Read 1257 times | Diposting pada

Novel, Rizieq, dan Dilan yang Dirindukan


 

Akhir Februari lalu, kerinduan semakin menjadi-jadi untuk tiga sosok pria idaman yang paling banyak dibicarakan warganet. Pertama adalah Dilan yang filmnya baru rilis dan sukses melahirkan meme-meme gombalan yang sampai sekarang belum basi juga; kedua, Novel Baswedan yang pulang diiringi theme song sendiri, “Sebelah Mata” dari Efek Rumah Kaca, bak karakter ikonik dalam film; dan ketiga, Habib Rizieq yang sempat diberitakan akan pulang namun ternyata batal, membuat para fans-nya yang berkumpul di bandara kecewa berat. Kalau kita mau jadi orang kerajinan yang selalu berusaha memaknai hidup, kita bisa melihat fenomena ini sebagai penanda struktur sosial terbaru Jakarta secara khusus, dan Indonesia secara umum. Dari kerinduan massal menghasilkan kegalauan massal. Dan dari kegalauan massal, ini yang harus kita perhatikan, bisa menghasilkan histeria massal.

Mari kita mulai dari yang paling banal, kerinduan Dilan pada Milea yang sekarang menjadi populer. Dilan dan Milea adalah remaja fiktif yang romansanya sederhana karena pacarannya ya isinya cuma berduaan, pulang bareng, lalu cemburu-cemburuan. Dengan setting 90-an minus grunge dan kegalauan anak muda atau represi orba, Dilan menjadi sebuah medium distorsi sejarah yang menyeramkan. Formulanya sesungguhnya sangat orba. Ingat Catatan Si Boy versi Onky Alexander di akhir tahun 1980an? Si Boy anak yang suka melawan, menulis diary, tapi alim dan di saat yang sama konformis dengan rezim. Yang penting bukan kenyataan, yang penting berduaan dulu sama cewek. Biar seperti Boy, Dilan bisa mengaku kalau lagi jauh dari Milea, pasti bawaannya mikirin dia terus. Layaknya Boy dengan Nuke.

Sebagai salah satu film terlaris Indonesia, dengan penonton melebih 6 juta dan sampai editorial ini ditulis masih ada di beberapa bioskop, Dilan jelas memiliki efek sosial: puisi klise miskin metafora dan daya kritis, persis cara-cara Orba membuat disfungsi pikiran anak muda. Dulu grunge menyelamatkan generasi X, dengan perlawanan sex, drugs, rock and roll, dan bakar panggung. Mereka membuat perlawanan yang tidak dipahami generasi-generasi sebelumnya, beberapa tahun sebelum reformasi perlawanan itu bisa dibaca sebagai gejala sosial bahwa ada yang sangat tidak beres di zaman orde baru.

Namun hari ini, kalau bukan grunge yang menyelamatkan kita dari Mas Boy dan rayuan Emon, siapa yang akan menyelamatkan kita dari Dilan dan Milea?

Efek Rumah Kaca, kamisan, gerakan kiri baru di berbagai daerah, gerakan anti korupsi, adalah penyelamat kita. Kerinduan akan Novel Baswedan, adalah sebuah harapan. Novel Baswedan, mau jauh ataupun dekat dari Indonesia, tetap konsisten menjadi bahan pikiran para petinggi politik. Perkaranya adalah kasus yang seakan-akan tidak ditangani maksimal oleh penyidik polisi dan membuat para pendukungnya menuntut pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta. Kepulangan Novel jadi momentum untuk mendorong agenda ini dan membuat semakin banyak politisi menyumbang suara soal isu ini. Ibarat pembaca novel Dilan yang kecewa karena banyak adegan buku yang tidak difilmkan, Abraham Samad merasa harus ada upaya untuk melengkapi bukti kasus Novel (Baswedan, bukan Dilan) dengan membentuk TGPF karena tidak puas dengan kinerja polisi.

Lagu “Sebelah Mataku” dari Efek Rumah Kaca menyambut kedatangan Novel adalah sebuah puisi dengan lapisan-lapisan maknya dari yang literal sampai yang sangat metaforis, dari kebutaan sebelah mata Novel, hingga ajakan untuk menjadi fokus, kritis, dan empatis terhadap keadaan Indonesia yang carut marut dengan korupsi, pelanggaran HAM, dan permainan politik praktis yang begitu busuknya. Memaknai kekejaman dengan sebuah pandangan positif, bahwa “tiap tetes adalah sebuah proses yang alami,” walaupun “gelap adalah teman yang setia dari waktu-waktu yang hilang.

Untuk ‘sebelah mata’ penduduk Indonesia, chemistry antara Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Priscillia sudah cukup mewakili segala dinamika hubungan Dilan dan Milea, sama halnya dengan Wiranto yang menganggap sudah cukup Polri saja yang diandalkan untuk menyelesaikan kasus Novel Baswedan. Tapi sebelah mata yang lain harus menyadari bahwa kebutaan Novel adalah sebuah simbol dari kebutaan hukum, dan kebutaan kekuasaan.

Namun tidak lengkap kalau kita tidak membicarakan kerinduan kesumat satu lagi, dari gerakan politik yang ‘konon’ terbesar di Indonesia pasca reformasi. Harapan akan kepulangan Yang Mulia Habib Rizieq Shihab, yang ketika tidak jadi pulang, menimbulkan perpecahan di dalam gerakan. Kekecewaan dan kemarahan, ketidak pastian akan cinta dan komitmen sang habib, tentu membuat kegalauan yang cukup parah untuk mereka yang menunggu.

Dan ketika rasa rindu tak terbalaskan, harus ada tindakan sublim untuk mengalihkan emosi meluap-luap. Maka Faisal Assegaf dari Presidium Alumni 212 pun berusaha menenangkan umat Habib. Sesungguhnya ada yang lebih pantas menanggung rindu Sang Imam Besar: dia gubernur kita tercinta, Anies Baswedan. Konon, pada Anies lah kita harus menaruh harapan akan kepulangan Rizieq. Masalahnya bukan kasus pornografi dan penodaan dasar negara yang sudah menetapkan Rizieq sebagai tersangka, bukan! Tapi gubernur kita itu, lho, yang lupa kalau dia menang berkat dukungan Habib. Oleh karena itu, beratnya kerinduan ini adalah tanggung jawab Anies.

Rindu pada sang Habib bisa jadi adalah rindu terberat. Karena kerinduan ini begitu menggebu, dan menyerempet kemana-mana: ke gubernur, ke mantan gubernur, ke presiden. Kerinduan ini adalah yang paling mendekati cinta Dilan pada Milea: abstrak, absurd, dan abai. Abstrak artinya ada kekacauan yang memiliki makna yang multiinterpretatif: kasus Habib Rizieq penuh dengan bumbu seksualitas dan anti-nasionalisme, tapi secara analitis bisa dilihat sebagai pembalasan politik dari kubu yang kalah Pilkada—karena abstrak, maka bukti dari sesuatu yang sudah jelas ini, tidak ada atau tidak terlihat. Absurd karena kerinduan ini tidak punya efek perubahan yang jelas, dasarnya hanya idealisme tentang Islam sebagai agama mayoritas dan jadi penguasa, namun implementasinya untuk kesejahteraan rakyat nyaris tidak ada. Cuma jargon-jargon toa masjid yang berisik dengan suara parau, serta kebijakan-kebijakan gubernur sekuler dengan kostum peci, baju koko, dan wajah Arab, yang belum jelas mau dibawa kemana. Abai, karena kerinduan ini mengabaikan masalah-masalah penting yang harusnya jadi sorotan publik, dari berbagai UU ngawur yang sedang diusahakan parlemen ngawur, hingga pelanggaran-pelanggaran etika politik dan HAM yang dimainkan pemerintah dan kroni-kroninya.

Seperti yang kami bilang di awal tulisan, kerinduan massal akan melahirkan kegalauan massal, dan kegalauan massal akan melahirkan histeria massal. Histeria massal adalah sebuah penyakit psikologis yang menular karena sugesti. Dilan, Novel, dan Rizieq adalah lingkaran-lingkaran gerakan politis histeria massal. Dalam kacamata psikoanalisis, bisa jadi Dilan adalah Id, hasrat mentah dan banal yang paling dalam untuk ingin kawin dan tak kesepian. Novel adalah ego, keinginan untuk membentuk diri, menjadi Indonesia. Dan Rizieq adalah super-ego: segala larangan, ketakutan, dan batas-batas yang banalnya sama seperti Id (menurut Jung dan Lacan, Id dan Super-ego adalah dua sisi di koin yang sama). Tiga kerinduan yang galau ini adalah pertanda ada yang sangat salah di negeri ini: sejarah yang dipaksa nurut pada kepentingan elit seperti tahun 1990an di dalam film Dilan, sebelah mata Novel yang menjadi korban atas kesaksiannya pada korupsi-korupsi tingkat tinggi, dan Habib Rizieq yang “tidak kuat menanggung rindu,” hingga ia membiarkan rindu itu diemban para pendukungnya saja.

Kerinduan kesumat akan membuat orang menjadi tidak stabil, dan selalu khawatir. Kekhawatiran itulah histeria massal kita, bohong kalau ada orang Indonesia yang bilang ia tidak merasakannya. Bahkan penguasa dan elit politik pun merasakannya. Maka air keras dilemparkan ke mata Novel, ke mata kita, agar kita buta sebelah dan gagal untuk melihat dengan jelas.

 

Nosa Normanda & Alyssa Syahmina

Jakarta, 10 Maret, 2018.