 6 trek lagu album ini (Cakra Bhirawa, Adam, Asman, Aystam, Ardum, dan Anuhtiam).

Konsep album musiknya sendiri mencoba meramu black metal dengan spiritual kejawen. Dengan judul yang erat dengan khasanah Jawa-Hindu-Budha-Tantra barangkali ini salah satu album musik rock konseptual Indonesia pada 2014-2015, setelah sebelumnya publik peminat musik rock kita kebanyakan disuguhkan pada formula tak jauh beda dari negara asalnya, Eropa, tempat bersemainya ragam varian rock: metal, thrash, deathmetal, grindcore, sampai progresif.

Konon ide awal bermula dari kerikuhan Djiwo dalam bermusik metal yang cenderung identik dengan vampir, legenda Dewa Thor, Werewolf atau zombie. “Itu sudah jelas tidak ada di Indonesia,” ungkap Djiwo. Berawal dari pemikiran tersebut, maka ia mencoba menggali sendiri khasanah spiritual Jawa yang terwujud dalam lirik dan konsep lagu albumnya, sementara Djiwo kerap tampil dengan dandanan ala gothic jika konser, sebagai gimmick mereka yang sedikit kilas balik, dalam sejarah musik rock Indonesia, mengingatkan kita pada, sebutlah Alukard (plesetan dari “Drakula”) grup rock Semarang era akhir 1980-an, epigon Black Sabbath/King Diamond asal Inggris yang sangat kentara mengusung tema vampir sebagai simbol, Kuburan (yang bukan grup rock tapi berdandan ala Kiss), atau bertopeng ala Slipknot.

Tiap bab yang misalnya bagian untuk menjelaskan lagu “Ardum” yang artinya tarian, dibuka dengan mantra berbahasa Jawa yang kira-kira artinya penolak bala-bagian dari literatur kuno Kalacakra. Dan film ini kemudian penuh narasi panjang yang secara implisit berhubungan dengan kehidupan manusia. Misalnya, “Cakra Bhirawa” bermakna lingkaran roda kehidupan, waktu atau dharma (Cakra) dan sesuatu yang besar (Bhirawa) yang digabungkan dan dimaknai secara reflektif oleh Djiwo sebagai elemen hidup manusia yang selalu berputar. Oleh karenanya, lagu “Cakra Bhirawa” di album musiknya diletakkan di trek pertama sebagai petunjuk lima poros kehidupan duniawi yang bersinar redup sampai terang. Selanjutnya lima poros kehidupan duniawi tersebut dijelaskan satu persatu di bagian film yang juga merupakan lagu dari judul Adam, Asman, Aystam,Ardum, dan Anuhtiam.

Sutradara kemudian menerjemahkan secara visual narasi yang diucapkan Shiva vokalis Djiwo lewat footage bersatu padu, silih berganti dengan ilustrasi gothic-horror karya Usman. Uniknya, gambaran visual sutradara dalam film ini perlahan menjadi semacam karya baru yang akhirnya dapat dimaknai sebagai tak hanya menjelaskan makna dan proses kreatif penciptaan lagu Djiwo, melainkan juga menjadi karya mandiri yang kini kondang disebut pengamat budaya populer sebagai “video art”.

Menonton film sepanjang 43 menit ini jadi sarat makna, lantaran Djiwo tak sekedar menjumput khasanah sastra Jawa kuno sebagai tamasya eksplorasi-inspirasi roh lagu-lagunya,melainkan juga merefleksikan secara kontekstual segala renik kehidupan yang diamatinya. Ada bagian dalam film ini secara tersirat ia mengkritik tentang fanatisme orang terhadap agama sehingga menyingkirkan sesuatu di luar agamanya sebagai hal buruk. Dan, ini cukup menarik karena Djiwo tak sekedar menjadi saksi, melainkan juga menawarkan upaya kritis dari musik rock, sub genre deathmetal Indonesia.

Seolah menyerukan adagium filosof kondang di masa pencerahan, Rene Descartes yaitu “Sapere Aude” (berani berpikir sendiri) sehingga makna film ini tak terjebak menjadi sesuatu yang seolah menggurui atau bermaksud mengatakan hal yang ini baik dan buruk, lazimnya lagu rock Indonesia kebanyakan. Djiwo menawarkan dirinya sebagai saksi roda kehidupan atau yang dimaksud  dalam pengertian “Cakra Bhirawa” tadi. 

Kehadiran Djiwo dengan ideologi Kejawennya memberi warna baru dalam sejarah rock Indonesia setelah sebelumnya di era 1990-an ada Ombat “Tengkorak” yang kondang dengan ideologinya “metal satu jari” : ideologi Islam yang kental dalam setiap lirik-liriknya, mengecam Zionisme, sebagai bentuk perlawanannya terhadap lagu metal lain yang cenderung tema anti Tuhan, satanic, dan kebebasan dengan lirik-lirik lagu sumber dari syir’ah nabawi, Al Quran, dan hadis.

Memang semula film format DVD ini masih termaktub satu paket dalam rilisan fisik album Djiwo, sehingga bisa disebut sebagai karya kolaborasi musik dan video dengan bahasa visual lincah terjaga. Kendati dapat dinikmati secara terpisah, sayangnya, di pertengahan menjadi rada menjemukan karena tak diiringi dengan secuplik masing-masing lagu dari album lagunya sendiri yang menghentak meski rata-rata sudah berhasil setidaknya menerjemahkan secara simbolis lagu Djiwo.

Secara konsep, ini adalah ragam eksperimental yang layak dicatat sebagai kemajuan berarti apalagi sutradara Edmond mengaku menghindari karya kolaborasi musik dan film yang pernah ada, misalnya footageBehind The Screen/Song” yang lazim di tiap film musik, dokumenter rock (rockumentary a.la ‘Metamorfoblus’, film tentang fans Slank, 2009, “Some Kind of Monsters” Metallica,2004) atau gabungan footage konser dan film cerita ala “Kantata Takwa” Gotot Prakosa, 2008 atau “The Song Remains The Same”, Led Zeppelin, 1978.

Ideologi Budaya Urban

Djiwo mencoba menafsirkan akar budayanya sendiri yaitu Kejawen dari sosok yang getol dengan budaya urban (rock), setelah menemukan cara sendiri memainkan musik metal sebagai simbol perlawanan dan estetik yang di sini (bahkan dunia, masih) dianggap budaya kitsch. Begitu juga Edmond sebagai anak muda Jakarta berdarah Manado yang menemukan caranya lewat film, walau –tentu saja– semula mengaku kesulitan berhadapan dengan konsep Kejawennya Djiwo. 

Ini menarik, jika menilik proses kreatif Djiwo dari seni lain, misalnya sastra Indonesia modern, agak mirip dengan proses kreatif Seno Gumira Adjidarma (SGA). Di awal kemunculannya era 1980-an SGA muncul di media massa dengan cerpen latar belakang budaya metropolitan (Manusia Kamar, Grrrh!, atau Penembak Misterius). Lama kelamaan di pertengahan 1990-an SGA yang masih kerja dan kuliah di Jakarta tampak mempelajari sekaligus mencari-cari akar budayanya sendiri yang berdarah Jawa dari pengalamannya direkrut ke majalah budaya “Zaman” (salah satu cikal bakal “Tempo”) dan bersahabat dengan sastrawan senior Danarto yang kental sekali budaya Jawanya. Hasil pergumulan SGA tampak dalam novelnya “Kitab Omong Kosong” dan “Wisanggeni”.

Sedangkan Djiwo, putra Solo, mendengar-memainkan musik deathmetal yang notabene dari Barat-hasil pergaulan dengan pecinta musik rock sejak 1995 –-tatkala memang budaya pop era 1990-an yang paling deras kala itu adalah rock– Djiwo kemudian mencari akarnya di Kejawen-musik metal, sedangkan SGA di sastra Indonesia yang dijumput dari legenda wayang.

Edmond sebagai pembuat film menciptakan istilah sendiri untuk spesialisasinya yaitu “videorockers” atau dapat diartikan sebagai pembuat film/video tentang musik rock. Konon, ide ini muncul selain karena berasal dari hobi mendengarkan musik rock/ metal juga kegelisahannya setelah terlibat di pelbagai proses produksi film layar lebar sebagai cameramen dan editor. Membuat film buatnya dulu adalah profit dan profit, dan kini saatnya  Edmond mengeluarkan ideologinya sebagai “videorockers”, setelah sebelumnya pria gemar bertopi ini membuat dokumenter rock “Superglad Rock Together” (2012) dan Rock in Solo 2011.

Ada perkembangan fenomena budaya urban di sini yang menarik dicermati. Kalau dalam sejarah musik rock Indonesia sendiri sejak akhir 1960, 1970-an (yang salah satunya dihembuskan majalah “Aktuil”) dan 1980-an, musisi rock Indonesia cenderung “bangga”disebut insan pers (bahkan dirinya sendiri) sebagai epigon rock Barat, sedangkan sejak era 1990-an akhir sampai kini budaya urban yang digerakkan anak-anak muda kelahiran 1970 dan 1980-an berusaha keras mencari bentuk sendiri yang (jika mampu) bukan lagi sebagai epigon, melainkan ideologi –yang salah satunya menghasilkan skena underground yang (celakanya-kala itu-apapun musik yang dikerjakan independen biaya terbatas-swadaya-semuanya) sempat dimaknai dan diartikan salah kaprah sebagai semuanya adalah musik metal!

Ini contoh budaya urban yang digerakkan anak-anak muda kelahiran 1970 dan 1980-sebagai generasi yang bosan jadi konsumen, berontak dari kenyataan pasar-meneruskan apa yang sudah difilmkan antropolog Sam Dunn dalam film dokumenternya, “Metal Global” (2007) dengan isinya memaparkan fenomena metal di berbagai negara selain di Eropa, termasuk Indonesia: Ombat Tengkorak “Metal 1 Jari”.

Sedangkan lambat laun “para generasi bosan” itu muncul; Burgerkill asal Bandung yang barusan tampil di festival metal bergengsi Wacken Open Air (Jerman) dan Bloodstock Open Air di Inggris, 2015, grup deaththrash metal Kerangkenk asal Jakarta yang albumnya diapresiasi di Amerika, Imanissimo (rock-progresif) dan Gribs (hard rock) yang punya penggemar di Jepang, rock-progresif grup Yogya I Know You Well Miss Clara merilis debut albumnya pada 2013 di Amerika lewat label MoonJune Records, yang sebentar lagi diikuti (bukan musisi rock!) Dewa Budjana, setelah pada 2014 ada pula Tesla Manaf (yang juga bukan rock!), juga di label serupa (MoonJune)-sampai Djiwo “The Javanese Black Metal” ini.

Tampaknya geliat perkembangan musik rock Indonesia –terutama secara sempit di skena metal dan progresif– terbukti sudah mampu melewati fase simulacra (meminjam istilah ahli cultural studies Baudrillard) menjadi hiperealitas dengan ideologinya sendiri yang pernah juga disebut ekonom Frances Cairncross lewat bukunya “The Death of Distance” (1997) sudah menembus batas, ruang, wilayah bahkan waktu.

***

Judul: Pamurba Yatmaka Cakra Bhirawa, a guide to Djiwo’s Cakra Bhirawa album
Pemeran/konseptor: Djiwo, The Javanese Black Metal
Desain Grafis: Usman Kalabintalu Blakk Art/I Gede Adiputra
Sutradara: Kamerad Edmond (Edmond Waworuntu)
Produksi: The Anarcho Brothers,2015
Durasi: 43 menit

Last modified on: 3 September 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni