(0 votes)
(0 votes)
Read 3961 times | Diposting pada

Bangkutaman: Tiga Menguak Jakarta (bagian 1)

Pengantar redaksi: setelah termasuk menjadi yang pertama memuat full review atas album Ode Buat Kota, Jakartabeat.net memutuskan untuk mengulas tuntas band indie Bangkutaman yang fenomenal. Kontributor Jakartabeat.net, Fakhri Zakaria melakukan serangkaian wawancara dengan personil Bangkutaman baik secara individual maupun full team, dibantu oleh Ardi Wilda, kontributor Jakartabeat.net yang lain. Fakhri Zakaria menuliskannya untuk Jakartabeat.net dalam tiga tulisan, mulai hari ini. Tulisan ini adalah bagian pertama.


Wahyu “Acum” Nugroho terlihat tak biasa melihat pulasan bedak menutupi wajahnya. “Seumur-umur saya baru tiga kali didandani. Pertama waktu nikah, kedua waktu manggung di acara gereja”. Sementara Justinus Irwin pasrah saja membiarkan penata rias merapihkan rambut indies-nya. Hanya Dedyk Eriyanto Nugroho yang tidak canggung dengan kostum yang disyaratkan pengarah acara.

Ya, inilah kali pertama Bangkutaman, band pengusung psikedelik pop-folk tempat Acum, Irwin dan Dedyk tercatat sebagai personel, tampil untuk kali pertama di televisi. Tepatnya dalam sebuah acara talkshow populer yang ditayangkan saban Jum’at malam. “Ini pertama kalinya sepanjang karier Bangkutaman kita tampil di televisi”, papar Acum yang mengisi pos vokalis, bassis sekaligus peniup harmonika. Karena momen pertama kali tampil di televisi, malam itu seperti ajang kumpul keluarga. Beberapa anggota keluarga hadir di studio. Acum datang dengan ibu mertua dan istrinya.

 Gitaris Irwin membawa istri dan adik iparnya.  Sedangkan Dedyk hanya sendiri. “Istri sedang ngurus bayi di rumah,” ujarnya sambil tersenyum. Ya, penabuh bedug Inggris ini baru saja menjadi ayah, tepatnya pada 27 Agustus lalu. Kemunculan di televisi ini sepertinya menjadi momen yang spesial bagi band yang berdiri sejak tahun 1999 silam saat mereka kuliah di Yogyakarta ini.

***

Jogjakarta medio 1999. Acum tengah menghabiskan waktu di kawasan Boulevard Universitas Gadjah Mada. “Di kampus sendiri saya bukan anak yang populer, justru terkenalnya di luar kampus,” katanya sambil tersenyum.

Acum sendiri tercatat sebagai mahasiswa jurusan Biologi di Universitas Atmajaya Yogyakarta.  Hari itu dia mengenakan kaos kebanggaannya. “Kaos Stone Roses pemberian dari sahabat saya yang rumahnya saya tempatin selama kuliah”.

Bagi Acum, Stone Roses ibarat ibu asuh bagi perkembangan karier bermusiknya. Acum sempat mengalami perjalanan musikal yang lumayan panjang sebelum menjadi pemuja Ian Brown cs. ini.

“Sebelumnya saya punya band hardcore bareng adik saya”. Bahkan saat pindah ke Jogja dia sempat aktif di scene yang menelurkan nama-nama seperti DOM 56 dan Death Vomit ini. “Saya sempet bantu-bantu bawain bass di panggung band Brutal Corpse, band-nya Yoyok (drummer band ska-reggae, Shaggydog)” terang Acum. Tapi kemudian Acum memutuskan pamit. “Jalan 3-4 bulan liat gig-nya kok rusuh. Takut juga”

Saat Acum sedang bersantai itulah datang kawannya yang lain. Iqbal alias Babal.  Bekas vokalis band metal Deadsquad ini kaget melihat Acum memakai kaos Stone Roses. Babal kemudian menambah dosis britpop ke tubuh Acum dengan menyuntikkan The Smiths.

"Saya sempat nge-band sama dia juga", ujar Acum mengenai Babal.

Makin seringnya Acum memainkan lagu-lagu dari band britpop membuat sahabat Acum, Titok, teringat akan kawan sekampusnya. Dia lalu mengenalkan Acum pada sosok pendiam. Namanya Irwin. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma. Kelak dirinyalah yang kemudian memberi “warna lain” dalam perjalanan band yang mengambil nama dari tempat mereka biasa berkumpul, bangku taman kampus Universitas Sanata Dharma.

Irwin yang pemalu hanya tersenyum simpul melihat kaos yang sedang dikenakan Acum. Ternyata Irwin setali tiga uang. Menjadikan dedengkot scene musik Manchester ini sebagai kiblat musika l.

Singkat cerita, frekuensi nongkrong bareng makin sering. Jamming-jamming di studio makin intensif. Bangkutaman kemudian resmi berdiri sebagai sebuah band. Formasi awalnya adalah Acum (vocal, gitar), Irwin (gitar), Bayu Prabowo (bass), dan Deny Prayugo (drum). “Panggung pertama kali di kantin kampus Sanata Dharma,” kenang Irwin. “Awal-awal manggung kami dibayar pakai gorengan,” sambungnya sambil tertawa.

***

Bisa dibilang pada awal kemunculannya Bangkutaman adalah titik kecil dalam scene musik independen Yogya. Saat itu, Yogya tengah dihajar oleh riuhnya punk dan hardcore. Lalu tiba-tiba Bangkutaman seperti datang dari negeri antah berantah. “Mungkin sebelumnya tahun 92 sampai 95-an sudah ada, tapi belum tau impact-nya seberapa, ga intensif,” papar Acum.

Hebatnya, Bangkutaman justru mendapat sambutan baik. Alih-alih dijauhi, mereka justru dikellingi para skinhead. Kegemaran mereka memainkan lagu-lagu milik Stone Roses dan juga The Smiths ibarat lagu kebangsaan yang menyatukan dua scene nan berbeda ini.

“Beberapa kru kita ada yang dulunya anak punk. Nuki (manajer Bangkutaman) dulu juga anak punk. Mohawk, pakai Docmart. Setiap keluarganya makan di McDonalds dia gak mau, selalu nunggu di luar. Anti kapitalis,” kata Dedyk.  Dedyk sendiri adalah yang terakhir bergabung. “Saya Nugroho ketiga setelah Acum (Wahyu Nugroho) dan Nuki (Nugroho),” katanya  tersenyum.

Ketika penggarapan debut album penuh Love Among The Ruins selesai dilakukan, drummer sebelumnya, Deny Prayugo, tersangkut suatu masalah. Tidak mau terus menerus tanpa kejelasan, Dedyk kemudian direkrut sebagai pengganti. “Rekaman Love Among The Ruins yang ngisi Deny, tapi dia keluar sebelum launching. Akhirnya launching yang ngisi Dedyk,” kata Acum.

Basiss Bayu Prabowo sendiri hanya sempat mengisi part bass di EP Bangkutaman rilisan tahun 2000. Bayu kini tercatat sebagai bassis The Monophones, band pop retro yang juga berasal dari Yogyakarta.

Masuknya Dedyk ternyata melewati proses yang cukup unik. “Dedyk itu selalu ada setiap kami pentas, selalu di depan. Pernah waktu manggung di UGM orang-orang pada diem. Tapi dia yang paling aktif, sampai moshing segala,” kata Acum.

Bersama sang manajer Nuki Nugroho, Dedyk memang penggemar Bangkutaman. Dia juga termasuk salah seorang penggagas Common People, suatu kolektif yang berisikan orang-orang penikmat British Invasion dari Oasis, Blur, Stone Roses, The Smiths serta sejawatnya.

Saat Poster Café, kafe legendaris di Jakarta yang menelurkan nama-nama seperti Rumahsakit, tutup, beberapa “aktivis”nya menyebar. Dedyk adalah salah satu saksi hidupnya. Dia membawa semangat Poster ke Yogyakarta saat melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Bangkutaman termasuk salah satu band yang besar dari Commonpeople. “Pertama kali kita bikin acara di Jogja kita nyebar poster, isinya siapa aja yang mau manggung bawain Britpop. Bangkutaman salah satu yang ngisi,” kenang Dedyk.

***

Mendengar Bangkutaman main, para skinhead berdatangan. Ada skinhead, ada moshing. Bisa dibayangkan betapa chaos-nya suasana sekitar panggung, dalam artian positif tentunya. Sampai-sampai ada yang berkomentar keheranan. “Ini band punk apa pop sih, kelakuan kayak punk, tiap manggung moshing,” tiru Acum.

Eratnya Bangkutaman dengan scene punk juga diakui Dedyk karena campur tangan air kedamaian. “Lapen,” ujarnya sambil tertawa. Ya, minuman keras produk lokal Yogyakarta ini benar-benar memberikan kedamaian. Jaket kulit dan rambut Mohawk bertemu dengan kemeja flannel plus topi pancing di bilangan jalan Pajeksan.

Dedyk dan Irwin, yang mengaku sebagai sosok paling religius di Bangkutaman, memang tak ikutan mabuk. “Biasanya Acum yang mabuk, kita sih ikut nongkrong aja, ikut-ikutan rame,” kata Irwin.

Rilisnya album debut Love Among The Ruins pada tahun 2003 membuat Bangkutaman rajin ditanggap di kota-kota lain. Predikat sebagai band pop dengan kelakuan punk semakin menjadi nyata melihat pengalaman mereka saat tur.

Acum bercerita kalau dulu mereka pernah manggung ke Surabaya hanya dengan uang tiga ratus ribu rupiah. “Kita bersepuluh sama kru, uang segitu hanya cukup untuk naik kereta ekonomi. Akhirnya tiap ada pemeriksaan karcis kita kasih minum lapen ke kondektur,” kata Acum.

Pernah saat pentas di Jakarta mereka nyaris tak bisa pulang. Acum, Irwin dan Dedyk saat itu manggung di gig yang memasang Rumahsakit sebagai headliner. “Kita dipasang sebelum Rumahsakit,” cerita Acum. Bangkutaman tidak dibayar saat itu.

Untuk biaya pulangnya, mereka mengandalkan penjualan kaset dan CD yang lapaknya digelar di area konser. “Kalo gak laku 50 kaset kita gak bisa pulang,” kenang Acum. Kecemasan melanda karena sebelum manggung dagangan belum laku. “Begitu acara selesai, langsung habis diborong,” kata Acum sambil terbahak.

Saat penggarapan rilisan kedua, Garage of The Soul, virus-virus konflik internal mulai menjangkiti. Ini adalah titik nadir dalam sepuluh tahun perjalanan musikal Bangkutaman. Sebuah momentum yang kelak akan membawa Bangkutaman hingga mampu seperti saat ini (Bersambung ke bagian 2)

 

Link ke tulisan bagian 2

Link ke tulisan bagian 3

Last modified on: 22 Januari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni