(4 votes)
(4 votes)
Read 5245 times | Diposting pada

Berburu Vinyl Hingga ke Bawah Tanah

Berburu Vinyl Hingga ke Bawah Tanah Foto: Nabyl Farizi

 

Akhir bulan lalu, saya 'diutus' oleh kantor untuk berangkat ke Shanghai guna mengikuti sebuah sesi brainstorm akbar dari salah satu klien. Pepatah kuno mengatakan, "Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina." Buat kolektor vinyl, bolehlah sedikit dimodifikasi, "Carilah Vinyl Hingga ke Negeri Cina." Nah, saya pun sudah menyiapkan rencana untuk memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin.

Sebelum berangkat, saya iseng browsing soal eksistensi record store di kota yang belakangan sering muncul di film-film Hollywood ini. Semua pencarian berujung pada satu jawaban: Uptown Records yang terletak di Pingwu Lu Road. Nama ini selalu muncul di setiap pencarian. Saya catat alamatnya dan mencocokannya dengan hotel tempat saya menginap untuk memudahkan pencarian jalan. Satu hal yang saya lupa saat itu: mencari referensi gambar tampak depan record store tersebut.

Kecerobohan ini benar-benar membawa sengsara. Di hari pertama dapat kesempatan berjalan-jalan ke Pingwu Lu Road, saya kembali ke hotel dengan tangan kosong dan tanpa tau di mana lokasi Uptown Records sebenarnya. Iseng googling lagi, ternyata gambar tampak depan toko ini memang tak pernah muncul. Di tengah keraguan apakah record store ini masih buka, saya memutuskan untuk mengirimkan email pertanyaan yang sampai hari ini tidak dibalas, haha.

Dua hari kemudian, saya mendapat kesempatan jalan-jalan lagi (selama 2 jam saja), saya langung bergegas menuju Pingwu Lu Road untuk membayar lunas rasa penasaran ini. Lagi-lagi saya kembali menjelajahi Pingwu Lu Road dari ujung ke ujung dan tak menemukan satupun toko bernama Uptown Records. Hingga di tengah rasa putus asa itu saya melihat ada kertas terpampang di tembok salah satu bangunan apartemen yang bisa dibilang jauh dari kesan bersih.

Aha! Kertas lecet ini bertuliskan Uptown. Saya kira begitu masuk, saya akan langsung melihat deretan rak vinyl yang siap disikat, nyatanya saya masih harus menuruni beberapa anak tangga menuju ke bawah, hingga harus melalui beberapa lorong gelap, dan parkiran sepeda. Terdengar pula dialog penghuni apartemen yang bersuara keras, bergema masuk ke dalam lorong yang saya lewati. Mirip adegan penggerebekan di film Jackie Chan! Jujur saya beneran tegang, karena di lorong tersebut ada pos jaga yang dilengkapi CCTV dan kebetulan sedang ditinggal penjaganya. Bayangkan jika ada penghuni yang melihat orang asing masuk dengan ekspresi kebingungan, bisa-bisa dituduh mau nyolong sepeda! 

Adegan tegang itu berakhir saat melihat ruangan yang didominasi warna merah, persis seperti apa yang saya lihat di referensi gambar selama melakukan 'riset'. Persis di depan pintu masuk, kita akan melihat toko buku kecil yang menjual buku-buku second, dan tepat di sebelahnya ada sebuah ruangan dengan meja kasir dan beberapa kardus vinyl. Di balik meja kasir, ada seorang wanita berusia 20an, yang sekilas mirip Yoko Ono saat masih muda. Dengan dengan gaya berpakaian ala grunge, ia menyapa ramah dengan bahasa Inggris yang super fasih. Langka!

Ternyata di dalam ruangan tersebut, ada beberapa ruang kecil lagi. Masing-masing ruang menyimpan sederet vinyl yang dibagi menjadi beberapa kategori dan sub-kategori: 60s, 70s, 80s, rock, indie/punk, jazz, hip hop, electro, disco/funk, house, hingga reggae. Bahkan ada kategori pop yang menyimpan koleksi vinyl single Backstreet Boys hingga Britney Spears. Di sebelah meja kasir, juga ada rak ukuran besar yang khusus menjual vinyl 7" dari berbagai genre. Surga!

Di kategori indie/punk, saya menemukan beberapa album dari No Use For A Name, Less Than Jake, hingga Rancid. Di kategori ini saya juga menemukan single milik Inspiral Carpets, Cornershop hingga The Charlatans. Harga tiap vinyl juga bisa dikatakan tak merusak kantong. Harga termurah sekitar 20 Yuan (sekitar 36 ribu rupiah), dan harga termahal yang saya temukan kira-kira 120 – 150 Yuan (sekitar 216 - 270 ribu rupiah).

Sepertinya highlight kunjungan saya hari itu ada di rak Hip Hop yang memuat single dan album dari Beastie Boys, Outkast, Ice Cube, Nas, Wu Tang Clan, Destiny's Child, hingga Aaliyah. Di kategori ini saya berhasil mendapatkan 1st pressing album 'No Way Out' milik Puff Daddy yang dirilis tahun 1998. 

Sayang sekali, keterbatasan waktu memaksa saya untuk segera meninggalkan Uptown Records. Entah apalagi yang bisa saya dapat jika punya waktu lebih lama di sana. Record store ini benar-benar seperti surga di bawah tanah, haha. Sambil tergesa-gesa meninggalkan tempat usai menyelesaikan transaksi, si penjaga toko tiba-tiba memanggil, "Hey, thanks for coming and have a good day!" sambil melempar senyum.

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni