(0 votes)
(0 votes)
Read 3150 times | Diposting pada

Nirwana Biru di Timur Kalimantan

Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat.


Sebelum mencapai muara, kami bahkan melihat sekelompok kera bekantan yang berhidung panjang sedang beristirahat di pepohonan di dekat sungai. Seekor bekantan jantan besar—mungkin kepala sukunya–dengan waspada mengawasi kapal kami yang melambat.

Mendekati mulut sungai, air coklat pelan-pelan berubah menjadi bening kebiruan, kami masuk ke kawasan kepulauan Derawan. Selain eksotisme namanya, kepulauan ini terkenal di dunia karena diberkati terumbu karang yang sangat indah dan kaya. Menurut hasil penelitian, kawasan ini punya 460 spesies terumbu karang dan 870 spesies ikan. Jumlah yang sangat tinggi, dan hanya dikalahkan oleh Raja Ampat di Papua.

Salah satu "keajaiban" danau yang ada di Pulau Kakaban adalah ribuan ubur-ubur tanpa sengat yang berenang tenang di sekeliling kita yang sedang snorkeling.

Manta raksasa, penyu, lumba-lumba, barakuda dan kuda laut pigmi hanyalah sebagian kecil penduduk bawah laut di Derawan. Berkah alam yang berlimpah ini ringkih kalau tidak dijaga dengan baik. Karena itu, bekerja sama dengan pemerintah dan penduduk lokal, The Nature Conservancy (TNC) dan WWF, dua LSM penggiat konservasi menjadikan Derawan sebagai salah satu daerah tempat mereka melakukan kegiatan konservasi.

Pulau purba

Kapal kami merapat di Pulau Kakaban, salah satu pulau di gugusan Derawan. Cagar alam ini diperkirakan terbentuk di ribuan tahun lalu ketika tanah terangkat sehingga air laut terjebak di tengah pulau. Setelah mendaki tangga kayu menembus hutan tipis yang tumbuh di atas karang, dari balik dedaunan tampak badan air yang luas, biru dan hening. Inilah Danau Kakaban.

Pantulan gerombolan awan tipis di permukaan danau yang tenang semakin memperkuat keheningan danau ini. Di tengah keheningan, di dalam airnya tampak berdenyut-denyut ribuan mungkin jutaan ubur-ubur berwarna kekuning-kuningan. Kombinasi hening, belantara hijau, air yang tenang dan langit yang biru, membuat aku merasa berada di sebuah dunia antah barantah.

Begitu mencebur ke dalam airnya yang bernuansa hijau, dunia unik ini semakin ajaib. Saya dikelilingi ribuan makhluk setengah lingkaran berwana kuning yang berenang ke segala arah. Syukurnya, ubur-ubur ini tidak punya sengat lagi, Ada yang memperkirakan, karena ribuan tahun tidak ada predator, ubur-ubur ini telah berevolusi menjadi stingless (tanpa sengat).

Ini ubur-ubur yang berukuran kecil, yang besar bisa sebesar telapak tangan

Penyu yang Setia

Dalam perjalanan ini kami singgah di Payung-Payung, sebuah desa nelayan yang permai di Pulau Maratua. Sebuah pemandangan yang luar biasa melihat banyak penyu hijau dengan santai menikmati santapan rumput laut di pantai dangkal tepat di depan desa ini. Masyarakat disini sudah mafhum bahwa penyu adalah hewan yang dilindungi dan tidak boleh diburu atau diambil telurnya.

Kami kemudian pindah ke pulau lain, Sangalaki. Di sini terdapat Stasiun Monitoring Penyu yang dikelola antara lain oleh pemerintah, masyarakat, TNC dan WWF. Derawan adalah tempat bertelur terbesar bagi penyu di Asia Tenggara. Saban malam selalu ada penyu betina yang mendarat untuk bertelur. Di Sangalaki saja setidaknya tercatat 350 ribu telur setiap tahunnya. Telur ditimbun dalam pasir, setelah beberapa hari telur akan menetas sendiri dan tukik (bayi penyu) lari ke laut untuk memulai hidupnya di alam bebas. Walau angkanya tinggi, yang kemudian berhasil menetas dan menjadi penyu dewasa hanya beberapa persen saja.

Uniknya, penyu punya kebiasaan untuk setia kembali bertelur di tempat dia ditetaskan, selama di tempat itu dia tidak diganggu. Perburuan penyu dan telurnya untuk konsumsi dan hiasan adalah tantangan bagi kelestarian reptil laut ini.

Taman Bawah Laut

Masih di kawasan Sangalaki, kami mencebur untuk menikmati keindahan bawah laut Derawan. Tempat kami snorkeling dikenal dengan sebutan Coral Garden. Sesuai namanya, pemandangan bawah lautnya benar-benar seperti taman bunga, tapi kuntum bunganya adalah terumbu karang yang aneka warna. Kumbang dan burungnya adalah ikan besar kecil yang berseliweran dengan tenang. Sebuah dunia indah bawah laut membuat semua rombongan tahan berlama-lama di dalam air.

Selain indah, terumbu karang adalah kunci keragaman hayati laut karena fungsinya sebagai tempat berkembang biaknya ikan. Sayangnya, terumbu karang kerap terancam oleh perilaku merusak seperti penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun. Sekali dibom, terumbu akan rusak dan butuh sampai belasan tahun untuk kembali tumbuh. Akibatnya, tempat ikan berbiak dan mencari makan hancur. Seiring dengan itu, populasi ikan turun dan nelayan semakin sulit mendapatkan ikan.

Solusi yang ditawarkan 2 NGO konservasi ini adalah mengembangkan marine protected area atau kawasan perlindungan laut. Mereka bersama masyarakat dan pemerintah menetapkan zona laut untuk menangkap ikan dan yang zona yang tidak boleh diganggu karena diperuntukkan bagi pembiakan ikan. Secara alami, ikan yang berbiak di zona larang akan menyebar ke zona tangkap. Analoginya seperti menabung di bank, ikan di zona larangan adalah tabungan, dan ikan di zona tangkap adalah bunga tabungan. Sekali tabungan dikuras, maka tidak akan ada lagi hasil investasi yang bisa dipetik. Upaya menabung di alam inilah yang bisa terus menjaga penyu, lumba-lumba, manta raksasa, barakuda dan ratusan jenis ikan lainnya tetap lestari nirwana biru Derawan ini.

*tulisan ini bisa dibaca juga di majalah Nebula dan di blog pribadi penulis

Last modified on: 5 Juni 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni