(12 votes)
(12 votes)
Read 8704 times | Diposting pada

Kertas Buram, Babi Ngepet, dan Tata Baru: Abdullah Harahap (17 Juli 1943 - 5 Juli 2015)

 

Politik sastra selalu seperti kebakaran pasar. Datang rutin seperti musim, setiap kali dilengkapi gegas petugas branwir dan riuh sirine nyaring. Tapi demikianlah watak medan kebudayaan; Bourdieu menyebutnya “medan” untuk menunjuk watak dasar keruangannya: ajang tempur, tanah perang. Di tanah perang, jika golongan pemenang bertumbangan, tak banyak imajinasi tersisa bagi golongan pecundang.

Di tengah kebakaran soal kirim mengirim pengarang ke pasar buku di negara seberang, kabar duka itu datang. Dalam tidur, Abdullah Harahap, dua minggu sebelum usianya penuh 73 tahun, meninggal.  Di masa jaya jejaring sosial media hari ini, kabar kepergiannya datang terlambat lima hari. Ini waktu yang sangat banyak bagi daur hidup ratusan trending tweet. Sayangnya, rezim ingatan pendek media-baru ini tak cukup punya tempat untuk kepergiannya.    

Abdulah Harahap, penulis cerita horor, tak ingat berapa persisnya jumlah novel yang ia tulis. Mungkin seratus, atau lebih. Waktu tidurnya, bisa dijamin, jikapun teratur pastilah tak umum.

Di puncak kejayaannya, ia ingat ia sempat mendapati namanya tertera di novel yang tak pernah ditulisnya. Sebagaimana lazimnya produk populer di Indonesia, namanya juga dipinjam penulis pengekor, seorang penulis horor bernama Harahap sekalipun asli orang Sunda. Tak heran jika kemudian ia menjadi ikon cerita horor Indonesia, setidaknya bagi saya dan banyak penggemarnya. Mengabdi pada pasar penerbitan buku kertas buram, buku-bukunya pernah laris manis seperti kacang goreng. Perbandingan ini sepertinya klise tapi pantas: toko dan persewaan buku tempat novelnya bisa ditemui, kerap bersanding dengan tukang kacang dan gorengan.   

Banyak alasan kenapa dulu, jika menyewa novel-novel Abdullah, saya kerap baca di tempat. Di Tanjung Karang awal 90-an, salah satu los persewaan buku itu ada di tengah pasar, berhimpit sesak di lantai dua sebuah pertokoan yang muram, di bawah bioskop yang kerap memutar film silat Hongkong. Tempat persewaan ini adalah ingatan pertama saya --kala itu sebagai bocah tengik murid sekolah menengah pertama-- atas ruang baca publik di Indonesia.

Perpustakaan adalah gagasan ruang yang baru mewujud bagi saya di saat kuliah. Ada banyak persyaratan untuk bisa duduk di ruang baca perpustakaan kampus, tempat persewaan buku di pasar bisa dimasuki orang kebanyakan. Maka ingatan saya atas ruang perpustakaan kampus kerap kering dan sembari lewat, sungguhpun tak sepenuhnya tak berkesan. Sementara, tempat persewaan buku memperkenalkan saya dengan buku sama banyaknya dengan perkenalan saya dengan ragam jenis karakter manusia. Saya tak perlu jauh-jauh mencari penubuhan karakter-karakter di novel Abdullah atau S.B Chandra yang saya baca sebab di sekitar saya, khususnya karakter lelaki, mereka berkeliaran. Bukan berarti situasinya tak bercela. Untuk membayangkan karakter perempuan yang terbatas berkeliaran di los persewaan itu, saya ditolong oleh poster film. Pun demikian, saya kira tempat persewaan itu menunjukkan bahwa Indonesia pernah cukup rajin membaca. Lebih jauh, situasi ini adalah kosmologi yang turut dibentuk dan dimanfaatkan oleh Abdullah, terutama jika kita menimbang jenis manusia yang ia olah pada cerita-ceritanya.

Saya percaya sumber imajinasi karakter manusia Abdullah datang dari ruang itu: ragam karakter yang menetap dan berkeliaran di pasar. Jika realisme sebagai proyek mimikri kolonial Indonesia jauh dari menemu titik stabil, Abdullah menawarkan keteraturan, arketipe, dan pola. Manusia Indonesia yang dilihatnya ada dalam perputaran pasar, menyusun ranah budaya populer yang ditandai novel horor, roman erotik, serial silat lokal dan wuxia, novel detektif, koran Pos Kota, dan Majalah Misteri. Maka ratusan novel horornya itu, mendekati seratus jika merujuk pada samar ingatannya, adalah celah sempit untuk mengintip ruang dan waktu sosial yang lebih luas.

Borges percaya bahwa genre cerita detektif demikian populer karena ia teguh menawarkan tata di tengah dunia yang demikian kusut. Cerita horor Indonesia, saya kira, menawarkan tata dengan caranya sendiri: suatu tata yang meminggir, selalu dalam garis miring, taktis, licin, dan hampir pasti lucut jika digenggam. Dan di tangan Abdullah, tata yang melipir ini ia gambar sepanjang masa kejayaan Indonesia Orde Baru. Dengan kata lain, haruslah pula kita baca novelnya sebagai jalan masuk untuk turut memahami masa itu.  

Di seluruh novel Abdullah, Indonesia adalah kampung tempat asal yang bergerak merambat, yang panik kedatangan orang seberang, yang ketiban sial karena tabrakan waktu dan ruang, yang siap meledak karena tabrakan kelas ekonomi dan sosial, yang menawar dengan modal lokal berupa demit dan guna-guna, yang kemudian berdosa, lalu menyesal, lalu insyaf. Sampai kekacauan berikutnya, kedatangan badai dari kota berikutnya, dosa dan insyaf berikutnya. Jika Pramoedya Ananta Toer jernih menggambar lanskap kolonial Indonesia, Abdullah menulis seperti kerasukan horor Orde Baru, orde yang gelap dan pelikat. Prosanya tak seberkilat Pramoedya karena Orde Baru dibangun sebagai total-tenung; sementara jenderal utamanya tampil di TVRI senyam-senyum, dunia bergerak penuh telisik, operasi militer bayangan, birokrasi halang-rintang, serbuan siluman di waktu malam, dan institusionalisasi main tusuk belakang. Kerasukan, Abdullah tak menggambar Orde Baru dalam jarak; ia di dalam. Jika Orde Baru adalah bangunan, meminjam Foucault, panoptikon –suatu penjara-ideologi melingkar di mana seluruh tahanan selalu bisa diawasi setiap waktu– novel Abdullah dibangun dari peristiwa-peristiwa kecil di dalam. Ia membangun disiplin naratif selayaknya babi ngepet: menulis dalam rangka bangun dari mimpi buruk, haus, lapar ala ideologi pembangunanisme Orde Baru. Di Jepang, Yukio Mishima kerasukan hampir serupa. Demam tinggi, Mishima mengigau memanggil-manggil semangat bushido yang hancur dihajar panoptikon Toyotaism Jepang. Abdullah menolak untuk mengigau: tak ada masa lalu yang ingin ia bangunkan.

Dalam pertemuan pertama kami, tiga penulis Kumpulan Budak Setan, dengan Abdullah, kami mendapatinya sangat terjaga. Ia tahu apa yang telah ditulisnya, prinsip dan batas dari gambaran kekerasan dan irasionalitas yang ia olah, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Ia sadar resiko dari posisi novel kertas buram, ia menghitung karakter pembacanya, dan ia menikmati apa yang rutin dan terkendali dari distibusi narasinya; suatu ruang yang sesungguhnya turut ia ciptakan. Jika Edgar Allan Poe menciptakan pembaca cerita detektif dan GK Chesterton menyempurnakannya, sungguh tak sulit mengakui peran utama Abdullah bagi pembaca horor Indonesia. Bukalah halaman pertama novel Abdullah, segera kita tahu jenis petualangan macam apa yang bisa kita harapkan.    

Lokasi politik Abdullah persis sama, jika tak malah lebih rapuh, dengan banyak tokoh kritis Indonesia di masa itu: di pinggir. Di medan sastra, yang tak pernah mau mengakuinya, ia bahkan ada di pinggir yang paling pinggir. Tak banyak sentuhan dunia sastra yang bisa ia kenang, salah satunya adalah ketika HB Yassin membelanya dalam menghadapi suatu tuntutan pengadilan atas tuduhan pornografi pada karya-karyanya. Di luar itu, sastra ada di belahan lain, mungkin lebih tepat dan nyaman baginya untuk menyebut diri sebagai penghuni dunia tulis-menulis. Saya kira bahkan ia tak punya banyak teman di dunia sastra. Arswendo Atmowiloto, misalnya, mungkin pengarang paling gaul di tahun 80-an, di twitter baru saja mengaku menyesal tak sempat berkawan dengannya.

Salah pula jika mengira ia tak membuka diri pada perkembangan dunia tulis menulis. Ia membaca tulisan kami di Kumpulan Budak Setan setara jika tidak malah lebih jernih dari pembaca-pembaca paling kritis di Indonesia hari ini. Ia mengenali sudut-sudut penafsiran kami, terbuka dengan perbedaan yang kami sodorkan. Ia mencoba mengenali kami sebagai pengarang; tapi tak pula bermaksud menjelaskan siapa kami. Dalam membaca kami, misalnya, ia gembira menemukan kami sebagai perempuan dan binatang; kegembiraan yang membuat kami semakin berhutang.    

Di tanah perang, jika golongan pemenang banyak yang mati, apalagi golongan pecundang. Tapi Abdulah, sekalipun bukan pemenang di medan sastra kita hari ini, bukan pecundang. Ia menulis novel hampir seratus. Ia tak perlu dimenangkan, sebab novelnya berserak, terselip di ribuan pasar di sudut-sudut Indonesia terjauh dan, pun terengah, masih punya hasrat besar mencapai besok.  Dengan keyakinan ini, Pak Abdullah yang baik, bolehlah kau tidur panjang dengan tenang. Kami akan terus membayar hutang.

Last modified on: 18 Juli 2015

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni