(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3109 times | Diposting pada
Kolom Opini

Menjadi Bocah Milkbar Milenial Ketiga

Menjadi Bocah Milkbar Milenial Ketiga Sumber Ilustrasi: Getty Images

 

Menjelang dekade ’60, Amerika dilanda wabah milkbar atau kebiasaan mendengarkan musik via jukebox sebagai bentuk perlawanan anak muda terhadap musik yang semakin mahal. Meski demikian, hal ini membuat produsen musik semakin mudah memetakan pasar mereka sehingga mereka dapat menciptakan musik populer dengan mudah sehingga kegiatan reproduksi mekanik pun semakin menjamur. Hal ini lantas terulang kembali di tahun 2016 lewat semakin bertambahnya musik yang diproduksi lewat media daring komersial.


Beberapa waktu lalu, saya menyodorkan pertanyaan kepada seorang teman di Komunitas Musik Fikom (KMF) Unpad perihal musik apa yang mereka dengarkan dalam beberapa pekan terakhir. Secara sederhana, ia lantas menjawab pertanyaan saya dengan satu kata saja; random. Hal ini lantas diteruskannya dengan menjawab bahwa playlist yang ada di dalam pikirannya ditentukan oleh Spotify. Mendengar jawaban rekan saya tersebut, pikiran saya lantas menarik satu kesimpulan yang menyedihkan; “Bahkan mau dengar musik saja harus menurut pemilik modal!

Menjadi pendengar Spotify sebenarnya bukanlah hal asing bagi kami. Kenyataannya, semenjak merilis produk berupa aplikasinya di Indonesia, pengguna Spotify Unlimited kian bertambah setiap harinya dan lebih jauhnya lagi hingga Agustus 2016 tercatat 39 juta pengguna berbayar atau dua kali lipat dari pengguna Apple Music sehingga bukanlah hal yang asing apabila satu atau setidaknya sepuluh orang di tempat kuliah saya masuk ke dalam salah satu dari angka-angka tersebut.

Meski demikian, hal ini justru menunjukkan bahwa secara prosesnya, mendengarkan musik bukanlah prosesi sesakral era Yess Records di dekade 70-an, musik warnet di era ’00, atau bahkan musik baroque di abad ke-18. Mendengarkan musik saat ini hanya sebatas aplikasi dan lucunya lagi, proses apresiasi bukan lagi seperti yang ditunjukkan dalam film klasik layaknya Almost Famous (2000, Cameron Crowe). Apresiasi musik hanya terjadi sebatas pembayaran via ATM, itupun hanya mencakup ‘sewa’ lagu seharga US$ 0,006 saja; harga yang mungkin setara dengan kacang goreng apabila dijual ketengan.

Standardisasi Musik Daring

Mendengar kontestasi musik dalam jaringan, tentu saja kita tak bisa lepas dari beragam aplikasi yang ada di dalamnya tak terkecuali Spotify, aplikasi asal Swedia yang kini justru merajai ranah musik daring yang dikomersilkan. Didirikan oleh Daniel Ek, hingga saat ini aplikasi berbayar ini mampu menghasilkan £1,95 triliun atau sekitar Rp1.500 triliun rupiah. 

Pada awalnya, aplikasi ini hanya disediakan di Swedia hingga kemudian mulai dirilis di Amerika pada tahun 2011. Sebagai negara dengan kelas menengah terbanyak, Indonesia pun tak mau ketinggalan untuk mendapatkan rilisan produk ini. Menjelang Maret 2016, Spotify pun akhirnya merilis produknya di negara ini. Lengkap dengan produk unlimited yang kemudian membuat jumlah penggunanya meroket hingga 2 kali lipat dari bulan sebelumnya yakni 20 juta pengguna berbayar.

Mengingat hal tersebut, tentu saja kita tak bisa melepaskan diri dari kualitas musik yang dihasilkan dari aplikasi yang dalam deskripsinya menaungi hak cipta tersebut. Dalam hal ini, musik yang ditawarkan oleh Spotify sendiri terdiri dari lima kriteria yang mencakup Niche Indie Album (Album Indie Pendatang Baru), Classic Rock Album (Discography band rock lawas), Breakthrough Indie Album (Album Indie Fenomenal), Spotify Top 10 Album, dan Global Hit Album.

Dalam hal tersebut, Spotify telah menciptakan standardisasi terhadap musik; hal yang sama pun dilakukan oleh aplikasi musik lainnya seperti Joox ataupun Deezer. Meski terbilang lebih terbuka soal musik indie dibandingkan kedua aplikasi tersebut, Spotify tidak memberikan sarana dialog kebudayaan sehingga tak ada kontrak sama sekali yang menyangkut kesepahaman antara produsen dengan pihak konsumen. Dalam konteks ini, dialog kebudayaan dapat terjadi dalam bentuk komentar dari kritikus, liner notes, atau berupa lyrics sheet yang ditulis langsung oleh musisi; hal yang tidak terdapat dalam ranah musik dalam jaringan.

Jukebox Milenial

Peristiwa Spotify dan aplikasi musik daring lainnya mengingatkan saya pada periode jukebox yang muncul pada tahun 1960-an. Fenomena yang disebut Hoggart sebagai era Milkbar ini banyak mendapat tanggapan nyinyir, terutama bagi para pengkritisi budaya populer. Hoggart dalam bukunya, The Uses of Literacy (1958) menjelaskan betapa menjijikannya pemuda-pemuda milkbar yang dijadikannya sebagai salah satu identitas modernitas. 

Hoggart mendefinisikan milkbar sebagai sebuah fenomena di mana para pemuda kelas menengah berusia lima belas hingga dua puluh tahun datang dengan sekeping uang receh untuk memesan secangkir teh ataupun segelas susu dan kemudian duduk selama satu atau dua jam. Selain itu, mereka juga menyediakan uang koin untuk dimasukkan ke dalam sebuah jukebox dan memutar lagu yang secara rutin diganti oleh perusahaan penyedia jukebox dalam kurun waktu satu atau dua minggu.

Dalam konteks ini, khalayak pendengar ditempatkan dalam kondisi pasif. Mereka tidak mengetahui apa yang ada dalam musik tersebut ataupun konteks apa yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa ada ketidaksetaraan antara pihak produsen dengan konsumennya sehingga timbul proses “pemaksaan” yang dilakukan oleh pemilik modal. Meminjam argument Barker dalam esainya tentang komik, mengkaji satu pihak tanpa melakukannya pada pihak lain sama halnya seperti mendengarkan telepon tanpa memerhatikan peran orang lain di dalamnya, dan hal itulah yang justru terjadi pada jejaring musik daring.

Menyangkut dialog kebudayaan, budayawan Umar Kayam menjelaskan betapa pentingnya peran proses tersebut dalam apresiasi musik. Kayam dalam bukunya Adat, Kesenian, dan Tradisi Masyarakat Jawa menjelaskan bahwa dialog kebudayaan mampu membuat orang bisa tahu hal apa yang tengah ia apresiasi. Kayam mencontohkan ketika seorang rekannya datang ke rumahnya, ia menganggap lukisan Popo Iskandar adalah lukisan yang jelek dan tak layak untuk diapresiasi. Hal ini menurut Kayam terjadi karena pada saat itu orang tersebut tidak mengetahui bagaimana pelukis alumnus ITB tersebut memiliki karakteristik yang khas terutama dalam pandangannya mengenai modernitas sehingga rekannya ‘gagal paham’ saat diharuskan untuk mengapresiasi lukisan tersebut.

Hal yang sama terjadi dalam kontestasi musik daring terutama Spotify yang menurut saya pribadi telah memberikan pencerahan dalam pemasaran dan memudahkan hak cipta bagi musisi independen yang low budget. Sebagai ruang publik baru, musisi dan pihak penyedia layanan harus lebih proaktif dalam memberikan transparansi karyanya sebelum disodorkan kepada pendengar. Hal ini bisa diaplikasikan lewat pemanfaatan dengan medium lain seperti rilisan fisik atau setidaknya liner notes yang dikemas dalam bentuk menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat seperti zine “Di Udara” yang dulu diproduksi oleh fans Efek Rumah Kaca, fanzine yang tersebar di kalangan pecinta musik hardcore/punk, atau bahkan penyebaran lewat cara manual seperti pemanfaatan ruang publik dalam bentuk konser atau kopi darat bersama pendengarnya.

Meski zaman telah bergerak dalam modernitas, namun bukan berarti musisi atau produsen bebas memperlakukan pendengarnya selayaknya anak-anak seperti apa yang dikatakan oleh Adorno. Musisi dan produsen musik harus bekerja sama mendewasakan para pendengarnya sehingga dapat tercipta ruang kreatif yang terbuka lebar tanpa ada elitisme dari golongan tertentu, bukan membiarkan fenomena jukebox terulang kembali di era milenial ketiga ini. [ ]

 

DAFTAR PUSTAKA

Adono, Theodor. 1991. The Culture Industry. London: Routledge
Barker, Martins. 1989. Comics: Ideology, Power and The Critics. Manchester: Manchester University Press
Hoggart, Richard. 1958. The Uses of Literacy, Harmondsworth: Penguin
Strinati, Dominic. 1995. Popular Culture: An Introduction Theories. London: Rooutledge
Number of Paying Spotify Subscribers 2010 to 2016 diakses pada 28 Oktober 2016
Spotify Explained diakses pada 28 Oktober 2016

Last modified on: 17 Januari 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni