(2 votes)
(2 votes)
Read 3426 times | Diposting pada

Cincin yang Melingkar di Jari Manis Suciwati, dan Doa Alif Kepada Pembunuh Abahnya

Cincin yang Melingkar di Jari Manis Suciwati, dan Doa Alif Kepada Pembunuh Abahnya Sumber Ilustrasi: Istimewa

 

Cincin itu masih tersemat di salah satu jari manis tangannya, matanya sayu dan suaranya agak serak karena tidak enak badan yang sedang ia ceritakan. Beberapa kali saya coba tawarkan jaket yang tersimpan di ransel untuk melindungi tubuhnya dari cuaca malam Jakarta, dijawabnya dengan gelengan kepala dan bercanda. Candaan yang membuat saya malu karena beberapa waktu lalu saya pernah menawarkan hal yang sama, dan terlupa jaket tersebut sekian hari belum dicuci. Walaupun saat menawarkan yang terakhir saya mencoba meyakinkan kalau jaket sudah saya cuci plus pakai pewangi.

Saya duduk menemaninya di pinggiran kolam Bundaran Hotel Indonesia malam itu, 7 September lupa tahun ke berapa peringatan Munir dibunuh. Kami tidak berdua, beberapa puluh orang di depan kami berteriak, berorasi, memegang poster, menyalakan lilin, dengan yel-yel seirama. Gambar, poster dan teriakan nama yang dipekikkan puluhan orang tadi adalah nama almarhum suaminya. Perempuan tadi bernama Suciwati, tepat duduk di samping saya, sedikit bercerita tentang romansa sambil sesekali tersenyum dan tertawa perihal kisah-kisah lucu yang dia jalani dulu bersama suaminya yang kini sudah berpisah selama sekian tahun. Dipisahkan dengan cara keji, atas perbuatan pecundang yang membubuhkan racun arsenik dosis tinggi ke dalam tubuh ringkih suaminya, Munir Said Thalib. Nama yang sama diteriakkan dengan pengeras suara oleh beberapa kawan dengan jarak beberapa meter dari tempat kita duduk.

Malam itu beberapa orang mengenang Munir sebagai seorang yang pemberani dengan medium poster, teatrikal, musik, juga testimoni dari beberapa yang ikut bersimpati.

Ada dua pemandangan sekaligus yang saya nikmati malam itu. Satu sisi Munir sebagai sosok yang tak kenal takut, dan pembela mereka yang tertindas dari para orator yang juga beberapa di antaranya adalah korban kekerasan negara yang pernah didampingi Munir, juga sisi lain saya mendengar sosok Munir sebagai seorang yang romantis sekaligus lucu dari penuturan Suciwati.

Sampai saat ini, Suciwati tetap bersikukuh mencari keadilan tentang kejelasan siapa yang membunuh suaminya. Sepertinya bukan hanya dia, Alif, dan Diva saja yang merasa kehilangan. Tetapi, mereka yang berani dan tidak diam terhadap penindasan kepada yang lemah tentu merasakan hal yang sama.

Sebelum rezim berganti, lagu lama Susilo Bambang Yudhoyono tentang janjinya bahwa kasus Munir adalah “test of our history” sepertinya hanya menjadi lagu single hasil imajinasinya, terbukti hal tersebut tidak masuk dalam prioritas penyelesaian dalam pemerintahannya, pun ketika 10 tahun pemerintahannya berakhir. Dibanding menyelesaikan hal tersebut, tuan Presiden konon lebih kosentrasi dalam menyelesaikan album lagu ke sekiannya.

Pemerintahan berganti, Jokowi mengambil alih kendali, aktor lapangan Pollycarpus pada akhir November 2014, permohonan bebas bersyaratnya dikabulkan oleh Menteri Hukum dan HAM. Upaya mengoreksi keputusan itu, yang diajukan oleh Imparsial, salah satu lembaga yang turut didirikan Munir, ditolak oleh pengadilan pada akhir Juli 2015.

Kini, tidak terasa kasus pembunuhan Munir sudah 11 tahun berjalan, tepat 7 September 2015 lalu, laki-laki kurus yang mematahkan mitos militerisme Orde Baru tidak bisa dilawan itu sudah 11 tahun berpulang. Sebuah pembunuhan konspiratif keji, yang hanya berani mengeroyoknya saat dia lengah, arsenik dalam kadar tinggi dipikirnya bisa membungkamnya untuk membela mereka yang tidak berdaya diinjak sepatu lars kekuasaan. Jika mereka pikir raga Munir yang ingin mereka habisi, iya, mereka telah berhasil. Tetapi tidak untuk semangatnya yang sudah terlanjur merebak ke dalam tiap sanubari mereka yang tidak bisa diam melihat ketidak-adilan, dengan semboyan yang tercoret di tembok sudut-sudut kota, “kami ada, dan berlipat ganda”.

Munir dibunuh, tentu tidak bisa dilepaskan dengan apa yang dia lakukan sebagai pembela kemanusian di Aceh, Timor Timur, dan Papua, penculikan paksa terhadap aktivis dan mahasiswa menjelang tumbangnya Soeharto, dll. Berhenti pada mengenang Munir sebagai sosoknya dan bukan meneruskan apa yang dia perjuangangkan tentunya juga apalah gunanya. Perjuangan kemanusiaan punya caranya sendiri-sendiri dalam ruang aktivitas hidup kita. Pada titik iman terendah dalam melawan lupa atas berbagai tragedi kemanusiaan di negeri inipun, adakalanya bukan perkara mudah. Kita seolah dihadapkan pada ungkapan klasik ala mereka yang tidak pernah mau sejarah negeri ini menjadi benderang, mereka berkata:

“..sudahlah tidak usah ungkit masa lalu, lihat saja masa depan..”

Sekilas mereka seperti menjadi paling bijak dengan berdiri cengengesan tanpa tahu ada sekian banyak anak atau istri yang tidak tahu ayahnya masih hidup atau sudah meninggal, selama belasan tahun diculik. Tidak tahu tentang perasaan seorang ayah atau ibu apakah anaknya yang dulu berdemonstrasi sekian belas tahun silam menuntut Soeharto turun kini raib entah kemana.

Tak ayal sekian lama menunggu, tidak sedikit dari anggota keluarga korban tadi berpulang tanpa menemukan jawaban. Mereka para bandit pemburu kekuasaan tadi lupa, tidak akan pernah ada masa depan yang penuh kedamaian tanpa pijakan keadilan dan kejujuran sejarah masa lalu.

Munir bukan hanya sandaran harapan dan penerang korban dan keluarga korban kekerasan negara waktu itu. Dia berdiri paling depan, menunjuk hidung jendral lalim, dan dalam pertama kali sejarah Orde Baru kita bisa menyaksikan seorang menantu emas Presiden dengan karir gemilang militernya, harus menanggalkan seragamnya karena kasus penculikan aktivis yang dibongkar oleh almarhum Munir.

Setelah 11 tahun, Munir seorang laki-laki biasa dengan keberanian tidak biasa suami dari Suciwati, ayah dari Alif dan Diva itu kini seolah berubah menjadi ikon perlawanan terhadap kelaliman penguasa, terutama mereka yang menggunakan kekerasan dan kokang senjata sebagai pendekatannya. Hal yang kemudian seperti menjadikan Alif, anak pertama dari pasangan Munir dan Suciwati, kini bak terdewasakan keadaan saat suatu kali ditanya:

“..apakah Alif dendam dengan pembunuh Abah..?”

Dia menjawab dengan tegas

“tidak”

Alif menambahkan, bahwa semoga pembunuh Abahnya diberi hidayah oleh Allah SWT, begitu penuturannya meyakinkan. Alif kini sudah duduk di bangku kelas 3 SMA.

Tentang kesetiaan seorang Suciwati, juga ketulusan hati Alif, tiba-tiba saya teringat dengan tulisan Ardi Wilda Irawan beberapa tahun lalu, saat dirinya menjadi guru di pedalaman, dan mengenalkan sosok Munir sebagai pengejewantah kebaikan kepada murid-muridnya.

Dalam salah satu bait tulisannya tersebut, ada yang membuat saya cukup tercengang saat dirinya berbincang kepada murid-murid SD tersebut:

“Pertanyaan Awang adalah pertanyaan untuk kita semua. Akankah teror itu benar-benar hilang? Apakah Munir adalah korban arsenik terakhir? Jujur saya ragu. Saya tak berani menjawabnya. ‘Sekarang kalau pertanyaan Awang Bapak tanyakan ke kalian apakah kalian mau menjadi Munir?’ Dan wajah mereka bingung. Namun sebuah jawaban dari Rino membuat saya sadar masih ada harapan di negeri ini. Ia seperti lontaran peluru yang menembus tirani delapan tahun itu. ‘Mau Pak, soalnya Pak Munir orang baik’. Saya tersenyum mendengar jawaban dari bocah yang senang menempelkan permen karet di bangku teman-temannya ini. Mungkin lima belas tahun dari hari ini dia baru tahu konsekuensi dari jawabannya. Sambil tersenyum ia kembali mengucapkan sebuah kalimat pamungkas, ‘Belajar Munir kan biar tahu tentang kebaikan Pak’. Saya menelan ludah mendengar jawaban polosnya. Ya pada Munir kita belajar soal kebaikan pun saat ia harus berhadapan dengan ajal.”

Malam itu, dalam sebuah peringatan 11 tahun dibunuhnya Munir di Galeri Cemara Jakarta, saya melihat mata Suciwati berkaca-kaca, saat Happy Salma membawakan monolog “Aku istri Munir” yang naskahnya ditulis Seno Gumira Ajidarma, penggalan kalimat monolog tersebut terasa mencekat saat berhenti di kalimat:

“Kuputuskan untuk mengingat Munir dalam ingatan kebahagiaan saja. Ingatan akan semua hal yang membuat diriku sangat mencintainya. Tentu aku tidak bermaksud melupakannya, bahkan kuberi diriku ruang, untuk menangis dan marah, atas kejadian yang menimpanya. Tidak banyak, tapi ada.”

Malam tersebut seperti malam memanjatkan doa untuk almarhum dengan berbagai ekspresi sebagai komunikasi doanya, hal tersebut juga tidak dilakukan di Jakarta saja, beberapa kota lain juga memanjatkan doa yang sama. Dalam hati, tidak luput saya juga ikut berdoa:

Cak, 11 tahun lalu sampeyan dibunuh. Sampeyan yang berani paling depan nunjuk hidung jendral-jendral berdarah itu atas beberapa tragedi kemanusiaan di negeri ini. Bahkan sampai sekarang pun tidak jelas gamblang kasusnya, pun siapa pembunuh sampeyan Cak.

Cak, saya iri sama keberanian sampeyan. Dengan badan ringkih dan keluarga yang beberapa kali diteror, sampeyan tetap maju tidak takut untuk menunjukkan apa yang benar dan apa yang memang salah, walaupun resikonya nyawa sampeyan sendiri.

Cak, mungkin tiap tahun jendral bisa berganti. Tetapi dalam sepuluh tahun sekali atau bahkan lebih, belum tentu lahir orang seperti sampeyan. Istirahat dengan tenang Cak, salam untuk Gus Dur.

Al Fatihah..

Last modified on: 10 September 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni