(4 votes)
(4 votes)
Read 3974 times | Diposting pada

Bersama Hanung: Membanalkan Pram, Memproduksi Minke

Bersama Hanung: Membanalkan Pram, Memproduksi Minke Meme oleh Abdul Manan Rasudi

 

 Kontroversi Bumi Manusia adalah imanen di novelnya, dan kontroversi itu harus dibunuh jika film ini mau produksi dan mau laku.

 

Jika Anda membaca Bumi Manusia di tahun 80-90an, ketika buku itu dilarang Orde Baru, ada perasaan campur aduk saat memegang stensilan cetakan-cetakan awal buku itu. Perasaan mellow terbawa oleh cerita roman bergaya bahasa tabloid perempuan, dicampur perasaan takut diciduk aparat. Seperti nyimeng diam-diam di bulan puasa saat banyak operasi polisi cari THR di mana-mana. Anda bisa diciduk, dipenjara beberapa hari, diinterogasi dan dipaksa untuk membongkar jaringan Anda. Setelah keluarga membayar puluhan sampai ratusan juta, Anda keluar dan kawan-kawan yang Anda adukan masuk. Keluar pun Anda akan tetap diberikan berbagai macam indoktrinasi dan penyuluhan soal anti narkoba dll. Ya, novel Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), seperti kata Pram, “Dipakai kuliah di luar negeri, dibakar di negeri sendiri.” Karena ganja legal di negara maju, dan illegal di negeri ini.

Kini buku tersebut legal, dicetak ulang berkali-kali, dibundel, dan disejajarkan dengan karya-karya populer. Hari ini harus diakui secara tampilan, Tetralogi Buru sudah sama banalnya dengan karya-karya Tere Liye—bahkan dari pengamatan saya, Tere Liye punya cover yang jauh lebih bagus, dan kertas yang lebih wangi daripada Tetralogi Buru. Di dalam konteks seperti ini, Hanung Bramantyo, sutradara yang ditawari produser Falcon, HB Naveen, dibawah restu anak Pramoedya, Astuti Ananta Toer, mengalahkan Oliver Stone, Garin Nugroho atau Riri Riza yang sebelumnya sudah berniat membuat film dari buku itu—menjadi semacam harapan untuk bisa ‘menjual Minke.’ Pertanyaannya, Minke seperti apa yang mau dijual Hanung?

***

Penerbit buku Tetralogi Buru jelas menjual Minke dengan menjual Pramoedya, pengarang yang menjadi Tapol dan menulis di penjara. Untuk para penggemar roman klasik, karya dari penulis penjara mengandung eksotisme tersendiri: dia ideologis, penuh kontemplasi, dan tentunya dibuat dengan perjuangan. Sempat ada saat-saat dimana Tetralogi Buru dijual sejajar dengan Trilogi Winnetou karya Karl May: dua-duanya novel yang ditulis di penjara. Pram sendiri mengaku bahwa penulisan Tetralogi Buru adalah semacam terapi kesepiannya. Minke yang ganti-ganti istri multi-etnis juga adalah manifestasi kesepian Tapol di penjara yang isinya semuanya pria. Draftnya dinikmati para NAPI lain dan para Sipir. Beberapa draft sempat dihilangkan sehingga harus ditulis ulang lagi. Pram sendiri mengaku tidak pernah membaca karyanya setelah ditulis dengan alasan sederhana: kalau ia baca, maka ia ingin mengeditnya. Bisa selesai saja sudah syukur, tak terpikir bukunya akan laku-laku amat.

Sementara itu, Hanung punya pendekatan yang berbeda untuk jualan. Dari pernyataan-pernyataannya di internet dan di wawancara ekslusif, ia berusaha “membanalkan” Bumi Manusia dan, seperti toko buku, menempatkannya di rak yang sama seperti buku-buku populer yang lain. Hanung merendahkan Bumi Manusia dengan bilang bahwa membuat Ayat-ayat Cinta lebih sulit karena kontroversi poligaminya, atau aktor Minke (siapapun dia) tidak perlu membaca bukunya, cukup dengan kostum Jawa saja sim sala bim jadi Minke. Intinya, segala sejarah pahit yang melatarbelakangi penulisan dan penerbitan buku ini tak boleh diungkit-ungkit. Calon penonton harus melupakan sejarah pemenjaraan tanpa pengadilan terhadap Pram, atau embel-embel Lekra yang ditempelkan Orba pada Pram dan karya-karyanya. Pram, seperti novelnya, jadi harus ditulis ulang.

Ketika sebuah karya diterbitkan, maka Roland Barthes bilang: penulis telah mati. Pram, secara literal, memang sudah mati, dan kematiannya dibutuhkan di dunia nyata ketika orangnya sudah tidak bisa diwawancara, membela diri, atau mengajak perang argumen Goenawan Mohamad, untuk bisa menulis ulang karyanya menjadi karya banal. Oliver Stone ditolak mentah-mentah oleh Pram karena ke-Hollywood-annya. Kalau Pram masih hidup, akankah ia menolak Hanung? Entahlah. Mungkin ia akan menerima, setelah itu mengajak berantem.

Tapi saya bisa berargumen bahwa Bumi Manusia adalah sebuah novel yang menjadi obsesi Hanung sejak lama. Di film Perempuan Berkalung Sorban, Hanung memakai novel Bumi Manusia sebagai buku sakti si tokoh utama dalam belajar feminisme. Tokoh Annissa (Revalina S. Temat) melawan patriarki Islam dengan mencontoh Nyai Ontosoroh di buku tersebut, dan buku itu masuk di shot-shot di film. Di antara banyak buku-buku feminisme murni yang sudah terbit, Hanung secara sadar memakai Bumi Manusia, yang kritikus feminis bilang bernada misoginis hanya karena Minke playboy galau. Dengan kata lain, Hanung secara independen telah membaca buku Bumi Manusia tanpa disuruh-suruh. Sementara itu, film fenomenal Ayat-ayat Cinta, yang katanya lebih ‘berat’ isinya, adalah sebuah karya pesanan yang sebelum diberikan ke Hanung sudah sempat ditawarkan ke sutradara lain (yang saya tidak bisa sebutkan namanya, tapi orangnya curhat ke saya dengan bilang ke produser Ayat-ayat Cinta, “Sorry, gue nggak bisa bikin yang gue nggak percaya”). Melihat Bumi Manusia di Perempuan Berkalung Sorban adalah bukti betapa ngefansnya Hanung pada novel ini. Begitupun pengakuan Hanung yang katanya ketika Mahasiswa sudah bertemu Pram dan diolok-olok, "Bumi Manusia sudah ditawar sama Hollywood, jadi mohon maaf. Bukan saya enggak mendukung mahasiswa, tapi saya hidup dari sastra, dari penulisan, karena itu makanya saya berhitung di sini." (Apa setelah itu dia dendam? :-P)

Sulit untuk tidak jatuh cinta pada novel ini. Roman ini berlatar belakang sejarah yang spesifik dan dilihat dari sudut pandang poskolonialisme Pram. Sebagai orang yang mengaku “tidak pernah melupakan apa yang pernah ia baca,” Pram jelas menempatkan kritik pada kolonialisme secara gamblang dalam pemikiran-pemikiran Minke dan Nyai Ontosoroh. Perkebunan tebu, opresi terhadap rakyat yang (di)bodoh(i), serta kaum priayi yang oportunis bukan hanya menjadi set tapi juga menjadi motor utama visi dan misi Minke di buku-buku selanjutnya. Sementara kisah cintanya yang gagal dengan Annelies, perempuan Indo-Belanda yang menjadi simbol fetish kaum terjajah terhadap penjajah, tidak lebih dari pematik dendam terhadap struktur dan kondisi sosial yang menghalangi percintaan mereka. Ketika Romeo dan Juliet dihalangi keluarga, Minke-Annelies dihalangi sesuatu yang lebih besar: kapitalisme masa kolonial. Romantisme gagal ini adalah pematik gerakan sadar politik: koran pribumi pertama dan Serikat Islam (SI), yang nantinya akan melahirkan SI merah yang menjadi Partai Komunis Indonesia. Apakah ini yang dibilang lebih ringan dari Ayat-ayat Cinta?

Kontroversi Bumi Manusia adalah imanen di novelnya, dan kontroversi itu harus dibunuh jika film ini mau produksi dan mau laku. Berbeda dengan kontroversi Ayat-ayat Cinta, karena sekumpulan ibu-ibu anti-poligami hampir tak mungkin membatalkan produksi film atau menurunkan filmnya dari bioskop. Namun, ketika ada Lekra, PKI, Marxist, Komunis, Kiri, Sosialis yang menempel pada produksi film Bumi Manusia, bisa dipastikan film ini takkan bisa diproduksi—terlepas hasilnya baik atau buruk. Tentunya saya tidak harus menjelaskan kenapa embel-embel tersebut berbahaya untuk pemasaran filmnya. Dalam konteks ini, secara pragmatis, teknik ‘membanalkan’ Bumi Manusia adalah teknik efektif untuk memperkenalkan ulang novel tersebut. Karena kalau tidak, penonton yang dulu berduyun-duyun datang untuk nonton Ayat-ayat Cinta, bisa berduyun-duyun datang lagi untuk menurunkan Bumi Manusia dari Bioskop.

Dan sulit untuk bilang bahwa Hanung adalah sutradara tak idealis. Terbukti, Perempuan Berkalung Sorban dan Tanda Tanya adalah film-film dengan wacana kritik terhadap Islam yang cukup keras. Kritik yang semakin ke sini semakin kelihatan gagal melihat maraknya radikalisme akhir-akhir ini. Akhirnya produser dan sutradara harus menyembunyikan ideologi dalam produksi filmnya, karena ternyata mayoritas hari ini lebih menyeramkan daripada pemerintah Orba. Pemerintah Orba bisa membatalkan film sejak dari skrip, tapi massa reformasi ini lebih menakutkan. Membuat film di Indonesia sampai saat ini memang terbilang sulit. Dari perizinan syuting yang selalu melibatkan ormas, Lembaga Sensor Film, sampai kritik masyarakat yang mampu menurunkan film dari bioskop, jelas membuat pembuat film, khususnya Hanung, jadi takut. Mengutip Hanung, “Semakin susah (membuat film) karena (peran) lembaga LSF itu kecil. Lembaga yang gede itu ormas, 'LSF' yang sesungguhnya.”

“Pembanalan ideologis” ini tentunya adalah cuma asumsi saya atas track record Hanung. Dan saya sudah merasa cukup jahat untuk menerbitkan tulisan ini, karena artinya bisa jadi saya memberikan kesadaran atau ingatan betapa kontroversialnya novel yang akan jadi film ini. Bisa jadi asumsi mentah saya ini membuat produksinya jadi dibatalkan (lagi). Tapi, saya rasa asumsi ini harus saya paparkan, karena tidak ada sutradara lain yang mampu untuk membuat film ini, hari ini, selain Hanung Bramantyo. Coba, siapa yang bisa sejahat dia untuk melupakan idealisme Pram, perjuangannya untuk mendapatkan keadilan dan Hak Asasi manusianya? Cuma Hanung, saya rasa, yang sudah punya nama dan setega itu untuk menghardik orang mati, menanggalkan kritik novel soal budaya priyayi dan kapitalisme kolonial, dan membodohi anak orang yang menjadi aktornya, supaya tidak baca buku. Kalau bukan Hanung yang menyutradarai, film ini bisa berakhir seperti Jagal, Senyap, 40 Tahun Kesunyian, atau minimal Gie-nya Riri Riza, yang tidak meledak-ledak amat secara komersial.  Cuma Hanung yang mungkin bisa membuat film ini populer sehingga di masa depan anak-anak alay bisa pake kaos bergambar Iqbaal-Minke dengan kutipan-kutipan cinta Pramoedya. Minke akan jadi sebanal Che Guevara atau Marx di kaos-kaos obral. Toh, ia sudah terbukti berhasil mengubah Soekarno dari negarawan intelektual menjadi presiden playboy internasional. Mantab.

Mari kita berdoa saja, semoga Hanung bisa tidur nyenyak di malam hari, apalagi jika filmnya sudah selesai syuting dan jadi film seperti promosi Hanung: film yang bebas politik. Karena Pram, meskipun sudah meninggal, masih bisa menghantui. Kenyataan bahwa masyarakat belum bisa menerima ide-idenya seutuhnya harus diterima dan dilawan, bukannya dinegosiasi dengan membanalkannya. Hanung harus hati-hati karena Pram bukan orang yang mudah memaafkan, dia benar-benar bisa bangkit dari kubur kalau karyanya dizalimi. Pram masih hidup di pikiran para pembacanya yang tahu pasti bahwa sampai mati, keadilan terhadap salah satu penulis Indonesia yang pernah mendapat nominasi Nobel itu tak pernah terwujud. Tak percaya? Ya sudah, biar Pram sendiri yang ngomong:

Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia. Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas habis. Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan. Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak saya pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya Tapol justru dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki setelah tahu saya Tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau membuatkan KTP. Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar.

Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini.

Lalu kau ingin kasih apa, Hanung?

 

Last modified on: 5 Juni 2018

    Baca Juga

  • Buffalo Boys, Marlina, dan Genre yang Hidup Kembali


    Sejarah seringkali berulang. L’histoire se repete. Bentuk, konteks, dan latar wajahnya mungkin berbeda, tetapi jiwa atau esensi yang melekat dengannya tidak pernah berubah. Kita dapat menemukan ini pada politik, perubahan…

     

  • Sesat Pikir "Kembang Kantil"


    Perempuan bergaun merah itu berdiri di tengah temaram. Seorang gadis kecil telentang tak sadarkan diri di depannya. Bilah-bilah keris dan pisau terserak di atas meja. Perempuan itu menghunus salah satunya.…

     

  • Arwah


    Tubuh perempuan ini sekarat. Maka dengan sisa-sia kekuatan, aku memaksanya mengetik kisah ini. Aku ingin mencari tempat tinggal setelah mati. Tempat tinggal yang bukan akhirat, tapi di antara kehidupan. Tempat…

     

  • MARLINA: Penggal Kepala, Harga Yang Layak Untuk Pemerkosa


    [Spoiler Alert] Entah sebuah kebetulan atau semesta memang sudah membuatnya demikian. Saat isu mengenai kesetaraan gender sedang marak dibicarakan, film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak langsung merebut panggung dan…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni