(4 votes)
(4 votes)
Read 3815 times | Diposting pada

An Intimacy: Inisiasi Kolektif Pemecah Stagnasi Skena Musik Lokal Bandung

An Intimacy: Inisiasi Kolektif Pemecah Stagnasi Skena Musik Lokal Bandung Kredit foto: Dok. An Intimacy

 

Pasca ditutupnya GOR Saparua oleh pemkot Bandung untuk pertunjukkan musik dan Tragedi AACC 2008 silam, izin mengadakan acara musik dipersulit yang kemudian menyebabkan skena musik kota Kembang sempat tertidur cukup lama. Hingga di 2010 geliat tersebut sempat muncul kembali dan menyebar ke hampir setiap sudut cafe kecil sepanjang Dago hingga Jalan Riau. Diseminasi ini tak hanya menyuburkan kembali skena musik Bandung, tapi juga sayangnya nafas skena musik Bandung menjadi sangat bergantung pada hidup dan matinya cafe tersebut. Padahal geliat perkembangan skena musik suatu kota tentu tak bisa lepas dari peran pertunjukan musik itu sendiri.

Dan hari ini, telah menjadi rahasia umum bahwa skena musik independen Kota Bandung hadir dengan banyak keterbatasan lain yang kerap membuat dinamika skena itu sendiri tanpa disadari menjadi stagnan. Mulai dari gap antar komunitas musik, kultur patron-client antara musisi senior-junior, hingga gelaran musik dengan sponsor besar menampilkan nama band yang itu lagi itu lagi.

Praktis, kurun waktu beberapa tahun terakhir, exposure band-band bermutu asal kota Kembang ini tidak banyak bergerak dari generasi sebelumnya, meski faktanya regenerasi yang terjadi sampai hari ini bisa kami nilai cukup masif. Band-band pendatang baru, maupun kolaborasi dengan sesama musisi yang namanya belum banyak dikenal, hampir setiap bulannya bermunculan dengan genre yang sangat beragam.

Tak heran bila fenomena ini kian banyak disadari dan coba dipecahkan lewat rangkaian event yang menampilkan band-band baru tak dikenal untuk tampil di depan publik, tema event dan genre musik yang eksploratif, serta mengedepankan keintiman interaksi para musisi dan penontonnya sendiri. Jurus inilah yang tampaknya tengah dikerjakan oleh kolektif generasi muda Bandung hari ini lewat acara bertajuk An Intimacy sejak pertengahan 2014 lalu dan kian menjadi topik hangat.

Digelar pertama kali pada Juli 2014 dengan line up Under The Big Bright Yellow Sun, Dio Creatura dan The Devil and The Deep Blue Sea, An Intimacy memang punya sejarah panjang dengan pasang surutnya skena musik kota Bandung. Pasalnya event dengan format micro gigs ini bisa dibilang memiliki benang merah yang sama dengan event legendaris bertajuk Coup De Neuf (dulu disebut juga Les Voila) yang digagas FFWD Records, sebuah indie label berpengaruh asal Bandung. Gelaran Coup De Neuf tak hanya dinanti publik pecinta musik dan para musisi itu sendiri, tapi juga dianggap mampu merepresentasikan skena yang berkembang saat itu hingga akhirnya surut dan tak terdengar lagi gaungnya di tahun 2010.

Kini, An Intimacy hadir atas inisiasi Marine Ramdhani dan Idham Hadiwisastra (FFWD), Idhar Resmadi (Common Room) dan sejumlah nama lain yang menyiratkan keinginan banyak pihak agar regenerasi musisi Bandung bisa berjalan dan dikawal dengan baik. Dihelat satu bulan sekali pada minggu ketiga di hari Jumat setiap bulannya, An Intimacy memanfaatkan spot kecil di sudut toko Lou Belle Shop, sebuah distro di kawasan Setiabudhi yang hanya mampu menampung maksimal 150 orang. Berdempet-dempetan dengan peralatan teknis direct amplifier dan stage yang digunakan untuk tampil, venue An Intimacy  memang menjadi daya tarik tersendiri bagi penontonnya. “Di sini (Lou Belle Shop - Red) secara konsep memang lebih homey, lebih cocok, sehingga terkesan seperti rumah sendiri,” jelas Adli Hafidh, Project Officer An Intimacy saat kami temui di sesi wawancara 14 Januari lalu.

Adli juga menjelaskan bahwa konsep yang diketengahkan untuk setiap pertunjukan adalah 2 band yang telah cukup punya nama dan 3 band pendatang baru. Hingga saat ini, band yang mereka tampilkan hampir dipastikan selalu berasal dari Bandung, hal ini lumrah terjadi, karena di Bandung sendiri banyak band yang merasa tidak mempunyai tempat untuk mereka berkreasi. Tapi tentu tidak menutup kemungkinan, sebab prinsipnya siapa saja bisa tampil di An Intimacy.

“Sekarang kita masih fokus ke band-band Bandung dulu, mungkin ke depannya Cirebon, Tasik dan sekitarnya. Kalau bagus dan asalkan syaratnya memenuhi kita pasti undang mereka untuk tampil di An Intimacy. Kita sangat membuka diri kalau ada band yang mau mengenalkan diri di Bandung,“ tambah Adli.

Pada event yang bakal digelar Jumat (23/01) besok, An Intimacy kali ini bekerjasama dengan Monsterstress dan SRM Band Management yang secara khusus mengundang Bangkutaman tampil di edisi kelima An Intimacy ini. Sedianya, An Intimacy Vol. 5  juga bakal diputar film dokumenter Iblis Jalanan karya Gundala Pictures yang terinspirasi dari single Bangkutaman berjudul sama.

Sedikit membuka dapur, Atin Susanto selaku Supervisor menegaskan bahwa proses kurasi band yang ditampilkan di An Intimacy mudah saja, band cukup mengirimkan materi lagu, profil band dan rilis persnya ke email Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. untuk dikurasi bersama yang melibatkan keseluruhan tim. Bagi band yang lolos, setiap bulannya juga akan dipromosikan melalui siaran radio lokal bandung, social media dan media massa lain.

"Kita juga ada acara big bang-nya, satu acara khusus sebagai rangkuman dari event-event sebelumnya. Bandnya kita seleksi lagi untuk ditampilkan di acara tersebut, kita kurasi ulang, Jadi volume-volume sebelumnya Ini cikal bakal event besarnya," jelas Atin.

An Intimacy, yang kini dikelola tak kurang dari 12 orang panitia dari berbagai komunitas dan kampus, boleh jadi adalah nafas segar baru yang tengah jadi hip. Harapan kita bersama, tentu saja An Intimacy bisa memecahkan stagnasi yang tengah melanda skena musik lokal Bandung dan mengangkat band-band baru yang siap mental dan karya terbaik untuk bertarung di peta musik Indonesia. (Tiar/Pry)

Last modified on: 2 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni