(5 votes)
(5 votes)
Read 5416 times | Diposting pada

Jakarta Biennale, Kota Autopilot dan Siasat yang Merepotkan

Mural karya Pak Nur di Flyover T.B. Simatupang Mural karya Pak Nur di Flyover T.B. Simatupang Foto-foto Dok. Jakartabeat

 

Pengantar Redaksi

Jakarta Biennale 2013 itu merepotkan warga Jakarta. Ia merepotkan karena kehadirannya ada di tengah-tengah banyak masalah di Indonesia. Pertama ia diadakan setahun sebelum Pemilihan Umum 2014, dimana banyak sekali kasus dan skandal politik yang terjadi dan mengaduk-ngaduk persepsi publik.

Perang politik di Indonesia memanas justru pada saat-saat seperti ini. Kasus-kasus seperti ditangkapnya koruptor-koruptor kelas kakap, dari hakim agung hingga angggota dinasti keluarga feodal, gagalnya pencitraan keluarga presiden yang semakin lama semakin penuh kasus remeh temeh dan kasus penyidikan korupsi yang melibatkan partai politik dan beberapa keluarga presiden yang kebal hukum. Ini jelas membuat disorientasi politik di Indonesia secara umum dan Jakarta secara khusus.

Kedua, ia berdekatan juga dengan demonstrasi buruh yang bersiasat untuk minta naik UMP dan standar hidup yang memungkinkan mereka membeli mesin cuci dan jaket kulit. Dari sini saja kita bisa melihat imbas konsumerisme yang diwabahkan media dan jurang sosial-ekonomi kota: korupsi merajalela, kemewahan dipamerkan lewat sinetron dan infotainment —maka jurang itu semakin dalam.

Dan ketiga, Jakarta Biennale juga hadir dalam sebuah masa di mana Indonesia bisa jadi ada dalam titik kausalitas sejarah bangsa yang secara filosofis dan ideologis paling menyeramkan: distopia yang menempatkan kapitalis premanisme sebagai ideologi, sejarah-sejarah yang berusaha dibuka dari pembunuhan para aktivis hingga tragedi pembantaian komunis tapi selalu berhasil diredam bukan lagi oleh militer tapi, yang lebih sulit untuk dilawan dengan jelas, oleh kelompok paramiliter sipil yang dibiayai rezim preman-preman dan orang-orang tolol yang main sirkus adu jangkrik di televisi.

Publik tidak percaya pada sistem. Publik ada dalam kegamangan akut; kebingungan terhadap demokrasi, tidak ada calon pemimpin kuat, kebuntuan dalam mencari solusi masalah sosial. Dalam konteks ini Jakarta Biennale 2013 menjamah ruang-ruang Jakarta seakan melemparkan pertanyaan sebenarnya: ketika publik tak lagi percaya pada pemerintah dan sistem, apakah publik sendiri bisa dipercaya?

‘Ngehe!’ kata beberapa orang kelas menengah pada kelasnya sendiri. Linimassa jejaring sosial daring penuh keluhan dari rakyat untuk pemimpin dan rakyat untuk rakyat. Dengan logika sederhana saja kita bisa melihat cemoohan masyarakat ini bekerja dalam sebuah sistem independen tanpa koordinasi yang jelas —ibarat kata— bahkan ketika meludah selalu ada resiko ludahnya balik ke muka sendiri, seperti penyair kondang yang berkoar anti-poligami yang ternyata pro poli-poli yang lain macam poli-tik, poli-tron dan, ini yang penting: poli-sex.

Masing-masing orang berusaha bertahan hidup dan mendapat kuasa dengan apa yang mereka punya tanpa jaminan, tunjangan dan aturan dan penerapan hukum yang jelas. Masing-masing bergerak untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sendiri; masing-masing berusaha memenuhi hasratnya —sebuah hasrat yang diajarkan oleh televisi, dalam atau luar negeri. Hasrat untuk menjadi selalu lebih dari cukup, seperti tukang ngamen dan pengemis yang pendapatannya begitu besar setiap harinya.

Yang terjadi dalam masyarakat autopilot ini adalah sebuah masyarakat yang berdiri tanpa daya tahan terhadap pengaruh budaya dan ideologi luar dari kapitalisme sampai agama, dari K-Pop sampai Wahabi. Tidak ada akar budaya. Semua sudah dan sedang terus menerus dicabut dan dihancurkan. Kebanyakan orang menikmati menghancurkan kebudayaan-kebudayaan organik yang mereka tuduh sebagai berhala dengan siasat tuduhbid’ah, siasat tuduh syirik, dan siasat tuduh kuno. Apa yang disembah kaum yang satu adalah berhala bagi kaum yang lain.

Dalam segala kerepotan ini, pameran seni yang biasanya jadi ajang seni yang tahu diri —yaitu mengurus urusannya sendiri dan tidak ikut campur urusan orang— tiba-tiba membuat berhala-berhala simbolik itu jadi nyata di sekeliling warga: mural-mural, karya-karya instalasi, kritik-kritik sosial menjelma menjadi Latta dan Uzza dalam konteks Jakarta Jahiliyah modern. Berhala-berhala ini bukan untuk disembah atau ditimpuki, tapi untuk diciptakan bersama, dinikmati bersama, direnungi bersama, dan entah kini atau beberapa waktu lagi: dihancurkan bersama.

Jakarta Biennale tahun ini menjadi penting untuk melihat autopilot masyarakat secara faktual: seni-seni yang biasa berkutat di galeri tidak hanya dibawa ke tengah-tengah ruang publik, tapi juga merangsang publik untuk ikut membantu membuat karya-karya itu sekaligus mengapresiasinya —benar-benar merepotkan!

Tulisan ini —hasil liputan gabungan Nosa Normanda dan Bayu Adji P. lewat wawancara dan reportase lapangan— akan berusaha menganalisa secara kritis event ‘keberhalaan’ yang berlangsung dan signifikansinya terhadap Jakarta secara khusus dan Indonesia secara umum. Semoga berkenan!

'Siasat' Yang Merepotkan

Orang menjadi repot karena peduli atau dipaksa untuk peduli dalam Jakarta Biennale kali ini. Untuk membuat orang peduli atau terpaksa peduli diperlukan siasat yang jitu. Dalam masyarakat di mana seni tidak dianggap sebagai bagian dari keseharian, perlu ada semacam ‘wake-up call’ bahwa seni ada di sekeliling kita; bahwa manusia membuat seni dan seni membuat kita jadi manusia.

Tema utama Jakarta Biennale 2013, Siasat, sangat sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Siasat dalam acara ini bukan hanya merepresentasikan autopilot-nya kehidupan Jakarta, tetapi juga dalam menyiasati seni agar dipedulikan dan digunakan masyarakat. Seperti yang ditulis dalam katalog Jakarta Biennale 2013:

Salah satu tantangan tersebut adalah melihat posisi warga di tengah perencanaan dan perkembangan kota. Hingga saat ini, imajinasi tentang kota yang lebih maju masihlah berorientasi pada perkembangan ekonomi. Orientasi semacam ini jelas mengabaikan sejarah yang dengan terang mengabarkan bahwa perkembangan ekonomi tidaklah semerta-merta berujung pada perbaikan kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya.

Seni di jalan-jalan kota bukanlah hal baru. Di Amerika dan Eropa, pameran seni di jalan-jalan kota, bahkan yang secara ekstrim menutup kastil atau pulau sebagai bagian dari seni sudah banyak dilakukan. Dari pispot yang disulap Duchamp menjadi mahakarya The Fountain, Pop Art di jalan-jalan dan di mal-mal kenamaan di kota-kota besar termasuk Jakarta, mural-mural Banksy di London, hingga mega seni menutupi kastil atau tempat-tempat besar seperti karya Christo.

Tentunya ini sama sekali bukan hal yang mudah. Selain menyangkut dana yang besar, proyek-proyek ini juga penuh dengan tetek bengek birokrasi dan perizinan berbelit. Di tempat-tempat tersebut, seni bisa punya konteks akademik, eksperimen dan seni murni tanpa konteks sosial. Tapi tentunya hal itu tidak bisa dilakukan begitu saja di Jakarta. Jangankan seni tanpa konteks sosial yang jelas, karya dengan konteks sosial yang jelas saja seringkali dianggap ‘ekslusif’ untuk kelas tertentu dan karenanya tidak penting secara sosial. Karena itu, kebanyakan karya-karya yang dipamerkan Jakarta Biennale 2013 memiliki hubungan dengan kehidupan kaum urban di Jakarta.

Sejak pembukaan hingga akhir acara kita selalu melihat seni-seni yang diambil dari masyarakat dari mulai dangdut ala Pengantar Minum Racun hingga kutipan-kutipan warga yang digambar di mural-mural dan di gerobak-gerobak. Salah satu bentuk siasat penting dalam acara ini adalah menurunkan seniman ke jalanan, untuk membuat (atau bahkan membantu atau dibantu) warga membuat untuk seni. Mereka berusaha membuktikan bahwa semua orang adalah seniman dan semua orang mampu berekpresi.

Karena hal-hal itulah tema Siasat bekerja dua arah. Pertama, ia mengambil tema melihat Jakarta sebagai ruang penuh siasat dari mengakali ekonomi rumah tangga yang kurang sampai macet jalan raya dengan masuk jalur busway. Tema-tema ini diambil menjadi karya-karya yang merepresentasikan Jakarta dengan New Media, fotografi, dan berbagai seni pertunjukan. Kedua, ia memberikan seni ke ruang kota, bukan hanya dengan melukis atau menempatkan seni di kota tapi juga ikut membuat masyarakat berpartisipasi dalam pembuatan karya-karya tersebut.

Di Jakarta Biennale 2013, ada banyak sekali seniman yang terlibat sehingga tidak efektif membahas seluruh karya yang dipamerkan satu-persatu. Dalam ulasan ini, kami memilih secara acak karya para seniman yang ikut mewarnai ajang ini. Kami mewawancarai Ryan Riyadi alias The Popo soal karyanya dalam Biennale tahun ini untuk melihat apakah rencana event berjalan dengan baik atau tidak di lapangan. Kami juga meliput kegiatan Artist Talk dan mengulas sekaligus mengkategorikan seni yang mereka usung dalam kerangka subjektif kami. Terakhir, kami mencoba melihat konsep seni yang ditampilkan Melati Suryodarmo bukan dari senimannya, tapi dari peraganya, para relawan bagian dari Jakarta yang ikut membuat seni pertunjukkan Melati terlaksana. 

The Popo dan Mainan

Popo sudah cukup terkenal sebagai seniman mural dengan ciri khas gambar karakter bermata kecil sebelah dan kutipan kritik-kritik sosial seperti “Aku lebih percaya jadwal kereta daripada janji pemerintah.” Ini adalah kali ketiga Popo terlibat di Jakarta Biennale dan kali ini ia mendapat lokasi di Jembatan Layang Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat. Tajuk muralnya “Hidup adalah Mainan,” sebuah tajuk yang ia dapatkan dari pedagang mainan di sekitar lokasi pembuatan mural tersebut.

Dalam pembuatannya, Popo dibantu warga sekitar yang mewarnai blok-blok berdasarkan sketsa yang ia buat. Ia mengakui bahwa ada kontrol yang mesti ia turuti ketika membuat mural dalam Biennale, dibanding jika ia membuat sendiri. Ia harus mempresentasikan konsepnya dan konsep itu harus berdasarkan riset dan punya benang merah dengan Biennale sendiri, seperti penggunaan warna kuning misalnya. Namun selain itu ia mengaku tidak ada batasan-batasan tertentu yang jadi masalah besar.

Tantangan terbesarnya adalah menyiasati agar warga mau menerima dan kalau bisa membantunya membuat mural. Dalam event ini Popo sadar bahwa tembok tersebut bukan miliknya tapi milik orang-orang yang tinggal di tempat itu. Respon dari pemerintah lebih mudah diatasi daripada warga yang mengusir si seniman. “Kalo elo direspon warga soal karya lo, itu lebih susah,” ujar Popo, “Kita harus siasat sama warganya karena warga itu bagian dari karya gue.

Selain Popo, mural juga dibuat dengan tema-tema yang berbeda-beda tergantung keadaan tempat dan warganya oleh Guntur Wibowo yang menggambarkan sejarah dan merepresentasikan masalah di Kampung Ambon, Cengkareng; Rizky Aditya Nugroho alian Bujangan Urban dengan tajuk “Loyalitas Tanpa Batas Bikin Hidup Jadi Terbatas,” di tembok di depan Wisma BNI 46, Jalan Sudirman yang seperti menohok para pegawai dan eksekutif yang setiap hari kerja lewat di sana; dan Ruli Bandhriyo alias LoveHateLove yang menampilkan tajuk “Hand by Hand,” di kolong jembatan Dukuh Atas yang menggambarkan simbol-simbol dan tangan-tangan yang mengejar waktu seperti keseharian warga Jakarta.

Artist Talk

Kami juga sempat datang pada kegiatan Artist Talk Jakarta Biennale 2013 untuk melihat seperti apa saja kira-kira karya yang dipamerkan baik dari seniman dalam dan luar negeri. Dalam New Media Art ada Ho Tzu Nyen (Nyen) dari Singapura dan Julia Sarisetiati (Sari) dari Indonesia. Nyen membuat instalasi berupa ruangan di balik tirai yang memutar film. Hal tersebut bermaksud untuk mengungkap siasat Pythagoras, di mana ia berbicara di balik tirai dan murid-muridnya mendengarkan tanpa melihat wujud asli sang guru demi meningkatkan konsentrasi dan kepekaan dalam menyerap ilmu —dalam hal ini film yang ditampilkan.

Sementara itu Sari dalam proyeknya bekerja sama dengan beberapa mahasiswa ilmu politik. Di dalam karyanya yang berupa diskusi audio visual, ia menggambarkan para mahasiswa di atas untuk membuat tagline yang artistik. Menurutnya, hal tersebut adalah peristiwa seni membuat tagline, yang biasanya kita hanya tahu hasil akhirnya tanpa melihat gagasan-gagasan di belakangnya. Sari membebaskan para mahasiswa yang membantunya untuk berimajinasi dalam proses pengambilan gambar.

Di sisi lain, ada seniman-seniman yang berbagi pengalaman mereka soal masalah sosial historis seperti Babi Badalov (Azerbaijan, Prancis), Etienne Turpin (Kanada) dan Saleh Husein (Indonesia). Badalov menjelaskan melalui karyanya bagaimana ia berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya karena aktivitas politiknya yang tak memungkinkan ia menetap di satu negara. Dengan berpindah negara, Badalov mengembangkan pola berkesenian yang beragam, dan itu mempengaruhi karyanya.

Dalam karya ini, Badalov ingin merepresentasikan integrasi, perubahan dan aspek-aspek yang terjadi selama ia berpindah-pindah. Identitas yang dimiliki oleh Badalov sangat mempengaruhinya dalam berkarya. Seperti tulisan yang bebunyi, “Please tell me how to write! Kobra or Cobra?” Di sini kita bisa melihat fenomena kebudayaan global yang membuat orang harus berpindah-pindah identitas sambil bermain dengan aspek kognitif dan linguistik di daerah yang berbeda-beda.

Etienne Turpin (Kanada) dalam karyanya, Ornithology, melihat bahwa ada tiga aspek yang ingin diangkat yaitu sains, kekerasan dan kolonialisme. Dalam membuat karyanya ini, Turpin melakukan pendekatan membandingkan pengetahuan manusia tentang burung. Ia melihat cara manusia memperlakukan burung yang menurutnya merupakan bentuk kekerasan. Dalam konteks poskolonialisme ada perbedaan yang muncul dalam bagaimana orang memperlakukan burung di Eropa dan secara lebih khusus di Indonesia.

Di pasar Pasar Burung Pramuka, Turpin melakukan penelitian dengan warga sekitar bagaimana mereka menerangkan secara ilmiah tentang burung. Hal tersebut menjadi menarik karena pengetahuan itu tidak saja muncul di negara-negara Eropa, tapi muncul dengan ragam yang berbeda di negara dunia ke tiga. Bagaimana orang memperlakukan hewan, sebagai representasi alam, merepresentasikan sejarah mereka yang telah tertanam lama.

Saleh Husein (Indonesia) menampilkan karya yang berjudul Arab Party, yang menggambarkan aktivitas politik warga keturunan Arab di Indonesia tahun 1930 sampai 1940-an. Dengan tema siasat ini, Ale, sapaan akrab Saleh Husein, yang juga sebagai warga keturunan Arab mengangkat siasat warga keturunan Arab memasuki dunia politik di Indonesia. Ale menampilkan 100 karya yang menggambarkan perjalanan warga keturunan Arab, juga menampilkan beberapa arsip koran tahun 30-an yang menggambarkan tentang aktivitas politik warga keturunan Arab. Masyarakat Indonesia-Arab memang sudah lama terpinggirkan dari sejarah republik ini, walau pada kenyataannya peran mereka sangat besar dari zaman pra kemerdekaan, Orde Lama dan Orde baru.

Sementara itu, seperti mural yang digambar menyatu dengan kota, Abdulrahman Saleh (Indonesia) menampilkan curhat tukang gerobak di atas gerobak mereka. “Saya menggambari gerobak di lima lapak di Jakarta,” jelas Maman. “Dalam pendekatan, saya menciptakan tokoh fiktif bernama Mr. Gro untuk menjembatani dengan para pemilik gerobak agar lebih komunikatif dan tidak terlihat serius,” lanjutnya.

Aktivitas menggambar gerobak didokumentasikan dan dibuat serialnya di Ngepo.TV. Maman juga menerbitkan buletin Vinyet Kota untuk menuliskan tentang proyek gerobak ini. Dengan kesadaran bahwa gerobak dan penariknya adalah bagian yang erat dan tak terpisahkan dari kota Jakarta, Maman membuat penarik gerobak mengiklankan aspirasinya sendiri.

Sweet Dreams Sweet dalam Kebungkaman Perempuan

Selain pameran berbagai seni rupa, grafis dan visual, Jakarta Biennale 2013 juga memuat beberapa nomor performing arts. Salah satunya adalah penampilan Melati Suryodarmo berjudul Sweet Dreams Sweet, yang menampilkan 13 pasangan perempuan berpakaian serba putih dan mengenakan tudung. Melati mengajak tiga komunitas atau institusi yaitu Intitut Kesenian Jakarta, Teater Kinasih dan Teater Katak untuk membantu proyeknya ini.

Dalam melihat penampilan improvisasi para pemain dalam pementasan ini, kami tidak bisa tidak membandingkan karya Melati dengan ayahnya, Prapto Suryodarmo, seniman seni gerak bebas pemilik padepokan Lemah Putih di Solo yang sudah terkenal secara internasional dalam metode gerak bebas ritualnya. Karya Melati yang membebaskan peraganya untuk berimprovisasi menunjukan pengaruh ayahnya tersebut, yang mengandalkan banyak kekuatan bawah sadar manusia dalam melakukan gerakan. Bedanya, karya Melati yang satu ini terpaut erat dengan wacana gender dan kebudayaan.

Menurut salah satu peraga, proyek ini hanya melakukan latihan selama sehari. “Awalnya ada yang memperagakan gerakannnya; duduk, berdiri, terus nyelupin kaki di ember berisi cairan biru. Mbak Melati cuma bilang untuk senyamannya saja dan dia tidak menuntut apa-apa,” ucap Addis Nadira, salah satu peraga Sweet Dreams Sweet.

“Performance art itu tidak menuntut keindahan tubuh. Jadi gerakannya itu tidak perlu dibikin-bikin, asal nyaman,” tambah Addis menirukan Melati Suryodarmo. Addis melanjutkan bahwa dalam proyek ini Melati ingin menyimbolkan kehidupan yang dibuat seragam, di mana pakaian yang dikenakan itu serba putih. Dan, untuk tudung kepala itu menyimbolkan bahwa perempuan menyiasati perlakuan yang tidak mengenakkan kaum lelaki, dengan memakai kerudung.

Mbak Melati katanya pernah ke stasiun di Jogja mengenakan kaos biasa dan ketika ia di stasiun banyak lelaki yang memperhatikan dang menggodanya. Namun ketika ia kembali lagi dengan mengenakan kerudung, itu tidak ada yang menggodanya,” tutur Addis. Dari sini kita bisa melihat sebuah perlawanan terselubung dan siasat bertahan perempuan dalam kehidupan multikultural yang patriarkal: bahwa mereka berjuang dalam diam dan tak kasat mata.

Penutup: Mempercayai Publik

Jakarta Biennale 2013 membuat kita, warga Jakarta, benar-benar repot. Kita disajikan sebuah fakta keberagaman yang seringkali enggan kita hadapi. Kita diberikan berhala-berhala yang seringkali tanpa sadar kita sembah atau kita timpuki, untuk kali ini kita hadapi sebagai sebuah bentuk materi yang nyata di tembok-tembok dan gerobak-gerobak. Seperti masalah kita belum banyak saja!

Tapi mungkin kerepotan inilah kesalahan utama kita. Ya! Kita terlalu terpengaruh modernisme yang memisahkan antara kerja dan libur, antara kenyataan dan imajinasi, antara kehidupan dan seni. Jakarta Biennale 2013 penting karena ia mengembalikan kesenian ke posisinya yang sebenarnya: bagian dari kehidupan, kebudayaan, kemanusiaan. Seni yang tidak terpisahkan seperti hieroglief dan patung-patung Mesir dan Yunani kuno, seperti kuil-kuil di India, Maya, Aztec atau nenek moyang kita di zaman kerajaan Nusantara.

Jakarta Biennale 2013 memaksa kita untuk menyadari kalau kita butuh seni itu. Bahwa sudah terlalu lama ideologi memisahkan seni dari kehidupan: memisahkan seniman kanan dan kiri, memenangkan satu aliran dan membunuh yang lain. Terlalu lama sudah kita dipisahkan dari kenyataan yang sebenarnya: kenyataan bahwa kita berbeda dan harus ber-koeksistensi, kenyataan bahwa tembok-tembok pemisah itu adalah, seperti dalam lagu Melancholic Bitch, Dinding Propaganda. Kesadaran ini kita temukan sendiri dalam kondisi autopilot ini. Kesadaran yang mestinya diberikan oleh negara, kita buat sendiri.

Jakarta Biennale 2013 ini menambah bukti konkrit kesalahan teori Hierarki Kebutuhan ala Maslow bahwa orang butuh pemenuhuan kondisi fisik, keamanan, cinta, dan kepercayaan diri untuk memiliki dan membuat seni sebagai cara aktualisasi diri. Warga Jakarta banyak yang tidak sehat karena polusi, banyak yang tidak aman karena korupnya polisi, banyak yang galau dan banyak yang tidak percaya diri —tidak butuh statistik untuk membuktikan betapa sakitnya kota ini. Dan ketika seni seringkali tidak sempat dipikirkan, Jakarta Biennale 2013 menghampiri warga kota sakit ini dan menyentuhnya dengan cetakan-cetakan luka di kanvas, tembok, gerobak, kostum, aktor, film, foto dan semua media yang memungkinkan.

Apakah publik bisa dipercaya? Jakarta Biennale 2013 jelas membuktikan: Ya! Publik bisa dipercaya. Asal ada usaha untuk membuat mereka juga percaya. Seperti kata The Popo, “Tembok itu bukan punya gue. Kita harus ngebaca ruang, biar orang ngerasa senasib.”

Last modified on: 15 April 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni