(6 votes)
(6 votes)
Read 9737 times | Diposting pada

Mahasiswa dan Kerja Yang Tak Kunjung Selesai Part II: Teater, Isabella dan Awal Tragedi 98

Sejumlah Mahasiswa berunjuk rasa dengan melakukan aksi teatrikal di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/5). Aksi untuk memperingati kasus pelanggaran HAM 12 mei 1998 tersebut menuntut kepada pemerintah agar tragedi trisakti segera diselesaikan. Kredit Foto: TEMPO/Aditia Noviansyah Sejumlah Mahasiswa berunjuk rasa dengan melakukan aksi teatrikal di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/5). Aksi untuk memperingati kasus pelanggaran HAM 12 mei 1998 tersebut menuntut kepada pemerintah agar tragedi trisakti segera diselesaikan. Kredit Foto: TEMPO/Aditia Noviansyah

 

Feature oleh Bayu Adji P. & Nosa Normanda
Sambungan dari Bagian I

 

Ade, mahasiswi sembilan belas tahun, berambut panjang, tubuh semampai dan kulit eksotik, pulang kuliah jam setengah tiga sore dan kaget ketika menemukan bahwa sisa telur dadar yang dimasak tadi malam sudah hilang dari kulkas. Tadi malam ia dan pacarnya hendak bermesraan di rumah, karena papa-mama Ade sedang keluar kota untuk menghadiri pernikahan saudara jauh. Mereka sudah siap untuk malam romantis di rumah: Ade sudah beli setelan pakaian dalam baru bermotif Leopard dan menyiapkan satu pak kondom impor yang ia beli di Seven Eleven depan kampus. Sementara itu, Dimas, pacarnya yang baru pulang dari liburan di Bali, membawa jamur ajaib yang mereka sudah lama ingin coba. Mereka penasaran, seks seperti apa yang akan mereka dapatkan dalam keadaan tinggi nanti.

Tadi malam kondisi rumah sudah pas sekali. Pembantu sudah mereka suap dengan uang pulsa dan kakak lelaki Ade pasti pulang pagi —ini adalah kebiasaan lama. Ade jadi calon ibu rumah tangga yang baik beberapa jam sebelum Valentine itu. Ia sibuk di dapur, mencampur oleh-oleh Dimas dengan telur dan tirisan mie instan, lalu menggorengnya. Sementara Dimas sudah di kamar dan melepas jeans, menanggalkan celana dalam, dan memakai lagi jeansnya. ‘Biar gampang kayak di Mike’s Apartment,’ pikir Dimas. Ade datang ke kamar membawa makanan. Tapi darah muda sulit dibendung. Baru makan dua potong telur dadar, mereka langsung ‘bermain.’ Dimas segera membuka celananya dan Ade memamerkan setelan Leopardnya. Sayangnya permainan itu tidak lama. 

Pasalnya, beberapa menit setelah makan, Dimas tiba-tiba melihat bahwa yang ia ciumi dan jilati bukanlah pacarnya, tapi makhluk buruk rupa berkulit kuning totol-tolol, berambut berantakan, dan tak berbola mata. Mulut makhluk itu bertaring dan keluar darah. Dimas bersetubuh dengan manusia Macan Tutul. Sontak, Dimas berdiri, gemetar dan lari terbirit-birit keluar rumah. Celana jeansnya ketinggalan.

Juga celana dalamnya.

Sementara itu yang Ade lihat hanya pelangi-pelangi yang menari-nari di dinding kamar. Ia tidak pernah sadar Dimas pergi. Paginya, Ade bangun dengan perasaan mual. Ia menemukan kedua celana Dimas dan menyembunyikannya di lemari. Ia memakai kaos longgar, lalu ia mengambil sepiring sisa telur dadar dan turun ke lantai satu. Ia menaruh sisa makanan itu di kulkas —siapa tahu nanti malam ia bisa melihat pelangi lagi di kamar— lalu ia mandi dan pergi kuliah. Ketika pulang, makanan itu raib.   

“Mbaaak!!” Ade berteriak memanggil pembantunya, seorang remaja 16 tahun yang kemana-mana membawa smartphone dengan earphone berisi lagu pop mellow. Ade bertanya kemana telur yang ia masak. Si mbak menjawab santai, “Telornya dimakan si Kakak.”

Ade langsung menuju kamar kakaknya di lantai dua. Tanpa basa-basi ia membuka pintu kamar dan menemukan si pemuda kurus tirus hitam itu sedang menempelkan wajahnya ke layar komputer. Melihat adegan itu, Ade segera menjauhkan wajah kakaknya dari layar komputer. Tiba-tiba si Kakak muntah-muntah, lalu terlentang. Mata si kakak terbelalak lalu ia bergumam:

“Kemana lagi Soe? Kita mau nonton teater?”

‘Wah, gawat,’ pikir Ade. ‘Otak si Kakak udah DOL.’

***

Malam. Soe Hok Gie berwajah Nicolas Saputra dan pemuda kurus tirus berdiri di depan sebuah gedung teater. Di tempat tiketing tertulis judul, “Rumah Pinggiran.”i Di situ juga tertulis pementasan dimulai pukul 19.30. Sementara itu jam dinding yang terlihat dari luar tempat tiketing menunjukan pukul delapan lebih sepuluh. Ratusan orang penonton berdiri menunggu di depan depan pintu masuk. Wajah mereka nampak resah namun tidak ada satupun yang terlihat marah atau kecewa. Mereka menunggu dengan sabar dan agak tegang.

Soe membawa si pemuda masuk ke dalam ruang pertunjukan. Mereka melewati bangku-bangku kosong, lalu naik ke panggung yang sudah tertata rapih, dengan setting sebuah ruang tamu lengkap dengan furniture dan sebuah kulkas. Dari samping panggung mereka menuju ke belakang, dimana para aktor dan kru pementasan nampak duduk sambil merokok dan mengopi. Para aktor sudah memakai kostum dan make up, siap untuk tampil. Tak banyak dari mereka yang bicara. Seperti penonton, mereka juga menunggu dengan khawatir.

“Jam berapa sekarang?” tanya seorang aktor yang memakai topi dan jubah panjang. Rambutnya panjang bergelombang, kulitnya gelap dan ia berkumis. Umurnya sekitar 23 tahun. 

“Jam delapan lebih sepuluh, Yud.” kata aktor lain, yang berpakaian kemeja lusuh dan seumuran dengannya.

Seorang kru, lelaki berumur awal 20-an nampak panik. “Lama amat sih,” gumamnya. Tidak ada yang menanggapi. Percuma, yang mereka bisa lakukan hanya menunggu.

“Kalau sampai jam setengah sembilan Harto belum sampai, kita keluar dan minta maaf pada penonton. Batalin aja pementasannya,” kata si aktor dengan topi dan jubah panjang itu.

Soe dan si pemuda duduk bersila di antara para aktor dan kru. “Ini adalah sebuah teater kampus di awal tahun 90-an,” kata Soe. “Mereka sedang menunggu surat perijinan resmi dari berbagai macam institusi pemerintah, supaya bisa pentas. Di tahun ini, semua aktivitas mahasiswa sangat dibatasi, khususnya jika anggotanya adalah mahasiswa yang populer.”

“Emang seribet itu ya, mas?” tiba-tiba seorang aktor perempuan cantik berbaju terusan dengan rambut dikepang bertanya pada aktor bertopi dan jubah panjang. Nampaknya selain aktor, pria berkumis dan bermata tajam itu juga adalah sutradara pementasan ini.

“Susah,” jawab si aktor. “Ini ijinnya harus dari 6-7 instansi. Yang paling susah dari BAIS, POLDA sama dari SOSPOL ABRI. Ini beda-beda, mereka harus ngeluarin ijin. Kalo mereka nggak ngasih ijin berarti kita nggak jadi pementasan.”

“Bukannya udah diurus dari sebulan yang lalu ya, mas?” tanya si kru panggung yang sedari tadi mengeluh.

“Iya,” jawab si aktor. “Saya kan kemaren sampe dipanggil ke BAIS buat diinterogasi. Ditanyain kenapa naskahnya ini segala macem. Di POLDA juga sama. Naskah juga udah saya kirim dari enam bulan yang lalu. Tetep aja nih dari SOSPOL belum keluar. Kita tunggu Harto sajalah.” Si aktor lalu menyeruput kopi dan membakar rokok kreteknya dengan tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.ii

Sekitar jam delapan lebih tiga puluh, seorang pemuda dengan rambut cepak tentara masuk ke belakang panggung. Semua orang berdiri melihatnya, wajah mereka semua tegang. Si pemuda kurus tirus sempat mengira bahwa yang datang itu adalah intel pemerintah. Orang itu lalu mengeluarkan secarik kertas, lalu tersenyum. Dialah Soeharto, mahasiswa yang berjuang setengah mati bernegosiasi dengan SOSPOL ABRI untuk mendapatkan ijin pentas. Semua orang bersorak gembira, lalu langsung menyebar ke posisi masing-masing. Tirai panggung ditutup, pintu penonton dibuka. Soe dan si Pemuda ikut keluar bersama para aktor dan kru, tapi mereka tidak menonton. Mereka keluar dari gedung.

“Kita jangan nonton,” kata Soe. “Kita tidak beli tiket.”

Soe dan pemuda berjalan-jalan di sekitar gedung teater. Mereka duduk-duduk di depan sebuah patung emas bertuliskan Ismail Marzuki.

“Tahu kenapa kamu saya bawa ke gedung teater?” tanya Soe pada si pemuda. Seperti biasa, si pemuda geleng-geleng kepala.

“Mahasiswa itu seringkali diperlakukan sebagai prajurit siap mati. Kalau jaman dulu Indonesia masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan, mahasiswa ini adalah prajuritnya yang mati duluan. Tapi panglima dan jenderalnya tidak kelihatan. Jadi kita melihat ini sebagai drama kolosal. Seperti teater: ada sutradaranya, ada asisten sutradara, ada kordinator latihan, sampai ada pemainnya yang adalah mahasiswa.”iii

Si pemuda sedari tadi memperhatikan tukang kacang rebus di depan mereka. Soe berdiri lalu mengambil kacang rebus yang ia bungkus sendiri dengan koran. Tukang kacang nampak tidak perduli. Soe lalu memberikan kacang itu pada si pemuda.

“Boleh ngambil sembarangan gini?” kata si pemuda.

“Ini kan khayalanmu,” jawab Soe. “Kasihan amat kalau kau terasing di khalayanmu sendiri. Hahaha.”

Soe Hok Gie melanjutkan penjelasannya soal organisasi kampus sambil makan kacang rebus dengan si pemuda kurus tirus. Soe bilang bahwa di tahun 80-90an, pasca NKK-BKK perpolitikan di kampus justru begitu hidup. Tidak ada organisasi kemahasiswaan apapun yang bisa bertahan atau diberi ijin untuk ada tanpa afiliasi politik. Afiliasi terbesar adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI). Jadi perkumpulan apapun yang didirikan —musik, teater, film atau kelompok studi— sangat tergantung dari siapa yang jadi ketua senat; orang HMI atau GMNI. Tidak punya afiliasi politik artinya tidak punya kekuatan tawar apapun. 

Padahal, lewat organisasi, mahasiswa menyalurkan kegiatan dan pemikiran-pemikirannya dalam organisasi tersebut. Namun yang kemudian berkembang menjadi negatif adalah ketika akhirnya organisasi politik di luar lebih menentukan daripada organisasi kemahasiswaan di dalam kampus. Ini terjadi dengan cara, misalnya, ada pemilihan  ketua BEM, kemudian di belakangnya ada afiliasi dengan parpol atau ormas tertentu yang mengakibatkan, secara langsung atau tidak langsung, kebijakan kegiatan BEM akan digariskan oleh kebijakan parpol atau ormas luar. Kampus adalah perguruan tinggi, artinya tugas utamanya adalah mendidik mahasiswa supaya nanti siap terjun ke dunia kerja, sebagai orang dewasa.iv Sayangnya fungsi kampus juga sering digunakan untuk propaganda dan penggerakan pion-pion mahasiswa oleh penguasa atau oposisi. Karena mahasiswanya buta sejarah dan buta politik, maka jadi mudah untuk mengendalikannya.

“Aktivisme frontal resikonya besar,” sambung Soe. “Akhirnya aktivisme juga banyak dilakukan dengan cara-cara halus seperti dalam kegiatan-kegiatan seni atau pecinta alam. Yang bergerak dalam model ini biasanya bukan aktivis, tapi mahasiswa biasa yang cari kegiatan di waktu senggang saja—kebanyakan malah apatis pada politik. Model seperti ini berlanjut hingga semuanya meledak tahun 1998. Dan siapa yang tahu, bahwa mahasiswa-mahasiswa biasa inilah penggerak utama reformasi 1998—bukan mereka yang secara konsisten dan frontal menyebut diri mereka  ‘aktivis.’”

Tiba-tiba saja langit jadi siang. Ya, tanpa ada subuh dan pagi, matahari tiba-tiba terik.

“Sudah siang,” kata Soe. “Saatnya kita pergi. Waktumu tidak banyak.”

Di jalanan muncul teriakan dan yel-yel. Segerombolan mahasiswa dengan berbagai warna jaket almamater lewat. Soe dan si pemuda berjalan keluar dari kompleks gedung pertunjukan dan menemukan diri mereka di tengah jalan raya, bersama para demonstran. Si pemuda melihat ke belakang dan gedung pertunjukan sudah raib, diganti dengan gedung kampus dengan lambang dan tulisan “Universitas Trisakti.” Mereka berjalan terus mengikuti suara orasi di depannya.

“Kenapa bukan aktivis yang malah jadi penggerak protes-protes ini?” tanya si pemuda pada Soe sambil berjalan di tengah-tengah kerumunan.

“Seperti yang kamu lihat sendiri tadi, pengawasan begitu ketat. Mereka yang bersuara dan mendapat label aktivis tidak dapat bergerak banyak,” kata Soe. “Dan hari ini, tanggal 12 Mei tahun 1998, Mahasiswa berjalan dari Universitas Trisakti menuju Gedung Nusantara untuk berdemonstrasi menuntut penurunan Presiden Soeharto di sana. Ini momentum yang mirip dengan tahun 66: krisis ekonomi, harga melambung tinggi, pelanggaran HAM dan korupsi orde baru terbuka besar-besaran.”

Sebuah bunyi ‘pip’ berulang-ulang terdengar dari kantung jaket almamater seorang mahasiswa yang berjalan di sebelah pemuda kurus tirus. Si mahasiswa merogoh kantungnya dan mengambil sebuah pager. Ia membacanya.

“Isabella bukan!?” teriak kawannya yang berjalan di sebelah Soe. Di bawah matanya ada corengan putih, membuatnya nampak seperti suporter bola.

“Bukan,” jawab si empunya pager. “Soal logistik, Cuy.”

“Ohhh... Kirain! Kalo Isabella gue udah siap nih!” si Cuy lalu menunjuk ke bawah matanya dan mengeluarkan sebuah masker dengan dua filter udara. “Lumayan, untung bokap gue tukang semprot demam berdarah. Haha.”

“Ngerti nggak?” tanya Soe sambil setengah tersenyum pada si pemuda kurus. Seperti biasa si pemuda kurus menggeleng. “Karena ketatnya pengawasan intel, maka cara komunikasi cuma bisa dengan telepon umum dan pager. Itupun harus dengan bahasa kode. Isabella itu kode kalau aparat yang akan mereka hadapi membawa gas air mata. Mereka harus siap dengan odol di bawah mata dan masker.”v

Si pemuda kurus mendengus sedikit tawa. Ia tahu kalau Isabella adalah lagu pop melayu Malaysia yang mendayu-dayu. Ia tak pernah menyangka lagu itu akan jadi sebuah kode buat gerakan sebesar reformasi. “Seperti yang saya bilang barusan, kebanyakan demonstran ini bukanlah aktivis,” lanjut Soe. “Mereka mahasiswa biasa yang harus bergerak karena keadaan. Karena itu cara komunikasinya juga kode yang akrab dan bisa dijadikan guyonan.”

Para demonstran berhenti. Banyak polisi yang membarikade jalan lengkap dengan tameng dan pentungan. Dari jauh, Soe dan si pemuda bisa melihat seorang mahasiswa bernegosiasi dengan polisi. Situasi nampak damai-damai saja, sampai—

Ada yang melempar bom molotov ke arah polisi.

Polisi tiba-tiba menyerang balik. Para demonstran tidak mau kalah. Perang pun dimulai. Gas-gas air mata dilemparkan. Pentungan polisi melawan bambu-bambu yang dipakai untuk membawa spanduk. Soe dan si pemuda terpisah dalam kekacauan itu. Para mahasiswa mundur, berlari kembali ke kampus Trisakti.

Langit berubah menjadi merah. Di depan kampus kekacauan terus berlangsung. Tiba-tiba terdengar desingan peluru yang datang entah dari mana. Beberapa mahasiswa roboh, terkena tembakan di kepala dan di leher. Seorang mahasiswa jatuh tertembak di sebelah si pemuda. Lehernya tertembak dan ia tak bisa bernapas. Darah terus mengucur. Si pemuda menyeret si mahasiswa balik gerbang kampus. Si pemuda berusaha menghentikan darah yang terus mengucur dari leher si mahasiswa. Si mahasiswa memegangi tangan si pemuda, sambil terus melihatnya dengan mata melotot, menahan sakit. Dari mulutnya hanya keluar darah, suara-suara tersedak yang serak seperti hewan kurban menjelang ajal. Air mata terus mengucur dari mata si mahasiswa. Mata jadi telaga yang kehilangan binar. Sebuah telaga yang takkan pernah dilupakan si pemuda kurus tirus.

Si mahasiswa meninggal dalam dekapan si pemuda. Tangan si pemuda bersimbah darah dan ia pun menangis. Ia menangis begitu keras seperti bayi. Sekelilingnya mengabur karena air mata dan suara kekacauan hilang termakan isakan tangisnya sendiri.

“PLAK!!”

Soe menampar si pemuda begitu keras. “Pergi! Ayo cepat pergi dari sini!”

Pemuda tidak beranjak. Soe Hok Gie terus menampar si pemuda yang bersimbah darah dan air mata. “Ini bahaya! Kamu sudah nggak bisa ngendaliin emosimu dan terbawa situasi. Ini imajinasimu! Ini tidak nyata! Bangun! BANGUN!!”

BANGGUUNNN!!!

***

“Bangun! Ka, bangun!” Ade menampar-nampar wajah kakaknya yang kini sudah penuh dengan air mata. Si kakak bangun sambil terisak-isak. Ia lalu memeluk adiknya, masih dengan keadaan syok.

“Kenapa sih lo?” tanya si Ade. “Lo lihat apa, emangnya?”

Perlahan si kakak melepaskan pelukannya. Kesadarannya kembali sedikit demi sedikit. “Nggak apa-apa,” jawab si kakak. “Gue nggak apa-apa, De.”

Si kakak berdiri dan berjalan keluar kamar sambil terhuyung-huyung. Adiknya mengikuti di belakangnya, khawatir. “Ceritanya belum selesai...” kata Kakak.

“Apa, Ka?” adiknya merespon dari belakang. Kakak berdiri sambil memegang kayu pembatas antara lantai dua di depan kamarnya dengan lantai satu.

“Makanya Ka,” kata adiknya, “elo jangan makan sembarangan. Telor dadar yang lo makan tadi siang itu gue campur magic mushroom tahu. Bego lo!”

Kakak melihat ruang tamu di bawah, meja makan, set TV. ‘Ceritanya belum selesai,’ katanya dalam hati. ‘Gue harus lihat sampai selesai. Harus lihat. Sampai. Selesai.’

“Masih ada nggak?” tanya si Kakak.

“Apaan?”

Magic mushrom.”

“Ya nggak laah!” jawab adiknya. “Elo udah abisin semua! Banyak banget yang tadi elo makan.”

Si kakak kembali melihat ke bawah. Ia menghela nafasnya. ‘Gue harus lihat endingnya. Udah terlalu banyak darah. Gue harus lihat.’

Ia mengambil nafas, lalu loncat ke lantai satu.

“KAKAAAAAAAA!!!” teriak adiknya.

 

(Bersambung ke bagian III)

***

 

Catatan Belakang:

iPementasan Rumah Pinggiran Teater Sastra UI (1990) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Terjemahan dari “Curses of The Starving Class” karya Sam Shepard. Penerjemah dan sutradara I. Yudhi Soenarto.
iiSemua kejadian ini adalah rekonstruksi dari Wawancara Nosa Normanda dengan Yudhi Soenarto, pelatih Teater Sastra UI. Maret 2014.
iiiWawancara Yudhi Soenarto oleh Bayu Adji P., 17 Januari 2014.
ivIbid
vwawancara dengan Wisnu Kucing, Korlat KBUI. Mahasiswa Sastra Belanda FIB UI angkatan 1996. Mei 2014.

Last modified on: 3 Juli 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni