(2 votes)
(2 votes)
Read 549 times | Diposting pada

A Room of One's Own: Ayu Utami

Ayu Utami Ayu Utami www.bukoe.com / Gatra

 

Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini Kacung dan Lobo. Lobo agak galak, susah percaya orang asing. Maklum dulu pernah trauma. Kalau Kacung gobloknya setengah mati." Kemudian secara berkesinambungan bermunculan peliharaannya yang lain, yaitu sembilan ekor kucing yang masing-masing bernama Ayah Ham, Semi, Mulan, Jenglot, Lolita, Tombola, Francesco, Rodriguez, dan Katam. Memang sulit memisahkan kehidupan di rumah itu dengan kehadiran sekian banyak binatang lucu di dalamnya. 

 

Sejengkal dari pintu masuk utama rumah, kita akan langsung mendapati meja kerja Ayu Utami berikut rak buku sangat besar menjulang memenuhi dinging dan nyaris menyentuh langit-langit. Ada tangga logam bersandar pada rak tersebut, tentunya untuk membantu Ayu meraih buku-buku di bagian rak teratas. "Dulu pernah kena rayap, begitulah komentar Erik Prasetya, seorang fotografer kenamaan sekaligus suami Ayu Utami. Rak bukunya enggak boleh nempel dinding." Ruangan kerjanya penuh artifak mereka berdua: sebuah piano tua, dua foto hasil jepretan Erik berukuran besar dipajang di dinding, patung kayu melayang dari langit-langit, kotak tisu berbentuk rol film, meja lain penuh buku, termasuk satu eksemplar majalah Bintang Home edisi akhir tahun lalu yang menampilkan Ayu Utami beserta rumahnya yang indah dan unik.

 

 

 

Rumah itu menimbulkan kesan desa—sangat teduh, lapang, berangin, ruang-ruang terbukanya dinaungi pohon-pohon bambu rimbun dan pohon-pohon lainnya yang senantiasa menggugurkan daun-daunnya. Kita tidak akan tahu bahwa saat itu tepat tengah hari bolong dan panasnya bukan main di luar sana. Bambu-bambu, pepohonan, dan suara nyanyian seekor burung Nuri Kepala Hitam Papua peliharaan Ayu dan Erik sungguh membuat kita lupa kita berada di Jakarta. Lebih jauhnya, begitu menginjakkan sebelah kaki di kediaman mereka, kita teringat "nuansa" magis yang kerap dihadirkan tulisan-tulisan fiksi Ayu Utami. Nuansa magis itu bertambah kuat oleh aroma dupa yang dari waktu ke waktu dinyalakan Ayu dan ditancapkannya di tanah pekarangannya.

Raknya berlimpah-ruah oleh bermacam buku; mulai dari karya-karyanya sendiri dalam berbagai bahasa (kita mengamati lamat-lamat dan menemukan tiga jilid Bilangan Fu edisi Belanda, Het Getal Fu, menyempil di tengah-tengah), berbagai karya fiksi, non-fiksi, filsafat, politik, sejarah, dan lainnya. Meja kerjanya terletak tepat di samping rak, membelakangi sebuah jendela, namun juga menghadap jendela lain yang membuka ke arah pekarangan tempat Ayu dan Erik menggantung kandang si burung nuri. Di meja itulah sehari-hari Ayu melakukan sihirnya—menulis. Mejanya lebar dan kokoh, terbuat dari kayu berwarna gelap. Sebuah laptop MacBook Air ukuran 11,6 inci bertengger di permukaannya. Menurut Ayu, ia sesungguhnya tak begitu betah menulis di ruang tertutup, tapi dari meja itu ia bisa melihat bulan di malam-malam tertentu.

Ketika sedang tidak ingin terkungkung dinding dan atap dan jika cuaca mendukung, Ayu akan memindahkan ruang kerjanya ke sebuah meja bekas meja menenun yang diletakkannya di sisi pekarangan, beberapa jengkal dari tebing resin tinggi yang digunakan Ayu dan Erik untuk latihan memanjat. Ia akan bekerja di sana seharian, dikelilingi sulur beringin, sambil mendengarkan suara-suara binatang dan angin dan terkadang suara dari masjid tetangga. Ia bekerja berpindah-pindah sesuai keinginan hatinya.

 

 

 

 

Namun di meja kerja di dalam ruangan itulah kita bisa menemukan ciri-ciri Ayu Utami. Terkadang ada satu pak kartu tarot tergeletak di sana. Cangkir kopi. Segelintir alat tulis. Buku-buku catatan. Alkitab yang sampulnya ditempeli foto masa kecil. Sebuah kotak musik ukuran mini yang dibeli Ayu di Venesia, yang kalau diputar akan memainkan gubahan Antonio Vivaldi, The Four Seasons, bagian pertama Spring. Ketika melihat meja itu tak berpenghuni, kita tetap bisa dengan mudah membayangkan Ayu duduk bekerja di sana, mengenakan celana panjang dan kaus oblong yang silir.  

Bagaimana rutinitas menulisnya? Ayu Utami biasa bangun pagi-pagi sekali lalu mulai menulis sejak pukul enam pagi. Apabila sedang tidak terlalu intens mengerjakan suatu tulisan, sebelum menulis ia akan terlebih dahulu menggiling biji kopi (sekalian melatih otot tangan), dan menyeduhnya. Ia senang menulis di pagi hari sambil sarapan muesli atau granola, dan nyemil pisang, sukun, dan cempedak goreng bikinan Erik di sore hari. Di pagi hari Ayu biasanya menulis sampai pukul sepuluh. Setelah itu ia akan pergi berkendara ke Komunitas Salihara atau Teater Utan Kayu, atau ke kantor penerbit, atau mengurus berbagai keperluan lainnya di luar rumah, sebelum akhirnya pulang dan melanjutkan menulis di malam hari sebelum tidur. (Kamar tidurnya sendiri lapang tanpa begitu banyak perabotan, lengkap dengan tempat tidur berkelambu, daun pintunya dicat warna kuning terang.)

 

 

Ia merupakan penulis yang mampu bekerja dengan relatif cepat. Satu buku dikerjakan selama rata-rata delapan bulan. Rekor tercepatnya adalah dua minggu untuk buku Soegija Seratus Persen Indonesia, sudah lengkap dengan desain dan ilustrasi serta foto, sementara rekor terlamanya adalah empat setengah tahun untuk Bilangan Fu (namun kita tahu buku itu merupakan sesosok babon setebal 548 halaman dengan topik yang lumayan bikin garuk-garuk kepala). Ayu menerangkan bahwa ia melakukan riset sembari menulis, bukan sebelumnya. Itu juga yang diajarkannya kepada murid-muridnya di kelas menulis.

Hingga hari ini, Ayu Utami telah menghasilkan hampir dua lusin buku fiksi, nonfiksi, esai, buku biografi populer, juga telah menulis banyak sekali cerpen di berbagai media massa dan bunga rampai. Karya-karyanya juga telah diterjemahkan dan terbit di berbagai negara, menyihir banyak orang sejak tahun sembilan puluhan. 

Dan sihirnya dimulai di sana, di meja itu. 

Last modified on: 9 Agustus 2017

    Baca Juga

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

  • Siska Nirmala Luncurkan Debut Buku 'Zero Waste Adventure'


    Siska Nirmala baru-baru ini telah meluncurkan buku pertamanya, Zero Waste Adventure. Buku ini bercerita mengenai ekspedisi nol sampah ke lima gunung di Indonesia. Ide akan ekspedisi ini terlahir dari kegelisahannya…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni