(29 votes)
(29 votes)
Read 73916 times | Diposting pada

Memperkosa Tanpa Penis

Herman Makkink, dengan patung buatannya untuk film A Clockwork Orange Herman Makkink, dengan patung buatannya untuk film A Clockwork Orange telegraph.co.uk

 

Penis hanyalah alat. Ia bisa untuk kencing, untuk reproduksi, untuk kawan ketika kesepian, untuk lomba jauh-jauhan pipis, atau untuk pertandingan masturbasi. Seperti agama, penis boleh dibangga-banggakan tapi tidak semestinya dilambaikan di muka umum, apalagi dipaksakan ke untuk ditelan anak kecil. Seperti alat-alat lainnya, penis tak punya kekhususan fungsi: hanya aturan biologi dan sosial tentang bagaimana cara menggunakannya.

Jadi saya heran ketika membaca berita soal hukuman kebiri untuk pemerkosa anak yang sedang digodok para menteri rezim ini, yang melihat penis sebagai alat perkosaan terhadap anak. Kebiri baik fisik ataupun kimia, tidak menghentikan orang untuk memperkosa, karena perkosaan bukanlah penyakit fisik. Begitupun pedofilia. Pedofilia adalah kecenderungan orientasi seksual terhadap orang yang belum dewasa dan mereka yang (semestinya) masih di bawah tanggung jawab orang tuanya. Ini adalah kelainan, bukan kejahatan. Ia tidak bisa ‘disembuhkan’ oleh kastrasi, seperti Van Gogh tidak bisa menyembuhkan Schitzophrenia-nya dengan memotong telinganya sendiri. Kejahatan hadir karena masalah sosial-ekonomi, bukan karena kelainan. Sementara kelainan atau kegilaan tempatnya bukan di penjara tapi di Rumah Sakit Jiwa. Orang sakit bukan penjahat, walaupun tindakan karena sakitnya menyerupai kejahatan. Maka tempat Pedofil bukan di penjara, tapi di pusat rehabilitasi.

Mungkin pemahaman bahwa pedofil itu orang sakit jiwa terlalu tinggi untuk para pejabat kita. Kalau begitu, demi argumentasi mari asumsikan bahwa mereka kriminal seperti pemerkosa biasa. Dalam konteks ini pun, kastrasi juga sesuatu yang SALAH BESAR. Memotong penis pemerkosa sama seperti mengambil pistol atau pisau dari seorang pembunuh. Mereka tetap bisa memperkosa dengan tangan, batu, tongkat, batangan besi dan macam-macam alat lain yang jelas lebih keras dan lebih besar dari penis mereka. Lagipula, di masa ini perkosaan adalah sebuah tindakan politik kuasa, bukan cuma masalah kebutuhan seksual. Coba diselidiki kasus per kasus, berapa lama penetrasi penis ke tubuh korban dalam perkosaan. Saya yakin tidak lama. Yang lama adalah penyiksaan dan pelecehan sebagai bagian dari pemerkosaan itu, dimana kesemuanya tidak menggunakan penis.

Lalu bagaimana kalau perkosaannya dilakukan perempuan yang notabene tidak punya penis? Banyak kasus, misalnya, perempuan yang memperkosa anak lelaki di bawah umur. Cara memperkosanya dengan memaksa korbannya untuk ereksi dengan segala cara. Salah satu kasus sadis yang saya tahu adalah mengurung dan memberikan si lelaki makan viagra setiap hari sehingga ia selalu ereksi. Lagi-lagi, itu perkosaan, tanpa penis. Kastrasi semacam apa yang dimungkinkan? Kastrasi klitoris? Apa kastrasi klitoris juga menjamin ia tidak mengulangi perbuatannya?

Jelas tidak. Alat kelamin bukanlah sebab pemerkosaan. Menteri Khofifah bilang bahwa alat kelamin dikebiri untuk mengendalikan libido (rangsangan seksual). Masalahnya rangsangan seksual bukan berasal dari kelamin, tapi dari pikiran. Libido atau hasrat seksual bukan hanya untuk melakukan hubungan seks, tapi juga untuk punya semangat hidup sehari-hari. Dalam ilmu Psikoanalisis, libido adalah hasrat utama yang menjadi energi kehidupan. Bapak Psikoanalisis Sigmund Freud, membagi psikologi manusia menjadi Id (hasrat), Ego (diri yang bertindak) dan Superego (Aturan). Pada pengembangannya, psikonalis Jacque Lacan menemukan bahwa Id dan Superego dikendalikan oleh energi yang sama: libido, hasrat seksual. Hasrat dan aturan adalah dua sisi mata uang yang sama.

Hasrat yang digunakan untuk ‘menginginkan’ suatu objek, bisa dikekang oleh hasrat untuk ‘mengontrol perilaku sosial’ yang ditanamkan melalui pendidikan dan pengalaman. Pemerkosa adalah orang-orang yang gagal untuk ‘mengontrol’ perilaku sosial ini bukan karena libidonya terlalu besar, tapi karena pikirannya tak cukup kreatif untuk menyalurkan energi tersebut ke tempat lain, di sisi lain bisa sangat kreatif ketika merencanakan pemerkosaan.

Si pemerkosa memilih korbannya dengan teliti dan tidak sembarangan. Pemerkosaan tidaklah dilakukan secara acak, pemerkosa punya selera dan modus operandi. Secara spesifik, seorang pemerkosa memilih target tergantung seleranya dan pengalaman hidupnya. Sampai ke tahap pemilihan target, logika pemerkosa sama seperti orang normal yang punya selera sendiri-sendiri. Di sisi lain, pedofilia, seperti juga karakteristik orientasi seksual yang lain, dimulai dengan pengalaman atau trauma. Si pelaku bisa jadi korban perkosaan anak juga, atau ia tidak punya masa kecil yang bahagia sehingga ia merindukan itu dari anak-anak. Bisa juga terbalik: masa kecilnya begitu bahagia dan masa dewasa begitu mengecewakan, sehingga ia cenderung ingin melampiaskan itu pada anak-anak.

Modus operandinya sama seperti banyak pemerkosa lain: korban dipancing, dimanipulasi, dijebak, dan dilecehkan. Penetrasi adalah tahap final sebuah pemerkosaan tapi bukan tujuan pemerkosaan. Libido yang ingin dipuaskan adalah libido untuk menguasai, untuk mendominasi, bukan hanya untuk penetrasi. Artinya yang harus dikontrol dan dikendalikan adalah hasrat di pikirannya, bukan kelaminnya. Karena pemerkosaan adalah ‘cara untuk memuaskan hasrat,’ dan bukan hasrat itu sendiri. Selama si pemerkosa tidak menemukan ‘cara’ lain, maka perkosaan akan terus ia lanjutkan sebagai kejahatan kambuhan.

Mengebiri fisik sama dengan amputasi, ia permanen dan bisa meninggalkan luka psikologi lebih besar. Bayangkan tindakan perkosaan semacam apa yang bisa dilakukan seseorang dengan trauma yang berlipat ganda: awalnya ia memperkosa karena butuh eksistensi dan kuasa, nantinya ia bisa memperkosa sebagai efek samping depresi kehilangan organ tubuh. Lain lagi jika kebiri dilakukan secara kimiawi. Efek samping yang dihasilkan adalah osteoporosis, peningkatan lemak darah, dan gejala-gejala yang mirip menopause pada perempuan: mood swing, insomnia, depresi, sensitif/mudah tersinggung. Ini pun tidak mengurangi libido selama otak dan syarafnya masih berfungsi baik—artinya ia bisa memperkosa lagi.

Intinya, hukuman kebiri untuk pelaku pemerkosaan anak (atau pemerkosaan pada umumnya), tidak akan menjadi solusi atau membuat efek jera. Pemerkosaan adalah kejahatan, sama seperti pembunuhan, pencurian, perampokan dan korupsi. Hukum Indonesia memang perlu direvisi, itu benar. Hukum kita sangat kuno dan tidak update—karena banyak pembuat hukumnya tidak punya kapasitas dalam membuat hukum. Dari UU Internet yang hanya berisi larangan dan bukan pengaturan, hingga KUHP yang sama sekali tidak mengatur soal bunuh diri atau menyakiti diri sendiri sebagai sebuah kejahatan yang bisa dilakukan secara waras dan sadar.

Tapi yang lebih penting dari revisi hukum dan undang-undang adalah penerapan hukumnya. Kalau dulu hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, hari ini banyak hukum yang tumpul ke atas dan ke bawah, dan hanya tajam ketika ada kepentingan pencitraan politik. Hukuman mati untuk pengedar narkoba, misalnya, adalah produk dari kepentingan pencitraan Jokowi bahwa ia “tegas.” Kalau presiden tidak melihat, hukumnya akan berpihak pada mereka yang punya uang saja.

Kita akan lebih stress lagi kalau melihat data penerapan hukum untuk pemerkosa. Pemerkosa perempuan dewasa saja hukumannya sangat ringan, maksimal 12 tahun penjara dan pada praktiknya jauh lebih sebentar atau dengan mudah melenggang bebas bahkan bisa diundang ke festival sastra internasional seandainya tidak ada yang protes. Ketika menyangkut pemerkosaan anak, kita akan lebih miris lagi. Pada kasus JIS misalnya, enam terpidana dipaksa mengaku oleh polisi dengan cara disiksa. Salah satu terpidana, Azwar, disiksa hingga meninggal dunia tanpa proses peradilan, kasusnya dianggap bunuh diri minum cairan pembersih toilet. Ketika polisi yang jadi terdakwa, kasus ini jadi mandeg.

Terlebih lagi, kasus ini penuh dengan intrik dimana pemeriksaan fisik terhadap anak-anak yang mengaku disodomi, menunjukkan bukti bahwa dubur mereka baik-baik saja—padahal orang tua mereka mengaku anaknya sampai 13 kali disodomi. Orang tua para korban juga nampak sangat mengambil keuntungan dengan menaikan tuntutan kepada JIS, dari 12.5 juta dollar, menjadi 125 juta dollar. Ini membuat para orang tua siswa yang lain jadi sangat curiga, dan malah balik mendukung para tersangka. Mereka, orang tua murid, bahkan sempat mengunjungi para tersangka di penjara untuk menyampaikan simpati.

Dalam kondisi seperti inilah, hukuman kastrasi terhadap pemerkosa anak digodok. Sementara sistem peradilan dan penerapan hukumnya kacau balau di semua lini. Wacana pemerkosaan anak ini memang menyayat hati banyak orang, khususnya orang tua. tapi jangan sampai kita kehilangan akal dan kemanusiaan, apalagi sampai menghukum orang yang tidak bersalah. Kastrasi baik fisik ataupun kimia, memiliki efek permanen. Bayangkan jika orang yang dikastrasi tersebut ternyata di kemudian hari dinyatakan tidak bersalah; kemungkinan itu besar sekali ketika kita melihat kecacatan sistem hukum kita hari ini.

Sebagai kesimpulan, pemerkosaan tidak dilakukan hanya dengan penis. Pemerkosaan juga didukung oleh pemahaman yang dangkal terhadap pemerkosaan serta penerapan hukum yang sangat-sangat buruk. Dengan atau tanpa penis, pemerkosaan terhadap anak atau dewasa tidak akan berkurang, selama produk hukumnya masih sejelek penerapannya. Kebiri adalah salah satu contoh produk hukum yang buruk. Indonesia punya cukup dokter, psikolog dan ahli kesejahteraan anak yang sudah bilang bahwa kastrasi adalah hukum yang buruk sekali. Dengarkanlah ahlinya, wahai pejabat, birokrat dan pembuat hukum!

Last modified on: 9 November 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni